
di bawah gerimis, tepatnya di hutan yang benar-benar kacau, air menggenang dimana-mana, pepohonan bertumbangan akibat terkena serangan air Sinam yang dalam kondisi tidak sadar.
Pcak..
Satoru terlihat kacau dengan tubuh basah kuyup, dia menginjak genangan air yang langsung terciprat.
Satoru menoleh ke atas, disitu terlihat Sinam melayang di atas air dengan mata terpejam, Satoru terlihat kesal dan mengadu gigi, “ cih, siapa sebenarnya anak ini.? ” batinnya.
Sinam masih diam ditempat, berpijak diatas air dengan tubuh melayang serta mata terpejam.
Tes.. Tes..
semakin lama, air yang turun dari langit semakin deras, gerimis berganti menjadi hujan.
Satoru memandang ke atas, menatap derasnya hujan yang langsung menusuk wajahnya, “ hujan? ini buruk.! ” batinnya, lalu kembali menoleh Sinam, “ tapi, jika aku membiarkan anak ini hidup, dia akan menjadi hambatan suatu saat nanti. ” lanjutnya serius.
Sriing..
Satoru bersiap dengan kedua pedangnya, “ aku akan mengakhirinya sekarang juga.! ” ucapnya serius.
Wushh..
dengan tiba-tiba, semua bulir air hujan terhenti dan tidak menyentuh bumi.
Satoru tersentak, dia melihat sekeliling, bulir air di tempat itu berhenti, “ waktunya terhenti.? ” batinnya, lalu menoleh Sinam, “ tidak, dia yang mengendalikannya. ” lanjutnya serius.
Krak..
setelah itu, bulir-bulir air tersebut membeku menjadi es.
Sinam menatap Satoru dengan mata terpejam, lalu mengipaskan tangannya, seketika semua bulir-bulir es tersebut melesat seperti peluru kearah Satoru.
Satoru bersiap, “ dia datang.! ” batinnya.
Ctaang.. Ctiing.. Traang..
dengan gerakan gesit, Satoru menepis peluru es tersebut, sesekali dia juga menghindar.
Braak..
dibelakang Satoru, terlihat sebatang pohon tidak berdaun hancur terkena peluru es, lalu tumbang.
Satoru terus menangkis, dia menyempatkan melirik ke belakang, “ tumbang? serangannya cukup berbahaya. ” batinnya.
Cep..
walaupun sudah berusaha menepis semua serangan peluru es, namun beberapa butir peluru es menusuk paha dan lengan Satoru, darah mengalir secara perlahan.
“ cih.! ” Satoru terlihat kesal, dia mempercepat gerakannya untuk menangkis semua serangan lawan.
Tes.. Tes..
beberapa saat kemudian, situasi di tempat itu kembali normal, hujan kembali menetes dan membasahi bumi serta tubuh Satoru.
“ hosh.. hosh..! ” Satoru ngos-ngosan, dia mengatur nafas di bawah derasnya hujan, dia basah kuyup.
__ADS_1
Satoru menatap Sinam yang masih terpejam, “ sepertinya anak itu tidak sadarkan diri. ” batinnya, “ tapi dia sudah mendesak ku.. sekarang, apa yang harus ku lakukan.? ” lanjutnya terlihat kesal.
Sinam masih berada di udara, dia menatap Satoru dengan mata terpejam, lalu memainkan tangan kanannya ke depan.
Blaarr..
setelah itu, tetesan air hujan menyatu, lalu melesat kearah Satoru seperti seekor ular yang siap menerkam.
Satoru terlihat bersiap, “ baiklah, aku akan menggunakan Jurus. ” batinnya, namun tiba-tiba tersentak, “ sudah ku duga.. aku kehabisan Shaka. ” lanjutnya.
Blaarr..
serangan air Sinam menghantam tubuh Satoru, tubuh Satoru terdorong dan menghantam pepohonan terus menjauh, hingga akhirnya menabrak bongkahan tanah seperti batu yang langsung hancur.
