Suami Benalu Banyak Ulah

Suami Benalu Banyak Ulah
pertemuan


__ADS_3

"Assalamualaikum" ucap Bapak setelah membuka pintu kamar Umar, bapak berdiri di depan pintu untuk memastikan apa benar kamar ini kamar Umar, bapak takut salah masuk kamar.


"Bapak!"


"Bapak!"


Teriak ibu dan Asti bersamaan, karena mereka kaget dan bahagia begitu melihat bapak sudah berdiri di hadapan mereka, ibu dan Asti pun lari berhamburan untuk memeluk bapak, tangis pun pecah dari kedua perempuan yang bapak cintai.


Ibu dan Asti sangat bahagia begitu melihat bapak masuk ke ruangan ini, mereka berdua seolah menemukan lagi pelindung diri mereka, di saat masalah banyak menghampiri diri mereka, bapak adalah sosok yang mereka butuhkan, kini lelaki yang selalu melindungi mereka itu sudah berdiri di hadapan nya, maka tangis bahagia pun pecah di kamar ini, bapak pun membalas pelukan mereka dengan penuh rasa haru, bapak tidak berhenti bersyukur karena masih bisa di beri kesempatan untuk bertemu dengan keluarganya setelah musibah yang begitu menakutkan bisa dia lewati.


"Pak." Hanya itu yang keluar dari mulut Umar ketika bapak melihat dirinya, Umar pun hanya bisa menitikkan air mata sambil tersenyum bahagia melihat bapak kembali dengan keadaan sehat, dan yang membuat Umar terharu adalah melihat dua sosok wanita yang sangat berharga di dalam hidupnya sedang menangis bahagia di pelukan bapak yang di rindukan nya.


Kebahagiaan ini terasa lengkap setelah bapak hadir di sini, Umar tidak bisa berlari dan ikut memeluk bapak seperti ibu dan Asti, karena Umar masih belum bisa banyak bergerak akibat lukanya yang belum sembuh, walau keadaan Umar jauh lebih baik dan berangsur sembuh, tapi untuk menggerakkan bahu nya Umar belum bisa leluasa, masih terasa ngilu dan sakit.


Sementara ayu yang melihat kejadian itu pun dia ikut menangis haru, dia ikut merasakan bahagia karena bapak sudah kembali lagi.


Setelah Asti dan ibu puas menangis di pelukan bapak, bapak pun mendekati Umar,

__ADS_1


"Jagoan bapak sakit apa?!" Bapak menatap luka Umar di bahu yang masih di perban, karena Umar hanya mengenakan baju yang tidak berlengan, otomatis perban yang membalut bahunya terlihat jelas.


"Ceritanya panjang pak, sebaiknya bapak duduk dulu sambil minum nanti ibu ceritakan sakit nya umar, ibu buatkan kopi susu ya," bapak mengerutkan alis, sepertinya ada yang tidak beres di keluarganya semenjak dirinya menghilang, bapak tidak membantah keinginan ibu untuk duduk di sofa ruangan ini setelah mengusap kepala anak lelakinya,


Setelah bapak duduk dan minum, ibu pun menceritakan semua rentetan kejadian yang menimpa keluarganya dari awal bapak menghilang, lantas Umar di keroyok dan masuk rumah sakit, dan kejadian Asti di basecamp hingga tewasnya Entis karena sudah menolong Asti, semua kejadian itu ibu ceritakan detail tidak ada yang terlewat, bapak hanya diam terpaku karena shock mendengarnya, ternyata masalah keluarganya begitu hebat hingga mengguncang pisik dan juga psikis mereka, entah harus bagaimana bapak menyikapi ini, dan siapa yang harus di salahkan atas semua kejadian ini, karena kejadian nya begitu cepat dan juga memilukan,


Bapak pun tidak menyangka jika Entis meninggal secara tragis untuk membela putrinya, walau pun Entis sudah membuat luka putranya tapi Entis sudah mengorbankan kan nyawanya untuk putrinya, bapak hanya bisa terdiam tidak bisa berkomentar mengenai Entis, bapak hanya bisa memanjatkan doa semoga Entis di beri kemudahan dan di terima segala amal baik nya oleh Allah, hanya itu yang bisa bapak lakukan saat ini.


