
"Emang kang Entis minjam berapa Mak?" Aku mencoba bersabar tidak ingin ikut teriak juga , takut membangunkan tetangga ku, aku malu harus terus terusan ada keributan di rumah ini.
"500 ribu, pokoknya emak gak mau tau ya, besok pagi duit itu harus segera di bayar, itu uang buat cicilan bayar motor si Euis." Ucap emak sambil melotot kepadaku.
"Mak, Asti gak pernah nyuruh kang Entis minjam uang emak , itu akal-akalan kang Entis saja biar dia megang uang, alasan minjam di suruh sama Asti, padahal Asti gak tau menahu soal itu Mak."
Panjang lebar aku membeberkan kebohongan kang Entis soal pinjaman uang itu Ke mertuaku, dengan harapan dia mau menegur anak nya.
"Jadi si Entis minjam duit emak untuk apa?"
Tanya emak kepadaku,
"Tadi kang Entis minta uang Asti untuk menjemput teman nya yang bernama Tuti di terminal, Asti gak mau kasih Mak." Jawabku , emak terlihat kaget mendengar ucapan ku.
"Loh... Loh... Kok kamu gak mau kasih?, Harusnya kamu kasih dong, pantas saja suamimu kelimpungan mencari uang sampai kesini, rupanya mau jemput si Tuti ya." Di luar dugaan ku Emak bicara seperti itu.
"Lah, emang siapa si Tuti itu Mak, kok kayaknya penting banget harus di antar jemput?! Kemarin mesin cuci sama tabung gas di jual sama kang Entis, buat ongkos si Tuti, sekarang minta uang lagi buat jemput si Tuti, emak sepertinya kenal ya sama dia? Siapanya kang Entis dia itu Mak?!"
Hening , emak tidak menjawab ucapan nya, dia seperti gugup mendengar pertanyaan ku, entah emak sedang mencari jawaban atau sedang bingung mencari jawaban.
Entahlah!
"Mak!" Aku memanggilnya
__ADS_1
"Iya" jawabnya singkat.
"Kok diam?!" Aku memandang wajahnya dengan penasaran.
"Apanya?" Emak pura - pura tidak mengerti pertanyaan ku.
"Kenapa gak jawab, siapa si Tuti teh Mak?"
Emak tidak menjawab, tapi dia pergi begitu saja dari rumahku tanpa berpamitan, aku bingung dengan tingkah nya.
"Mak mau kemana?!" Panggilku.
"Besok pagi, kamu kasih duitnya sama si Euis , biar dia aja yang ambil uang nya sama kamu!" Teriak emak tanpa menoleh padaku, dia langsung berjalan cepat menuju rumahnya.
Rasanya aku ingin membalas semua perlakuan buruk mereka kepadaku, kira lihat saja nanti, aku akan membuat dia menyesal karena sudah menyakitiku.
Jika aku minta cerai saja jelas aku tidak bisa membalas nya.
Aku akan mencoba bertahan sebentar sambil mengumpulkan bukti kesalahan dia.
Air mata ini mungkin sudah kering hingga tida ada air mat yang keluar untuk menangisi lelaki macam kang Entis, tapi entah kenapa aku masih saja tetap ingin mencoba bertahan dengan nya, walau niatku sekarang untuk balas dendam denga semua perlakuan nya, tapi aku juga seolah merasa ada secercah harapan jika kang Entis mau berubah, entah kenapa pikiran itu selalu ada di sudut relung hati ini,
Astagfirullah, aku tidak boleh terus mengharapkan lelaki yang jelas sudah tidak bisa lagi untuk di pertahankan, aku harus tetap meyakin kan diri ini jika aku harus berpisah,
__ADS_1
"Asalamualaiku." Suara seseorang dari luar mengucapkan salam,
"Waalaikum salam" jawabku dan langsung mendatangi orang yang mengucapkan salam di halaman rumah.
"Teh, kang Entis nya ada teh?" Tanya seorang pemuda yang dandananya sungguh urakan, baju jaket Levis yang Kumal, celana sobek, rambut gimbal, dan mata merah, menandakan dia sedang mabuk, soalnya bau mulutnya tercium sampai ke hidungku, walau jarak kami lumayan sedikit jauh, tapi aku salut sama pemuda ini, di saat kondisinya setengah sadar tetap saja dia mau mengucapkan salam kepada pemilik rumah.
"Tidak ada Jang, kang Entis tidak ada di rumah, " jawabku,
"Kemana ya teh," tanya nya padaku.
"Teteh juga tidak tahu, soalnya kang Entis tidak bilang mau kemana." Jawabku lagi.
"Oh, tadi saya cari ke tempat tongkrongan tidak ada." Gumamnya.
"Memang ada kepentingan apa ya, biar nanti jika kang Entis datang saya sampaikan" aku menanyakan niat dia mencari suamiku,
"Eh.. itu teh, ada teman nya mencari kang Entis, katanya mau ada perlu, saya juga di suruh orang itu nyari kang Entis," jawab si pemuda.
"Di suruh siapa?!" Tanyaku penasaran.
"Teman nya teh perempuan, ya udah deh kalau gitu saya pamit teh.!" Ucap dia sambil menutup mulutnya, mungkin dia menyesal memberi tahuku bahwa yang mencari kang Entis itu perempuan.
"Iya udah" jawabku singkat, aku juga malas mencari tahu siapa yang wanita itu, sudahlah aku lelah jika harus cemburu, jadi aku rasa lebih baik aku tidak mau tahu lagi kang Entis mau apa di luaran sana.
__ADS_1
Setelah pemuda itu pergi, aku masuk ke ruma