SINAM

SINAM
Pertemuan Himiko Dan Hitomi


__ADS_3

Pusat Desa Sanji, tepatnya gedung pimpinan..


tok.. tok..


terdengar suara orang mengetuk pintu dari dalam ruangan.


“ silahkan masuk.! ” perintah para petinggi desa.


Krek..


pintu terbuka, dua orang masuk dengan nafas terengah-engah, keduanya membungkuk, mereka adalah orang yang melihat hutan kebakaran akibat pertarungan Himiko dan Hikasa.


“ ada apa.?! ” tanya salah satu petinggi desa.


“ tuan, kami membawa kabar tentang penguasa api. ” jawab salah seorang.


“ apa? penguasa api? cepat katakan.!! ” para petinggi langsung bereaksi, mereka terlihat serius.


“ saat kami berpatroli di hutan, tepatnya di arah jam tiga dari gedung ini, kami melihat hutan kebakaran luas, awan mendung dan angin kencang.. sepertinya dia terlibat pertarungan. ” jawab salah satu.


“ benar, itu bisa dipastikan karena api yang membakar hutan tersebut bercampur api berwarna biru. ” lanjut yang lain.


“ api biru.?! ” seorang petinggi terkejut.


“ begitu, ya.. itu artinya dia memang penguasa api.. ” lanjut yang lain.


“ tapi, jika dilihat dari akibat kebakaran sebelumnya dan dua orang korban, bukan mustahil jika dia mewarisi pedang kembar api. ”


“ lalu, bagaimana dengan pimpinan dan mantan pimpinan, apa sudah ada kabar dari orang yang kita kirim ke desa Pedang Kembar.? ”


” sampai saat ini masih belum, perjalanan ke Pedang Kembar cukup memakan waktu, untuk sekarang kita harus bersabar, kita tidak bisa mengambil keputusan, jika kita memburunya sekarang mungkin akan memakan banyak korban. ”


“ kau benar, penguasa api pasti sangat tangguh, itu terlihat dari dia yang mampu mengendalikan api biru. ”


didalam ruangan tersebut, mereka berbincang dengan ekspresi serius.


dari atas atap, terlihat seorang pemuda sedang menempelkan telinganya di atap tersebut, sepertinya dia sedang mendengarkan perbincangan di dalam ruangan tersebut.


“ arah jam tiga, ya. ” gumam pemuda tersebut, kemudian membuka tudung jubahnya sambil menoleh ke suatu arah. pemuda ini adalah Hitomi, anak Hikasa yang saat ini berusia dua puluh tahun, yang berarti dia adalah sepupu Sinam dan Himiko.


Greb..


Hitomi melepas serta melemparkan tinggi jubah hitamnya yang langsung diterpa angin.


Hitomi berambut hitam panjang, matanya terlihat tajam namun juga meneduhkan, dia seperti gabungan Sinam yang ceria serta Himiko yang penuh kebencian.


Tap.. Tap..


Hitomi mulai bergerak, dia berlompatan di atas atap perumahan.


“ penguasa api? mustahil paman Hikaru selamat dari kejadian saat itu.. lagipula dia adalah pimpinan desa Elemen.. tentu nyawanya yang menjadi target utama. ” Hitomi terlihat serius, dia terus bergerak cepat.


Tiba-tiba Hitomi terkejut, “ jangan-jangan... Himiko lah penguasa api tersebut.?! ” dia mempercepat langkah, “ itu lebih masuk akal, lagipula aku juga yakin bahwa dia masih hidup, begitu juga dengan Sinam. ”


Tap..


Hitomi sudah keluar dari desa dan mulai memasuki tepi hutan.


Hitomi melirik ke segala arah, “ tidak ada yang mengikuti.. sekarang aku bisa lebih cepat. ”


Bzcipcipbzcip...


setelah itu, di tubuh Hitomi mulai mengalir Shaka biru yang bercampur aliran listrik, kemudian dia melesat secepat mungkin.


“ Himiko tunggulah aku.! ”


disisi lain, Himiko masih melakukan pertarungan mematikan melawan Hikasa, keduanya mulai terluka, di sekeliling mereka terlihat hutan sudah gundul terkena tebasan pedang Himiko dan terbakar.


Himiko menatap Hikasa, “ aku akan segera menyelesaikan ini.! ” dia bersiap dengan raut wajah penuh kebencian.


“ hosh.. hosh.. ” Hikasa mengatur nafas, “ ternyata usia memang mempengaruhi kemampuan bertarung seseorang.. aku sudah terlalu tua. ” batinnya.

__ADS_1


Hikasa menatap Himiko, “ aku sudah kehabisan Shaka.. tidak tahu apakah bisa menahannya lebih lama lagi. ” kemudian menoleh ke kanan dan kiri, “ lalu.. kenapa dia lama sekali. ”


“ Api Biru, Bola Api.! ” Himiko mulai menyerang, dia menahan udara di mulutnya, lalu menyemburkan bola api biru yang semakin membesar.


