
Ayu dan Asti pun keluar dari mobil, sementara yoga masih saja berada di dalam mobil sambil melihat hapenya yang terus bergetar dari tadi, dan ternyata ada nomor baru masuk ke hapenya hingga melakukan panggilan hampir tujuh kali, yoga mengerutkan kening nya, dia bertanya-tanya siapa yang menelpon nya, hingga tujuh kali, pasti penting ! Begitu pikir yoga, tadi dia memang tahu telpon nya terus bergetar di dalam saku celananya, tapi dia malas mengangkat telpon karena dia sedang menikmati keseruan adiknya dan Asti yang sedang bercanda.
Yoga pun akhirnya memutuskan untuk menelpon balik nomor itu, dia takut jika nomor itu dari perawat di rumah sakit jiwa dimana tempat ibunya di rawat.
Tut..
Tut..
Tut..
("Halo bang, akhirnya kamu mau hubungi aku juga").
Deg.!
Suara seorang perempuan yang yoga kenal menjawab telpon dari dirinya, seketika membuat yoga merasa darahnya mengalir lebih cepat dari biasanya, dia tidak menyangka jika yang dia telpon balik barusan adalah nomor baru mantan istrinya.
Yoga tidak mau menjawab ucapan si penerima telpon, dia pun segera menutup telpon nya, yoga terdiam di dalam mobil, rasa sakit dan emosi yang sudah dia kubur dalam-dalam kini seperti muncul lagi dalam bayangan nya.
"Bang! Ngapain sih di situ terus! Turun dong bang!" Teriak ayu kepada abangnya.
Yoga mengacungkan jempolnya kepada adiknya, tanpa menjawab ucapan ayu, sedangkan telpon nya kini bergetar kembali dari nomor mantan istrinya, yoga segera menonaktifkan hapenya guna menjaga perasaan marahnya yang sempat muncul tadi.
Segera yoga turun dan mengikuti langkah ayu dan Asti masuk kedalam rumah.
__ADS_1
***
Entis akhirnya bisa bernafas lega jika Obi dan juga judi bisa di selamatkan, masalah ini tidak sampai melibatkan polisi, hingga Entis bisa lega dan aman, tapi mungkin jika salah satu teman nya yang keracunan itu meninggal dunia sudah di pastikan polisi akan turun tangan, pasti Entis cs akan kerepotan nantinya terseret dalam masalah ini, jika membayang kan seperti itu, Entis pun langsung bergidik ngeri.
Sore ini Entis berada di rumah, sudah beberapa hari ini semenjak kejadian Obi dan judi keracunan basecamp mereka di tutup sementara waktu, Entis pun bete di rumah terus, mana sekarang Tuti tiap malam kerja terus, jadi deh Entis sendirian setiap malam bertemakan sepi.
Malam ini Tuti tidak ada di rumah karena sedang bekerja di kafe, sementara Entis di rumah sendirian merasa kesepian, pikiran Entis mulai melayang memikirkan Asti, walau bagaimana pun Asti adalah wanita yang dia cintai, Entis rindu dengan sosok Asti yang baik dan cantik, sementara besok adalah sidang perdana nya bercerai dengan Asti, Entis yakin jika besok dia tidak hadir di persidangan maka sidang pun akan di tunda sampai dia hadir, itu tandanya Asti tidak akan bisa bercerai dengan nya, Entis tersenyum licik ketika membayangkan nya, padahal Entis tidak tahu jika dirinya tidak hadir di persidangan itu seperti ini nantinya,
Apabila Tergugat dicurigai secara sengaja tidak hadir dalam sidang pertama, padahal ia telah dipanggil secara sah dan patut, oleh Hakim dapat menyatakan gugatan Penggugat dikabulkan dengan verstek (tanpa hadirnya Tergugat).
VerstekĀ atau Putusan Verstek adalah putusan yang dijatuhkan oleh Majelis Hakim tanpa hadirnya Tergugat dan tanpa adanya alasan yang sah meskipun telah dipanggil secara resmi dan patut. Putusan Verstek ini merupakan pengecualian dari acara persidangan biasa sebagai akibat ketidakhadiran Tergugat atas alasan yang tidak sah sehingga dianggap Tergugat mengakui sepenuhnya secara murni dan bulat semua dalil gugatan Penggugat.
Maka jika Entis tidak hadir, itu satu keuntungan untuk Asti,
Tok..
Tok..
Tok..
"Emak!, Ada apa malam-malam begini kesini?" Tanya Entis heran, sebab tidak biasanya Emak datang di malam hari kerumah kontrakan nya.
