SINAM

SINAM
Kebenaran Hikasa {7}


__ADS_3

Hikasa memejamkan matanya, dia terlihat berpikir keras, “ kalian berdua, tinggalkan desa ini, desa ini mustahil untuk di selamatkan.! ” ucapnya serius sambil membuka mata.


Fujita dan Gin terkejut, mereka menatap Hikasa tidak percaya.


“ apa maksud Tuan, kenapa kami harus pergi dari desa ini.?! ” tanya Gin.


“ dengan semua usaha yang kalian lakukan, sangat di sayangkan jika kalian mati di desa yang busuk ini. ” jawab Hikasa datar.


“ kenapa?! kenapa.?! kenapa kami harus meninggalkan desa kami sendiri.?!! ” Fujita terlihat kesal dan berteriak, “ masih belum terlambat, kita harus memberi tahu semua orang tentang informasi ini, dengan begitu mungkin mereka akan bersatu lagi. ” lanjutnya.


“ pasukan Petir penuh kebencian dari awal, dan kepercayaan Hikaru sudah hancur, itulah yang akan memicu penghianatan.. ” ucap Hikasa, “ pasukan Petir sudah siap memberontak, disisi lain pasukan Hikaru sudah siap berperang, mungkin satu atau dua hari lagi perang saudara akan terjadi.. memberi tahu mereka sudah tidak ada artinya, mereka hanya akan bersatu karena keterpaksaan, bukan ketulusan, hubungan seperti itu sangat rapuh.. pasukan Aliansi akan mudah menghancurkan kita.. ” lanjutnya.


“ jadi, apa Tuan Hikasa punya rencana.? ” tanya Gin.


“ tidak, aku tidak punya rencana apapun. ” jawab Hikasa, “ tapi, daripada desa Elemen hancur karena perang saudara, lebih baik hancur karena serangan tiga desa besar, itu lebih berkesan membanggakan, dan pada akhirnya tetap hancur.. ”


“ kenapa Tuan berpikir seperti itu.?! ” Fujita terlihat kesal, “ mencoba memang tidak dipastikan berhasil, tapi diam saja sudah dipastikan gagal, kita masih punya harapan.! ”


“ benar, jika kita bersatu dan melawan pasukan Aliansi masih ada kemungkinan kita menang.! ” lanjut Gin.


“ kalian bodoh, ya.. ” Hikasa menatap tajam kedua pemuda itu, “ jika hanya satu desa yang menyerang masih ada kemungkinan, tapi mereka beraliansi, itu artinya mereka akan menghancurkan kita dengan kekuatan penuh, dan alasannya karena ada aku yang menguasai elemen petir, Hikaru elemen api, dan Hikari pengendali air.. pada akhirnya kami hanya bisa melindungi diri sendiri, penduduk desa tidak akan ada yang tersisa. ” ucapnya serius.


“ begitu, ya.. ” Gin tersenyum pahit, ” padahal dari pada menyerah aku lebih baik mati melindungi desa Elemen.. tapi jika itu yang Tuan inginkan, aku akan pergi.. ” ucapnya serius.


Fujita terkejut mendengar Gin, lalu menatap serius Hikasa, “ setelah sejauh ini, pada akhirnya kita hanya bisa menyaksikan tanah kelahiran kita hancur.. Tuan Hikasa, terimakasih selama ini telah membimbing kami, aku akan ikut dengan Gin.. ” ucapnya.


Hikasa menatap Gin dan Fujita, “ kalian sudah banyak membantu ku, aku berterima kasih banyak. ” ucapnya, “ ini bukan salah kita, ada yang harus diperjuangkan dan ada yang harus kita relakan, semua tergantung pada seberapa kuat kita.. ”


“ kau benar, aku mulai mengerti situasinya, aku juga mulai mengerti jalan seperti apa yang akan kau ambil, itu benar-benar menyesakkan dada. ” Gin mulai berkaca-kaca, “ aku berjanji Tuan Hikasa, keputusan seperti apa yang kau ambil nanti, itulah yang terbaik, aku berjanji... ” dia mulai meneteskan air mata.


“ aku berjanji akan mengembalikan nama desa Elemen di masa depan.. nyawa Fumio.. penduduk desa.. ” Gin terisak, “ perdamaian yang selalu dibicarakan pendiri desa.. itu hanyalah omong kosong, semua akan berakhir ketika kita merasakan sakitnya kehilangan.. ” lanjutnya.


Hikasa terkejut menatap Gin, “ anak ini..? ” batinnya.


