
"Maaf ini sebelumnya saya minta maaf, saya bukan bermaksud ingin ikut campur urusan kalian, tapi seperti nya masalah ibu Asti dan ibu ini cukup serius, apalagi ibu ini menyebut ganti rugi soal nyawa, duh kedengaran nya sangat serius sekali, jadi saya harap kedatangan pak RT di tengah masalah ini memang di perlukan, lebih baik memang kita memanggil pak RT , agar masalah ini bisa jelas dan menemukan titik terang." Buk ustad memberikan pendapatnya untuk menyelesaikan masalah emak dan ibu, memang kehadiran pak RT seperti nya memang penting!
"Sebaik nya begitu buk ustad, saya setuju." Ujar ibu mengikuti saran buk ustad.
"Aku tidak setuju! Sebaiknya kamu Asti lekas ambil uang itu, lantas persoalan ini kita anggap selesai." Ujar Emak.
"Assalamualaikum" ujar pak RT memasuki ruangan tamu ibu.
"Waalaikum salam" serentak ibu-ibu yang hadir menjawab salam pak RT, kecuali emak, sementara emak mulut nya komat-kamit marah kepada Asti.
"Silahkan pak RT, kebetulan pak RT sudah datang, sebaiknya bapak ikut menyelesaikan masalah keluarga ini dengan bijak." Ucap buk ustad mempersilahkan pak RT.
"Ada apa ini sebenarnya, istri saya tadi menyuruh saya kemari tapi belum menjelaskan apa-apa, katanya dia tadi di telpon buk indah." Ujar pak RT menjelaskan kedatangan nya kesini karena istrinya mendapatkan telpon dari salah seorang ibu-ibu yang berada di sini.
"Iya pak RT, tadi saya telpon buk RT, karena di sini tadi darurat." Ujar buk indah membetulkan ucapan pak RT.
"Buk RT tidak ikut sekalian kesini pak?!" Tanya seorang ibu yang lain nya.
__ADS_1
"Tidak buk, istri saya sedang tanggung sedang masak, anak yang paling kecil juga sedang kurang sehat, jadi istri saya di rumah saja buk." Ujar pak RT.
"Oh gitu ya pak, semoga si Dede lekas sehat ya pak," ujar buk ustad.
"Amiiin.. oh iya buk ustad, bisa tolong jelaskan ada masalah apa lagi di sini buk?"
Pak RT meng aminkan ucapan buk ustad, dia pun segera bertanya masalah yang sedang terjadi di rumah ibu.
"Sebaiknya bapak langsung tanyakan kepada yang bersangkutan saja, mungkin ibu Asti, lebih berhak untuk menjelaskan kronologi yang terjadi, saya hanya tahu sebagian besar nya saja, takut salah dalam memberikan informasi " ucap buk ustad menyerahkan masalah ini kepada ibu untuk menjelaskan nya.
"Begini pak RT, mantan suami Asti meninggal, saya akui jika kematian Entis itu ada sangkut pautnya dengan anak saya, mungkin pak RT sudah tahu ceritanya kan,?" Ibu menjeda ucapan nya karena ingin tahu reaksi pak RT dengan ucapan nya.
"Ini ibu Entis ini seminggu yang lalu datang kesini, dia meminta ganti rugi nyawa anaknya sebesar seratus juta kepada Asti, saya tidak terima pak, karena kematian Entis itu murni karena tindak kejahatan orang lain, bukan karena Asti!" Ujar ibu menjelaskan persoalan dengan nada cukup tinggi karena masih terbawa rasa marah tadi kepada Emak.
"Ya wajar lah saya minta ganti rugi kepada Asti! Seandainya anak saya tidak melindungi si Asti ini, mungkin saja anak ku masih hidup sekarang ini.!" Ujar Emak tidak mau kalah.
