
angin malam berhembus, Satoji duduk di atas atap perumahan, rambutnya terurai terkena angin yang tidak hentinya berhembus.
Satoji menatap langit, dia terus menatap bulan yang saat ini antara sabit dan purnama, kesendiriannya bagaikan serigala yang kesepian.
“Desa Yama memang sangat ramai, tapi jika tanpa Sinam.. aku tetap kesepian. ” gumam Satoji.
disisi lain, didalam sebuah rumah, Yoja tergeletak di kamar lengkap dengan selimutnya, matanya masih terbuka, “Satoji itu.. sudah saatnya tidur tapi masih diluar.. lagipula Sansiro dan Sinam lama sekali, mereka berkata hanya pamit pada keluarga mereka, tapi sampai malam belum muncul juga. ” gumamnya.
Satoji masih duduk di atas atap, masih memandang langit yang saat ini terlihat indah, ribuan bintang menemani bulan untuk menerangi gelapnya malam hari, suasana terlihat lumayan terang.
“sinar bulan malam ini sangat terang.. belum purnama, tapi sudah bukan bulan sabit, setengah bulat juga sudah lebih.. ” gumam Satoji, “semakin lama aku memandangnya.. entah mengapa aku jadi teringat saat-saat itu.. saat seluruh Klan ku dibunuh... sendirian dalam kesepian membuat kebencian ini semakin dalam.. ”
Satoji tersenyum, “Iblis Serigala, ya.. ” ucapnya, “ternyata aku memiliki kekuatan yang terpendam.. tidak terlalu buruk juga.. mungkin tidak butuh waktu lama untuk menjadi kuat. ”
Tap..
Tiba-tiba terdengar suara orang yang melompat ke atas atap, Satoji menoleh, disitu terlihat Saken berdiri dengan santai.
Satoji memalingkan pandangan dari Saken, “cih, jadi kau, ya. ” kemudian berdiri dari duduknya.
Satoji menatap Saken yang juga menatapnya, “apa yang kau inginkan.? ” tanya Satoji.
“seharusnya kau sudah tahu, aku ingin bertarung dengan mu.! ” Saken tersenyum jahat.
Satoji tersenyum jahat, “sudah lama aku menunggu kesempatan ini.. melihatmu saja sudah membuat ku muak. ” ucapnya.
“tentu saja.. karena kita sama-sama mewarisi kekuatan Iblis.. saat berdekatan, nafsu membunuh kita akan bangkit. ” ucap Saken, “tapi.. aku ingin bertarung dengan mu karena penasaran Iblis apa yang ada di dalam dirimu. ”
“begitu, ya.. pantas saja saat melihatnya aku merasakan sesuatu yang aneh.. ternyata itu adalah respon dari sesama Iblis. ” batin Satoji.
“sebelum bertarung, ada yang ingin ku tanyakan padamu, Satoji. ” ucap Saken, “darimana kau berasal? apa tujuan mu datang ke Desa Yama? aku yakin kau bukan berasal dari Desa Yama, aku tidak pernah merasakan sesuatu yang sama seperti saat aku berdekatan dengan mu. ”
Satoji memasang ekspresi serius, “aku tidak memiliki kewajiban untuk menjawab pertanyaan mu.. kau juga tidak memiliki hak untuk mendapat jawaban dariku. ” ucapnya dingin.
Saken tersenyum jahat, “sudah kuduga, kau pasti berkata seperti itu, tapi.. ” ucapnya, “kau pasti menjalani hidup yang menderita.. itu adalah hal yang dialami oleh setiap orang yang mewarisi kekuatan Iblis.. dulu aku tidak percaya dengan omong kosong itu, tapi setelah menjalani hidup yang penuh rasa sakit.. aku percaya. ” ucapnya.
“penuh rasa sakit katamu.?! ” Satoji terlihat kesal, “rasa sakit apa yang kau terima dari desa yang damai ini? penderitaan mu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan ku.. ”
“aku tidak tahu apa yang kau alami.. tapi kau tidak mengerti rasanya dijauhi oleh orang-orang saat mengetahui aku mewarisi kekuatan Iblis.. bahkan teman-teman ku juga menjauhi ku.. semua orang menanggap aku sebagai Iblis. ” Saken terlihat serius, “tapi.. setelah aku mengenal Sinam.. semuanya berubah, dia memandang ku sebagai manusia.. ”
“Sinam.? ” Satoji terkejut, kemudian tersenyum, “begitu, ya.. ternyata Sinam memang orang yang berbeda. ” batinnya.
