SINAM

SINAM
Sedikit Kekacauan


__ADS_3

“ Yosh..!! aku menang..!! ” Sinam berteriak sambil memandang kearah penonton.


“hebat. !! ”


“ternyata dia tidak hanya besar bicara.!! ”


para penonton bergemuruh sambil bertepuk tangan.


Deiki dan murid-muridnya memandang Sinam sambil tersenyum.


“dia berhasil.! ” ucap Harumi.


“aku tidak menyangka dia menjadi pemenang.! ” sahut Kaori.


Saken sudah bergabung dengan yang lain, “Sinam.. dibandingkan saat bertarung dengan ku saat itu, dia sudah jauh berkembang. ” batinnya.


Deiki tersenyum tipis, “walaupun dia terlihat bodoh, tapi saat dalam pertarungan cara berpikirnya begitu tajam, dia sengaja mundur ke dinding untuk mematahkan serangan Tori, dia menghindar sebelum tinju Tori menyentuhnya, debu yang muncul menyamarkan keadaan dan membuat semua orang berpikir bahwa dia telah berakhir.. tapi Sinam.. ” batinnya.


Sansiro mengadu gigi, memukul mengeratkan genggaman, kemudian tersenyum semangat, “Sinam.. kau memang sahabat terdekat ku, tapi aku tidak tahu apa-apa tentang mu.. saat ini.. kau terlihat sangat kuat. ” batinnya.


dari arah lainnya, terlihat Sanji duduk di kursi penonton dengan tubuh penuh perban, dia tersenyum lepas, “Sinam.. kau berhasil.. Terima kasih. ” batinnya dengan mata berkaca-kaca.


di sudut arena, terlihat para pimpinan menatap Sinam yang melambai-lambai kearah penonton sambil berteriak ramah.


Judoro melirik Mikami, “tidak ku sangka, petarung Yama ternyata lumayan juga. ” ucapnya.


Mikami melirik Judoro, “yah, aku jadi berpikir bahwa ukuran tubuh ternyata tidak menjadi syarat seseorang untuk kuat. ” kemudian tersenyum.


“cih.! ” Judoro terlihat kesal.


“jika diperhatikan, sepertinya anak itu memang memiliki teknik untuk membuat lawan lumpuh beberapa saat. ” ucap Ikumo sambil menatap Sinam.


Higuchi melirik Ikumo, “aku juga berpikir sama. ” sahutnya.


Sinam masih berkeliling arena sambil melambaikan tangannya, sepertinya dia sangat bahagia dengan kemenangan ini.


Sinam tersenyum, namun matanya berkaca-kaca, “ guru Abame.. karena kau aku bisa memenangkan pertarungan ini.. terima kasih guru.. ” batinnya.


Tap...


Tiba-tiba ada seseorang yang melompat dari atas berdiri di depan Sinam, dia adalah Jido petarung Arkan yang dari tadi memperhatikan pertarungan Sinam dan Tori.


Sinam menghentikan langkah, menatap tajam Jido, “jadi kau yang berikutnya, ya. ” ucapnya dingin.


Jido tersenyum jahat, “tidak perlu dijelaskan, singkatnya kau akan ku habisi. ” ucapnya remeh. “aku sudah paham cara kerja Jurus mu. ”


Sinam mengadu gigi, “cih.” dia terlihat kesal.


Tap..


dengan cepat wasit menahan dengan berdiri di tengah, “tidak ada yang meminta kalian untuk bertarung.! ” ucapnya tegas.


Jido terlihat kesal, “aku hanya meminta keadilan, saat pertarungan orang lain dia turun seenaknya dan kau memberi izin, aku harap kau berlaku sama terhadap ku. ” ucapnya menatap wasit.


wasit menatap Jido cukup lama, “jika aku menuruti mu, tentu saja akan memancing petarung lain untuk melakukan hal yang sama, pertandingan ini akan berakhir kacau. ” jawabnya.


