Suami Benalu Banyak Ulah

Suami Benalu Banyak Ulah
tidak mau berhenti


__ADS_3

"Iya as, kami akan antar kamu pulang, ayo sekarang kita pulang," ucap ayu mengajak ku pulang.


Akhirnya aku berpamitan pada semua satpam yang berada di sana, aku juga mengucapkan banyak terima kasih dari dalam hati ku dengan tulus kepada mereka yang telah mau menolongku, terutama kepada Andika dan pak Wiryo.


Mobil yang di kendarai bang Yoga melaju dengan kecepatan sedang di tengah jalan raya yang lengang ini, aku yang duduk di jok belakang sopir bersama ayu masih was-was takut kang Entis mencegat mobil kami ini.


Mataku selalu melirik ke belakang mobil, aku begitu gelisah sekali.


"Jangan khawatir di ikuti oleh suami kamu lagi mbak, insya Allah kita aman, jangan panik ya." Tiba-tiba bang Yoga mengajak aku bicara, dia mencoba menenangkan hatiku, aku melihat dia lewat kaca spion yang ada di depan sopir, dan mata kami bertemu, aku hanya mengangguk tanda mengiyakan.


"Sudah kamu jangan khawatir ya as," ucap ayu sambil mengusap punggung tanganku yang dingin.


"Kasih minum dulu yu, biar hatinya tenang." Perintah bang Yoga kepada ayu, sambil memberikan botol mineral kepada ayu,


Ayu pun mengambil air mineral dari tangan abangnya, lalu memberikan padaku.


Aku pun langsung meminumnya, mungkin karena aku sedang mengalami rasa takut dan shock atas kejadian tadi, hingga mulut ini terasa sangat kering dan tenggorokan pun sedikit sakit, aku minum air dengan terburu - buru hingga aku terbatuk karena tersedak air.


"Aduh, hati-hati as, pelan-pelan minumnya ya." Ayu lalu mengambil tisu dan memberikan padaku, karena air mineral itu sempat menyembur ke bajuku, sungguh aku malu sekali kepada bang Yoga dengan tingkah ku ini.


"Iya, maaf." Ucapku salah tingkah.


"Tidak apa-apa, tidak usah minta maaf, lebaran Masih jauh kok" kekeh lelaki itu, aku tersipu malu, dan ayu hanya nyengir saja.


Tidak terasa kami pun sampai di rumah, aku segera turun dari dalam mobil, ayu pun ikut turun.


"Yu, aku tidak mampir ya, kamu antar saja mbak Asti sampai rumahnya, aku nunggu di mobil," ucap bang Yuda kepada adiknya.

__ADS_1


"Abang turun lah dulu, aku baru loh tahu rumah Asti, aku mau main sebentar di sini bang, mumpung kita ada di sini." Ucap ayu mengajak abangnya untuk turun.


"Iya bang, sebaiknya Abang ikut turun, mampir ke rumah dulu sekalian minum kopi dulu bang." Aku bicara tidak basa basi , walau bagai mana pun mereka sudah mau mengantar ku pulang jadi aku ingin berterima kasih dengan menjamu mereka di rumah, walau hanya dengan segelas kopi.


"Boleh juga tuh ngopi, ya sudah kita mampir sebentar ya." Ucap bang Yoga, lalu dia ikut turun dan melangkah mengikuti kami.


***


"Astagfirullah, ternyata si Entis makin edan ya!" Ibu yang mendengar kejadian tadi di kantorku tentang kang Entis sangat shock, di ruang tamu ini sekarang hanya ada kami berempat, hanya ibu yang duduk menemani para tamu, bapak dan Umar sedang tidak ada di rumah, bapak sedang jualan di pasar, sedangkan Umar memang kerja sambil kuliah, dia sekarang masih berada di tempat kerjanya, jadi mereka berdua ibelum mendengar kejadian yang menimpaku tadi.


"Kalau menurut saya buk, sebaiknya mbak Asti jangan dulu pergi kerja, kalau bisa ambil cuti dulu, takutnya hal itu terulang kembali." Saran bang Yoga kepada ibuku, tapi aku rasa sih memang benar, aku harus cuti kerja, karena selama ini aku hampir tidak pernah mengambil cuti, paling jika terdesak saja ijin satu atau dua hari.


"Betul itu nak Yoga, ibu rasa juga begitu, sebaiknya Asti memang mengambil cuti, ibu setuju dengan usulan nak Yoga." Ternyata ibu juga menyetujui ide bang Yoga, sebaiknya besok aku akan mengajukan cuti untuk satu Minggu ke depan, dan akan aku habiskan waktu di luar kota, aku akan mengajak keluarga ku liburan, sepertinya seru jika aku pergi ke puncak dan menyewa vila untuk beberapa hari disana.


