SINAM

SINAM
Sakit Karena Ditinggalkan


__ADS_3

“ Ryugu.. ” ucap Sinam, dia menatap Ryugu sambil menangis, “ Ryugu, jangan mati, Ryugu..!! ” dia berteriak sambil menangis.


Ryugu tidak menjawab, dia tergeletak lemah dengan mata terpejam, dia mati dengan wajah polos yang menyimpan penyesalan.


“ Ryugu.!!! ” Sinam menggoyang tubuh Ryugu, namun tetap tidak ada jawaban.


Satoru masih memandang kagum pedangnya, lalu menoleh kearah Sinam yang tergeletak serta melirik Ryugu yang sudah mati.


“ eh, dia sudah mati.? ” ucap Satoru polos, lalu tersenyum jahat, “ jadi benar, pedang ini adalah pedang Penakluk Iblis.. pedang milik ketua Klan Taro di jaman dulu.. ” lanjutnya sambil memandang pedangnya.


“ hahahaha.. hahahaha..!! ” Satoru berteriak keras, “ tidak ku sangka.. aku yang akan menjadi pewaris pedang ini.. sepertinya dia memang mewariskan senjata ini untuk keturunannya.. aku benar-benar beruntung. ” batinnya dalam tawanya.


Sinam tidak menoleh kearah Satoru, namun dia terdiam dengan wajah menunduk, sorot matanya tajam penuh kebencian.


“ hahaha.. hahaha.. ” Satoru masih dalam tawanya.


Tap..


Sinam berdiri dari duduknya, lalu melirik tajam kearah Satoru, “ aku tidak akan memaafkan mu, dasar sialan..! ” ucapnya penuh penekanan.


Satoru menghentikan tawa, menoleh Sinam dengan perlahan wajahnya menjadi serius, “ maaf, ancaman mu tidak membuat ku gemetar. ” ucapnya, lalu memiringkan kepala sambil tersenyum menjulurkan lidah mengejek.


Tap.. Tap..


Sinam jalan perlahan, dia mendekati Satoru, lalu mengeluarkan pedangnya dan bersiap.


“ aku tahu rasa sakit mu, tapi percuma saja. ” ucap Satoru datar, “ kau tidak akan bisa mengalahkan ku, itu adalah fakta yang tidak bisa kau ubah. ” lanjutnya.


“ dengan semua rasa sakit ini.. ” Sinam memegangi dadanya erat, “ kau pikir ada celah untuk rasa takut masuk ke dalam hatiku.? ” lanjutnya.


“Jurus Satu Tarikan Nafas. ” Sinam mengambil nafas dan menjurus.


“ jurus ini.? ” Satoru terkejut, “ dia pernah gagal menggunakannya dan tersungkur, dia masih berani menggunakan Jurus yang belum dikuasainya.? ” batinnya.


Tap..


detik selanjutnya, Sinam menghilang dari tempatnya, dia bergerak cepat dan menyisakan debu melingkar ditempat sebelumnya.


Satoru melirik ke kanan dan kiri, “ dimana dia.? ” batinnya.


Zraashh..


Tiba-tiba paha kanan Satoru tersayat, darah bercucuran di udara, namun tidak terlihat pedang yang menebasnya.


Satoru melirik pahanya yang berdarah, lalu bersiap, “ cih.! ” dia terlihat kesal.


Ctaang.. Ctiing..


detik selanjutnya, Satoru bergerak cepat memainkan pedangnya, terdengar suara besi beradu dan percikan api, namun tidak terlihat lawan Satoru saat ini.


“ jangan meremehkan ku, aku adalah Petarung yang memiliki insting tajam.! ” batin Satoru sambil tersenyum, dia bergerak kesana kemari sambil melesatkan tebasan.


Tap..


setelah beradu tebas cukup lama, Sinam mendarat cukup jauh dari Satoru, berikutnya dia langsung berjongkok.

__ADS_1


“ hosh.. hosh..! ” Sinam mengatur nafas dan terlihat kesakitan, dia memandang Satoru didepan sana, “ aku berhasil menguasainya, tapi.. tubuhku terasa sakit, tubuh ku seperti tidak bertenaga, mungkin ini dampak dari Jurus Satu Tarikan Nafas. ” batinnya.


Satoru berdiri memandang Sinam, lalu melirik sekujur tubuhnya yang penuh goresan kecil dan berdarah, “ padahal sudah sebisa mungkin aku menahan setiap serangannya, tapi aku terkena goresan cukup banyak. ” batinnya lalu menatap Sinam serius, “ Jurus Satu Tarikan Nafas, ya.. sangat mirip dengan Jurus Tarian Pembelah Kehampaan milikku, hanya saja jurusnya lebih terpusat pada kecepatan, berbeda dengan jurus ku yang terfokus pada kekuatan. ” lanjutnya.


Sinam menatap Satoru, “ padahal sudah terkena Jurus ku, tapi.. dia bisa memperkecil dampak serangan ku, sial.! ” dia terlihat kesal.


Sinam masih terduduk, dia mencoba berdiri dengan tubuh gemetar serta bantuan pedangnya, “ ini masih belum berakhir. ” batinnya kesal.


“ begitu, ya.. jadi jurusnya barusan sudah menghabiskan energinya. ” gumam Satoru sambil tersenyum.


Tap.. Tap..


Satoru berjalan perlahan mendekati Sinam, senyuman kematian terus terukir di wajahnya.


“ kau akan segera menyusul temanmu, tapi.. ” Satoru menghentikan ucapannya, “ aku sangat ingin melihat ketakutan di hatimu, jadi ini akan sangat menyakitkan. ” lalu tersenyum jahat.