“ ayo pergi, Gin.! ” ucap Fujita.


Tap..


kedua pemuda itu pergi meninggalkan Hikasa, entah kemana mereka pergi.


Beberapa saat kemudian, dibawah langit sore, terlihat Hikasa berdiri di atas tanah tinggi, dari situ terlihat indahnya desa Elemen dengan jelas.


Hikasa menatap desa Elemen sambil tersenyum tipis, “ beberapa saat lagi, semuanya akan hancur.. ” gumamnya, “ tidak ada pilihan lain, ini demi menyelamatkan sejarah desa Elemen.. ”


Hikasa memejamkan mata, ingatan saat Huyabasa Nogo berbicara padanya kembali melintas, “ tidak terasa sudah setahun ayah meninggalkan desa.. dia tidak memberi kabar apapun. ” ucapnya, “ dia berkata bahwa keputusan akhir ada padaku, mungkin inilah maksudnya. ”


“ kini, semuanya sudah berada di titik buntu, kondisi desa terbelah dua dan siap berperang, sementara tiga desa besar beraliansi siap menyerang, dan itu terjadi di waktu berdekatan.. ” Hikasa membuka mata, bulir-bulir air menetes membasahi pipinya, dia menatap langit, “ ayah, apa yang harus aku lakukan.? ”


“ jika aku membiarkan perang saudara terjadi, pasukan Petir akan hancur karena ada Hikaru di pasukan Api, tapi tetap saja pasukan Api mengalami kerugian besar.. jika aku menahan pada akhirnya Hikaru berpikir bahwa aku memihak pasukan Petir, pertarungan tidak bisa dihindarkan, perselisihan ini sudah berlangsung terlalu lama.. mungkin inilah yang diinginkan Serano.. ” batin Hikasa, “ tapi, jika aku diam saja, setengah petarung desa Elemen akan mati sia-sia.. setelah itu, pasukan aliansi datang menyerang dan kami tidak bisa melakukan perlawanan. ”


“ seberapa banyak aku berpikir, sekuat apapun aku berusaha, pada akhirnya desa Elemen akan tetap hancur. ” Hikasa menghapus air matanya, lalu menguatkan diri, “ satu-satunya yang bisa kulakukan hanya menjadi pengkhianat, walau tidak mengubah apapun, setidaknya sejarah desa Elemen terselamatkan dari perang saudara.. ”


Wusshh..


angin berhembus kencang, rambut Hikasa beterbangan kesana-kemari, daun-daun juga berguguran.


Greb..


Hikasa menangkap sehelai daun yang melewatinya, “ desa ini sudah membusuk, bukannya menghapus kesalahan demi persaudaraan, mereka malah menghapus persaudaraan hanya karena kesalahan... benar-benar menyedihkan. ” dia menggenggam erat daun itu, lalu melepaskan saat daun itu sudah hancur, dia terlihat marah.


Tap...


Hikasa lompat dari tebing tersebut, dia melayang di udara, tubuhnya jatuh kearah perumahan desa Elemen.

__ADS_1


“ aku tidak tahu apakah ini yang terbaik, tapi hanya ini yang bisa kulakukan.. ” batin Hikasa dengan wajah di terpa angin.


malam harinya..


di dalam kegelapan malam, terlihat sekumpulan orang di dalam ruangan, terlihat mereka sedang mempersiapkan senjata sambil berbincang.


“ baiklah, dengan ini, besok kita sudah bisa memulai pemberontakan. ”


“ ya, dengan ini pasukan Api akan berakhir, termasuk dengan Hikaru. ”


“ kau benar, aku yakin saat ini mereka tidak tahu apa yang kita lakukan, mereka pasti bersantai. ”


ucap mereka bersahutan.


“ kalian salah.! ” Tiba-tiba Hikasa muncul entah darimana.


“ eh, senior Hikasa.?! ” semua orang terkejut.


Hikasa memandang orang-orang itu, “ Hikaru dan pasukannya sudah mengetahui pemberontakan yang akan kalian lakukan, mereka juga bersiap menyambut serangan kalian. ” ucapnya datar.


“ apa.?! ”


“ kenapa bisa.?! ”


“ sepertinya ada yang berkhianat.! ”


pasukan Petir terkejut.


“ aku yakin kalian tahu kedatangan ku bukan untuk memberi tahu itu saja. ” Hikasa terlihat serius, sementara pasukan Petir terlihat kebingungan, “ aku akan mengambil alih pasukan Petir, kita akan bertarung bersama. ”


“ apa.?! ”


“ apa aku bermimpi.?! ”


mendengar itu, pasukan Petir terlihat sangat bahagia.


