SINAM

SINAM
Semangat Sato Harumi


__ADS_3

Saken terdiam, matanya memandang bumi, wajahnya terlihat bersedih, sepertinya dia masih memikirkan kata-kata kakaknya.


Tap..


Tiba-tiba ayah Jiromaru turun ke Arena, dia mendekati Jiromaru dan mengangkat tubuh anaknya.


“Jiromaru, kau terlalu memaksakan diri, orang yang kau hadapi bukan anak biasa. ” ucap ayah Jiromaru, sementara Jiromaru tidak menjawab, setelah itu ayah Jiromaru keluar Arena.


disaat bersamaan, terlihat Thakesi Nakai sudah babak belur, sementara Yoja masih berdiri kokoh.


Blaakk..


dengan sangat keras, Yoja memukul wajah Thakesi yang sudah melemah, Thakesi terlempar menghempas tembok, lalu tergeletak penuh darah.


Yoja tersenyum menatap Thakesi, “aku tidak akan bertarung dengan orang yang sudah lemah. ”


Deiki melirik Thakesi yang sudah tergeletak lemah, “tim medis, anak ini sudah tidak bisa bertarung.. segera obati dia.! ”


tim medis memasuki Arena, lalu membawa Thakesi keluar.


“Klan Takeyomi hebat..! ”


“ayo, kalahkan Saken.! ”


semua penonton berteriak, sepertinya mereka masih ingin menyaksikan pertarungan.


Sinam memandang Saken dengan serius, begitu juga dengan anak yang lain, mata mereka menatap Saken dengan keraguan, tidak ada yang berani maju.


“sial, anak ini benar-benar kuat. ” batin Sinam, “lalu.. dimana Sansiro.. kenapa dia belum sampai.?! ”


Harumi dan Kaori menatap Saken, “bagaimana ini? anak dari Klan Takeyomi bukan tandingan kita.. ” bisik Kaori.


“benar, baru kali ini aku kehilangan rasa percaya diri. ” sahut Harumi.


suasana hening, semua tim tidak ada yang maju, mereka saling tatap, sepertinya mereka berharap ada yang maju.


Yoja tersenyum menatap para lawannya, “oi, oi, oi, ada apa ini? apa kalian semua ingin menyerah.?! ” teriaknya.


Deiki menatap semua anak, “jika kalian ingin menyerah, silahkan angkat tangan! jika tidak, cepatlah maju.! ” teriaknya.


“anak yang bernama Saken itu membuat mental mereka hancur.. wajar saja, tahun-tahun sebelumnya tidak ada murid yang mewarisi kekuatan Iblis. ” batin Deiki, “di tambah dengan anak yang bernama Yoja, mereka sudah mengalah sembilan tim.. saat ini hanya tinggal sebelas tim.. ”


Sinam menggertakkan gigi, “sial, aku ingin maju sekarang, tapi.. aku sendiri tidak mungkin mengalahkan mereka berdua. ” dia terlihat kesal.


“aku menyerah..! ” seorang anak mengangkat tangan, “dia bukanlah tandingan kami. ” wajahnya terlihat sedih.


semua mata tertuju kearah anak itu, namun mereka hanya diam.


Kei Takeyomi tersenyum memandang itu, “kekuatan Iblis milik Saken tadi membuat lawannya takut, ya. ” batinnya.


“a.. aku menyerah..! ”


“aku juga..! ”


“kami juga..! ”


setelah itu banyak tim yang menyerah dan meninggalkan Arena.


kini, tinggalah beberapa tim yang tersisa, Saken dan Yoja, Harumi dan Kaori, Aozora dan Ryugu, serta Sinam yang sendiri karena Sansiro tidak kunjung datang.


“cih, mereka semua pecundang.. menyerah sebelum bertarung. ” batin Sinam kesal.


Deiki melirik kesal para tim yang menyerah, lalu menatap semua tim yang tersisa. “apa masih ada yang ingin menyerah.? ” teriaknya.


“aku..! ” tiba-tiba Sinam berteriak sambil mengangkat tangan, kepalanya menunduk.


“Sinam.?! ” Harumi menoleh Sinam dan terkejut.


“baiklah, kau bisa pergi keluar Arena, lagipula kau hanya sendiri. ” ucap Deiki datar.


