
“pemenangnya adalah Kaito dari Desa Pedang Kembar.!! ” teriak wasit dengan keras yang diikuti oleh teriakan para penonton.
Kaito memandang kearah penonton yang berada di atas, “seperti biasa, mereka selalu memandang ku seperti ini.. entah sebagai Kaito, atau sebagai Iblis Kalajengking? aku tidak tahu.. memandang ku dengan penuh kekaguman.. penuh berharap sehingga aku tidak ingin mengecewakan mereka.. ” batinnya, “aku tahu Desa Pedang Kembar sangat menghargai peninggalan masa lalu.. tapi jika terus seperti ini akan membuatku terlihat sebagai alat.. hanya karena aku mewarisi kekuatan Iblis, bukan berarti aku mampu memikul semua harapan yang mereka berikan.. ” dia terlihat kesal.
Kaito melirik Saken yang sudah tergeletak, “tapi... ” dia tersenyum tipis, “kali ini merasakan sesuatu yang berbeda, aku merasa senang di pandang seperti itu, mungkin karena pertarungan tadi benar-benar sulit.. sesuatu yang pantas di hargai.. ” batinnya.
Kaito mengangkat tangannya keatas, “aku..Kaito dari Desa Pedang Kembar, akan berjuang sekuat mungkin.!! ” teriaknya sambil tersenyum lepas.
“hebat..! ”
“Kaito hebat, kau kebanggaan Desa Pedang Kembar..!! ”
semua penonton langsung bersorak mendukung Kaito.
disisi lainnya, Higuchi sang pimpinan Desa Pedang Kembar tersenyum tipis, dia melirik Mikami yang sebagai Pimpinan Yama, “ternyata pewaris Iblis Ular dari Desa Yama tidak terlalu kuat, ya. ” ucapnya.
Mikami melirik Higuchi, “ini masih pertarungan pertama, masih ada sembilan belas pertarungan dibabak ini, aku yakin sembilan anak dari Desa Yama akan membuat mu terkejut. ” balasnya.
Komuki sang pimpinan Desa Sanji menatap datar kearah arena pertarungan, “tidak perlu di perpanjang, ini hanya pertarungan persahabatan. ” ucapnya datar.
Ikumo melirik adiknya, Komuki, “seperti biasa, sikap dinginnya itu membuat ku takjub, dia selalu mampu berpikir jernih di setiap kondisi. ” batinnya.
Judoro sang pimpinan Desa Arkan melirik Komuki, “jika dilihat dari sikapnya, dia sangat berbeda dari Ikumo.. aku yakin dia juga tidak kalah hebat dibandingkan dengan Ikumo. ” batinnya.
kembali ke Arena pertarungan, wasit melihat kearah jam, “satu jam untuk pertarungan pertama, itu terlalu lama, mungkin karena mereka sesama pewaris kekuatan Iblis. ” batinnya, “mungkin pertarungan berikutnya hanya akan memakan sekitar sepuluh menit. ”
wasit mengambil dua kertas yang di lempit dari sebuah wadah, lalu membuka kertas tersebut serta membacanya, “Sanji dari Desa Sanji Vs Tori dari Desa Arkan.. ” teriaknya.
Boomm..
detik selanjutnya, seorang anak melompat dengan kasar dari atas ke arena pertarungan, debu beterbangan, anak itu adalah Tori yang memakai kain pengikat kepala berwarna hijau.
“dimana lawan ku.?! ” Tori terlihat menantang.
disisi lain, seorang anak berambut putih memejamkan mata, “jadi aku, ya. ” dia membuka matanya, anak itu adalah Sanji.
Tap.. Tap..
Sanji berjalan perlahan meninggalkan gerombolan orang dari Desa Sanji yang seolah tidak perduli sedikitpun, walau tanpa dukungan Sanji terlihat penuh keyakinan.
“Sanji..! ” Tiba-tiba wakil dari Desa Sanji memanggil Sanji yang langsung menoleh, “anak dari Desa Arkan itu bukanlah lawan mu yang bahkan tidak memiliki Shaka.. aku tidak meminta mu menyerah, tapi jangan memaksakan diri. ” ucapnya serius.
Sanji mengalihkan pandangannya dari gurunya itu, kemudian dia melanjutkan langkahnya, dia berjalan kearah Sinam.
