
Tempat Pelatihan Akademi...
Saken dan Yoja menatap gerbang masuk, keduanya berhenti sejenak.
“sepertinya kita yang pertama datang. ” ucap Saken menatap datar gerbang.
Yoja tidak menjawab, kemudian mendorong gerbang yang langsung terbuka.
“wah, hebat..! ”
“ini dia petarung yang akan melindungi Desa Yama..! ”
“kalian hebat, kalian yang pertama datang. ”
detik berikutnya, suara sorak-sorai terdengar menggema, ternyata tempat itu sudah dipenuhi dengan orang. Mikami Sato juga disitu, dia duduk di paling depan dan tersendiri, di sampingnya terdapat beberapa pengawal.
“eh?! dipenuhi orang.?! ” Yoja terkejut, kemudian tersenyum hangat. “ ayah, apa kau disini, jika ia kau pasti bangga melihat ku. ” batinnya.
Tap.. Tap..
Yoja dan Saken melangkah perlahan, namun wajah Saken masih terlihat datar.
“seharusnya kalian tahukan apa yang akan ku tanyakan. ” Deiki menegur, dia terlihat kesal melirik Saken dan Yoja, “anak-anak ini tidak tahu sopan santun, mereka mengabaikan ku. ” batinnya.
Saken dan Yoja menghentikan langkah, kemudian menoleh Deiki.
Saken melemparkan tujuh peta, “ seperti yang kau harapkan, kami menemukannya dengan cepat. ” ucapnya datar, sorot matanya begitu tajam.
Deiki menangkap ketujuh peta tersebut, “ apa-apaan anak ini, dia membuatku kesal. ” batinnya.
Yoja menatap Deiki, “ kami yang pertama sampai, itu artinya kami yang menang. ”
“kau harus menerima tantangan dari orang yang datang sampai waktu habis. ” ucap Deiki datar, “ seharusnya kau sudah tahu dari awal, aku sudah mengatakannya tadi. ”
“begitu, ya. ” Yoja tersenyum, “ jadi bagaimana jika nanti ada yang menantang kami diwaktu akhir, saat kami sudah banyak menerima tantangan dan mulai melemah. ”
Saken melirik Yoja tajam, “ apa maksudmu, sepertinya kau memang pecundang. ” ucapnya dingin.
Yoja terdiam menoleh Saken, kemudian menatap Deiki kesal.
Deiki tersenyum tipis, “tidak perlu khawatir, ujian ini dilakukan untuk melihat potensi kalian, bukan masalah menang atau kalah. ” ucapnya, “ akan tetapi lebih baik jika kalian bisa mempertahankan bendera kalian. ”
Saken dan Yoja berjalan menuju bendera kecil berwarna putih yang menancap di tanah, kemudian duduk menjaga.
Mikami memandang Saken dari jauh, “ jadi, anak itu, ya.. aku bisa merasakan Shaka tak terhingga dari dalam dirinya.. ” batinnya tersenyum tipis, “ aku tidak menyangka Desa Yama akan melahirkan seorang iblis, dia akan menjadi petarung hebat di masa depan. ”
★★★★★
Sinam dan Sansiro terus bergerak, keduanya terlihat kerja sama melewati waktu bersama bertambahnya jumlah peta, saat ini terlihat sudah ada enam peta di pegang Sansiro.
“kita istirahat dulu.! ” Sansiro menghentikan langkah, “ aku haus sekali. ”
“ aku juga, kita sudah terlalu lama berlari. ” Sinam terlihat lelah.
Sinam dan Sansiro berjalan menuju sungai, begitu sampai langsung mencelupkan wajah ke air.
“hosh.. hosh.. ” Sinam mengangkat kepalanya dari air dengan nafas tidak beraturan, “ segar sekali. ” wajahnya penuh dengan air.
Sansiro sudah selesai minum, kemudian memasukkan tangannya ke tas. “ sial, perut ku mulai terasa lapar. ” dia mengeluarkan bunga padi dan langsung memakannya.
tiba-tiba Sansiro melirik ke belakang dengan tajam, tapi kepalanya tidak bergerak, “ ada sesuatu di belakang.?! ” batinnya terlihat serius.