“tidak akan menyerah sebelum bertarung..! ” Sinam melanjutkan perkataannya, lalu mengangkat wajahnya yang tersenyum semangat, “karena aku.. akan menjadi petarung terkuat..! ”


semua orang terkejut, pandangan mereka kini tertuju pada Sinam.


Harumi tersenyum tipis, “sudah ku duga.. orang seperti dia tidak mungkin menyerah begitu saja.. ” batinnya.

__ADS_1


Kazuo tersenyum memandang Sinam, “kalau tidak salah.. dia anak yang memetik padi tadi.. jarang aku melihat anak penuh semangat seperti dia.. ” batinnya.


Rokuga Sato tersenyum, “Sinam... semangat mu benar-benar mirip dengan Hikari.. ” batinnya.


Mikami memandang kearah Sinam, “dari mana anak itu, apakah dari Klan hebat..?! ” tanyanya.


“sepertinya tidak pimpinan, aku tidak pernah melihatnya.. ” jawab pengawal Mikami.


Deiki tersenyum tipis menatap Sinam, “dibandingkan dengan anak jenius yang angkuh.. aku lebih suka dengan anak seperti dia.. terlihat bodoh namun penuh semangat. ” batinnya.


Sinam melangkah ke depan, “aku yang akan menantang mereka.! ” ucap Sinam menatap Yoja semangat. “ aku yang akan memegang bendera di akhir.! ”


“hah?! kau menantang ku?! ” Yoja tersenyum jahat, “akan ku patahkan kepercayaan diri mu itu. ” kemudian mengubah ekspresinya menjadi lebih serius.


“aku yang akan maju.!” tiba-tiba Harumi berteriak, semua orang memandang kearahnya.


“Harumi.. kau.?! ” Kaori juga terkejut.


“jika kita ingin berkembang.. kita harus menghilangkan rasa takut.. ” jawab Harumi serius.


Sinam terkejut menoleh Harumi, “kau..?! ” ucapnya.


Harumi berjalan maju sambil melirik Sinam, “dari pertama kita bertemu.. aku selalu takjub dengan semangat mu.. kau selalu terlihat bodoh.. namun keberanian mu selalu melampaui ku.. padahal disisi mu tidak ada orang yang mendukung mu.. ” batinnya. dia melewati Sinam.


Harumi menarik pedangnya, lalu menunjuk Yoja dengan pedangnya, “aku yang akan mengalahkan mu.!” dia terlihat serius.


Yoja tersenyum jahat, “jadi kalian yang akan menantang ku.. ” kemudian menoleh Saken yang berjarak cukup jauh, “Saken, biarkan aku menghabiskan dua wanita ini.! ” teriaknya.


Saken tidak menjawab, namun dia kembali duduk di depan bendera.


“oi, siapa namamu.?! ” tiba-tiba Sinam bertanya dengan suara agak keras, dia menatap kearah Harumi.


Harumi terkejut lalu menoleh kearah Sinam, “padahal sudah beberapa kali bertemu, tapi kau masih belum tahu siapa akan. ” dia terlihat kesal, “namaku.. Harumi Sato.. ”


Sinam tersenyum hangat, “baiklah.. mulai sekarang aku akan mengingat nama mu, anak yang waktu ku buat menangis. ” ejeknya.


“lain kali aku akan membuatmu meminta maaf.. ”Harumi terlihat kesal.


“Harumi Sato.?! ”


“wanita itu berasal dari Klan yang sama dengan pimpinan, ini pasti menarik.! ”


mendengar ucapan Harumi, semua orang langsung terkejut, mereka terlihat bersemangat kembali.


Deiki melirik Sinam, “anak ini sudah membangkitkan semangat anak yang lain.. ” batinnya.


“apa sudah selesai? aku sudah tidak sabar ingin menghancurkan kesombongan kalian.! ” Yoja terlihat kesal.


Harumi diam dengan tatapan tajam kearah Yoja, “Kaori, ayo maju.. ! ”


“ya.! ” sahut Kaori.


Tap.. Tap..


Harumi dan Kaori berlari kearah Yoja, Harumi dengan satu pedang, sementara Kaori menggunakan dua pedang.


“datanglah..! ” teriak Yoja tersenyum penuh semangat.


“Kaori.. ini adalah awal bagimu.. mulai sekarang kau akan menjadi seorang petarung.. ” batin Rokuga.


