SINAM

SINAM
Pantang Menyerah


__ADS_3

Yoja menatap Sinam sambil tersenyum, “jadi kau masih bisa bertahan, ya.. cukup mengesankan. ” ucapnya.


Sinam menatap Yoja sambil tersenyum, “ku anggap itu sebagai pujian.. tapi itu belum seberapa. ” ucapnya.


Sinam bersiap, lalu kembali berlari ke arah Yoja, setelah dekat dia langsung mengayunkan pedang.


Taang.. Ctingg..


Sinam melesatkan tebasan bertubi-tubi, dengan santai Yoja menangkis semua itu.


“kemampuan berpedang mu sangat buruk, sepertinya kau belum terbiasa menggunakan senjata. ” Yoja terus menangkis sambil berbicara.


Sinam terus menerus menyerang, “sial, aku tidak bisa mengenainya.. dia terus meremehkan ku.. ” batinnya kesal.


Deiki melihat pertarungan, “apa-apaan ini? tidak ada keseimbangan sama sekali. ” batinnya.


“baiklah, sekarang giliran ku.! ” teriak Yoja.


Traang..


Yoja melepaskan satu tebasan dengan sangat keras, Sinam terhempas mundur, namun dia masih berdiri.


“kuat sekali.. ” batin Sinam menatap kesal Yoja.


Yoja menyarungkan kembali pedangnya, “sepertinya aku tidak perlu menggunakan pedang, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari orang lemah seperti mu. ” ucapnya penuh kesombongan.


Sinam berlari ke arah Yoja, “jangan meremehkan ku dasar sialan..! ” teriaknya.


Harumi dan Kaori sudah duduk di kursi penonton, tepatnya di samping Rokuga dan Kazuo.


“perbandingan kekuatan mereka terlalu jauh. ” gumam Kaori.


“tapi semangat anak itu cukup mengesankan. ” Kazuo tersenyum.


“dia yang sekarang memang bukanlah apa-apa. ” ucap Rokuga datar, “tapi suatu saat nanti dia pasti menjadi petarung hebat. ”


Kazuo tersenyum, “sepertinya kesan anak itu cukup baik bagi mu paman.” ucapnya.


“matilah.! ” Sinam melompat sambil melayangkan tebasan ke arah Yoja.


Buaakk..


masih jauh pedang Sinam menyentuh Yoja, ujung kaki Yoja sudah mendarat di perut Sinam. Sinam terlempar, berguling-guling di tanah lalu tergeletak.


Sinam tergeletak dengan posisi telungkup, “sial.. ” dia kembali berdiri.


Sinam melemparkan pedangnya, “tidak berguna.! ” gumamnya.


Yoja tersenyum remeh menatap Sinam, “masih ingin bertarung, ya. ” ucapnya.


Tap.. Tap..


Sinam berlari ke arah Yoja, dia terlihat mulai kelelahan.


Buaak.. Buukk..

__ADS_1


Sinam melepaskan pukulan serta tendangan secara beruntun, sesekali dia berlompatan.


“gerakannya berbeda dari sebelumnya.?! ” Deiki terkejut melihat gerakan Sinam, “apa mungkin pedang tadi menjadi pengganggu.? ”


Yoja mencoba menahan semua pukulan serta tendangan Sinam, “gaya bertarung tangan kosongnya tidak bisa diremehkan. ” batinnya.


Blaak..


Yoja mengarahkan tendangan ke arah Sinam, namun Sinam menghindar dan membalas dengan meninju pipi Yoja.


Yoja sedikit oleng, bibirnya pecah mengeluarkan sedikit darah, “menarik.. ” kemudian tersenyum jahat.


Wushh..


dengan sangat cepat, Yoja mengayunkan kaki mencoba menyapu tubuh Sinam yang langsung melompat mundur untuk menghindar.


“kemampuan bertarung dengan tangan kosong mu boleh juga. aku jadi tertarik, aku akan mulai serius. ” ucap Yoja menatap Sinam penuh semangat.


tanpa basa-basi, Sinam kembali melangkah menuju Yoja yang juga berlari kearahnya.


Buaak.. Blaak..


