SINAM

SINAM
Jurus Pencuri Bayangan


__ADS_3

Ikumo menatap kesal Hikari, “sial, dia bisa menahan Jurus Seribu Pedang milik ku. ” batinnya.


Hikari mencairkan tembok es yang berada di depannya, “aku harus menghemat Shaka ku. ” batinnya.


“bagaimana dengan yang ini.! ” teriak Ikumo sambil melompat tinggi.


“apa yang akan dia lakukan.? ” Hikari terlihat siaga.


saat di udara, Ikumo kembali memainkan pedangnya dengan gaya melingkar, “Seribu Pedang Ganda.! ” teriaknya.


setelah itu, muncul beribu-ribu pedang yang terbuat dari Shaka hijau di sekeliling Ikumo, ujung pedang tersebut mengarah Hikari.


“apa?! ” Hikari terkejut.


Mikami menatap Ikumo sambil tersenyum, “Seribu Pedang Ganda, ini hampir sama dengan Seribu Pedang, hanya jumlahnya yang digandakan, aku tidak tahu sebanyak apa Shaka yang dia butuhkan untuk itu. ” gumamnya.


“kau benar, Mikami. mungkin setelah ini dia akan kehabisan Shaka. ” sahut Judoro.


Plak..


Hikari menapakkan kedua telapak tangannya, “ Jurus Gelombang Es.!” teriaknya.


sesaat kemudian, tanah di sekeliling Hikari hancur dan memuntahkan air yang sangat besar, air menyatu dan membeku menjadi es yang besar serta tinggi.


Ikumo mengayunkan pedangnya ke depan, “matilah.! ” seketika semua pedang Shaka melesat kearah Hikari yang dilindungi perisai es.


Zuooorrr...


ledakan super dahsyat terjadi.


★★★★★


Tap.. Tap..


Hikaru dan Himiko berlari di antara genangan mayat, hampir semua dari mayat adalah pasukan Elemen.


Himiko meratapi pemandangan yang berdarah ini, “sialan, suatu saat nanti pasti akan ku balas.! ” batinnya penuh kebencian.


“Hosh.. Hosh..! ” nafas Hikaru hampir putus, “dimana sebenarnya Hayumi dan Sinam.. kita harus segera menemukan mereka. ”


“benar, aku yakin Bibi dan Sinam pasti masih hidup. ” sahut Himiko.


Greeb..


secara tiba-tiba Hikaru menarik Himiko untuk bersembunyi dan langsung menutup mulutnya.


Himiko menatap ayahnya, lalu melirik kearah lainnya, sepertinya dia menyadari sesuatu.


“ayo, periksa semua tempat! jangan biarkan seorang pun dari mereka selamat.! ”


“benar, aku yakin masih ada warga Desa ini yang hidup, kita harus membunuh mereka.! ”


disaat itu, segerombolan orang lewat, mereka adalah pasukan musuh yang memastikan kehancuran Desa Elemen.


“sepertinya disini sudah tidak ada orang, ayo pergi.! ” setelah beberapa saat ditempat itu, pasukan musuh bergegas pergi.


“uhuk.. uhuk..! ” tepat disaat itu, Hikaru terbatuk, dia mencoba menutupi dengan tangannya yang langsung terciprat darah, tetapi tetap saja suaranya terdengar.


“siapa di sana?! ” semua pasukan musuh kembali berbalik dan mengikuti arah suara.


“gawat, sepertinya ini adalah akhir bagiku. ” batin Hikaru.


Tap.. Tap..


pasukan musuh berjalan menuju Hikaru dan Himiko berada.


Braak..


Hikaru keluar dari persembunyian, “Himiko, cepat lari! ayah yang akan mengurus mereka. ” perintahnya.


Himiko mendekati ayahnya, “tidak, aku tidak mungkin meninggalkan ayah dalam kondisi seperti ini. ”


segerombolan musuh tersebut menatap Hikaru, “apa? bukankah dia pimpinan pasukan Elemen, bagaimana mungkin? ” salah satu terlihat terkejut.


“tiga pimpinan kita tidak mungkin dikalahkan, aku yakin mereka sedang menghadapi pengendali Air.” salah seorang tersenyum.


“jadi maksudmu, orang ini lari dari pertarungan. ” sahut yang lain sambil tersenyum.


“itu artinya orang ini dalam kondisi lemah... ayo serang.! ” teriak salah satunya sambil berlari maju.

__ADS_1


Hikaru mengeluarkan api di telapak tangannya, “walaupun dalam kondisi seperti ini, segerombolan sampah seperti kalian bukanlah ancaman bagi ku.! ” seringainya.


Blaarr..


Hikaru melemparkan apinya kearah orang pertama yang maju, orang itu tidak menghindar dan akhirnya terkena api tersebut.