“ jadi, mulai sekarang jangan bertindak gegabah, jangan menyerang jika tidak ada aku.. kalian akan berakhir jika kalian bergerak tanpa ku. ” ucap Hikasa serius lalu pergi.


“ baiklah.! ” pasukan Petir menurut saja.


Tap.. Tap..


Hikasa bergerak cepat, dia melompat dan berlari di atas atap perumahan warga.


” dengan ini, pasukan Petir akan menunda pergerakan, perang saudara tidak akan terjadi sampai pasukan Aliansi datang menyerang. ” batinnya serius, “ pada dasarnya, pasukan Api hanya bersiap bertarung ketika pasukan Petir memberontak, mereka tidak akan menyerang sebelum di serang. ”


Hikasa terus berlari, “ berikutnya, aku hanya tinggal memberikan rute aman pada pasukan Aliansi, yaitu membereskan beberapa orang pasukan Hikari diperbatasan, dengan begitu penduduk desa tidak akan mendapat informasi bahwa akan di serang. ” batinnya, “ lalu, menemui pimpinan Sanji, Yama dan Arkan.. mustahil mereka menolak, mereka merasa beruntung karena aku tidak menjadi lawan mereka.. ”


disisi lain, dimalam yang sama, Hikaru sedang bersama pasukan Api di alam terbuka, dia terlihat serius.


“ begitu, ya.. jadi kakak bergabung dengan pasukan Petir. ” ucap Hikaru serius.


“ itu, benar. ” ucap salah seorang.


“ jadi, apa yang akan kita lakukan, pimpinan.? ” tanya yang lainnya.


“ jika itu benar, tidak ada pilihan lain, aku terpaksa menghadapi penguasa Petir jika mereka menyerang. ” jawab Hikaru.


“ kenapa kita tidak menyerang mereka sekarang? mungkin mereka sedang lengah. ” sahut yang lainnya.


“ tidak, itu bertolak belakang dengan prinsip ku, aku tidak akan menyerang sebelum di serang. ” ucap Hikaru, “ kita tidak tahu apa yang terjadi di masa depan, bisa jadi mereka berubah pikiran dan ingin berdamai, sebagai pimpinan aku harus bersikap adil. ” lanjutnya.


Hikaru menatap api lilin dengan tajam, cahaya terpantul di matanya, “ ada apa ini kakak? kenapa kau bergabung? ini tidak seperti kau, apa sebenarnya alasan mu.? ” batinnya serius.

__ADS_1


keesokannya harinya, terlihat Hitomi, Himiko sedang bermain-main dengan Sinam kecil, Hayumi selaku ibu Sinam juga mengawasi, mereka tertawa bahagia dengan polosnya.


Tap..


Hikasa muncul dengan tiba-tiba, dia mendekati anak serta keponakannya itu.


“ ayah.? ” Hitomi sedikit terkejut.


Himiko menatap Hikasa, “ hey, paman, lihatlah, Sinam sudah mulai pandai berbicara. ” ucapnya polos.


“ oh, ya.. baguslah kalau begitu. ” jawab Hikasa.


“ sepertinya kakak ada perlu, tapi Hikari masih dalam tugasnya. ” Hayumi menatap Hikasa.


“ aku sudah tahu itu, aku hanya ingin menjemput Hitomi.” jawab Hikasa tersenyum tipis.


“ ayo Hitomi.! ” Hikasa menggendong Hitomi di belakang.


“ sampai jumpa lagi, Himiko, Sinam.. ” Hitomi melambaikan tangan kepada adik-adik sepupunya.


Hikasa berjalan perlahan menjauhi Himiko, Sinam dan Hayumi, dia terlihat bersedih, “ Himiko.. Sinam.. sesulit apapun situasinya, nyawa kalian berdua pasti tetap terselamatkan. ” batinnya.


“ ayah, kita mau kemana.? ” tanya Hitomi.


“ kita akan keluar dari desa, ayah tidak ingin kau menjadi benan paman Hikaru dan paman Hikari. ” jawab Hikasa.


“ beban? aku tidak mengerti maksud ayah. ” ucap Hitomi polos.


Tap.. Tap..


setelah cukup lama berjalan, akhirnya Hikasa dan Hitomi sudah keluar dari pedesaan, mereka memandang perumahan dari kejauhan, namun tempat berdiri mereka saat ini masih wilayah desa Elemen.


