
“hosh.. hosh..! ” Yoja mengatur nafas, matanya menatap Sansiro yang ada di hadapannya. “tidak hanya kuat.. staminanya juga luar biasa.. baru kali ini aku berhadapan dengan orang yang memiliki kekuatan fisik seperti dia. ” batinnya.
Sansiro menatap Yoja dengan semangat, “Sinam sudah kalah.. tapi aku pasti menang.. ” batinnya. “tapi, orang yang bernama Saken itu benar-benar kuat. ”
Yoja menatap Sansiro, “oi, Sansiro! aku tahu kau sudah kehabisan tenaga.. kau hanya mencoba terlihat kuat.! ” teriaknya.
“jangan bercanda.! ” Sansiro tersenyum, “sudah kukatakan aku tidak akan kalah, kau berkata seperti itu karena kau yang sudah kelelahan.! ” ejeknya.
“kau..?! ” Sansiro terlihat marah.
Kini, pandangan semua orang berpusat pada pertarungan Sansiro dan Yoja.
disudut Arena, terlihat dua orang sedang berbincang, mereka adalah Aozora dan Ryugu.
“apa kita sudah bisa mulai bertarung? aku tidak sabar untuk mengalahkan orang yang bernama Saken itu. ” ucap Aozora penuh semangat memandang Saken yang duduk di depan bendera putih.
“tidak bisa, masih ada satu pertarungan, jika Yoja bisa mengalahkan Sansiro, baru kita yang akan masuk, tapi jika Sansiro menang, kita harus menunggu pertarungan Saken dan Sansiro selesai. ” jawab Ryugu datar.
“begitu, ya.. padahal aku sudah tidak sabar. ” Aozora terlihat lesu.
“jangan bersedih, kemungkinan kita menang sangat besar, aku rasa Saken sudah kelelahan. ” ucap Ryugu.
Tap.. Tap..
Yoja berlari ke arah Sansiro yang juga berlari kearahnya, setelah bertemu keduanya adu pukul dan saling tahan.
Buaakk.. Bukk..
berkali-kali Yoja memukul serta menendang Sansiro, namun dia juga banyak terkena serangan Sansiro.
Yoja terlihat kesal sambil menahan dan memukul, “ada apa ini? jika seperti ini, Klan Terui akan semakin meremehkan ayah.. ” batinnya, “aku harus membuat ayah diakui karena memiliki anak yang kuat. ”
Sansiro oleng karena terkena tinju Yoja, dia kembali membenarkan posisi, “sudah aku katakan, aku tidak akan kalah.! ” teriaknya sambil tersenyum semangat, lalu melayangkan tinju.
Buaakk..
tinju Sansiro mendarat di wajah Yoja karena tidak sempat menghindar atau menahan, Yoja terlempar beberapa meter dan tergeletak.
Yoja kembali berdiri dengan perlahan, lalu memandang Sansiro kesal, “ada apa ini? sudah berkali-kali aku menjatuhkannya, sudah berkali-kali dia tergeletak, tapi kenapa dia selalu bangkit seolah tidak merasakan apapun, ada yang salah dengan dia. ” batinnya, “aku memang belum menggunakan Shaka, tapi dia juga belum mengeluarkan Shaka.. dilihat dari cara dia bertarung, tidak mungkin dia belum bisa mengendalikan Shaka, itu artinya.. dia masih menahan diri.. ”
Sansiro tersenyum semangat menatap Yoja, “ada apa?! apa kau sudah lelah.?! teruslah menari..! ” teriaknya.
Deiki memandang pertarungan, “oi, oi, oi, yang benar saja?! mau sampai kapan mereka terus bertarung? apa mereka tidak merasa lelah.?! ” batinnya.
★★★★★
Sinam membuka mata secara perlahan, dia memandang sekeliling, “dimana ini.?! ” tanyanya, saat ini dia berada di sebuah kamar dan tergeletak.