Sinam memandang Sanji, “jadi, dia akan bertarung, ya. ” dia tersenyum.
Sanji melewati Sinam, dia menuju arena dan turun melalui tangga, dia terlihat penuh semangat.
“Sanji.! ” Sinam memangil Sanji yang kebetulan lewat dibelakangnya.
Sanji menoleh, “Sinam.?” dia sedikit terkejut.
Sinam mengarahkan tinjunya, “jangan kalah dari orang itu, karena aku ingin bertarung melawan mu. ” ucapnya penuh keyakinan.
Sanji tertegun, namun kemudian tersenyum, dia menyambut tinju Sinam, kedua tinju bertemu, “baiklah, aku tidak akan kalah, aku juga ingin bertarung menghadapi mu. ” ucapnya.
Sinam menatap Sanji dengan dalam, “walaupun tanpa Shaka sekalipun, aku percaya kau pasti bisa mengalahkannya, jadi.. jangan menyerah sampai akhir.! ” ucapnya.
“ya, aku tidak akan pernah menyerah.! ” Sanji terlihat serius, lalu melanjutkan perjalanannya.
disisi lain, anak-anak lainnya yang mendengar percakapan Sinam dan Sanji terkejut, mereka terlihat tidak percaya.
__ADS_1
“dia tidak memiliki Shaka.? bagaimana mungkin dia bisa bertarung.? ” Harumi bertanya-tanya.
“ya, mustahil dia bisa menang, senjata saja tidak akan cukup. ” sahut Kaori.
Sinam memandang langkah Sanji yang sudah mulai memasuki arena pertarungan, “ jangan pernah meremehkan seseorang hanya karena dia memiliki suatu kekurangan, kalian tidak melihat matanya, mata yang penuh semangat dan pantang menyerah, tidak perduli seberapa lemahnya seseorang.. jika dia terus mencoba untuk menjadi kuat itu sudah cukup. ” dia terlihat serius.
Deiki memandang Sinam, kemudian menoleh Sanji yang masih berjalan, “begitu, ya.. anak itu tidak memiliki Shaka.. didalam kekurangannya dia sudah menunjukkan kelebihannya.. dia tetap bertekad untuk menjadi petarung, mungkin orang lain sudah menyerah setelah tahu kenyataan itu. ” batinnya.
Sanji terus melangkah, Tori sudah berada di pandangannya, “jangan menyerah sampai akhir, ya.. ” batinnya sambil tersenyum, “walaupun hanya satu orang yang memberi ku semangat, itu sudah lebih dari cukup. ”
Sanji menatap Tori yang sudah didepannya, “ayo kita mulai.!! ” dia mengencangkan kain biru yang berada di keningnya, matanya berapi-api.
Tori bersiap dengan meregangkan otot-otot nya, “wasit, apakah sudah bisa di mulai..? ” dia terlihat tidak sabar.
wasit mengangkat tangannya keatas, “mulai.!! ” lalu menjatuhkan tangannya ke bawah.
“Sanji dan Arkan memiliki cara bertarung yang berlawanan, Sanji selalu dengan senjata, sementara Arkan dengan tangan kosong dan kekuatan fisik, ini akan menarik. ” batin wasit.
Komuki memandang Sanji yang berada di arena, “Sanji, tunjukkan tekad bertarung mu walau kau penuh kekurangan.! ” batinnya.
Sanji menatap Tori yang juga menatapnya, keduanya masih berdiri di posisi masing-masing, terlihat tinggi Sanji hanya sebahu Tori. mereka terlihat serius.
Wushh..
angin berhembus, debu beterbangan menghiasi arena pertarungan, rambut Sanji dan Tori acak-acakan.
Tap..
“aku datang.!! ” Tori melesat maju, dia bersiap dengan tinju kanan.
“dia cepat.! ” Sanji sedikit terkejut.
Tap..
“rasakan ini.!! ” Sanji berteriak sambil melemparkan senjatanya.
Wushh..
shuriken berputar cepat melesat kearah Tori, belati bergerak datar dengan cepat.
“terlalu mudah. ” Tori tersenyum remeh.
Tap.. Tap.. Tap..
Tori menghindari serangan belati yang mengejar kakinya dengan mudah, dia melangkah mundur. setelah itu dia menghindari serangan shuriken yang bergerak tidak beraturan dengan melompat serta menunduk.