“Sinam, awas..! ” Sansiro mendorong Sinam dengan kasar, Sinam pun terguling, namun tidak memasuki sungai.
Wussh..
beberapa pisau melesat, namun tidak mengenai Sinam dan Sansiro yang sudah tidak di tempat, senjata tersebut menyelam di sungai.
__ADS_1
“aduh..! ” Sinam terlihat kesakitan memegangi kepalanya, lalu berdiri, “ hey, Sansiro, apa yang kau lakukan.?! ” dia terlihat kesal.
Sansiro tidak menjawab, matanya menatap ke arah pisau itu berasal, “ siapa disana.?! ” teriaknya.
“eh.?! ” Sinam terkejut dan mengikuti arah mata Sansiro.
Sansiro terus menoleh ke sekeliling dengan tajam, “ sepertinya kau terlalu jelek untuk menunjukkan wajahmu. ” dia tidak melihat apapun.
“aku disini.! ” tiba-tiba terdengar suara orang dari atas.
“eh.?! ” Sinam dan Sansiro terkejut, kemudian menoleh ke atas, mereka melihat seorang anak laki-laki menempel di dahan pohon, kepalanya mengarah bawah, tepatnya kearah Sinam dan Sansiro.
“dia menempel.?! ” Sinam dan Sansiro terkejut.
“apa yang kau inginkan? kenapa kau menyerang kami.?! ” teriak Sinam.
Wussh..
tiba-tiba melesat beberapa pisau kearah Sinam dan Sansiro, namun bukan berasal dari orang yang berada di atas.
Sansiro menarik pedangnya yang besar, “ini bukanlah ancaman bagi kami. ” sambil tersenyum.
Trang.. Ting..
Sansiro mengayunkan pedang, pisau tersebut menghantam pedang lalu tergeletak di tanah.
Tap..
tiba-tiba keluar seorang pria, wajahnya mirip dengan orang yang menempel di atas pohon.
“kau katamu? kosakata mu salah, dia tidak sendiri. ” ucap orang itu tersenyum jahat.
Tap...
anak yang menempel di pohon tadi mendarat ke tanah, dia mendekati orang yang wajahnya mirip dengan dirinya.
Sinam menatap kesal dua orang itu, “ sepertinya mereka lumayan juga. ” ucapnya pelan.
kedua orang itu menatap Sinam dan Sansiro datar, “ kami adalah Kiro dan Kuro bersaudara, kami akan merebut peta kalian.! ”
“merebut peta.?! ” Sinam sedikit terkejut, “ untuk apa kalian merebut peta kami.?! ”
Kuro tersenyum, “ kami tidak bisa menemukan satu peta pun, jadi kami hanya punya satu peta.. ” ucapnya.
“apa maksud mu? bukankah itu melanggar aturan.?! ” tanya Sansiro.
“peraturan tidak mengatakan seperti itu. ” Kiro tersenyum jahat.
Kuro mengeluarkan peta, di tangannya ada lima peta, “ lihatlah ini. ” dia tersenyum jahat.
Sinam terkejut, “lima peta? bukankah kau mengatakan hanya punya satu peta.?! ” dia terlihat berpikir. “ Jangan-jangan.?! ”
“kau benar. ” Kuro tersenyum jahat. “ kalian bukanah tim pertama yang kami rebut. ”
“kami bukanlah orang yang cerdas, mencari peta ini sangat sulit, tapi.. ” sahut Kiro, “jika masalah pertarungan, kami tidak akan kalah. ”
Sansiro melemparkan tasnya kearah Sinam, “ pergilah, aku yang akan mengurus mereka.! ”
Sinam menangkap tas tersebut, “ apa maksud mu? kita akan gagal jika hanya salah satu yang sampai. ”
“pergilah.! ” Sansiro terlihat serius, “peraturan tidak mengatakan seperti itu.. aku percayakan peta ketujuh padamu.. ”
“takkan ku biarkan.! ” Kiro melesat cepat kearah Sinam.
Traang...
“aku lawan mu.. ! ” Sansiro mengarahkan tebasan kearah Kiro yang lansung menangkis dengan pisau, namun tubuhnya tetap terhempas.