Sinam dan Yoja beradu tendangan, Sinam sedikit terlempar, namun dia kembali maju sambil berteriak.


Buaak..


tinju Yoja mendarat di pipi Sinam, darah mengalir, namun Sinam terus maju tanpa ragu sedikitpun.


Sinam terus menyerang dengan kaki serta tinjunya, “hari ini.. sensasi ini.. dan rasa sakit ini.. akan menjadi awal bagiku.. jika tidak ku lewati.. aku tidak akan bertambah kuat. ” batinnya, dia terus terkena pukulan.


“oi, apa kau sudah lelah? gerakan mu semakin lambat saja.! ” ucap Yoja meremehkan, dia terus memukul mundur Sinam.


Buaak..


“Akh.! ” Sinam memuntahkan darah, matanya melotot menahan sakit, lalu tubuhnya terlempar jauh.


Buaak..


tubuh Sinam melesat ke arah dinding, lalu menghantam dinding sampai sedikit hancur, debu mulai menggumpal.


Yoja tersenyum memandang gumpalan debu yang menutupi Sinam, kemudian melirik Deiki. “paman, dia sudah kalah, tidak mungkin dia masih bisa bertarung. ” ucapnya lalu membalikkan badan.


“aku belum menyerah.. ” Sinam kembali berdiri saat gumpalan debu mulai hilang, “bukan belum menyerah.. tapi tidak akan pernah menyerah. ” ucapnya sambil tersenyum, wajahnya dipenuhi darah.


“apa.?! ” semua orang terkejut, termasuk para tim yang menyerah sebelum bertarung.


Kaori tertegun, “dia benar-benar hebat, dia masih bisa berdiri setelah terkena serangan seperti itu. ” ucap Kaori.


“tetap saja itu tidak mengubah apa-apa. ” sahut Harumi.


“benar-benar tekad yang kuat. ” batin Rokuga, namun tiba-tiba dia tersentak, “gawat.. Hikari pernah mengatakan Air yang ada di tubuh Sinam akan keluar saat dia terdesak.. jika terus seperti ini. ” dia terlihat serius.


“jika Sinam terus bertarung seperti ini bisa-bisa itu terjadi.. aku harus menghentikan ini. ” Rokuga berpikir keras, “tapi.. jika aku melakukan itu akan membuat kakak curiga.. apa yang harus kulakukan.? ” dia memandang Mikami Sato.


Kazuo melirik Rokuga, “kau terlalu kaku paman, tidak seperti biasanya. apa kau memikirkan sesuatu.? ” dia tersenyum.

__ADS_1


“bukan apa-apa. ” jawab Rokuga tersenyum.


Yoja membalikkan badan, kemudian menatap kesal Sinam, “dasar bodoh, sekuat apapun kau menghadapi ku, kau tidak akan pernah mengalahkan ku, semangat saja tidak akan cukup.! ” teriaknya.


“siapa yang perduli tentang itu, aku Sinam.. akan menjadi petarung terkuat.. ingat namaku baik-baik..! ” jawab Sinam, dia tersenyum hangat.


“petarung terkuat katamu.?! ” Yoja terlihat kesal, “akulah yang akan menjadi petarung terkuat.. akan ku tunjukkan pada Desa ini bahwa cara bertarung ku yang terbaik. ” ucapnya penuh kebencian.


Sinam menatap serius Yoja, “orang seperti mu tidak mungkin menjadi petarung terkuat.. aku akan melampaui mu dan menjadi yang terkuat. ” ucapnya. “kau memiliki orang tua, Klan.. banyak orang yang mendukung mu, tapi kau tidak bisa menghargai lawan mu saat bertarung.. menatap ku dengan tatapan angkuh, akan ku hancurkan kesombongan mu itu.! ” wajahnya mulai mencekam.


“Klan? orang yang mendukung ku? kau membuat ku tertawa. ” Yoja tersenyum jahat, kemudian mengubah ekspresinya menjadi mencekam, “kau tidak tahu apa-apa tentang ku.. aku memang dari Klan Terui.. tapi apa kau melihat ada orang yang mendukung ku? Klan Terui tidak perduli pada ku.? ” dia memandang ke arah semua penonton.


