
“ada apa ini? kenapa tubuhku tiba-tiba lemas.? ” ucap Sinam merasakan sesuatu, kemudian melirik Jido yang dibelakang, “jangan-jangan.. kau..? ”
“benar, aku menyerap Shaka mu.. ” Jido tersenyum jahat, sepertinya efek Jurus Sinam telah berakhir sehingga dia bisa bicara.
“apa.?! ” Sinam terkejut, “bagaimana mungkin? kau..? ” dia terlihat bingung.
“ini adalah kemampuan tersendiri bagi Klan ku, tapi butuh sedikit waktu untuk menyerap Shaka lawan.. ” jawab Jido, “aku sadar sudah terkena Jurus mu, sebelum aktif aku langsung mengunci pergerakan mu.. mungkin kau berpikir agar kau juga tidak bisa menyerang, tapi itu salah, dengan tidak bisa bergerak aku bisa lebih konsentrasi. ” jelasnya.
“cih, sial.!! ” Sinam mulai meronta ronta, “hiaa.!! ” sepertinya dia kesulitan.
Braak..
dengan segala upaya, akhirnya Sinam terbebas cengkraman Jido dan langsung melayangkan tendangan kearah belakang.
Tap..
Jido menghindar dengan melompat mundur, keduanya kini telah berjarak.
Sinam menatap kesal Jido, “hosh.. hosh. ! ” mengatur nafas dengan wajah kelelahan, “sial, padahal baru sebentar, tapi dia sudah menyerap sebagian besar Shaka ku. ”batinnya.
Jido tersenyum jahat menatap Sinam, “menyerahlah, mustahil kau bisa menang menghadapi ku.!” ucapnya remeh.
“begitu, ya.. jadi kau menjaga jarak setiap satu kali adu pukul dengan ku dan seolah kau waspada, itu adalah trik yang kau mainkan agar lebih bersemangat. ” ucap Sinam, “padahal sebenarnya kau menantikan semua ini.! ”
“benar.. aku sudah memperhitungkan semua tentang teknik mu. ” jawab Jido tersenyum jahat.
“lalu.. memangnya kenapa.?! ” Sinam tersenyum, “yang berikutnya setelah melepaskan Jurus, aku hanya tinggal menjaga jarak darimu, jika kau menyerap Shaka ku, kau harus bersentuhan dengan ku dan butuh waktu, tidak ada jaminan bagimu bahwa bukan aku yang lebih dulu melepaskan Jurus. ” jelas
“hehehe.” Jido tertawa kecil, “itu hanya berlaku untuk yang pertama kali, yang berikutnya setiap kali berbenturan dengan mu Shaka mu akan terserap.. kau akan kalah.!! ”
“apa.?! ” Sinam terkejut, kemudian terlihat kesal.
“tunggu.!! ” beberapa saat diam, Sinam kembali bicara, “cara kerja Jurus ku adalah dengan mengunci Shaka di seluruh tubuhmu sehingga tubuhmu kaku, lalu bagaimana cara kau menggunakan teknik, seharusnya kau sudah tidak bisa menggunakan Shaka, mustahil Jurus mu tidak menggunakan Shaka. ” ucapnya.
“tentu saja aku menggunakan Shaka. ” jawab Jido, “sesaat sebelum Jurus mu aktif, disaat aku bergerak untuk mengunci tubuhmu, aku juga memancarkan keluar Shaka dari tubuhku, saat tubuhku kaku aku masih bisa mengendalikan untuk menyerap Shaka mu, tapi setelah masuk tubuhku Shaka mu ikut kaku.. ” jelasnya.
Sinam menatap Jido kesal, “sial, aku tidak pernah menduga akan berakhir seperti ini. ” batinnya.
wasit menatap Sinam dan Jido bergantian, “begitu, ya.. keduanya memiliki teknik dengan pengendalian Shaka dari dalam, dan penggunaannya dengan kontak fisik.. saat ini Sinam dirugikan, setiap kali bersentuhan Jido bisa menyerap Shaka Sinam, setelah itu dia tinggal menjaga jarak agar Sinam tidak bisa melepaskan Jurus.. dan lagi, Sinam sudah kehabisan Shaka. ” batinnya.
Deiki menatap Sinam dari atas, “kenapa? apa yang terjadi? kenapa Sinam terlihat lemas? padahal barusan dia sangat bersemangat. ” batinnya, kemudian mengamati serius arena pertarungan.
“menyerahlah, dengan begitu kau tidak akan merasakan sakit lebih dari ini.” Jido meremehkan.
“jangan bercanda, aku tidak akan menyerah semudah itu.!! ” teriak Sinam.
Tap... Tap..
Jido berlari cepat kearah Sinam, “baiklah kalau begitu, aku tidak akan sungkan. ” ucapnya.
“dia datang.!! ” Sinam bersiap.
Sinam mengarahkan tinju kearah wajah Jido, namun Jido langsung menunduk, setelah itu Jido membalas dengan mengarahkan tinju dari bawah kearah perut Sinam.
