
"Ini kuncinya! Awas saja jika kamu pakai motor sampai pagi! Emak gebukin kamu!" Ancam Emak kepada Entis, tapi yang di ancam hanya cengengesan tidak jelas.
Entis segera melajukan motor adiknya itu ke kafe di mana Tuti bekerja, niatnya ingin minta uang untuk membeli minuman oplosan, dari semenjak kejadian teman nya keracunan hingga hari ini Entis belum menyentuh lagi minuman beralkohol itu, Entis merasa badan nya terasa sakit-sakitan, di setiap sendinya terasa ngilu, terus mau nya uring-uringan tidak jelas, jadi Entis memutuskan membeli minuman beralkohol itu untuk di konsumsinya sendirian di rumah kontrakan.
Sesampainya di depan kafe, Entis melihat Tuti duduk sendirian di luar sambil tumpang kaki, di tangan kanan nya terselip sebatang roko putih, dan tangan kirinya memegang hape nya, mata Tuti fokus melihat layar hape, sementara di dalam kafe musik dangdut koplo terdengar hingar bingar, suara tawa laki-laki dan perempuan terdengar sampai ke luar kafe, Entis segera menghampiri istrinya.
"Tut ngapain kamu disini sendirian?!" Tegur Entis.
"Eh akang! Ngagetin aja!" Tuti terkejut melihat suaminya sudah ada di hadapan nya.
"Akang ngapain datang kesini?!" Tanya Tuti heran suaminya datang menghampirinya di kafe, Tuti berfikir pasti suaminya ini sedang merindukan nya, senyum cerah pun terbersit di wajah nya yang sudah di dempul oleh makeup tebal.
"Akang datang kesini mau minta duit Tut." Ucap Entis enteng., Seketika wajah cerah Tuti berubah mendung.
"Aku tidak punya duit kang! Kamu lihat sendiri aku duduk di sini nunggu tamu, dari tadi aku tidak dapat tamu kang,!" Ucap Tuti sebal, karena kenyataan nya jauh dari bayangan, Entis menghampirinya ternyata hanya minta uang bukan merindukan dirinya.
"Masa tidak ada!" Kamu berangkat kerja itu dari sore loh, ini sudah hampir tengah malam tapi kamu bilang tidak punya duit! Kamu mau bohongin akang ya!" Bentak Entis sambil matanya menatap tajam Tuti,
"Memang tidak ada kang!" Ucap Tuti nyalinya mengkerut takut melihat Entis marah.
"Sini dompet kamu!" Entis merebut dompet Tuti di dalam tas kecil yang dia sandang di pundaknya.
"Jangan kang!" Ucap Tuti panik, dia tidak ingin uang nya di ambil Entis.
"Ini apa! Katanya tidak ada duit! Tapi dalam dompetmu ada!" Entis mengambil uang merah sebanyak dua lembar dari dompet istrinya, dan memang hanya ada dua lembar saja yang ada di dalam dompet Tuti.
__ADS_1
"Kembalikan kang, itu uang buat makan kita kang, yang itu juga sengaja aku simpan untuk membayar kontrakan, biar nanti tinggal nyari kekurangan nya kang!" Tuti tetap mempertahan kan uang nya, tapi Entis tidak mau tahu, setelah mendapatkan uang dia pun bergegas pergi, tapi Tuti tidak menyerah, di kejarnya Entis sampai ke parkiran motor,
"Kang balikin duit aku kang! Ambil satu saja, yang seratus lagi untuk pegangan ku kang!" Tuti memegangi tangan Entis dengan erat, hingga Entis tidak bisa mengendarai motornya karena satu tangan di pegang terus oleh istrinya.
"Lepasin akang Tut!" Ucap Entis mengintimidasi istrinya dengan sorot mata yang tajam, tapi Tuti tetap tidak mau melepaskan tangan Entis, hingga Entis kesal, tangan Tuti pun Entis hempaskan dengan sekuat tenaga hingga Tuti terjatuh mencium jalan.
"Hei apa apa ini!" Teriak seorang lelaki yang biasa berjaga di kafe, dia berlari menghampiri Entis dan Tuti, tapi begitu melihat Entis, si penjaga kafe pun langsung ciut nyalinya, dia kenal siapa entis, jika berurusan dengan Entis sudah pasti dia akan mendapat masalah dan harus berurusan dengan para preman teman Entis.
"Apa lo!" Gertak Entis kepada si penjaga kafe.
"Oh tidak kang maaf, saya kira bukan akang, saya permisi kang!" Dia pun segera berlalu dari hadapan Entis, dia lebih memilih pergi dari pada urusan runyam nantinya.