Sinam menatap Satoru yang berjalan kearahnya, “ dia datang.. ” dia terlihat kesal dengan gigi beradu.


Tap.. Tap..


Satoru terus berjalan, lalu berhenti tepat di depan Sinam, hanya sekitar satu meter jarak mereka.


“ sekarang, apa yang bisa kau lakukan.? ” Satoru tersenyum jahat.


Sinam mengadu gigi, dia terlihat kesal dalam menghadapi ketidakberdayaannya saat ini, “ Hiaaa..!! ” Sinam berteriak sambil mengarahkan tebasan kearah Satoru.


Traang..


Satoru menangkis dengan tebasan, pedang Sinam terlepas dari genggaman, melayang di udara lalu tergeletak di bumi.


Greeb..


“ terimalah rasa sakit ini, dan kau akan tahu betapa perlunya rasa takut itu ada.. ” ucap Satoru serius, “ terkadang, keberanian itu hanya akan membuat mu terlihat bodoh. ” lanjutnya.


“ Akh..! ” Sinam kesakitan sambil meronta ronta.


Braak..


Satoru melemparkan tubuh Sinam yang langsung terhempas, lalu tergeletak lemah di bumi.


Sinam masih sadarkan diri, dia menatap langit dengan wajah bersedih, “ pada akhirnya... semua yang ku katakan tidak lebih dari omong kosong.. lihatlah diriku sekarang, benar-benar menyedihkan dan tidak berdaya. ” batinnya, matanya berkaca-kaca.


Tes.. Tes..


gerimis yang dari tadi menghiasi tempat itu, seolah mengerti dan menambah momen kesedihan dengan airnya, langit seolah menangis.


Buaakk..


Satoru melompat dari tempatnya, lalu mendarat dengan kaki menusuk perut Sinam.


Braak..


tanah di bawah Sinam hancur, tubuhnya hampir patah masuk ke bumi, bola matanya hampir keluar karena kesakitan.


“ akh..! ” darah keluar dari mulut Sinam bersama air liur.

__ADS_1


Tap..


Satoru mendarat di bumi, dia menatap Sinam yang tergeletak diantara puing-puing.


saat ini, Sinam sudah hampir hilang kesadaran, dia tergeletak lemah dengan tubuh penuh luka dan darah, bola matanya mulai tidak terlihat.


“ benar-benar menyedihkan.. salah sendiri kau terlalu lemah.. ” ucap Satoru menatap datar Sinam, “ tidak, ini bukan salah mu, aku sendiri terlalu kuat untuk mu. ” lanjutnya.


Greeb..


Satoru berjongkok, lalu menggenggam pakaian Sinam, “ untuk menghargai mu, aku akan membunuhmu dengan pedang ku. ” ucapnya, lalu melemparkan tubuh Sinam tinggi ke udara.


Wushh..


tubuh Sinam melambung tinggi ke udara dengan gaya berputar-putar, tanpa sengaja dia menoleh Ryugu yang sudah tewas mengenaskan, namun dia sudah tidak bisa berbicara lagi sekalipun didalam hati, perlahan kesadarannya terenggut.


Sriiing..


Satoru bersiap dengan pedangnya, “ matilah dengan tenang.! ” ucapnya datar, lalu melemparkan pedangnya kearah Sinam yang berada di udara.


pedang Satoru melesat cepat kearah Sinam yang masih melayang di udara, kedua pedang yang berputar-putar memburu Sinam.


Sinam masih melayang di udara dengan kesadaran yang sudah hilang, matanya terpejam, wajah yang penuh luka membuatnya terlihat menyedihkan.


Bllaarr..


saat pedang Satoru hampir menusuk Sinam, tiba-tiba air muncul entah darimana asalnya melindungi Sinam, kedua pedang Satoru terhempas dan kembali ke arah Satoru.


Satoru menangkap pedangnya, “ air..?! ” dia terkejut.


Blaarr..


detik selanjutnya, air melebar dan memburu Satoru seperti tsunami kecil.


Tap..


Satoru mundur dengan melompat, air tersebut menghantam bumi.


Satoru terlihat serius, “ ada apa ini? dari mana datangnya air ini.? ” gumamnya, saat ini dia memandang air yang menggumpal di depannya.


Sraak..


setelah beberapa saat kemudian, terlihat Sinam berdiri di atas air, matanya terpejam seolah tidak sadarkan diri, saat ini dia berada di udara dengan tubuh di kelilingi air yang menari-nari.


“ apa.?! ” Satoru tersentak melihat Sinam berpijak di atas air, “ bagaimana mungkin.?! ”


Sinam masih melayang di udara dengan berpijak di atas air, kemudian mengadu telapak tangannya dengan mata terpejam.


Kraakk..


detik selanjutnya, bumi hancur dan dari situ muncrat air berukuran besar, perlahan air itu menyatu dan membentuk gelombang tsunami berukuran besar, terlihat begitu menakutkan.


Satoru ketakutan memandang gelombang tsunami di depannya, “ apa-apaan ini.? ” dia mulai berkeringat dingin.


Booomm..

__ADS_1


gelombang tsunami menghancurkan segalanya, pepohonan tenggelam dan hancur, arus tersebut menghasilkan tekanan udara tinggi. dari atas, saat ini yang terlihat hanya air seperti sebuah sungai.


disisi lain, Satoru berada di dalam air, dia mencoba berenang diantara kerasnya arus, “ sial, sebenarnya siapa anak itu.? ” batinnya.


__ADS_2