Blaakk..
Sinam menahan dengan kedua tangannya, namun dia tetap terdorong dengan tubuh sedikit terangkat.
srekk..
kaki Sinam mengikis tanah, tapi dia masih dalam posisi berdiri, keduanya kembali berjarak.
Jido menatap Sinam, “gerakan mu semakin lambat.. ” ucapnya remeh, “dan untuk jaga jaga, aku hanya perlu menjaga jarak setelah satu kali berbenturan dengan mu, sementara Shaka mu terus berkurang saat aku menyentuh mu. ”
__ADS_1
Sinam menatap Jido dengan wajah kelelahan, “gawat, aku sudah kehabisan Shaka. ” batinnya lalu menoleh kearah tangannya yang gemetar.
“apa yang kau lihat.?!! ” tiba-tiba terdengar suara Jido di depan Sinam.
Buaakk..
Sinam menoleh ke depan, tiba-tiba kaki Jido datang menyambut. dengan tendangan yang telak mengenai seperti itu, Sinam terlempar, berguling-guling dan akhirnya tersungkur di tanah.
wasit menoleh Sinam yang tergeletak, “dia sudah kehabisan Shaka, memang sudah mustahil untuk menang.. tapi.. ” batinnya.
“begitu, ya.. ” ucap Deiki, “sekarang aku mengerti. ”
Sansiro menoleh Deiki, “apa guru menyadari sesuatu? aku merasa ada yang aneh, sebelumnya Sinam terlihat sangat bersemangat, seharusnya serangan seperti itu bisa di hindarinya. ” dia bertanya.
“anak bernama Jido memiliki teknik penyerap Shaka, Sinam sudah terkena, wajar jika kecepatan dan kekuatannya melemah.!” jawab Deiki.
Tap.. Tap...
Jido berjalan kearah Sinam, “menyerahlah, aku tidak ingin melukai orang yang sudah tidak bisa bertarung. ” ucapnya datar.
Sinam masih tergeletak, dia kembali mencoba berdiri dengan tubuh gemetar, “maaf, aku tidak kenal dengan kata menyerah, jadi jangan paksa aku untuk menyerah. ” ucap Sinam.
Jido mengubah ekspresi menjadi serius, “tidak perduli seberapa kuat kau mencoba, jika hasilnya sama saja itu tidak berguna.. ” ucapnya, “kita hidup di dunia yang kejam, semua orang hanya melihat hasil yang kau dapatkan, bukan tentang perjuangan yang telah kau lakukan.. sadarlah tentang kenyataan itu dan berhenti berjuang, menyerah atau berjuang, hanya kekalahan yang menunggumu. ” ucapnya.
“hehehe.” Sinam tertawa kecil dengan wajah babak belur, “kau berbicara seolah kau tahu segalanya, aku berjuang bukan karena ingin dipandang oleh orang lain, tapi karena aku ingin terus bertarung selagi masih bisa berdiri.. lagi pula yang kau katakan tidak benar, teman-teman ku tidak seperti itu.. kami berjuang bersama dan menggapai hasil bersama, mungkin cara pandang orang di sekitarmu yang salah.”
Jido terlihat kesal, “cih, padahal berdiri saja kau sudah gemetar, tapi kau masih bisa sombong. ” ucapnya lalu tersenyum kecil, “baiklah, akan ku buat kau tidak bisa berdiri lagi. ”
Sinam bersiap, “dan satu lagi.. suara masa depan mengatakan.. akulah yang akan jadi pemenang.!! ” setelah itu dia maju.
setelah berlari saling mendatangi, keduanya saling serang, Sinam mengarahkan tinju kanan yang langsung dihindari Jido dengan melompat mundur.
“cih.! ” Jido terlihat kesal, “sepertinya dia menggunakan sisa kekuatannya untuk ini. ” batinnya.
Wushh..
“kesempatan.! ” Jido tersenyum jahat.
Buakk..
Jido melepaskan tendangan keras yang menghantam punggung Sinam yang langsung terhempas jauh, lalu menghantam bumi dengan posisi menghadap bumi.
Sinam masih bisa bertahan, dia mencoba untuk membalikkan badan agar menatap langit.
Tap..
Jido melompat kearah Sinam, “takkan ku biarkan.!! ” teriaknya.
Greb..
Jido mendarat di atas tubuh Sinam yang tergeletak dengan posisi duduk, lalu mencengkram leher Sinam dengan keras.
“akan ku paksa kau untuk menyerah.!! ” ucap Jido dengan wajah kesal.
“akh..! ” Sinam kesakitan, kemudian mencoba melepaskan cengkraman Jido dengan kedua tangannya tapi tidak bisa, air keluar dari mulut Sinam.
Ssss..
dari leher Sinam, terlihat Shaka biru mengalir ke tangan Jido yang dialiri Shaka hijau, sepertinya itu adalah Shaka Sinam yang diserap.