“AAAAAKHH..! ” orang tersebut terbakar dan berteriak keras, lalu berlari tak tentu arah sambil meminta tolong.


musuh yang lainnya menatap Hikaru tajam, “ini kesempatan kita, kita harus membunuhnya.. ”


“jumlah kita terlalu sedikit, aku akan memanggil yang lain. ” salah satu pergi dari tempat itu.


setelah itu, Hikaru mengeluarkan api normal yang langsung menyerbu musuh.


“menghindar.! ” semua musuh berlari menghindar, namun tetap ada yang terkena api dari Hikaru.


beberapa saat kemudian, setelah terdengar suara jeritan, tinggallah tiga orang dari pasukan musuh yang selamat.


ketiga orang tersebut tidak berani maju, namun sepertinya mereka juga tidak berniat melepaskan Hikaru.


Hikaru menatap ketiga orang tersebut, “sebelum bala bantuan musuh datang, aku harus membereskan mereka. ” batinnya, wajahnya terlihat sangat lelah.


Tap.. Tap.. Tap.. Tap..


disaat itu juga, terdengar suara langkah langkah kaki yang menggetarkan bumi, mereka adalah pasukan musuh dari tiga desa yang jumlahnya ratusan bahkan ribuan.


Hikaru menoleh dengan wajah serius, “Himiko, ayo lari.! ” kemudian menarik tangan putranya untuk segera pergi.


Hikaru dan Himiko berlari kearah yang berlawanan dari pasukan musuh.


“ayo kejar.! jangan biarkan dia lolos.! ”


“kita harus memastikan kematiannya, dia adalah pimpinan pasukan Elemen yang sangat kuat.! ”


“benar, kesempatan seperti ini tidak mungkin datang dua kali. ”


Tap.. Tap..


semua pasukan musuh berlari mengejar Hikaru dan Himiko.


Greeb..


“Himiko, kau harus tetap hidup, ayah yakin suatu saat kau akan jadi petarung yang hebat. ” batin Hikari kemudian menoleh kebelakang yang ternyata pasukan musuh semakin mendekat, “Hikari, maafkan kakak, aku tidak bisa menyelamatkan Sinam dan Hayumi. ” dia terus berlari kearah hutan.


cukup dekat dengan Hikaru, dari belakang pasukan musuh terus mengejar, saat ini mereka sudah keluar kawasan desa Elemen dan mulai memasuki hutan.


★★★★★


“hosh.. hosh..! ” Ikumo berjongkok di tanah dengan mata memandang Hikari yang ditutupi oleh perisai es, nafasnya tidak beraturan, wajahnya terlihat kelelahan, tubuhnya juga dipenuhi dengan luka.


“sial, dia bahkan bisa menahan Jurus Seribu Pedang Ganda milikku. ” batin Ikumo, “gawat, Shaka ku sudah habis, aku sudah mencapai batas. ”


“hosh.. hosh..! ” Hikari juga kelelahan, tubuhnya dipenuhi luka, matanya menatap ketiga musuh yang berada cukup jauh didepannya.


Mikami mendekati Ikumo, “kau sudah kehabisan Shaka, biar aku yang membereskannya. ”


Tap.. Tap..


Mikami mulai melangkah maju dengan mata menatap tajam Hikari.


“pengendali Air sialan, siapa sangka dia bisa sehebat ini. ” Mikami mulai mempercepat langkahnya, dia menuju tembok es yang menutupi Hikari.


Hikari menatap Mikami dan mulai bersiap, “apa yang akan dia lakukan, apa dia berniat menerobos perisai Es ku.? ” batinnya.


Mikami berlari cepat kearah perisai es milik Hikari sambil mengayunkan pedangnya seolah ingin menebas, sementara Hikari memperkokoh pertahanannya.


Tap..


tiba-tiba Mikami menghilang dari tempat semula, hanya debu melingkar yang terlihat dari tempat dia berdiri sebelumnya.


“apa?! dimana dia? ” Hikari terkejut dan menoleh ke kanan dan kiri.


Mikami tersenyum, “ tidak ku sangka akan semudah ini. ” batinnya bersiap menebas dengan pedang yang dialiri Shaka.


“cepatnya.?! ” Hikari menyadari bahwa Mikami sudah berpindah tempat ke sisi kanannya yang tidak tertutupi oleh perisai es.


Hikari mengayunkan tangannya, seketika perisai es mencair dan berpindah untuk menutupi langkah Mikami dari Hikari.


Mikami menatap tembok es yang berdiri kokoh di depannya, “respon yang bagus, tapi yang barusan hanyalah tipuan. ” ucapnya.

__ADS_1


“Pencuri Bayangan.! ” Mikami berteriak, seketika tubuhnya berubah menjadi seperti bayangan.