“Satoji.. aku yakin kau menyimpan dendam pada seseorang.. tatapan matamu penuh kebencian. ” ucap Saken. “ sebagai sesama Iblis.. aku tahu rasa sakit penderitaan mu.. berhentilah membuat dirimu masuk ke lubang kebencian yang semakin dalam..itu tidak berguna.. setelah kau membunuh orang itu kau tidak mendapat apa-apa,hanya kepuasan semata.. ”
“memangnya kau tahu apa? hah.?! ” Satoji mulai kesal, “ aku tidak perduli dengan omong kosong mu.. apa kau pikir aku percaya penderitaan ini terlahir hanya karena aku mewarisi kekuatan Iblis..?! apa kau pikir aku akan melupakan orang yang sudah menyebabkan rasa sakit ini..?!” teriaknya.
Satoji kembali tenang, “berhentilah berbicara seolah kau tahu segalanya.. seharusnya kau tahu bagaimana rasanya kesepian karena sendirian.. kau yang tidak pernah kehilangan keluarga tidak akan memahami perasaan ku. ” ucapnya.
Saken terlihat terkejut, “kehilangan keluarga.?!.. jadi, keluarganya dibunuh. ” batinnya.
“sudah cukup basa-basinya, ayo kita mulai. ” Satoji terlihat serius.
Satoji menatap tajam Saken yang juga menatapnya, keduanya beradu tatap untuk beberapa saat.
Fuhh..
angin sepoi-sepoi datang berhembus, rambut Satoji dan Saken tidak beraturan, dari mata keduanya terlihat sinar bulan yang terpantul, tatapan keduanya terlihat sangat tajam.
Brak..
Satoji bersiap, lalu berlari kearah Saken dengan cepat. disisi lain, Saken juga berlari kearah Satoji, namun dia tidak menggunakan kekuatan Iblis miliknya.
Blak.. Bukk..
diawal pertarungan, keduanya terlihat bertarung dengan tangan kosong dan tanpa Shaka, keduanya bergerak cepat dengan gerakan melompat kesana-sini, adu pukul dan saling tahan terjadi.
Buaakk.. Blakk..
beberapa saat kemudian, terlihat Satoji lebih unggul, Saken berkali-kali terkena pukulan Satoji.
__ADS_1
Satoji mengarahkan tinju kearah Saken, “kau tidak akan bisa mengalahkan ku.!! ” teriaknya.
Saken terhempas terkena tinju Satoji, hidungnya pecah dan berdarah, “jadi.. aku harus menggunakan kekuatan Iblis ku, ya. ” batinnya.
Saken tergeletak di atas atap, dia kembali berdiri, Shaka hijau kehitaman miliknya mulai keluar, “akan ku perlihatkan kekuatan ku padamu.. Satoji. ” ucapnya.
Satoji terkejut, “Shaka apa ini? ini sangat menakutkan.! ” batinnya terlihat ketakutan.
Srakk..
Saken memanjangkan tangannya, tangannya melesat cepat kearah Satoji, saat sudah dekat berubah menjadi ular.
“apa.?! ” Satoji sekali lagi terkejut.
Sraakk..
Satoji berusaha menghindar, namun terlambat, ular Saken melilit tubuhnya.
Saken mengayunkan tangannya yang sudah berubah menjadi ular, tubuh Satoji yang terlilit ikut terlempar.
Brakk.. Brukk..
tubuh Satoji menghantam atap perumahan yang langsung hancur, namun tubuh Satoji masih terlilit ular tersebut, Saken kembali menghantamkan Satoji keatap perumahan yang terus hancur.
Saken melepaskan lilitan tangan ularnya, lalu kembali merubah ular tersebut menjadi tangan yang langsung memendek, “ada apa dengan mu? kenapa kau tidak menggunakan kekuatan Iblis mu, Satoji.? ” ucap Saken.
Satoji tergeletak, matanya menatap atap perumahan yang retak, lalu perlahan kembali bangkit dan memandang Saken.