Deiki menatap arena dengan wajah khawatir, “gawat.. jika terus seperti ini, bisa-bisa Sinam.. ” batinnya.
“berakhir.! ” Jido melepaskan cengkraman, lalu melompat mendekati wasit.
__ADS_1
“dia sudah kalah, dia tidak mungkin bisa berdiri lagi. ” ucap Jido menatap wasit, “aku sudah menyerap hampir semua Shaka miliknya. ”
“kenapa kau begitu yakin.? ” tanya wasit datar.
“apa maksudmu? kau ingin aku membunuhnya.?! ” Jido terlihat kesal, “jika aku menyerap Shakanya lagi, mungkin dia akan mati.. ”
wasit menghela nafas panjang, “baiklah, kita tunggu sebentar lagi, jika dia sudah tidak bisa berdiri kau yang menang.!” ucapnya, sepertinya dia tidak senang dengan akhir seperti ini.
“terserah kau saja.. dia tidak mungkin bisa bertarung lagi. ” setelah itu Jido membalikkan badan, memandang kearah penonton sambil mengangkat tangan. “ lihatlah, aku yang menang! dia sudah tak bisa bertarung lagi.! ” teriaknya.
“hebat, Jido hebat..!! ”
“kau memang yang terbaik..!! ”
setelah itu, pasukan Arkan langsung bersorak untuk Jido.
Sinam masih tergeletak, “aku tidak akan menyerah. ” ucapnya pelan, walau mulai hilang kesadaran, dia mencoba untuk duduk.
Deiki menatap Sinam yang terlihat lemah, “ini tidak bisa dibiarkan, jika anak yang bernama Jido itu menyerap Shaka Sinam lagi, mungkin dia akan mati. ” ucapnya cemas.
“benar, pertarungan ini harus dihentikan.! ” ucap Harumi terlihat cemas.
“dia terlalu memaksakan diri.! ” ucap Thakesi.
“ya, ini tidak bisa dibiarkan.! ” sahut Kaori.
Deiki bersiap turun, “aku tahu Sinam orang yang pantang menyerah, aku akan menghentikan ini. ” dia bersiap melompat.
“tunggu.! ” Sansiro menghentikan, “kalian terlalu meremehkan Sinam, sebagai sahabat, kita hanya bisa percaya padanya. ” lanjutnya.
Deiki menghentikan geraknya, menoleh Sansiro yang menundukkan kepala, “Sansiro, kau..? ”
Krek..
terdengar suara gigi Sansiro yang beradu, lalu disusul dengan suara kepalan tinju yang begitu erat, sepertinya dia mencoba menahan amarahnya.
Sansiro mengangkat kepalanya menatap Sinam, “Sinam, berjuanglah..!! ” teriaknya keras sehingga bergema di arena.
Sinam yang terduduk menoleh Sansiro yang berada di atas, “Sansiro, kau.. ” gumamnya.
Deiki dan murid yang lain menoleh Sansiro, mereka tertegun.
“saat ini, hanya kepercayaan yang bisa kita berikan pada Sinam.. aku percaya dia pasti menang.! ” ucap Sansiro.
“mungkin ada benarnya yang kau katakan, tapi.. saat ini Sinam sudah tidak bisa bertarung lagi, jika dipaksa mungkin dia akan mati. ” ucap Deiki.
“anak bernama Sanji tadi bertarung tanpa menggunakan Shaka, jadi guru tidak perlu khawatir. ” jawab Sansiro.
Deiki menatap Sansiro, kemudian menoleh Sinam, “memang benar, tapi Sanji dari awal memang tidak memiliki Shaka, dia terbiasa mengandalkan fisik dan senjata. ” batinnya.
“ayo Sinam, berjuanglah.!! ”
“ayo, kau pasti bisa.!! ”
“kalahkan dia.!! ”
setelah itu, Saken, Yoja, Harumi, Kaori, Jiromaru, Thakesi dan Yoja ikut berteriak, hanya Ryugu yang tidak ikut berteriak.
Deiki menghela nafas, “baiklah, aku juga percaya, aku akan menunggu keajaiban yang berpihak pada Sinam. ” batinnya lalu tersenyum.
“Sinam, ayo berjuang, tunjukkan padanya bahwa kau yang terbaik.!! ” dari arah yang berbeda, Sanji berteriak keras walau kondisinya memprihatinkan.
Sinam mulai kehilangan kesadaran, dia memandang kearah Sansiro dan yang lain, “teman-teman.. semuanya.. ” lalu menoleh kearah Sanji, “Sanji, kau juga.. kalian semua.. terimakasih.. ” batinnya.
__ADS_1
setelah itu, Sinam mencoba untuk bangkit, saat sudah setengah berdiri, kesadarannya semakin terganggu, penglihatannya memudar bersama pendengarannya yang hilang, suara teriakan tak lagi terdengar.
Jido menoleh kearah Sinam yang memaksakan diri untuk berdiri, “hebat jika kau bisa berdiri. ” batinnya lalu tersenyum jahat.