“tidak, dia benar.! ” ucap Sinam menatap wasit, “semuanya bisa di sebut adil jika aku menerima pertarungan ini, aku yang memulai dan aku yang akan mengakhirinya. ” ucapnya penuh keyakinan.


Wusshh..


tiba-tiba ada sesuatu yang melesat cepat kearah Sinam, Wasit dan lebih tepatnya kearah Jido.

__ADS_1


“eh.?! ” Sinam, Jido dan wasit menoleh bersamaan.


Boomm..


tanah hancur dan asap mengepul, sesaat kemudian terlihat sebuah pedang besar menancap di tanah tersebut.


Tap.. Tap..


Sinam, Jido dan wasit mendarat, sepertinya mereka sempat untuk menghindar.


wasit terkejut melihat ukuran pedang yang besar tersebut, dia berniat menoleh, “siapa yang..? ”


“HEY, DASAR SIALAN, AKU YANG AKAN MENJADI LAWAN MU.!!! ” teriak seseorang dari atas, dia adalah Sansiro, dia terlihat tersulut amarah, matanya menatap tajam Jido.


Sinam menoleh, “Sansiro, kau.. ” ucapnya.


Jido terlihat kesal, “cih, beraninya kau.. ” dia menatap tajam Sansiro.


“aku datang.!! ” tanpa basa-basi Sansiro langsung melompat.


“Sansiro, tunggu.!! ” Deiki menahan namun terlambat.


wasit menoleh Sansiro yang melayang di udara, “cih, dasar anak anak nakal. ” gumamnya.


Tap..


disaat itu, Jido melewati wasit lalu melompat kearah Sansiro yang semakin dekat dengan bumi.


Sansiro tersenyum jahat, “kesempatan.!! ” batinnya.


Sansiro mengepalkan tinju, begitu juga dengan Jido, terlihat keduanya hampir bergesekan.


“gawat.! ” wasit terkejut, dia bergerak cepat, “sial, tidak mungkin sempat. ”


detik selanjutnya, kedua tinju itu bertemu di udara, terlihat gelombang udara bertekanan kuat.


“akh.!! ” Jido kesakitan, “kuat sekali.! ” batinnya.


“enyahlah.! ” Sansiro menikmati momen ini.


Braakk..


tubuh Jido terhempas menghantam bumi, sementara Sansiro memantul ke udara.


“akh.. ” Jido kesakitan, namun kembali berdiri.


Tap...


Sansiro mendarat, dia menatap Jido sambil tersenyum jahat.


pasukan Arkan terkejut melihat itu, termasuk guru kesepuluh petarung, “anak itu sangat kuat, pedang besar yang dia lemparkan barusan pasti sungguh berat, terlihat dari tanah yang langsung hancur.. dan jika dilihat dari adu pukul barusan, sepertinya dia lebih kuat dari Jido. ” batinnya.


Jido dan Sansiro saling tatap, keduanya terlihat bersiap maju.


“cukup.” wasit berdiri di depan Jido, “kalian mulai membuatku kesal. ” dia menatap Sansiro tajam.


Sansiro menatap wasit tajam, “biarkan aku bertarung dengannya, akan kusajikan kau pertarungan yang istimewa. ” ucapnya lalu melirik Jido.


Jido terlihat kesal, “jangan bercanda, aku yang akan menghabisi mu. ” ucapnya.


“tidak.! ” Sinam berdiri di depan Sansiro, lalu menoleh kearah Sansiro yang ada di belakangnya, “aku yang akan menghadapinya. ” lanjutnya.

__ADS_1


Sansiro menatap Sinam tidak percaya, “tapi... kau sudah kelelahan, mustahil kau bisa mengalahkannya. ” ucapnya.


“mustahil katamu.? ” Sinam bertanya, “aku percaya kau bisa mengalahkannya, tapi bukan itu masalahnya.. aku sudah masuk arena sesuka ku, wajar saja jika dia melakukan hal yang sama.. ” lanjutnya.