"Kang balikin duit aku kang hu..hu..!" Ucap Tuti sambil menangis, Entis bukan nya kasihan kepada Tuti tapi dia malah kesal, Entis pun langsung menyalakan kendaraan nya dan langsung tancap gas ke tempat penjual minuman langganan nya.
Entis membeli dua kantong minuman, dan satu bungkus rokok, tidak lupa dia pun membeli banyak cemilan, hingga uang dari Tuti tersisa hanya dua puluh ribu.
***
Keesokan harinya Entis bangun di saat Matari sudah tinggi berada di atas langit, adzan Dzuhur pun sudah terlewati, tapi Entis baru bangun, Entis tertidur di ruang tamu, ruangan itu sangat berantakan, kulit kacang dan plastik Snack yang dia beli semalam berserakan di ruangan itu, minuman pun banyak yang tertumpah di lantai, aroma alkohol sangat menyengat di dalam ruangan ini.
Entis terbangun dengan kepala yang sedikit berdenyut, perutnya sangat lapar, dia segera melangkah ke meja makan, karena dia pikir pasti Tuti sudah menyiapkan sarapan untuk dirinya, tapi sayangnya di meja makan itu kosong melompong tidak ada sedikitpun makanan.
"Tuti! Sarapan ku mana!" Teriak Entis memanggil istrinya, dia meminta sarapan padahal kini seharusnya jam makan siang bukan sarapan.
Suasana rumah hening tidak ada jawaban dari Tuti.
__ADS_1
"Tuti!!" Teriak Entis memanggil Tuti dengan kesal, tapi tetap saja sepi tidak ada jawaban, dengan kesal Entis langsung melangkah kan kakinya ke kamar untuk membangunkan istrinya, tapi begitu pintu kamar di buka ternyata Tuti tidak ada di kamar, kamar itu berantakan karena semalam sebelum Entis membeli minuman dia tiduran di kamar, kini kamar itu sama posisinya persis sebelum Entis ke luar semalam, sudah pasti jika Tuti memang tidak tidur di kamar, tapi kemana? Pertanyaan itu muncul di kepala Entis.
Entis langsung ke kamar mandi, tapi Tuti juga tidak ada, Entis terus memanggil istrinya sampai ke belakang rumah, siapa tahu Tuti sedang menjemur pakaian pikir Entis, tapi Tuti juga tidak ada.
"Sialan! Kemana si gendut sih!" Gerutu Entis dalam hati.
Sepertinya Tuti memang tidak pulang, sebab rumah masih dalam keadaan berantakan,biasanya Tuti walau pemalas tapi masih mau bersih-bersih rumah, walau tidak pernah masak, karena tabung gas belum mereka beli, Entis dan Tuti jika makan pasti beli di warteg,
Dengan terpaksa akhirnya Entis pergi ke rumah Emak, hari ini dia berencana makan di rumah emak saja, uangnya tinggal dua puluh ribu untuk beli roko saja tidak cukup.
Entis pun langsung masuk rumah ibunya tanpa mengucapkan salam,
"Mak, udh masak belum?" Sontak emak yang sedang mencuci piring kaget mendengar suara Entis, karena emak tidak mendengar Entis masuk rumah.
"Dasar Anak set-an! ngagetin orang tua saja! Ucapkan Salam kek masuk rumah tuh, bukan nya ujug-ujug ngagetin orang." Omel Emak kesal karena Entis mengagetkan dirinya.
"Yeee.. orang nanya malah di omelin!" Sebal Entis.
"Mau ngapain nanya emak masak belum? Mau minta makan kamu! Emang bini gendut Lo kemana?! Jam segini belum masak!" Ucap emak merepet kepada Entis, sebenarnya Entis paling malas makan di rumah Emak tuh karena begini, pasti kena omel terus.
"Kayaknya dia dari malam gak pulang Mak!" Jawab Entis sambil menyendok nasi di atas piring.
"Gak pulang bagaimana tis? Kabur maksud kamu!" Emak pun menghentikan kegiatan mencuci piring nya karena penasaran dengan ucapan anak nya.
"Gak tahu, aku ketiduran sampai siang barusan aku cariin dia gak ada di rumah!' jawab Entis sambil menyendok nasi dan memasukan ke dalam mulutnya.
__ADS_1
"Ah paling lagi ke warung kali!" Ujar emak sambil meneruskan pekerjaan nya,
"Mak bagi duit dong buat beli rokok.!" Setelah makan, Entis pun meminta uang kepada ibunya untuk membeli rokok, sungguglh perbuatan yang tidak patut di contoh, sudah memiliki istri hingga dua pun tapi masih meminta uang kepada orang tua,bukan nya bekerja mencari uang untuk menafkahi keluarga justru dia malah menjadi beban istri dan orang tua! Miris sekali kelakuan Entis ini!