Hikasa menapakkan telapak tangannya, lalu menepis bola api tersebut dengan aliran listrik yang muncul di depannya.


*Blaar..


Bzcipcipbzcip*..


bola api yang mencoba menyerang Hikasa perlahan pecah di hadang aliran listrik Hikasa, lalu lenyap dimakan udara.


Hikasa menoleh kedepannya yang sudah aman, namun tiba-tiba Himiko sudah siap menebas dari atas dengan pedang dibalut api.


“ cih.! ” Hikasa kesal.


Zuoorr...


pedang Himiko menghasilkan ledakan, tanah retak dan debu beterbangan, di tambah dengan tekanan udara yang semakin kuat, lokasi mereka benar-benar kacau.


debu mulai menghilang, Himiko menoleh pedangnya yang menghancurkan tanah, “ Lagi-lagi dia berhasil menghindar, sial. ” dia tidak melihat mayat Hikasa dan kesal.


“ aku disini.! ” Hikasa bersuara, saat ini dia berada di atas sebuah batu yang tinggi, dia terlihat seolah dekat dengan awan yang mendung.


Bzcipcipbzcip..


dari tubuh Hikasa, terlihat listrik mengalir, sepertinya dia menggunakannya untuk mempercepat gerakan.


Himiko menoleh Hikasa yang jauh di atas batu, “ begitu, ya.. jadi dia menjadikan tubuhnya senjata dengan mengaliri listrik, dengan begitu dia bisa bergerak lebih cepat.. ” dia menyadari tubuh Hikasa yang dialiri listrik.


“ Himiko, kau benar-benar beruntung, kau bisa menyerang ku terus menerus dengan api yang berasal dari pedang kembar mu, dan kau tidak perlu khawatir kehabisan Shaka.! ” teriak Hikasa, “ tapi, sepertinya kau sudah kehabisan tenaga. ” lanjutnya.


Himiko menatap tajam Hikasa, “ ya, aku beruntung, sepertinya dunia juga ingin aku lebih kuat dan membunuh mu. ” ucapnya.


“ benarkah? lalu kenapa aku masih bisa berdiri sekarang.? ” Hikasa tersenyum tipis.


“ cih.! ” Himiko terlihat kesal, “ baiklah, akan ku tunjukkan semua yang ku punya. ”


*Boomm..


Krak*..


pedang Himiko menghancurkan tanah, lalu retakan terus melebar dan membentuk parit, dari situ muncul api bergejolak. retakan terus mengarah batu tempat Hikasa berpijak, dan akhirnya batu itu terbelah dua.


“ apa.?! ” Hikasa terkejut, jarak kakinya melebar karena tempat dia berpijak terbelah dua.


Tap..


Hikasa melompat dan bertengger diujung pohon yang sudah tidak berdaun, sepertinya pohon itu terkena dampak asap yang terus mengepul.


“ benar-benar kekuatan yang dahsyat.. ” Hikasa menoleh parit yang tercipta dengan api menggelora, “ jadi ini, kekuatan pedang kembar yang sesungguhnya. ”


“ hosh.. hosh..! ” Himiko mengatur nafas, ” hehehe, jangan meremehkan ku. ” dia tertawa kecil.


Bzcipcipbzcip..


Hikasa memadatkan elemen petir ditangan kanannya, “ sekarang giliran ku.! ” kemudian listrik tersebut memanjang lurus kearah Himiko seperti tombak.


“ cih.! ” Himiko kesal dan siap menahan dengan pedangnya.


Bzcipcipbzcip..


tepat di saat itu, tiba-tiba ada aliran listrik yang menghantam aliran listrik milik Hikasa, keduanya terlihat sama dan saling dorong.


“ apa.?! ” Himiko terkejut dan menyaksikan kejadian itu, dia mengikuti arah listrik yang menahan serangan Hikasa, disitu terlihat seorang laki-laki yang lebih dewasa sedikit dibanding dirinya, tepatnya di sampingnya.


“ kau.. siapa.? ” Himiko kebingungan.


orang itu tidak menjawab, dia terus beradu aliran listrik dengan Hikasa, dia adalah Hitomi yang saat ini terlihat serius.


Hikasa masih saling dorong dengan Hitomi menggunakan listrik mereka masing-masing, “ akhirnya kau datang juga. ” Hikasa tersenyum tipis.

__ADS_1


Bzcipcipbzcip... Bzcipcipbzcip..


saling dorong dengan tombak listrik terus terjadi, walau beberapa saat terlihat seimbang dan kedua serangan bertemu ditengah, lama-kelamaan Hitomi terlihat unggul, serangannya semakin mendekati tubuh Hikasa yang bertengger di atas pohon.


“ kuat sekali..! ” gumam Hikasa, “ tapi.. jangan pernah meremehkan orang tua ini.. ”


“ Petir Merah.! ”


Bzcipcipbzcip..


saat serangan Hitomi hampir mendekati Hikasa, tiba-tiba aliran listrik berwarna merah terang muncul dari tangan Hikasa dan membalikkan keadaan, serangan Hitomi dipaksa mundur.