“tidak perduli..? ” Sinam menoleh kearah penonton, dia tidak melihat ada yang memberi dukungan untuk Yoja.


Yoja terlihat bersedih, “Klan ku berasal dari Klan ibu ku.. sementara ayahku berasal dari desa Arkan.. ayahku seorang petarung hebat, setiap misi diselesaikannya dengan cepat.. dia selalu mencoba yang terbaik..tapi kenapa? tapi kenapa semua orang terus membenci ayahku.?! ” teriaknya.


semua orang terdiam, mereka memandang Yoja dengan tatapan sedih.


“kau.?! ” Sinam tertegun.


“Klan Terui menjauhi ayah dan ibu ku.. mereka juga membenci ku.. sekarang pun mereka tidak ada yang melihat aku bertarung.. hehehe lucu sekali. ” Yoja tertawa kecil, “aku selalu ingin membenci Klan ku sendiri, membenci Orang-orang Desa yang selalu memandang ayahku sebelah mata.. tapi apa kau tahu apa yang dikatakan ayahku.. ‘kau tidak perlu membenci mereka, jangan pernah bosan untuk berbuat baik pada semua orang’ itulah yang dikatakan ayahku.! ” Yoja berteriak.


Sinam terdiam, “jadi, semua orang dalam dunia petarung ini memiliki rasa sakit yang berbeda-beda, semuanya memiliki penderitaan. ” batinnya.


“apa kau tahu betapa menderitanya ayahku hanya karena dia berasal dari luar Desa Yama?! melihat dia seperti itu membuat ku menderita!” teriak Yoja menatap Sinam, “disini.. ditempat ini.. akan ku tunjukkan pada semua orang bahwa ayahku seorang petarung hebat.. seorang petarung yang mengajarkan semua ini pada ku.! ” wajahnya mulai serius.


Braakk..


Tiba-tiba pintu gerbang jebol, terlihat Sansiro berdiri kokoh dengan pedang besarnya, tubuhnya di penuhi luka, pakaiannya juga robek sana-sini, sepertinya dia baru saja mengalami pertarungan sulit.


Deiki melirik kesal Sansiro, “kau bisa membuka, kenapa kau menghancurkannya.? ” ucapnya.


Sansiro tidak menjawab, tatapan matanya begitu serius menatap Yoja.


“siapa.?! ” semua orang terkejut.


“Sansiro..?! ” Sinam terkejut.


Yoja menatap Sansiro, namun dia hanya diam.


“maaf aku terlalu lama, Sinam.. ” ucap Sansiro, namun matanya menatap Yoja serius.


Yoja menatap Sansiro sambil tersenyum, “jadi kau teman satu timnya, ya. ” ucapnya.


“kau berkata tentang penderitaan pada orang yang salah.. ” Sansiro menundukkan kepala.


Yoja terdiam, “ada apa dengannya.?” sepertinya dia sedikit bingung.


“apa kau tahu sakitnya melihat seorang ayah yang disalahkan padahal dia sudah kehilangan kakinya?!” ucap Sansiro dingin, “apa kau tahu perasaan seorang anak ketika melihat ayahnya terbelenggu dalam rasa bersalah..? padahal rasa bersalah itu muncul demi menyelamatkan istrinya.. ” dia masih menunduk.


Sinam tertegun menoleh Sansiro, “Sansiro..?! ” batinnya.


Sansiro mengangkat kepalanya dan menatap Yoja, lalu menunjuk Sinam dengan pedangnya, “apa kau tahu perasaannya.. perasaan seorang anak yang ingin melihat orang tuanya tapi tidak bisa.. anak yang selalu bertanya-tanya seperti apakah kedua orang tuanya namun tidak dapat jawaban.. berpura-pura kuat dengan tertawa namun hatinya penuh luka.. ” dia terlihat sedih.


“apa kau tahu penderitaan kami.?! ” teriak Sansiro menatap tajam Yoja.

__ADS_1


Yoja tertegun menatap Sansiro dengan mulut terdiam, “benar.. semua orang memiliki penderitaannya sendiri.. ” batinnya.


Sansiro memasang kuda-kuda, “jadi, berhentilah berbicara seolah kau yang paling menderita. ” dia menatap Yoja dengan serius.


__ADS_2