“Jurus Pencuri Bayangan hanya bertahan sekitar lima detik, tapi dengan kecepatan yang kumiliki menembus perisai Es ini tidaklah sulit. ” batin Mikami melewati perisai es milik Hikari dengan mudah.


“apa?! dia melewati perisai Es milik ku?! ” Hikari terkejut dan langsung melompat mundur.


Tap..


Mikami sudah menembus perisai es milik Hikari, tubuhnya perlahan mulai kembali .


Mikami menatap kearah atas yang masih melayang Hikari, dia bersiap melompat dengan pedang yang dialiri Shaka.


Hikari menatap Mikami, kemudian bersiap menyerang dengan hujan es yang berbentuk runcing.


Tang.. Ting...


Mikami menangkis hujan es dengan pedang, sesekali dia menghindar sambil melangkah maju memburu Hikari.


Tap..


Hikari baru saja mendarat, dia menatap Mikami yang semakin dekat dengannya. “jadi ini, Sato Mikami sang pimpinan desa Yama sekaligus kakak dari Sato Rokuga, dia benar-benar kuat, lalu.. Jurus Pencuri Bayangan miliknya, aku harus hati-hati. ” batinnya.


Mikami terus berlari kearah Hikari yang terus menyerang dengan hujan es, “ Pencuri Bayangan.! ” seketika Mikami melewati serangan Hikari dengan mudah.


“apa itu? tubuhnya berubah menjadi seperti bayangan?! ” sekali lagi Hikari terkejut.


“matilah.! ” Mikami berteriak lalu melesatkan tebasan kearah Hikari, begitu cepatnya sehingga pedangnya hanya seperti cahaya berwarna putih.


dengan sangat gesit, Hikari menghindar dengan melompat mundur, tebasan Mikami menghancurkan tanah.


“cih, serangan berikutnya tidak akan melesat. ” Mikami mulai kesal.


Hikari kembali menghujani Mikami dengan serangan butir-butir es miliknya, namun kali ini terlihat lebih ganas.


“Pencuri Bayangan.! ” Mikami kembali berteriak, lalu melewati serangan musuh dengan mudah.


“Pencuri Bayangan.! ” Mikami terus menggunakan jurus andalannya.


kini, sudah tidak ada jarak antara Mikami dan Hikari, Mikami melesatkan tebasan kearah Hikari dengan pedang yang dialiri Shaka.


“gawat! ” Hikari berusaha menghindar.


Zrasshh..


detik berikutnya terlihat darah muncrat dan melayang di udara.


Plakk..


kemudian terlihat lengan yang putus dan jatuh ke tanah.


Mikami tersenyum jahat, “hehehe kena kau. ”


Hikari menatap tangan kirinya yang putus dan darah segar terus keluar, wajahnya terlihat kesakitan.


Hikari mengarahkan telapak tangan kanannya kearah Mikami, “enyahlah.! ” beberapa senjata es yang berujung runcing melesat cepat kearah Mikami.


Mikami menatap serangan Hikari, “gawat, aku sudah menggunakan Jurus Pencuri Bayangan berturut-turut, Shaka ku tidak akan cukup, jika aku paksakan bisa-bisa aku mati. ” batinnya.


Crakkhh..


Mikami menghindar ke sana dan kemari untuk menghindar, namun salah satu senjata es tersebut menancap di perut Mikami sebelah kanan.


Brak..


Mikami mundur dan mendekati kedua pimpinan lainnya, dia menjatuhkan lututnya dan terduduk sambil memegangi luka di perutnya yang mengalir darah.


“sial, aku lengah.! ” ucap Mikami.


Judoro memandangi tinju kanannya, “tinju kanan ku sudah tidak bisa digunakan untuk menggunakan Jurus Tinju Besi, sepertinya aku harus membiasakan diri menggunakan tinju kiri ku. ” dia tersenyum, “baiklah sekarang giliran ku yang maju, kalian lihatlah Jurus terkuat ku. ! ” dia melangkah maju kearah Hikari.


Mikami dan Ikumo menatap Judoro, “Jurus terkuat?” mereka terlihat serius.


“Hosh.. Hosh..! ” Hikari mengatur nafas, sambil mengikat tangannya yang puntung dengan bajunya agar tidak keluar darah, “aku tidak boleh mati sekarang, sepertinya kakak belum menemukan Sinam dan Hayumi. ” gumamnya.


“hey, kau.! ” tiba-tiba ada yang berteriak.


Hikari menoleh dan langsung terkejut, dia melihat Judoro dengan Shaka ungu yang sangat besar, “ini... baru ini aku melihat Shaka sebesar ini. ?! ”


Judoro menatap tajam Hikari, “gunakan pertahanan terkuat mu, karena aku tidak akan menahan diri lagi. ” Shaka ungu kehitaman menyelimuti tubuhnya, suasana semakin mencekam.

__ADS_1


__ADS_2