Saken tersenyum jahat, “jika kau tidak menggunakan kekuatan Iblis mu, kau tidak akan pernah menang melawan ku.. ” ucapnya.
Satoji menundukkan kepala, matanya terpejam, “jika aku memang mewarisi kekuatan Iblis.. keluarlah.! ” batinnya, “Iblis apapun yang ada di dalam diriku.. pinjamkan aku kekuatan mu.!! ” batinnya.
Saken menatap Satoji, “apa yang dia lakukan.?! ” batinnya.
perlahan, Shaka merah kehitaman muncul dari tubuh Satoji, saat ini dia terlihat menakutkan karena berada di gelap malam.
Saken memanjangkan kedua tangannya yang langsung berubah menjadi kedua ular yang cukup besar, ular tersebut melesat kearah Satoji yang masih diam ditempat dengan Shaka merah bergejolak.
“majulah, Satoji.!! ” teriak Saken.
Zrashh..
saat kedua ular Saken hampir menyentuh Satoji, tiba-tiba terlihat cahaya putih yang berbentuk cakar, darah terciprat ke segala arah.
Bukk..
detik berikutnya, terlihat tubuh ular milik Saken sudah tercincang, lalu tergeletak di atas atap.
Saken terlihat kesakitan, tangannya kembali memendek dan terpotong, namun kembali seperti semula lagi, “jadi.. dia mewarisi kekuatan Iblis Serigala, ya.. ” kemudian tersenyum jahat.
didepan Saken, terlihat Satoji berdiri dengan gagah, cakarnya panjang dan begitu runcing, taringnya juga begitu tajam, bola matanya berwarna merah layaknya mata serigala.
Satoji menatap tubuhnya, “aku bisa merasakannya.. kekuatan yang begitu dahsyat dari tubuh ku.. Shaka merah ini.. seolah menyembuhkan luka-lukaku.. ” batinnya, lalu tersenyum jahat, “jadi ini.. kekuatan seorang pewaris Iblis. ”
Saken dan Satoji saling menatap dengan Shaka begitu besar, mata keduanya terlihat begitu tajam, layaknya seekor ular dan serigala.
“ayo maju.!! ” Saken mulai berlari.
“aku datang.!! ” Satoji melesat cepat.
Braakk..
setiap kaki keduanya berpijak diatap, atap tersebut langsung retak.
Satoji dan Saken terus berlari saling mendatangi, tubuh mereka terlihat berubah menjadi setengah binatang, Shaka pekat terus berkobar.
“matilah..!! ” keduanya berteriak, Satoji bersiap dengan cakar, sementara Saken mengeluarkan ularnya yang besar.
Traang..
__ADS_1
Tiba-tiba Sinam berdiri di tengah-tengah, Saken dan Satoji terkejut serta menghentikan langkah.
Sinam menundukkan kepala, “cukup.. hentikan pertarungan.. ” ucapnya pelan.
“Sinam.?! ” Satoji dan Saken terkejut, perlahan Shaka keduanya menghilang bersama tubuhnya yang kembali normal.
Sinam tersenyum menatap keduanya, “kalian berdua benar-benar hebat. ” ucapnya, lalu menoleh Satoji, “Satoji, aku baru tahu, ternyata kau mewarisi kekuatan Iblis. ” ucapnya.
“aku juga baru tahu. ” Satoji juga tersenyum.
Saken menatap Sinam, “oi, Sinam.. kami hanya latihan.. ” ucapnya, “ besok kita akan pergi, aku akan istirahat dulu.. lagipula aku juga ngantuk. ” dia tersenyum, lalu pergi.
Sinam memandang kepergian Saken, “jika yang seperti itu namanya latihan, lalu seperti apa pertarungan sungguhan.. aku juga bisa merasakan ketegangan diantara kalian berdua selama ini. ” batinnya.
Sinam tersenyum menatap Satoji, “Satoji, sepertinya kalian berdua kurang akur, ya.. ” ucapnya.
Satoji terdiam, dia terlihat berpikir keras, wajahnya juga serius.
“Sinam..” tiba-tiba Satoji membuka suara, wajahnya terlihat serius.
Sinam menoleh, dia juga terdiam dengan wajah penasaran.
