SINAM

SINAM
Uhara Si Jenius


__ADS_3

Pusat Desa Yama...


Sinam dan Sansiro berjalan dengan mata melihat sekeliling, ditempat itu terdapat banyak jenis dagangan, dari mulai persenjataan serta makanan.


Sinam menatap salah seorang pedagang yang menjual sate ayam, “Sansiro, apa kau punya uang? sudah lama aku tidak makan sate. ” ucapnya.


“entahlah.” ucap Sansiro kemudian mengecek sakunya, “hanya segini, itupun uang untuk membeli senjata. ” dia menunjukkan beberapa logam uang.


“benar juga, ya. beberapa hari lagi kita masuk akademi. ” Sinam tersenyum tipis.


Sansiro menatap Sinam yang juga menatapnya, “jangan bersedih, setelah kita menjadi petarung, kita tidak akan kekurangan uang. ” dia tersenyum hangat.


“kau benar, sekarang aku jadi tambah semangat. ” Sinam tersenyum hangat.


Sinam dan Sansiro terus berjalan, namun tiba-tiba Sansiro membelokkan langkah kearah pedagang senjata.


“Sansiro, kau mau kemana.? ” tanya Sinam.


“melihat-lihat.” jawab Sansiro terus memperhatikan senjata didepannya.


Sinam kembali berjalan, dia tidak perduli dengan persenjataan, yang di liriknya adalah makanan yang terlihat menggoda.


Sinam duduk di kursi pinggir jjalan huh, seandainya aku punya sedikit uang. ” dia memperhatikan orang yang berlalu lalang.


“jika kau punya uang, kau mau beli apa.? ” tiba-tiba ada yang bertanya.


“tentu saja aku ingin makan sate ayam. ” jawab Sinam cepat tanpa menoleh.


“eh?! ” Sinam tersadar lalu menoleh kebelakang, dia melihat seorang gadis cantik, di punggungnya terdapat dua pedang. “kak Sena..?! ”


“sudah lama aku tidak melihat mu. ” Sena tersenyum manis, rambut hitamnya yang terikat membuatnya terlihat anggun.


beberapa saat kemudian, terlihat Sinam dan Senang menikmati sate ayam, mereka duduk di kursi pinggir jalan.


“hey, kak Sena. kau baik sekali, jika aku sudah menjadi petarung dan memiliki uang, aku akan membalas mu. ” ucap Sinam sambil mengunyah sate dengan lahap.


“benarkah.? ” Sena juga mengunyah, “jadi kau akan masuk akademi tahun ini, ya.? ”


“ya, aku akan menjadi petarung hebat, kakak lihat saja nanti.! ” Sinam percaya diri.


“benarkah, aku meragukan mu.” Sena mencubit pipi Sinam sambil tersenyum manis.


Sinam menatap Sena dengan pipi memerah, “kakak jangan seperti itu, takutnya nanti aku menyukaimu. ” dia terlihat malu.


“eh.?! ” Sena terkejut, pipinya sedikit memerah, “hahaha, kau lucu sekali. ” kemudian tertawa.


Sinam menatap Sena, “dari dulu sampai sekarang, setiap bertemu kau selalu baik padaku, aku benar-benar beruntung bertemu orang seperti mu.. kak Sena.. ” batinnya penuh kekaguman.


Tap.. Tap..


tepat di saat itu, seorang pria lewat mengenakan pakaian petarung khas Yama, dia menggandeng putri cantiknya yang terlihat sebaya dengan Sinam.


“guru Rokuga.?! ” Sena sedikit terkejut, “tidak ku sangka orang sesibuk anda pergi ke tempat ini. ” kemudian tersenyum.


Rokuga menoleh, “yah, Harumi memaksaku. ” dia tersenyum sambil melirik putrinya.


putri Rokuga adalah Harumi yang dari awal terus menatap Sinam dengan angkuh.


Sinam menatap Harumi, “dia lagi, dia lagi. ” batinnya.


Rokuga menoleh Sinam, raut wajahnya seketika berubah, “anak ini.?! ” batinnya.


Sinam dan Rokuga saling menatap, kedua mata itu terus bertemu beberapa saat.


“Sinam.. dia semakin mirip saja dengan Hikari..” batin Rokuga serius, “sudah lama tidak melihatnya sekarang dia sudah sangat besar. ”


Rokuga menoleh Sena, “baiklah, Sena. aku pergi dulu. ” Rokuga mulai melangkah.