“ akh..! ” Satoru memuntahkan darah dengan posisi tergeletak, dia memandang langit hitam yang menurunkan hujan dengan lebatnya.
disisi lain, Sinam masih berada di posisi semula, melayang di udara dengan berpijak di atas air, berjauhan dengan Satoru dan tidak mengejar.
Satoru masih tergeletak dan menatap langit, perlahan dia tersenyum mengingat semua pertarungan yang terjadi hari ini, “ mereka.. benar-benar anak yang menarik.. ” gumamnya lalu tertawa kecil.
“ lihatlah diriku ini, sangat menyedihkan jika hanya menghadapi anak-anak.. ” gumamnya sambil tersenyum, “ tidak, mereka memang sangat kuat, untuk saat ini.. aku lebih baik mundur. ”
Tap..
Satoru kembali berdiri, lalu menoleh ke suatu arah, “ dia tidak mengejar, ini kesempatan ku untuk melarikan diri, aku sudah kehabisan Shaka dan tidak bisa mengeluarkan Jurus, tapi.. ” Satoru mulai berlari menjauh, “ setidaknya ada yang kudapatkan dari pertarungan panjang hari ini.. ” dia tersenyum lepas.
Satoru menatap pedang kebanggaannya dengan mata berbinar, “ mengetahui bahwa pedang kesayangan ku ini adalah Pedang Penakluk Iblis, sekarang.. aku tidak takut menghadapi Iblis.. ” dia tersenyum jahat, “ dan kau.. aku pasti akan membalaskan dendam Klan Taro, aku akan membunuhmu.! ” lanjutnya, dia teringat dengan anggota Kelelawar Merah yang membantai Klannya, namun ingatan Satoru lebih terfokus kepada pemuda berambut putih, yaitu Uhara.
Tap.. Tap..
disisi lain, Sinam masih diam ditempat, beberapa saat kemudian air di kakinya menghilang dan tubuhnya terjatuh kearah bumi.
Buuk..
tubuh Sinam terhempas ke bumi, tergeletak menatap langit dengan mata terpejam, sepertinya sesuatu di dalam dirinya kembali bersembunyi karena sudah tidak ada lagi ancaman untuk Sinam.
Tes.. Tes..
dengan derasnya, air hujan menusuk tubuh Sinam, dia terlihat menyedihkan dengan sekujur tubuh penuh luka.
cukup jauh dari tempat Sinam berada, tubuh Ryugu yang tidak bernyawa tergeletak di genangan air, darah sudah tidak terlihat karena tercampur air hujan, wajahnya yang mulai memucat terlihat begitu menyedihkan.
Tap.. Tap..
dibawah derasnya hujan, dengan menggunakan jubah hujan, seorang pemuda mendekati tempat itu, namun cukup jauh dari tempat Sinam dan Ryugu berada, dia adalah Akaza Takeyomi.
Akaza terkejut melihat kehancuran sekeliling, “ apa yang baru saja terjadi.? ” gumamnya, “ sepertinya aku melewatkan sesuatu yang menarik.. dan lagi, sepertinya Satoru sudah tidak ada di tempat ini. ” lanjutnya.
Tap..
Akaza kembali bergerak dan melesat ke suatu arah, “ lebih baik aku kembali ke markas Kaisar Besi, mungkin aku akan menemukan Satoru di sana. ” batinnya sambil berlompatan di dahan pohon.
Pcak.. Pcak.. Pcak..
cukup lama setelah itu dan hari sudah gelap, saat hujan masih deras, sekumpulan orang datang ke tempat itu membawa lentera yang memberikan penerangan, mereka menginjak genangan air yang berada di mana-mana.
__ADS_1
Orang-orang itu adalah Aozora, Sansiro, Yoja, Jiromaru, Thakesi, Harumi, dan Kaori serta beberapa petarung dari Sanji.
Aozora memandang kehancuran yang ada di depan matanya, “ sepertinya.. kita terlambat. ” gumamnya terkejut.