"Tis mana si Tuti!?" Emak bukan nya menjawab pertanyaan Entis tapi malah balik bertanya.
__ADS_1
"Kerja Mak" jawab Entis bingung, kenapa ibunya tiba-tiba menanyakan istri muda nya itu dengan nada kesal.
"Si Tuti itu sudah menipu kamu tis?! Tanah yang dia banggakan akan di gusur untuk jalan tol itu bukan tanah bapaknya, tapi tanah adik bapaknya yang bernama pak Somantri , bahkan sekarang mereka sedang berselisih, karena bapak si Tuti kukuh mengaku bahwa tanah itu haknya, dia ingin menjualnya, sementara tanah itu atas nama pak Somantri, tanah itu memang di kelola oleh bapaknya si Tuti, tapi pemiliknya pak Somantri, bapak si Tuti itu menganggap tanah itu miliknya karena merasa sudah menggarap dan mengurus tanah itu, bahkan bapaknya istrimu itu akan membawa masalah ini ke meja hijau, jelas bapak si Tuti itu tidak akan menang walau di bawa kemana pun,"
Entis shock mendengar kabar ini, tapi Entis segera menguasai pikiran nya yang sempat bingung itu, dia yakin pasti yang di dengar Emak hanya gosip saja, karena dari mana emak tahu persoalan ini sedangkan rumah Tuti jauh di kampung, pasti ada yang memberi kabar yang salah kepada emak, tujuan nya mungkin dia syirik karena dirinya akan mendapat warisan hasil menjual tanah bapaknya Tuti., Yang Entis tahu tanah itu sekarang masih di garap di jadikan kebun singkong oleh keluarga tuti.
"Sudahlah Mak jangan di percaya kabar burung itu, Emak malam-malam datang kesini cuma mau ngomongin gosip doang, lebih baik emak pulang terus istirahat sana." Entis bukan nya mempercayai kabar yang di bawa ibunya, dia malah menyuruh emak pulang.
"Dasar anak kurang @jar kamu tis! Orang tua kasih tahu yang bener malah di suruh pulang!" Emak emosi ketika Entis tidak percaya dengan berita yang dia bawa.
"Maksud Entis bukan gitu Mak, emak itu jika mendengar berita itu jangan di telan bulat-bulat dulu, Emak langsung percaya begitu saja sama gosip!" Entis pun jadi kesel karena Emaknya malah marah-marah.
"Terserah kamu sajalah, di kasih tahu malah tidak percaya! Hancur semua cita-cita Emak mau beli emas banyak dari hasil jual tanah itu, nyesel Emak ngedukung kamu nikah sama si gendut!" Emak masih sewot dan akhirnya mengata ngatai Tuti dengan sebutan yang tidak patut, padahal Tuti tidak ada di sana.
Entis hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kemarahan ibunya, tapi Entis tidak bisa membalasnya, tapi untung emak segera balik kanan hingga Entis bisa bernafas lega, sebab emak langsung pulang setelah marah-marah barusan.
Entis Pun langsung masuk rumah dan duduk di depan tv, Entis nonton tv tapi hatinya tetap memikirkan Asti, remot tv yang dia pegang terus di pencet untuk memilih Siarang yang dia inginkan, tapi semua siaran tidak ada yang bisa mengalihkan pikiran nya dari Asti, hingga akhirnya Entis matikan tv dan langsung kekamar untuk mengambil jaket lusuhnya,Entis pun segera berjalan ke rumah Emak setelah mengunci pintunya.
"Mak.. buka pintu Mak!" Entis teriak kepada ibunya minta di bukakan pintu, tidak lama berselang emak pun membuka pintu rumah,
"Ngapain kamu ke sini! Bukan nya tadi kamu nyuruh emak pulang!" Ketus emak masih kesal terhadap Entis yang tidak mau mendengar ucapan nya.
"Sabar dong Mak, jangan marah-marah terus, nanti cepet tua loh, Entis kesini mau pinjam motor Euis sebentar, Entis mau nyamperin Tuti." Ucap Entis cengengesan.
__ADS_1
"Gak boleh! Besok pagi adik mu kerja pake apaan kalau motornya sekarang kamu pakai!" Emak menolak tegas niat anak lelakinya ini.
"Entis pinjam cuma sebentar Mak! Paling satu jam, nanti Entis balikin lagi kesini, gak pinjam sampai pagi kok!" Entis memohon kepada ibunya supaya di pinjamkan motor, Emak pun akhirnya mengalah, walau mulutnya terus merepet tapi dia pun mengambilkan kunci motor Euis di dalam kamar gadisnya itu dan memberikan kepada Entis.