__ADS_1
Kiro menatap kesal Sansiro dengan tubuh terduduk, “ kuatnya..” batinnya.
Sinam menoleh Kuro dan Kiro, kemudian menoleh Sansiro, “ kuserahkan mereka padamu Sansiro, jika kau terlalu lama, kau tidak akan melihat pertarungan ku di pelatihan Akademi. ” kemudian pergi.
Sansiro tersenyum memandang kepergian Sinam, “ ku serahkan padamu peta ketujuh.! ”
“jangan harap bisa lolos.! ” Kuro berniat mengejar Sinam.
“tunggu Kuro.! ” teriak Kiro memaksa saudaranya untuk berhenti, “ kita urus dulu yang satu ini, lalu kita kejar anak itu. ” dia menatap tajam Sansiro.
“baiklah, aku mengerti. ” Kuro menatap tajam Sansiro.
Kuro dan Kiro bersaudara menatap tajam Sansiro, kemudian melesat maju menyerbu Sansiro dengan pisau.
“ini dia, momen yang selalu kutunggu, sensasi luar biasa dalam pertarungan. ” Sansiro tersenyum semangat, lalu melesat maju.
Trang.. Ting..
Sansiro menebas dengan penuh semangat, begitu juga sebaliknya, pertarungan sengit antara Sansiro dengan si kembar pun terjadi.
Zraash..
pipi Sansiro terkena sabetan pisau Kuro, pipinya mengeluarkan sedikit darah.
Blak..
Sansiro membalas dengan tendangan keras yang mendarat di dada Kuro, Kuro terlempar beberapa meter dan terjatuh.
“Kuro.! ” teriak Kiro.
Kiro terlihat kesal menatap Sansiro, “ dasar sialan.! ” kemudian kembali maju.
Kiro berlari ke arah Sansiro, saat dekat dia melompat tinggi sambil mengarahkan tusukan pisau kearah wajah Sansiro.
Tap..
Sansiro melompat mundur untuk menghindar, lalu kembali maju sambil mengayunkan pedang untuk menebas.
Ctaang..
pedang Sansiro mengarah ke tubuh Kiro yang langsung menahan dengan dua pisau yang menyilang, namun tubuhnya langsung terhempas mundur.
Kiro dan Kuro menjaga jarak dari Sansiro, keduanya menatap kesal Sansiro.
“ pedangnya terlalu berat untuk ditahan pisau kita. ” ucap Kiro.
“ bukan hanya pedangnya yang berat, tenaga anak ini juga tidak bisa di remehkan. ” sahut Kuro.
Sansiro tersenyum menatap musuh, “ ada apa? apa kalian ingin mengurungkan niat..? ” ucapnya remeh.
di suatu tempat, terlihat Sinam sedang memeriksa rerumputan, sepertinya dia sedang mencari peta.
“ini dia.. ” Sinam mendapatkan peta, kemudian memasukannya ke dalam tas pemberian Sansiro“ peta ketujuh sudah ku temukan, sekarang tinggal menuju arena pelatihan. ”
setelah itu, Sinam kembali melanjutkan perjalanan, dia berlari dan berlompatan diantara pepohonan.
“akhirnya sampai ke pusat Desa. ” gumam Sinam, saat ini dia sudah keluar hutan, di sekelilingnya terdapat perumahan.
Sinam menghela nafas panjang, “ Sansiro, tinggal sedikit lagi aku sampai Sampai Arena pelatihan Akademi.. aku harap kau segera menyusul. ” dia tersenyum semangat menatap gedung Pelatihan Akademi, kemudian kembali bergerak.
Tap..
Sinam sudah sampai di depan gedung pelatihan Akademi, dia bersiap membuka gerbang tersebut.
Braak.. Buaak...
Tiba-tiba terdengar suara orang berkelahi, juga terdengar suara teriakan.
__ADS_1
Sinam menahan tangannya, dia masih belum membuka gerbang, “ apa yang terjadi?! ”
di balik gerbang, terlihat Yoja penuh semangat, “ ada apa dengan kalian?! ayo hibur aku lebih lama lagi.! ” teriaknya menatap dua orang yang sudah tergeletak.