“Sinam, aku akan kembali ke hutan, sepertinya aku lebih baik tinggal bersama guru Abame. ” ucap Satoji tersenyum terpaksa.
Sinam terkejut, “apa.. maksud mu.? ” ucapnya.
“besok kalian akan pergi.. aku tidak mungkin ikut dengan mu. jadi, aku akan tinggal bersama guru Abame. ” ucap Satoji.
“yah, baiklah.. maaf aku tidak bisa mengajak mu, guru Deiki tidak mengizinkan. ” Sinam terlihat menyesal.
“bukan apa-apa, aku akan pergi sekarang. ” Satoji terlihat serius, “Sinam.. kita pasti bertemu lagi. ” ucapnya.
“apa yang kau katakan? tentu saja kita bertemu lagi, setelah kembali dari Desa Pedang Kembar, aku akan menemui mu dan guru Abame. ” ucap Sinam tersenyum.
Satoji membalikkan badan, lalu berjalan perlahan dengan wajah serius, “maafkan aku, Sinam.. jika aku mengatakan yang sebenarnya, kau pasti menghentikan ku dengan cara apapun. ” batinnya, “ aku tidak mungkin menjadi murid Abame.. ada sesuatu yang tidak ku suka dari dia.. setiap melihat matanya.. seperti ada yang ganjil. ” batinnya.
Sinam memandang kepergian Satoji, “perasaan apa ini? padahal hanya berpisah sebentar.. tapi rasanya seakan berpisah selamanya.. ” matanya berkaca-kaca.
Satoji terus berjalan, “aku percaya.. kekuatan sejati berasal dari kebencian yang dalam.. mulai sekarang, aku akan terus sendiri.. larut dalam kesepian membuat kenangan berdarah itu terus terbayang.. tujuan ku sekarang hanya balas dendam. ” batinnya, “aku tidak tahu entah mau kemana.. aku juga tidak tahu cara untuk menjadi kuat.. tapi, jalan segelap apapun akan ku lewati untuk menjadi kuat.. walaupun tanpa cahaya setitik pun. ”
Sinam duduk di atas atap, kini Satoji tidak terlihat dari pandangannya, dia terlihat melamun.
“oi, Sinam.?!!” tiba-tiba ada yang berteriak. “apa yang terjadi?! kenapa atap rumah Yoja hancur begini.?!! ” orang itu adalah Sansiro.
“eh.?! ” Sinam terkejut, “ Sansiro.?! ”
seketika itu, Sinam panik menoleh sekeliling, “apa yang terjadi? kenapa bisa begini.?! ” dia menoleh sekeliling.
“jangan berpura-pura bodoh, hanya kau satu-satunya orang yang berada di sini. ” ucap Sansiro, “setelah Yoja tahu, kita akan mendapat masalah. ”
“memangnya dia dimana.? ” tanya Sinam.
disisi lain, terlihat Yoja sudah terlelap, air liur keluar dari mulutnya, suara dengkurannya sangat keras, sepertinya dia tidak merasa terganggu sedikitpun.
“apa.?!!” Sinam berteriak, “dia tidur.?! ”
“begitulah, jika dia sudah tidur, dia seperti mayat. ” ucap Sansiro.
masih di pusat Desa, terlihat Satoji berjalan di antara perumahan, didepannya terlihat Kaori berjalan kearahnya, beberapa langkah lagi mereka berpapasan.
Kaori menunduk, “kenapa Satoji berada di sini? ” batinnya, dia terlihat malu.
Satoji menghentikan langkah, menatap datar Kaori, “Kaori, terimakasih.. selama ini kau selalu baik padaku. ” ucapnya.
Kaori terkejut, “ada apa ini? tidak biasanya Satoji berkata seperti ini, atau jangan-jangan dia.. ” pipinya semakin merah, “mau menyatakan cinta. ” batinnya.
“aku akan pergi.. jadi, sampai bertemu lagi. ” ucap Satoji, lalu kembali melangkahkan kaki melewati Kaori.
Kaori terdiam dan membisu, matanya mulai berkaca-kaca, dia terduduk di tanah, “kenapa.. jadi seperti ini.? ” ucapnya pelan, airmatanya akhirnya menetes, dia menangis di sudut jalan yang gelap.
__ADS_1