"Betul as sepertinya kamu memang harus cuti, tapi aku sedih tidak ada teman untuk aku buli lagi" ucap ayu menyebalkan.


Kami semua akhirnya tertawa melihat kekonyolan aku dan ayu.


"Rupanya Mbak ayu sudah lebih baik, kami harus permisi dulu, hari juga hampir malam buk" tiba-tiba bang Yoga berpamitan kepada ibu.


"Loh, nanti saja pulang nya, sebaiknya kita makan malam di sini saja, bapak dan Umar juga paling sebentar lagi pulang." Ibu mencoba menahan tamunya untuk ikut makan malam.


"Ide yang bagus buk, aku mau ikut makan di sini buk, boleh kan as?!" Ayu tiba-tiba menyetujui untuk makan malam di sini, tentu saja aku senang, sahabatku ini baru pertama kali dia datang kesini, setelah sekian lama aku tidak bisa sebebas ini bisa membawa teman ke rumah, masalahnya aku malas jika teman ku datang ke rumah kang Entis paling tidak suka, dan aku juga malas memperkenalkan kang Entis kepada teman ku karena hampir tiap hari mulutnya selalu bau alkohol.


"Jangan di tawarin makan dia mah buk, nanti dia malah keenakan tiap hari minta makan ke sini." Kelakar ku, membuat ayu memajukan mulut dua senti, ibu memukul tangan ku.


"Hust, kamu tidak boleh ngomong kayak gitu, jika ayu tiap hari datang kesini juga ibu senang, akan ibu masakin dia yang enak-enak.!" Semprot ibu padaku, sementara ayu tertawa sambil menjulurkan lidahnya padaku, aku meringis mengusap tangan yang kena pukul ibu.

__ADS_1


"Gawat nih, aku punya saingan !' gerutuku, semua pun tertawa lagi melihat pertengkaran konyol kami ini, mas Yoga juga ikut tersenyum melihat kami.


"Assalamualaikum, wah lagi banyak tamu ya, sampai terdengar keluar" tiba-tiba bapak datang, dia pun tersenyum dan menyalami ayu dan bang Yoga.


"Kenalin pak, saya ayu teman kerja Asti." Ucap ayu memperkenalkan diri pada bapak.


"Oh iya saya bapak nya Asti, ini pasti suami nak ayu ya." Ucap bapa memperkenalkan diri sekaligus bertanya kepada ayu, tangan nya menunjuk bang Yoga dan mengira dia suami ayu.


"Bukan pak, saya kakak nya ayu," bang Yoga memperkenalkan diri sambil menyambut tangan bapak yang bersalaman dengan nya.


"Oh, maaf." Kekeh bapak.


"Iya pak tidak apa-apa," ucap ayu sambil tersenyum.


Bapak pun duduk di sebelah ibu, lalu ibu pergi ke dapur untuk membuat kopi.


"Pak, tadi mereka mengantar Asti pulang!' ucapku mulai pembicaraan kepada bapak, sebenarnya aku ragu ingin mengadu tentang ulah kang Entis tadi, tapi bapak juga harus tahu, rupanya bapak heran dengan ucapanku, karena aku tidak biasanya di antar pulang oleh orang lain, karena aku membawa kendaraan sendiri.


"Motor nya mogok teh?" Tanya bapak kepadaku.


"Bukan pak, tadi Asti di ganggu si Entis di tempat kerjanya.!" Ibu datang dari dapur membawa secangkir kopi, lalu ibu meletakan kopi itu di meja tepat di hadapan bapak, lalu ibu pun menceritakan kejadian tadi kepada bapak, aku melihat tangan bapak terkepal, mungkin bapak ikut kesal juga.


"Kurang @jar dia itu buk, sebaiknya Asti harus berhenti bekerja, dan kita amankan Asti ke suatu tempat dulu." Ucap bapak menatap nanar ke luar rumah.


"Pak, Asti tidak mau berhenti kerja." Ucapku sedikit takut karena membantah bapak.


"Kenapa?, Bapak masih mampu mencukupi semua kebutuhan teteh, jangan takut nanti jika teteh di tempat baru bapak akan mencukupi segalanya." Ucap bapak kepadaku, beliau tidak marah karena bantahan ku.

__ADS_1


"Tapi teteh masih suka bekerja disana pak, teteh punya rencana untuk mengambil cuti seminggu, dan teteh juga akan mengajak bapak, ibu, dan Umar untuk pergi berlibur ke puncak untuk menginap di sana beberapa hari , sekalian untuk menenangkan pikiran pak." Ucapku memberi tahu niatku kepada bapak.


__ADS_2