__ADS_1


“ya, maaf sudah mengganggu. ” jawab Sena.


Harumi menatap Sinam, “hey, Sinam.! ” panggilnya sambil menjulurkan lidah untuk mengejek, lalu pergi mengikuti Rokuga.


“dasar sialan. ” Sinam terlihat kesal sambil mengikuti kepergian Harumi.


“kau kenal dia, ya.? ” tanya Sena menoleh Sinam.


“tidak, aku tidak mengenalnya, aku bahkan tidak tahu namanya. ” Sinam menjawab cuek.


Sena tersenyum, “kenapa dia tahu namamu.? ”


“aku pernah membuatnya menangis, mungkin karena itu dia mengingat namaku. ” jawabnya cepat.


setelah itu, tiba-tiba orang sekitar bersorak-sorai, mata mereka menatap seorang pemuda berambut putih dan berwajah tampan, pakaian yang digunakan pemuda itu dilengkapi berbagai senjata.


“Uhara datang.! ”


“ya, kau benar! itu Uhara si jenius.!”


“benarkah?! Uhara Denko, aku ingin melihatnya. ”


teriak semua orang, khususnya wanita muda.


“Uhara.?! ” Sena terkejut, lalu menoleh ke suatu arah.


“Uhara, apa itu? apakah enak.?! ” Sinam terus mengunyah sate.


“apa maksud mu? dia itu manusia.” Sena kesal menatap Sinam, “dia petarung sekelas ku, dia terkenal sebagai petarung paling jenius. ”


Uhara berjalan dengan tenang, tatapannya datar, semua orang terdiam saat dia melewatinya.


“seperti biasa, desa ini sangat berisik. ” gumam Uhara pelan, sedikitpun dia tidak memperdulikan sekelilingnya.


Brakk..


“hey, Uhara! sudah lama aku menunggumu. ” Akaza penuh semangat. “aku menantang mu, ayo bertarung.! ” dia menunjuk Uhara dengan pedang.


“kau, ya Akaza. ” ucap Uhara datar, “untuk apa aku menghadapi teman sekelas ku sendiri. ”


“aku ingin merebut posisi mu, aku ingin menjadi anggota Kelelawar Merah. ” ucap Akaza masih semangat.


Uhara terdiam sejenak, kemudian tersenyum tipis, “memangnya kau tahu apa tentang Kelelawar Merah, kau tidak pantas berjalan di malam hari yang penuh darah. ” tatapannya tajam.


“aku tidak perduli, tujuan utama ku bukan itu, aku hanya ingin mengalahkan mu.! ” teriak Akaza.


Akaza menatap serius Uhara, “siapa yang perduli tentang Kelelawar Merah, aku hanya butuh pengakuan. dengan mengalahkan Uhara yang terkenal hebat, mungkin ayah akan mengakui ku. ” batinnya.


“tidak.” Uhara melanjutkan langkah, “aku tidak akan bertarung tanpa alasan. ” ucapnya datar.


“baiklah kalau begitu. ” Akaza bersiap maju dengan pedang, “ aku akan memaksamu. ” sepertinya tidak memperdulikan orang sekeliling.


Tap..


Wushh..


Akaza melompat sambil mengayunkan pedang. dengan santai Uhara menghindari serangan tersebut.


Sena dan Sinam menatap kejadian tersebut, “dasar Akaza bodoh! apa dia ingin membahayakan penduduk desa. ” ucap Sena, sementara Sinam hanya diam.


Akaza terlihat kesal, “sial, dia cepat sekali. ” semua serangannya tidak berhasil mengenai target.


Akaza berlari ke arah Uhara, saat sudah dekat, dia melompat tinggi lalu melesatkan tebasan lurus untuk membelah. pedangnya bersinar biru, sepertinya dia sudah menggunakan Shaka.


Uhara menatap pedang Akaza yang kearahnya, “jika aku menghindar, tanah ini akan hancur. ” batinnya.


Trangg..

__ADS_1


Uhara menarik pedangnya, lalu menahan tebasan Akaza dengan tebasan, kedua pedang tersebut beradu.


Wushh..


angin berhembus akibat benturan pedang tersebut, debu juga beterbangan.


Akaza dan Uhara saling menahan dan mendorong pedang lawan, “kau membuatku kesal. ” ucap Uhara.


Baakk..