Hikasa memandang ke suatu arah, “ baiklah, sekarang aku akan menemui para pimpinan pasukan Aliansi.. lalu memberi jalan pada mereka tanpa di ketahui Hikari dan pasukannya.. ” batinnya.


Hitomi memandang kearah desa dari kejauhan, perlahan desa yang begitu indah terlihat hancur dan dipenuhi api serta asap, dan berakhirlah cerita tentang kebenaran Hikasa.


waktu beralih ke saat ini, Hitomi dan Himiko menatap Hikasa penuh kebencian, mereka terlihat kesal.


“ semuanya demi menyelamatkan sejarah desa Elemen. ” ucap Hikasa datar.


“ jangan bercanda.! ” teriak Hikasa.


Bzcipcipbzcipcip...


Hitomi melesatkan sambaran petir kearah wajah Hikasa, namun Hikasa menghindar dengan memiringkan wajahnya, tanah di kejauhan hancur terkena serangan Hitomi.


“ demi menyelamatkan sejarah desa Elemen.?! ” ucap Himiko penuh kebencian, “ pada akhirnya kau hanyalah orang yang selalu mementingkan pandangan dan pendapat orang lain dari pada mendengarkan suara yang ada didalam hatimu.!! ” teriaknya.


“ kalian berbicara seperti itu karena kalian tidak berada di posisi ku, kalian tidak akan pernah benar-benar mengerti. ” ucap Hikasa datar, “ itu kulakukan karena memang hanya itu pilihannya.. jika aku tidak berkhianat dan bertarung bersama Hikaru melawan pasukan Aliansi dengan penduduk desa Elemen yang terpecah belah, kami akan tetap kalah, dan bahkan kalian berdua sudah mati, Hitomi, Himiko.!! ” dia terlihat kesal.


“ berkhianat atau tidak, pada akhirnya desa Elemen tetap saja hancur.. ” ucap Hikasa, “ dengan mengorbankan diri sebagai pengkhianat, pasukan Petir akan menerima bahwa Hikaru yang terbaik dalam memimpin desa Elemen dan berhenti mengidolakan ku, mereka bisa sedikit bersatu dan menunjukkan perlawanan terhadap pasukan Aliansi. ”


“ tapi tetap saja, kenyataan bahwa desa Elemen sudah hancur tidak bisa diubah. ” Hitomi terlihat kesal.


“ walaupun begitu, sejarah desa Elemen terselamatkan, sampai sekarang petarung dari tiga desa besar masih mengakui kehebatan desa Elemen, bahkan mereka berkata jika aku tidak berkhianat mungkin desa Elemen bisa menang, itu sebabnya pengkhianatan ku selalu ditutupi oleh para pimpinan tiga desa besar. ” jelas Hikasa, “ hancur karena pasukan Aliansi lebih terhormat dibandingkan dengan hancur karena perang saudara.. kehancuran tidak bisa dihindarkan, dan hanya itu yang bisa kulakukan. ” lanjutnya.


“ tapi, kenapa kau tidak mengkhianati pasukan Aliansi dan ikut bertarung bersama paman Hikaru dan paman Hikari? mungkin ada kesempatan untuk menang. ” Hitomi terlihat serius.


“ benar, aku sendiri menyaksikan pertarungan ketiga pimpinan pasukan Aliansi menghadapi ayahku, mereka cukup kerepotan. ” lanjut Hikaru.


“ kalian masih anak-anak, kalian tidak akan pernah mengerti, di dunia yang kejam ini, tidak semua yang kita inginkan bisa terwujud, terkadang ada yang hanya menjadi sebatas keinginan sampai kita mati.. ” ucap Hikasa, “ jika aku ikut bertarung, mungkin kami bertiga bisa mengalahkan tiga pimpinan pasukan Aliansi, tapi bagaimana dengan penduduk desa? mereka akan berakhir menghadapi pasukan Aliansi yang jumlahnya jauh lebih besar.. ”


“ walaupun desa Elemen hancur, setidaknya Klan Nogo masih berdiri saat ini.. atau mungkin beberapa penduduk yang berhasil melarikan diri.. ” ucap Hitomi.

__ADS_1


“ tidak, seandainya kita selamat, pengkhianatan ku membuat kepercayaan Hikaru hancur, kecurigaannya akan membuat ku tertekan, lalu menjaga jarak bersama tumbuhnya kebencian.. ” ucap Hikasa datar, “ pada akhirnya.. kutukan itu menjadi kenyataan.. ”


__ADS_2