“ cih, petir merah.. aku memang bukan tandingannya. ” Hitomi terlihat kesal.


Bzcipcipbzcip..


saat serangan Hikasa semakin mendekat, Hitomi mengeluarkan listrik merah dan mencoba menahan serangan Hikasa, namun petir merah milik Hikasa jauh lebih terang dan mengerikan dibandingkan milik Hitomi.


Srekk..


perlahan, kaki Hitomi mulai mundur bergesekan dengan bumi.


“ aku tidak bisa menahannya.! ” batin Hitomi.


Himiko melihat Hitomi yang terdesak, lalu melemparkan pedangnya yang dibalut api kearah kedua petir merah itu bertemu.


Wusshh..


Zuoorr..


setelah berputar-putar, pedang Himiko menghantam titik pertemuan aliran petir tersebut, seketika petir tersebut terpantul dan melesat jauh entah kemana, saling dorong dengan petir pun selesai.


Hitomi melirik pedang Himiko yang kembali ke tangannya, “ itu bukan pedang biasa.. ” batinnya.


Hikasa menatap datar Himiko dengan pedangnya, “ senjata yang seharusnya tidak ada di dunia ini.. kekuatannya tidak masuk akal.. petir merah yang begitu kuat bisa ditahannya.. ” batinnya.


Zuoorr...


beberapa detik setelahnya, terdengar suara ledakan dahsyat dari kejauhan, tanah sedikit bergetar, itu adalah ledakan yang terjadi akibat petir merah Hitomi dan Hikasa yang terpantul karena pedang Himiko.


Tap..


Hikasa melompat dari pohon tersebut, lalu mendarat cukup dekat dengan Himiko dan Hitomi.


Hikasa menatap Hitomi, “ akhirnya kau datang juga, Hitomi.. ” ucapnya.


Himiko terkejut melihat itu, “ Hitomi.. kau..? ” kemudian menatap Hitomi tidak percaya.


Hitomi menatap Hikasa datar, “ begitu, ya.. kau sudah menunggu ku. ” ucapnya lalu mengubah ekspresi menjadi begitu mencekam, “ jangan berpikir kita masih sama dengan yang dulu, bagiku sekarang kau tidak lebih dari orang asing.! ” ucapnya keras.


Hitomi menoleh Himiko, “ Himiko, aku sudah menduga kita akan bertemu lagi.. tapi aku tidak menyangka akan secepat ini. ” dia tersenyum hangat, “ sekarang, tinggi mu sudah hampir sama dengan ku, kau juga sangat kuat. ” ucapnya.


Himiko tersenyum hangat, “ jadi, itu benar-benar kau kakak, aku tidak menyangka bisa bertemu lagi dengan mu. ” ucapnya. “ aku pikir kau juga menghianati desa. ” lanjutnya.


“ melihat kalian berdua seperti ini, aku jadi ingat masa kecil kalian. ” Hikasa tersenyum. “ kalian selalu bersama, berlatih maupun bermain. ” lanjutnya.


“ berisik, kau lah satunya orang yang menghancurkan semua itu.! ” Himiko bersiap maju.


“ tunggu, Himiko.! ” Hitomi menahan, dia menatap Hikasa serius.


“ ada banyak hal yang ingin ku tanyakan padamu, aku harap kau menjawab dengan jujur.. sebelum kau mati aku ingin tahu apa alasan mu mengkhianati desa dan keluarga kita.? ” Hitomi menatap Hikasa serius.


“ keluarga kita, ya. ” Hikasa tersenyum tipis, “ sepertinya jauh didalam hatimu kau masih menganggap ku ayah. ” lanjutnya.


“ terserah kau mau bicara apa, untuk orang yang akan menemui kematiannya aku hanya perlu mengabaikannya. ” jawab Hitomi datar.


“ cukup, kak Hitomi, tidak ada alasan yang masuk akal sehingga rela mengkhianati desa dan keluarga.! ” Himiko terlihat kesal.


Hitomi melirik Himiko, “ Himiko, kita bukan anak-anak lagi, sudah sewajarnya kita tahu apa yang sebenarnya terjadi saat sembilan tahun lalu. ” ucapnya, “ akibatnya adalah kehancuran desa Elemen.. apa sebabnya kita tidak tahu sedikitpun.. tapi, apapun alasannya tetap tidak seharusnya mengorbankan desa serta keluarga. ” lanjutnya.


Hikasa menatap Hitomi serius, “ Hitomi, kau benar-benar sudah tumbuh dewasa.. aku tahu kau sangat benci dan ingin membunuh ku.. tapi kau masih bisa berpikir jernih dan ingin tahu kebenarannya. ” batinnya.

__ADS_1


“ baiklah, akan ku beritahu alasannya.. dengarkan baik-baik.. ” Hikasa menatap Hitomi dan Himiko serius, “ ini demi menyelamatkan sejarah desa Elemen. ”


__ADS_2