“begitu, ya.. ” Sansiro terlihat pasrah, “maaf jika aku tidak mempercayai mu. ” lanjutnya.


Tap.. Tap..


Sansiro berjalan menuju pedangnya yang masih tertancap di tanah, mencabut lalu mengambilnya.


Sansiro menoleh kearah Sinam sambil tersenyum tulus, “Sinam.. aku percaya padamu, jadi.. sekali lagi kau harus menjadi pemenang.. ” ucapnya mengacuhkan jari jempol.


Sinam tertegun menatap Sansiro, lalu tersenyum semangat, “aku tidak akan mengecewakan mu.! ” jawabnya.


Sansiro melompat keatas, tepatnya kembali bergabung bersama Deiki dan lainnya.


Deiki terlihat lega, “hampir saja. ” kemudian menoleh Sansiro, “seperti ini lebih baik, Sinam tidak bisa menolak, karena dia yang memulainya. ” batinnya.


wasit melirik Sansiro yang berada di atas, “membuang-buang waktu saja. ” keluhnya, “lalu menoleh Sinam dan Jido bergantian, “sekarang bersiaplah, kalian akan bertarung.. setelah ini, siapapun yang masuk arena seenaknya akan di anggap tidak ada atau didiskualifikasi.! ” tegasnya.


Tap..


Sinam dan Jido melangkah maju, kemudian saling tatap dengan jarak yang sekitar lima meter, ditengahnya wasit berdiri tegak.


wasit mengangkat tinggi tangannya, “Sinam dari Yama Vs Jido dari Arkan. ” lalu menjatuhkan tangannya. “ayo mulai.!! ” teriaknya.


“ayo..!!! ”


“habisi dia.!! ”


“serang, ayo serang.!! ”


detik selanjutnya, suara penonton langsung bergemuruh.


Sansiro terlihat gemetar, dia memandang Sinam dibawah, “Sinam.. jangan sampai kalah.!! ” batinnya.


Sinam dan Jido masih saling tatap, keduanya belum melakukan pergerakan dan diam ditempat, terlihat mereka seolah berpikir menyusun rencana.


Sinam menatap tajam Jido, “dia sudah tahu cara kerja Jurus ku, tapi aku yakin dia tidak tahu dua sentuhan bisa membuatnya tidak bergerak. ” batinnya, “tapi.. untuk berjaga-jaga, diawal pertarungan tidak perlu menggunakan Jurus Dua Sentuhan untuk mengecoh nya.. dengan begitu dia kesulitan menebak kapan Jurus ku mulai ku gunakan. ” dia berpikir keras.


Jido membalas tatapan Sinam, “aku memang sudah tahu cara kerja Jurusnya, beberapa pukulannya membuat lawan lumpuh beberapa saat, tapi aku tidak tahu entah berapa pukulan.. aku yakin dia juga pasti berpikiran begitu. ” batinnya, “kalau begitu, diawal pertarungan dia tidak akan mengeluarkan tekniknya untuk mengecoh ku, ya, dia pasti berpikir begitu. ” dia berpikir keras.


Tap... Tap..


detik selanjutnya, keduanya melesat cepat saling maju.


Sinam berlari kencang, “aku akan memberikannya serangan pembukaan. ” batinnya.


Jido melesat, “untuk memahami tekniknya, aku hanya perlu teliti. ” batinnya.


Blakk..


Sinam dan Jido mulai bertemu, gesekan pertama diawali dengan kedua lengan yang saling hantam.


Srak..


keduanya terhempas kebelakang beberapa meter, lalu kembali maju untuk menyerang.


Blak.. Buaak..


Jido menyerang secara bertubi-tubi, namun seperti biasa, diawal pertarungan Sinam terlalu gesit, dia berhasil menghindari sambil melepaskan beberapa pukulan.

__ADS_1


“cih, dia cepat sekali. ” batin Jido, kemudian tersenyum, “tapi sepertinya sesuai dugaan ku, dia tidak menggunakan tekniknya. ”


__ADS_2