Bapak bangun dari duduknya lantas menghampiri Umar, dan bapak baru sadar jika di ruangan ini ada ayu juga, mungkin tadi pikiran bapak masih diliputi oleh kebahagiaan dan rasa penasaran atas apa yang terjadi dengan keluarganya, hingga bapak tidak sadar jika di ruangan ini ada ayu duduk di dekat kasur Umar.


"Apa kabar nak ayu? Maaf bapak baru sadar jika nak ayu ada di sini," kekeh bapak sambil mengajak ayu bersalaman.


"Mar bagaimana keadaan nya, apa masih sakit,?!" Tanya bapak lembut penuh kasih sayang.


"Sudah cukup baik pak, lukanya juga hampir kering, hanya masih ngilu saja," jawab Umar jujur.


"Syukur lah nak, bapak senang mendengarnya," ucap bapak sambil mengusap kembali kepala anak lelakinya.

__ADS_1


"Pak, selama ini bapak kemana saja?" Umar bertanya keberadaan bapak selama tiga hari ini, ibu dan Asti pun ikut menghampiri bapak mendekati kasur Umar, mereka juga penasaran dengan jawaban bapak.


"Sebenarnya bapak juga tidak jauh nasibnya dengan Umar, bapak pun di keroyok dua orang perampok hingga bapak terjatuh masuk jurang, Tapi berkat pertolongan Allah, bapak bisa selamat sampai sekarang." Ucap bapak memberi tahu nasibnya ketika menghilang hanya garis besarnya saja.


"Kok bisa pak? Apa kang Entis juga dalang pengeroyokan kepada bapak?!" Tanya Umar curiga kepada almarhum Entis.


"Bukan!" Bapak cepat melarat ucapan Umar.


Akhirnya bapak pun menceritakan rentetan kejadian yang menimpa dirinya dari awal bertemu dengan Toni dan mengajaknya untuk menjalin kerja sama dengan teman nya , tapi semua itu hanya tipu muslihat untuk bisa merampok dirinya, bapak pun menceritakan perampokan di tengah hutan itu hingga bapak jatuh kedalam jurang dan akhirnya di tolong dua orang lelaki di dalam hutan hingga masuk rumah sakit , dan kini bisa berdiri di sini karena di beri tahu jika Umar di rawat di sini oleh buk Susi.


Semua orang kaget mendengar kisah bapak, tangis pun kembali pecah dari semua perempuan yang ada di sini termasuk ayu, mereka tidak bisa membayangkan penderitaan bapak melawan rasa sakitnya di hutan sendirian, dan di rawat tanpa ada keluarga yang menemani, ayu menghambur lagi ke dalam pelukan bapak, dia menangis di dada lelaki pertama yang di cintanya itu.


Ibu pun sama, beliau menangis sambil memegangi tangan bapak, sementara ayu ikut menangis sedih, hanya bisa mengusap titik air mata yang terus menerus jatuh di pipi nya.


Umar hanya bisa menghela nafas berat, kesedihan pun terlihat di wajah ganteng nya, kini semua mulai larut oleh kesedihan tentang kisah bapak.


"Sekarang kita harus banyak bersyukur, karena kita masih bisa di beri kesempatan berkumpul, musibah yang menimpa kita itu anggap sebagai teguran bahwa kurang bersyukur, mulai sekarang kita harus selalu bersyukur atas segala nikmat yang Allah berikan kepada kita," ujar bapak mengakhiri cerita sedih ini dan mengajak keluarganya untuk tetap bersyukur atas nikmat yang Allah berikan, rezeki itu bukan berupa uang saja, kesehatan dan keselamatan adalah rezeki yang harus kita syukuri.

__ADS_1


"Amiiin..." ujar semua orang yang berada di sana mengaminkan ucapan bapak.


__ADS_2