Sinam mencoba duduk dari tidurnya, “akh..! ” dia kesakitan, “sial.. tubuhku sakit semua.. ” lanjutnya.
Sinam termenung, satu-persatu bayangan saat dia bertarung dengan Saken terlintas, “pada akhirnya.. aku tetap kalah.. ” dia menghela nafas.
“tapi.. lain kali aku tidak akan kalah.! ” Sinam tersenyum semangat, “sekarang bukan saatnya untuk istirahat, aku harus melihat pertarungan Sansiro.. aku harus mendukungnya. ” dia mencoba berjalan keluar kamar tersebut.
Tap.. Tap..
Sinam keluar kamar, lalu berjalan, langkahnya semakin lama semakin cepat.
“hey, kau..! mau kemana kau.!? ” Tiba-tiba seorang wanita muncul dan berteriak.
Sinam menoleh, “maaf, kakak! aku harus pergi.. terima kasih..! ” lalu pergi.
“ya, ampun..” gumam wanita itu.
Sinam sudah berada di kursi penonton, dia berdiri di paling depan, sepertinya dia sudah kehabisan kursi.
__ADS_1
Sinam memandang ke arah Arena pertarungan, dia melihat Sansiro dan Yoja berdiri salim berhadapan, “Sansiro.. berjuanglah..! ” Sinam berteriak.
Sansiro menoleh kearah Sinam, "Sinam..” dia tertegun, kemudian tersenyum, “baiklah, aku akan segera menyelesaikan ini. ”
“hosh.. hosh..! ” Yoja terengah-engah, “sial, padahal aku sudah sangat lelah.. tapi dia masih terlihat begitu semangat. ” dia menatap Sansiro kesal.
Yoja tiba-tiba tersenyum jahat, “baiklah kalau begitu, aku akan bermain licik. ” batinnya.
Tap.. Tap..
Sansiro mulai maju, dia berlari ke arah Yoja, begitu juga sebaliknya, setelah bertemu keduanya kembali adu pukul.
Yoja mengarahkan tinju ke arah Sansiro dengan tangan kanan, Sansiro langsung menahan dengan telapak tangannya.
“pukulan mu semakin lemah saja. ” Sansiro tersenyum.
“benarkah..! ” Yoja tersenyum jahat, entah apa alasannya.
Sringg..
tiba-tiba Yoja menarik pedangnya dengan tangan kirinya, “matilah..!” dia melepaskan sebuah tusukan.
“apa.?! ” Sansiro terkejut.
Crakhh..
tusukan pedang Yoja menancap di dada kiri bagian atas Sansiro, walau tidak sampai tembus kebelakang, namun darah langsung muncrat dan membasahi wajah Yoja.
Sansiro menatap tajam Yoja, “padahal kau sendiri yang menantang untuk bertarung tangan kosong, tapi ternyata kau sendiri yang menggunakan pedang.. kau sangat menyedihkan..! ” ucapnya.
Yoja tersenyum jahat, “ada saatnya seorang petarung harus bermain licik. ” ucapnya.
Wushh..
Yoja tersenyum menatap Sansiro, “bagaimana sekarang? kau pasti sudah tidak bisa bertarung. ” ucapnya.
Sansiro tidak menjawab, dia masih diam ditempat dengan posisi berdiri, wajahnya menunduk sehingga tidak terlihat sorot matanya.
Sinam terkejut, “Sansiro.. gawat.. ” batinnya.
Sansiro menggerakkan tangan kanannya secara perlahan, dia memegang gagang pedang yang masih tertancap di tubuhnya, wajahnya masih tertunduk.
“eh.?! ” Yoja terkejut, “apa yang akan dia lakukan.? ”
Srakhh...
Tiba-tiba Sansiro mencabut pedang tersebut, namun dia menarik dengan menyamping, luka ditubuhnya semakin lebar dan penuh darah, sepertinya dia sengaja melakukan itu.
“apa..?! ” semua orang terkejut.
Yoja tersentak menatap Sansiro, “apa dia sudah gila? lukanya semakin lebar.?! ” batinnya.