Uhara menendang Akaza di bagian perut, Akaza terhempas menghantam salah satu barang-barang pedagang, kemudian terduduk.


sesaat kemudian, Akaza kembali berdiri, “Uhara, aku belum kalah. ”


“sudah cukup Akaza, aku tidak ingin bertarung lebih dari ini. ” Uhara kemudian kembali melangkah, “lagipula penduduk bisa terluka karena mu. ”


“baiklah, Uhara. aku akan menantang mu, besok di tempat pelatihan Akademi.! ” teriak Akaza, dia terlihat semangat. “jika kau tidak datang, itu artinya kau yang kalah, semua orang disini menjadi saksi. ”


Uhara tidak menoleh, apalagi menjawab, dia terus melangkah, semakin lama semakin dekat dengan Sinam dan Sena berada.


“keren sekali..! ”


“dia tampan sekali, lebih tampan dari yang dikatakan semua orang. ”


semua wanita memandang Uhara dan berteriak.


Uhara terus berjalan, saat semakin dekat dengan Sinam dan Sena, tiba-tiba Uhara berhenti melangkah.


Uhara melirik sekeliling yang saat ini tidak terlalu ramai, kemudian memejamkan matanya, “keluarlah, kau tidak perlu bersembunyi.! ” ucap Uhara.


Tap..


tiba-tiba muncul seorang pemuda di belakang Uhara dengan jarak dekat, dia mengancam leher Uhara dengan pedang yang terlihat pendek. orang itu adalah Kazuo Sato, anak dari Mikami Sato, sang pimpinan Yama.


“hebat sekali kau, Uhara. langsung mengetahui keberadaan ku. ” Kazuo tersenyum jahat.


Uhara tetap tenang dengan ancaman Kazuo, “sudah cukup main-mainnya, aku tidak punya waktu untuk menemanimu bermain. ” dia melirik tajam Kazuo.


“sangat di sayangkan, kemampuan mu ini hanya digunakan untuk menjadi anjing pesuruh ayahku. ” Kazuo terlihat serius.


“anjing pesuruh.?! ” Uhara terlihat kesal, “jangan bercanda, aku bisa membunuhmu kapan saja.”


Kazuo tersenyum, “jika kau punya waktu untuk berbicara, kenapa tidak kau gunakan untuk membunuhku.? ”


“walau sudah lama, kau tetaplah seniorku. ” Uhara kembali tenang. “lagipula kau anak pimpinan desa, itu cukup untuk membuat ku berpikir dua kali sebelum membunuh mu. ”


“tutup mulut mu, jangan berpikir aku sama dengan Mikami Sato.. aku bukanlah orang yang selalu berbicara perdamaian, namun tanpa ragu membunuh orang tidak bersalah. ” Kazuo terlihat kesal, “aku tidak seperti mu, orang yang terus membunuh dan membunuh tanpa rasa bersalah. ”


Uhara tersentak, kemudian memukul tangan Kazuo yang memegang pedang, “sialan kau.. ”


detik berikutnya, Uhara melesatkan tendangan ke belakang dengan cepat.


Blakk..


Kazuo menahan tendangan Uhara dengan menyilangkan tangan, dia terdorong mundur beberapa meter, namun dia masih tetap berdiri.


Kazuo tersenyum, “anggota Kelelawar Merah memang hebat, tapi aku hanya ingin mengingatkan mu. ” ucapnya, lalu terlihat serius, “semua yang kau lakukan bukanlah jalan untuk menuju perdamaian, akan banyak dendam yang lahir dari setiap pembantaian yang kau lakukan, di masa depan pasti banyak yang memburu mu. ”


Uhara terdiam sejenak, “aku tahu semua itu, tapi.. ” dia menghentikan ucapan, “aku tidak ingin orang lain menjadi seorang pembunuh seperti ku, cukup aku yang berjalan di kegelapan dan penuh darah.. ” dia terlihat serius.


Uhara dan Kazuo saling menatap tajam, setelah itu Kazuo pergi dengan melompat keatas atap, sementara Uhara kembali berjalan.


Sena melihat pemandangan tadi, “padahal baru saja tiba, tapi sudah banyak orang yang menantangnya. ” dia melihat Uhara yang semakin dekat.


Uhara berjalan, namun tiba-tiba menoleh kearah Sena, “Sena, ya.?! ” kemudian mendekati Sena dan Sinam.


Sinam sudah selesai dengan makanannya, dia menoleh Uhara, “dia siapa, kak Sena.? ” tanyanya.

__ADS_1


__ADS_2