Sinam terkejut, “senjata apa itu? aku belum pernah lihat sebelumya. ” ucapnya.
Deiki melirik Sinam, “Desa Sanji terkenal dengan Desa pembuat senjata terbaik, semua jenis senjata ada di sana, jadi tidak perlu terkejut. ” ucapnya.
Tori memandang Sanji yang baru saja mendarat di tanah, “apa kau hanya bisa melemparkan senjata-senjata tidak berguna mu itu.?! ” dia meremehkan.
Sanji menatap datar, “masih belum. ” ucapnya.
Fuff..
tepat setelah itu, asap berwarna ungu mulai muncul di sekitar Tori.
Tori terkejut, “asap? dari mana.? ” dia menoleh sekeliling, dia melihat bom asap yang dikaitkan di pangkal setiap belati, “begitu, ya.. aku harus keluar dari sini. ” batinnya.
“uhuk.. uhuk..! ” Tori tidak sempat keluar dan terbatuk-batuk, asap terus menebal.
__ADS_1
Sanji memandang Tori yang sudah tertutup oleh asap tebal berwarna ungu, “aku tidak boleh melewatkan kesempatan ini.! ” batinnya.
Sanji menutup hidung dan mulutnya dengan kain biru yang berada di keningnya, lalu berlari memasuki gumpalan asap ungu tersebut, entah apa yang dipikirkannya.
Tap..
beberapa saat kemudian, Tori melompat mundur dan menjauh dari kepulan asap tersebut, dia terlihat kesal.
“sial, orang seperti dia adalah lawan yang paling ku benci, bertarung hanya dengan menggunakan senjata. ” gumamnya, “tapi, dimana dia.? ” dia menoleh ke sana kemari.
Wushh..
tepat setelah itu, dari gumpalan asap yang mulai menipis, sebilah pedang melesat kearah Tori dengan ujung yang mengancam.
“disana.! ” Tori terkejut dan langsung menghindar, pedang menancap di tembok arena.
asap ungu sudah menghilang, terlihat Sanji berdiri kokoh dengan mulut dan hidung yang tertutup kain biru, dia menatap Tori.
Tori menatap Sanji, “begitu, ya.. dia menutup hidungnya dengan kain agar tidak menghisap asap tadi, lalu menyerang ku dengan pedang itu. ” dia melirik pedang yang menancap di dinding arena.
Tori bersiap, “baiklah, sekarang giliran ku.! ” kemudian melesat cepat.
Sring..
“ dia datang.” Sanji menarik salah satu pedangnya, kemudian menoleh kearah Tori namun sudah tidak ada di tempat.
Sanji menoleh kiri dan kanan, “dimana dia.? ” batinnya.
“aku disini. ” terlihat Tori sudah berada di belakang Sanji dengan tubuh membungkuk.
Sanji tersentak, “cepat sekali! gawat.! ”
Blak..
belum sempat Sanji menoleh kebelakang, Tori sudah menjegal kakinya dengan tendangan keras.
“akh.! ” Sanji kesakitan bersama tubuhnya yang hilang keseimbangan, dia hampir menghantam bumi.
Cep..
Sanji menancapkan pedangnya untuk menahan tubuhnya, hantaman bumi berhasil terhindar.
Blak..
Tori menendang tangan Sanji yang memegang pedang sehingga pedang terlepas, tubuhnya berputar di udara.
“akh..!! ” sekali lagi Sanji kesakitan.
“kami dari Desa Arkan tidak pernah bertarung dengan menggunakan senjata seperti pedang, karena tubuh kami adalah senjata terkuat.!! ” teriak Tori.
Buaak..
saat tubuh Sanji masih melayang di udara, Tori menancapkan lututnya ke perut Sanji.
Tap..
tubuh Sanji melambung ke udara, Tori langsung memburu dengan melompat ke atas, kemudian menghujani Sanji dengan pukulan serta tendangan di udara.
“ugh.! ” darah keluar dari mulut Sanji, “gawat, jika terus seperti ini tubuhku bisa-bisa.. ” batinnya.
Buaak..
__ADS_1
dengan tendangan sangat keras, Tori mengakhiri serangannya, tubuh Sanji terpental dan menabrak dinding arena, debu muncul menyamarkan.
Tori mendarat ke bumi, “mengecewakan.. ” ucapnya seolah sudah selesai.