Sansiro mengangkat kepalanya lalu menatap Yoja sambil tersenyum jahat, “aku tahu apa yang kau pikirkan, kau tahu, rasa sakit ini.. akan berganti menjadi semangat bagiku, dan sumber kekuatan ku adalah.. rasa lelah yang terus muncul saat kita bertarung.. singkatnya, aku tidak akan menyerah ataupun lari dari pertarungan..! ” teriaknya.
Deiki terkejut memandang Sansiro, “anak ini.. dia mengingatkan ku pada teman sekelas ku.. wanita kuat yang sangat ditakuti, tidak akan lari dari setiap pertarungan walaupun lawannya jauh lebih kuat.. wanita yang selalu menyusahkan karena semangatnya yang terlalu berlebihan. ” batinnya.
“tunggu.. ”Deiki tersentak, “di awal pertarungan dia berkata bahwa ayahnya seorang petarung hebat, kehilangan kakinya saat melanggar misi.. lalu disalahkan.. ” dia tersenyum, “jadi.. dia anak Tsurugi, ya.. aku pikir dulu mereka hanya sepasang kekasih, tapi ternyata mereka sudah mempunyai anak.. wanita itu, meninggalkan warisan untuk Desa Yama saat sebelum mati.. seorang anak yang akan menjadi petarung kuat. ” Deiki menoleh Sansiro tersenyum.
“HIAAA..!! ”Sansiro berteriak sekeras-kerasnya, Shaka merah muncul dengan dahsyatnya.
“apa.?! ” Yoja terkejut, namun kemudian tersenyum, “padahal awalnya aku ingin mengukur kekuatannya, tapi.. sepertinya malah sebaliknya.. ” batinnya.
“oi, Yoja! berikan aku rasa sakit yang lebih dahsyat lagi, itu membuat ku semakin bersemangat.! ” teriak Sansiro dengan tubuh penuh Shaka merah yang berkobar. “aku Sansiro, mencintai rasa sakit lebih dari apapun.! ” lanjutnya tersenyum semangat.
“Sansiro, kau..?! ” Sinam tertegun.
__ADS_1
Yoja menundukkan kepala, “sekarang, aku sudah tidak perduli lagi dengan Klan Terui.. tidak masalah mereka terus membenci ku dan ayah, ibu... ” batinnya, “aku sudah tidak perduli menang ataupun kalah.. aku yakin ayah pasti senang dengan semua yang kulakukan.. Sansiro, dia benar-benar membuatku bersemangat.! ” dia tersenyum.
Zuor..
secara tiba-tiba, Shaka ungu kehitaman terpancar dari tubuh Yoja dan tidak kalah dari milik Sansiro.
Yoja mengangkat kepala dan menatap Sansiro, “Sansiro, ayo kita selesaikan ini.! ” teriaknya.
“majulah, Yoja..!! ” Sansiro berteriak.
Tap.. Tap..
Yoja berlari ke arah Sansiro yang juga melesat kearahnya.
“mencintai rasa sakit, ya.. ” batin Yoja, “kau mengajarkan suatu hal yang berharga, Sansiro.. sebagai seorang petarung kita memang harus mencintai rasa sakit, dengan begitu kita akan haus dengan pertarungan. ” dia terus berlari.
“sudah aku katakan, aku tidak akan kalah. ” batin Sansiro, “jika aku kalah, itu artinya aku sudah mati. ” dia masih berlari.
Sansiro dan Yoja sudah dekat, keduanya mengayunkan tinju secara bersamaan.
“HIAAA..!! ” Sansiro berteriak keras.
“Tinju Besi.! ” Yoja juga berteriak, namun mengeluarkan Jurus, perlahan Shaka miliknya mengalir dan berkumpul di tinju kanannya.
“ini memang Jurus yang sangat terkenal di Desa Arkan, tapi aku belum menguasainya.. aku tidak tahu efek sampingnya. ” batin Yoja.
