
Setelah selesai membayar nasi uduk, teh Rini segera menghampiriku dan kami berjalan bersama.
"Teh Asti, kok betah sih punya laki model kang Entis?" Rini mulai membuka obrolan dengan ku,
"Mungkin jodoh Rin" jawabku seperlunya.
"Kalau itu suami Rini mendingan Rini bercerai saja teh dari pada punya suami mabuk terus." Ujar Rini tanpa berdosa bicara seperti itu padaku, aku juga sebenarnya sih tidak marah dia bicara seperti itu, itu memang kenyataan nya, tapi kalau aku jawab nantinya melebar kemana mana
"Iya Rin." Jawab ku singkat, untung aku sudah hampir sampai dan aku segera pamit untuk segera masuk rumah untuk bersiap berangkat kerja.
***
Keesokan harinya aku libur bekerja, dan aku berencana membawa lagi sebagian baju ku untuk aku bawa ke rumah ibu, baju sudah masuk ke dalam tas gendong,tinggal berangkat, aku akan menghabiskan waktu di rumah ibu hari ini.
Tiba tiba di luar aku mendengar seperti ada orang yang bertengkar, gegas aku ke depan untuk mengintip, ternyata ada perempuan yang berbadan sintal dan wajahnya persis foto yang di kirim Tuti,aku yakin itu Tuti sedang bertengkar di halaman rumahku.
Gegas aku keluar ingin menyaksikan keributan yang mereka ciptakan.
"Tuh dia sudah keluar, biar aku yang bicara sama dia!" Ucap Tuti pada suamiku sambil membentak , kang Entis menoleh kepadaku dengan raut wajah tegang.
__ADS_1
"As, jangan dengerin dia ngomong ya, kamu harus percaya sama aku!" Ujar kang Entis tiba - tiba, aku yang tidak tahu apa yang mereka ributkan sedikit bingung, tapi aku bisa sedikit menangkap gestur tubuh mereka,sepertinya perempuan ini ingin mengatakan sesuatu tentang kang Entis dan juga dirinya,ternyata dia punya nyali juga setelah aku gertak.
"Hei, kenalin aku Tuti, aku ke sini mau minta ijin sama kamu jika Minggu depan kami nikah, kamu harus datang karena aku ingin pernikahan ku dengan kang Entis sah di mata negara, kamu harus ijinkan kami nikah!" Ucapnya tanpa basa basi dia langsung berbicara pada intinya.
Aku tersenyum sinis mendengar dia bicara seperti itu sementara kang Entis menghampiriku sambil memegang tangan ku,
"As, itu tidak benar, aku hanya main - main saja tidak ada niat untuk menikahi dia secara sah." Kang Entis memelas kepadaku.
"Kang kenapa kamu bicara begitu, kamu bilang bahwa kita akan menikah dalam Minggu ini di kampung ku, kamu harus tanggung jawab sebab orang tua ku sudah menyiapkan pesta pernikahan kita" ujar Tuti marah.
"Aku kan sudah bilang sama kamu, jika aku mau nikah sama kamu jika tanah orang tua mu yang kena gusuran jalan tol itu sudah cair, tapi buktinya apa, tanah nya di gusur juga tidak! yang ada uangku habis di pinjam bapak mu, sekarang kalian maksa aku buat nikahi kamu!" Ucap kang Entis sewot,
"Halah uang tidak seberapa juga jadi perhitungan ,nanti juga bapak ku dapat tanah gusuran juga pasti di bayar kang!, Kamu tidak bisa lari dari tanggung jawab kang, Minggu Kemarin kamu bilang aku harus menyiapkan semuanya untuk pernikahan kita karena kamu tidak bisa mengantar ke kampung karena si Asti tidak ngasih kamu ongkos , tapi kenapa sekarang seolah olah akang lupa!" Bentak Tuti, sementara aku hanya bisa melihat dan bengong melihat mereka bertengkar, aku baru sadar rupanya kang Entis nekad menjual mesin cuci karena dia sudah janji untuk mempersiapkan pernikahan nya dengan perempuan ini, sungguh bodoh aku ini, menapa aku masih harus berada di sini, seharusnya dari kemarin aku pulang ke rumah ibu.