Sansiro menoleh ke segala arah, “ dimana? Sinam dimana.?! ” dia terlihat kesal.
para Petarung Sanji memandang tempat itu yang hancur parah, “ sebenarnya.. pertarungan macam apa yang barusan terjadi.? ” ucap salah satu terkejut.
salah satu menoleh kesuatu arah, disitu terlihat mayat kedelapan Petarung Sanji yang di bunuh Satoru, “ jadi, mereka berhasil dikalahkan, ya. ” ucapnya.
“ ternyata yang mereka katakan tentang si Setan Merah bukan hanya omong kosong, kedelapan petarung Sanji dikalahkan dengan mudah. ” sahut yang lain.
Pcak.. Pcak..
Sansiro dan yang lain berlari ke sana kemari, memeriksa tempat pertarungan tersebut.
“ Sinam, Ryugu..!! ” teriak Harumi.
Kaori mengikuti langkah Harumi sambil menoleh kanan kiri, “ dengan kehancuran separah ini, sepertinya mustahil Sinam dan Ryugu selamat. ” batinnya.
para petarung Sanji memandangi Sansiro dan yang lain, “ percuma saja, kita sudah terlambat, kedua teman kalian mungkin sudah terbunuh.!! ” teriaknya mengingatkan.
“ teman-teman, aku menemukan Ryugu.!! ” Tiba-tiba ada yang berteriak, itu adalah Yoja yang saat ini menatap tubuh Ryugu yang tergeletak lemah.
“ Ryugu.? ” Aozora menoleh, lalu berlari kearah Yoja, begitu juga dengan yang lainnya.
Yoja berjongkok memandang Ryugu, dia melihat perut Ryugu yang hampir putus, “ tanpa harus memiliki ilmu medis, siapa saja pasti tahu Ryugu saat ini sudah tewas. ” gumamnya, dia terlihat sedih.
Tap.. Tap..
Aozora dan yang lain sudah berada di samping Yoja, lalu menatap mayat Ryugu yang sudah memucat dibawah derasnya hujan.
Deg..
Aozora tersentak menatap Ryugu, lalu menutup mulut bersama airmata yang mengalir, “ Ryugu.. ” kedua lututnya jatuh spontan, dia seperti tidak memiliki kekuatan.
Sansiro menatap Ryugu, kemudian menoleh ke sana kemari dengan wajah kesal, “ tidak, Sinam tidak boleh mati, kami memiliki janji untuk menjadi Petarung terkuat bersama-sama. ” dia mulai panik, dan akhirnya berlari kesana kemari.
Tap.. Tap..
Sansiro berlari kesana kemari, air matanya menetes dan beterbangan diudara bercampur dengan air hujan, “ Sinam, aku tidak akan memaafkan mu jika kau mati. ” batinnya mengadu gigi, “ tidak, ini salahku, aku membiarkan dia bertarung sendirian.. dasar payah..!! ” teriaknya.
Tes.. Tes..
hujan masih turun dengan derasnya, tempat itu di penuhi dengan air, pemandangan semakin samar di gelap malam.
“ aku menemukan yang lain. ” ucap salah satu petarung Sanji, dia berdiri menatap Sinam yang tergeletak dibumi dengan tubuh basah kuyup.
Sansiro mendengar dan menoleh, “ Sinam..? ” gumamnya, lalu berlari kearah orang itu.
Sansiro berdiri menatap Sinam yang tergeletak dengan wajah menyedihkan, “ Sinam.. jangan-jangan..? ” dia gemetar menatap sahabatnya yang tergeletak lemah.
petarung Sanji berjongkok, lalu meletakkan jarinya di hidung Sinam, “ benar-benar beruntung, dia masih hidup setelah terlibat pertarungan mematikan melawan Setan Merah. ” ucapnya, dia terkejut.
Sansiro tersentak, menghapus air matanya dan tersenyum lepas, “ bukan karena beruntung, tapi dia memiliki tekad hidup yang kuat.. karena dia sahabat ku. ” ucapnya.
__ADS_1
Sansiro memapah tubuh Sinam, berjalan perlahan dibawah derasnya hujan, dia memandang Sinam yang terlihat menyedihkan, “ Sinam.. kau mencoba mengorbankan diri untuk melindungi kami.. kau benar-benar hebat.. jadi, bertahanlah. ” batinnya.