Boomm..
tinju Sansiro dan tinju Yoja bertemu, gelombang udara terlihat muncul dan menghempas debu yang langsung beterbangan.
Buaakk...
Sansiro terpental sejauh-jauhnya, menghantam tembok yang langsung hancur, lalu tergeletak dan tertimbun puing-puing yang ditutupi gumpalan debu.
disisi lain, Yoja juga terlempar, namun dia tidak sampai menyentuh dinding, dia tergeletak di tanah.
Mikami Sato tersenyum menatap pertarungan, “Jurus Tinju Besi, ya.. salah satu Jurus yang sering digunakan Pimpinan Arkan, Judoro. lalu.. Shaka ungu itu sangat mirip dengan Shaka milik Judoro, ternyata daun muda Desa Yama penuh dengan kejutan. ” batinnya.
Yoja kembali berdiri, dia menoleh kearah Sansiro yang tertutup debu, “akh..! ” dia kesakitan, lalu memegang tangan kanannya, “sudah kuduga, menggunakan Jurus Tinju Besi disaat belum menguasainya benar-benar menyakitkan.. untuk sementara aku tidak bisa menggunakan tangan kanan ku. ” batinnya, Shaka ungu miliknya masih menggelora.
perlahan, debu yang menutupi Sansiro mulai menghilang, terlihat disitu Sansiro mengangkat puing-puing yang menimpanya, Shaka merah miliknya belum redup sedikitpun.
“sudah aku katakan, aku tidak akan kalah.. ” gumam Sansiro dengan wajah penuh darah.
“apa, dia masih bisa berdiri.?! ” Yoja terkejut.
Sinam terkejut, “Sansiro bertahan.?! hebat.! ” batinnya.
Sansiro berjalan menuju Yoja, “ternyata kau memiliki Jurus yang hebat, tapi kau tidak menggunakannya dari tadi. ” ucapnya sambil menghentikan langkah, lalu menggoyangkan tangan kanannya, “aku yakin kau memiliki Jurus yang lebih kuat lagi, ayo tunjukkan pada ku.! ” dia tersenyum semangat.
Yoja menatap Sansiro tidak percaya, “dia.. padahal tangan kanannya sudah beradu dengan Jurus Tinju Besi ku, tapi dia tidak terlihat kesakitan, dia masih bisa menggerakkan tangan kanannya. ” batinnya serius, “apa mungkin dia benar-benar tidak merasakan sakit.? ”
“oi, Sansiro.! ” panggil Yoja, “jadi, kau memang benar tidak merasakan sakit.?! ”
Sansiro tersenyum tipis, “memang benar, tapi.. itu berlaku saat aku sedang bertarung. ” jawabnya, “sudah aku katakan, rasa sakit itu berganti menjadi semangat.. rasa semangat saat melihat lawan membuat ku tidak perduli dengan rasa sakit, apa kau mengerti.?! ”
“jadi, ketika kau sudah selesai bertarung, maka kau akan menanggung semua rasa sakit itu.? ” tanya Yoja.
“benar..! ” Sansiro tersenyum.
Yoja terlihat kesal, “cih, sekali lagi.. aku merasa iri padanya.. ” batinnya, “bagaimana mungkin dia bisa seperti itu.? ”
Sansiro dan Yoja saling tatap, keduanya diam dan suasana pun hening.
Deiki menghela nafas, “aku tidak tahu siapa yang akan menang pada akhirnya, tapi.. jika Yoja yang menang, itu artinya dia sudah membuat Sansiro pingsan, atau mungkin membunuhnya, Sansiro mewarisi tekad ibunya, dia tidak akan menyerah dan bertarung sampai mati.. ” batinnya, “tapi, jika Sansiro yang menang, dia pasti akan memaksa untuk menghadapi Saken.. itu sudah pasti karena Sinam dikalahkan Saken, pertarungan ini pasti memakan waktu, sementara hari sudah sore.. ” dia memandang matahari yang sudah condong.
__ADS_1