Yoja berlari kearah Harumi dan Kaori yang berlari kearahnya, saat sudah dekat mereka saling menyerang.


“matilah.! ” Kaori menghujani Yoja dengan tebasan bertubi-tubi.


Wushh..


pedang Harumi membelah ruang kosong, suara pedang yang bergesekan dengan udara begitu merdu.


“cepatnya.! ” Yoja terus dipukul mundur, ayunan pedang membuatnya tidak bisa menyerang.


Tap..


Kaori melompat, dia melesatkan tebasan dua pedang dengan gaya menyilang.


Blaak..

__ADS_1


Yoja masih sempat menghindar, pedang Kaori menebas bumi yang langsung tergores.


Zraash..


dengan serangan kejutan, Harumi melayangkan satu tebasan kearah lawannya, Yoja terlambat sedikit untuk menghindar, wajahnya tergores dan mengeluarkan darah.


setelah itu, pertarungan berhenti sejenak, terlihat Yoja menjaga jarak.


“cih, sial, mereka cepat sekali.. aku hampir tidak bisa melihat gerakan pedang mereka. ” batin Yoja terlihat kesal, “padahal aku ingin bertarung dengan tangan kosong.. tapi kalau seperti ini. ”


Sring..


Yoja menarik pedang yang ada di punggungnya, kemudian bersiap maju.


“jadi kau mulai serius, ya. ” Kaori tersenyum.


“tidak.. dia merasa takut jika terus tangan kosong. ” ejek Harumi.


Deiki melirik Harumi, “gerakan pedang anak sangat cepat.. tebasan serta tusukannya juga sangat akurat. ” batinnya.


Tap..


pertarungan dilanjutkan kembali, Yoja berlari kearah Harumi dan Kaori, begitu juga sebaliknya.


Trang.. Ting..


ketiganya melayangkan tebasan dan tusukan untuk menyerang, mereka juga saling menahan serta menangkis.


pedang Harumi berbenturan dengan pedang Yoja, “anak ini kuat sekali, setiap tebasannya penuh dengan tenaga. ” batin Harumi dengan tangan yang bergetar.


Yoja mengayunkan mundur pedangnya, “matilah.! ” teriaknya sambil mengayunkan kembali pedangnya kedepan, tepatnya kearah Kaori.


Traang..


disaat bersamaan, Kaori juga melesatkan tebasan kearah Yoja dengan dua pedang, kedua tebasan tersebut beradu dan menghasilkan percikan api.


Braak..


detik berikutnya, Kaori terhempas jauh, lalu tergeletak.


“Kaori.! ” teriak Harumi mencoba menolong Kaori.


“lihat kemana kau.?! ” Yoja melepaskan tebasan dari samping.


Ctang..


Harumi menahan tebasan Yoja dengan pedangnya, dia terdorong sedikit, wajahnya terlihat kesal.


Trang.. Ting..


dengan wajah kesal, Harumi menyerang balik Yoja, dia mengguyur Yoja dengan tusukan serta tebasan.


“cih.! ”Yoja terlihat kesal, dia kewalahan menahan serangan Harumi.


Zraash..


Harumi melewati Yoja, begitu juga sebaliknya, terlihat bahu kanan Yoja tergores, sementara Harumi terlihat baik-baik saja.


“untuk anak seusianya, kemampuan berpedangnya sangat hebat. ” batin Deiki memandang Harumi.


Harumi dan Yoja berbalik secara bersamaan sehingga keduanya bertatap wajah, kemudian kembali saling tebas.


Tap.. Tap..


disisi lain, Kaori sudah bangkit dan memburu Yoja.


Yoja masih beradu pedang dengan Harumi, kemudian melirik Kaori, seketika wajahnya semakin kesal.


“aku tidak akan kalah menghadapi orang seperti kalian..! ” teriak Yoja.


Buaakk.. Buukk..


detik berikutnya, Harumi dan Kaori terhempas, sementara terlihat Yoja seperti baru saja melesatkan tendangan.


Yoja menundukkan kepalanya, sebelah matanya terlihat menatap tajam Harumi dan Kaori, “aku tidak akan kalah dari orang yang hanya bisa mengandalkan senjata seperti kalian.! ” ucapnya dengan wajah mencekam.

__ADS_1


__ADS_2