"Assalamualaikum" tiba-tiba Umar dan Yoga sudah berdiri di pintu ruang tamu, mereka datang ke sini karena tadi sewaktu Asti masih bersembunyi di kamar, Asti menelpon bapak, tapi hape bapak tidak aktif, lantas Asti menelpon adiknya untuk segera pulang, Asti takut terjadi apa-apa sama ibu, sementara dirinya tadi tidak bisa keluar karena di larang ibu.
__ADS_1
"Waalaikum salam," jawab semua orang yang hadir membalas salam Umar, mereka berdua pun langsung segera mendekati ibu dan Asti, yoga bersalaman dengan pak RT lantas yoga berdiri di belakang kursi yang di duduki Asti, sementara Asti sendiri dari tadi hanya menundukkan pandangan sambil bersandar di pundak ibunya, jelas terlihat kesedihan dan kegelisahan di wajah cantik Asti, bahkan kedatangan Yoga ke sini pun tidak sedikitpun Asti melirik kepada Yoga, ingin sekali Yoga memeluk Asti untuk memberikan ketenangan, tapi apalah daya, dirinya hanya bisa berdiri di belakang kursi Asti saja itu sudah membuat dirinya senang,, sementara Umar berdiri bersebelahan dengan yoga dengan wajah datar.
"Kita lanjutkan lagi ya obrolan tang sempat tertunda barusan,"pak RT mulai meneruskan berdiskusi.
"Saya tidak terima pak RT, Asti terus di salahkan, padahal sudah jelas sewaktu di kantor polisi juga jika Asti hanya lah korban, tapi kenapa di mata perempuan tua ini Asti menjadi tersangka!" Ujar ibu terus membela Asti.
"Ya jika seandainya si Asti tidak datang ke sarang para lelaki itu mungkin saja kejadian yang menimpa anak saya tidak akan terjadi!" Ucap Emak berapi-api, Asti semakin terisak mendengar ucapan emak, ibu meradang.
"Asti datang kesana juga karena memiliki alasan! Umar anak saya di keroyok oleh si Entis dan juga teman nya sampai masuk rumah sakit, tubuh Umar pun kena tusukan, wajar jika Asti marah dan datang ke tempat tongkrongan Entis untuk minta pertanggung jawaban!" Ibu membela Asti, karena memang kejadian itu terjadi begitu saja, jadi Asti tidak bisa di jadikan kambing hitam atas kematian Entis
"Tapi Entis berbuat seperti itu pasti ada alasan nya! Si Asti sudah berani menceraikan anak saya! Jelas sudah si Entis kesal, mungkin si Umar hanya korban dari kekesalan anak saya saja!" Ujar emak Enteng tanpa memikirkan perasaan orang lain atas ucapan nya barusan, sontak saja ibu-ibu yang hadir pada ribut karena kesal dengan ucapan emak.
"Lah apa hubungan nya perceraian si Asti sama si Umar, kenapa si Umar yang di keroyok sana si Entis?" Begitulah ucapan ibu-ibu saling menyalahkan ucapan emak
"Sudah-sudah, tenangkan dulu amarah ibu-ibu ini, jika kita saling menyalahkan terus, maka persoalan ini tidak akan selesai juga."
Pak RT mencoba menenangkan semua yang hadir.
__ADS_1
"Pokoknya saya tidak mau anak saya mengeluarkan uang itu pak RT, tapi mungkin kalau dia minta uang belasungkawa kepada kami, maka dengan ikhlas akan kami berikan, tapi nominal juga tidak bisa di tentukan, saya akan kasih sesuai kemampuan kami sendiri, tapi kalau dia mematok uang seratus juta, saya dan anak saya merasa keberatan, apalagi anak saya terus di salahkan! Saya tidak terima pak RT!" Ujar ibu dengan lantang, dia memang sudah sangat emosi.
"Kamu pikir saya pengemis minta sumbangan atas kematian anak saya! Saya datang kesini karena saya meminta hak saya dan anak saya, anggap saja kalian membalas jasa atas kematian anak lelaki saya!" Emak pun tidak mau kalah.