"Asti, tunggu!, Aku terpaksa mau nikah juga semua aku lakukan demi kamu as!" Ucap kang Entis sambil menahan tangan ku, aku berontak melepaskan tangan ku dari cengkraman nya tapi tidak bisa,
"Lepaskan!, Aku tidak perduli kang, silahkan akang nikah sama dia, Asti ikhlas kok.!" Ucapku sambil tersenyum sinis.
"Tuh kan kang, dia mengijinkan, jadi ayo kita daftar kan pernikahan kita di KUA, kita akan menikah resmi, aku dan Asti pasti bisa menjadi madu yang baik." Ucap perempuan itu kepedean, siapa juga yang mau jadi madu nya, aku mengijinkan kang Entis nikah sama dia memang aku sudah tidak mau lagi jadi istri kang Entis,
__ADS_1
"Diam kamu! Aku lagi ngomong sama istriku dulu, kamu tuh sudah mengacaukan semuanya, kenapa kamu datang ke sini!, Lihat istriku mau pergi sekarang! Dasar bodoh kamu!" Gerutu kang Entis marah.
"Asti, kita bicarakan baik - baik ya, akang ngaku salah, akang pacaran sama dia karena aku ingin membahagiakan kamu, akang cuma ngincar sesuatu dari dia, orang tua nya Tuti berjanji sama akang jika tanah bapaknya Tuti akan kena gusuran, dia menjual dengan harga fantastis, satu milyar as, jika tabah itu sudah jadi di beli dan di gusur untuk pembuatan jalan tol, maka sebagian uang itu akan di berikan kepada akang untuk modal usaha dan membangun rumah, rumah itu akan kita tempati bertiga dengan Tuti as" ucap kang Entis merayu, siapa Sudi aku harus punya rumah hasil jual tanah orang lain yang tidak jelas juntrungan nya dan harus rela berbagi suami dengan perempuan ini, apalagi rumah itu untuk kami bertiga, rasanya perut ku mual ingin muntah di wajah mereka.
"Aku tidak butuh rumah kang, aku sekarang lagi butuh pengacara!" Ucapku.
"Pengacara untuk apa?!" Kang Entis heran mendengar ucapan ku.
"Untuk mengurus perceraian kita!" Ucapku tegas
"Tidak boleh, akang tidak akan pernah menceraikan kamu!, Akang cinta mati sama kamu!" Ucap kang Entis sambil berlutut di hadapan ku dan tetap menggenggam tangan ku.
"Kang apa - apaan sih kayak gitu!, Bangun kang, jika Asti sudah tidak mau lagi sama akang ya sudah, sebaiknya kalian bercerai saja, masih ada aku akang!" Ucap tuti sambil cemberut tidak suka melihat kang Entis berlutut di hadapan ku.
"Tuh dengerin kang apa kata calon istri kamu itu bener, ceraikan aku kang" ucapku tersenyum sambil mengolok olok dia.
"Diam kamu Tuti,!, Gara - gara kamu semuanya jadi berantakan,,!" Hardik kang Entis kepada Tuti.
" Asti, mau kan jadi istri pertama ajang, sampai mati,!" Ucap kang Entis sambil berdiri dan masih menggenggam tangan ini kuat, hingga terasa pergelangan tangan ini sakit jika aku terus berontak.
__ADS_1
"Lepaskan tangan ku kang!, Kamu sudah menyakitiku, jika kamu tidak mau melepaskan, aku akan lapor polisi, pasal kdrt.!" Tegasku sambil meringis menahan sakit, akhirnya pegangan tangan kang Entis mengendor, dia lalu mengusap tangan ku,
"Maaf kan aku Asti, aku tidak bermaksud menyakitimu, aku hanya ingin mempertahankan hak ku sebagai suami, kamu itu istriku dan selamanya akan menjadi istriku!"