
Dengan terpaksa Umar mengambil kembali mangkuk bubur itu, dia lalu menyendok nya dan langsung di makan pelan-pelan, tapi rasanya aneh menurut lidah dia, karena memang jika sakit makan apapun akan terasa aneh dan pahit, tapi dengan terpaksa Umar menelan bubur itu demi minum obat, dia ingin segera subuh.
"Sebaiknya Umar istirahat di kamar saja jika sudah minum obat." Yoga menyarankan Umar untuk istirahat tidur.
"Nanti saja bang, saya masih pengen ngobrol di sini." Umar memang masih penasaran dengan kepulangan keluarganya yang mendadak ini, jadi dia bersikukuh ingin ikut ngobrol.
"Pak, ceritain dong kenapa pulang cepat, terus kenapa bisa pulang bareng sama bang yoga juga!" Rupanya Umar benar-benar penasaran.
Akhirnya bapak pun bercerita kejadian kemari sewaktu melihat Vidio yang di upload di grup warga perumahan ini, yang memperlihatkan sidang yang di gelar di rumah ini untuk menyidang Umar dan Euis, hingga pertemuan nya dengan yoga yang tidak sengaja hampir menabrak Asti, semua di ceritakan oleh bapak.
Umar hanya menunduk merasa bersalah, hanya karena dia gegabah mempersilahkan Euis masuk rumahnya maka ada kejadian yang memalukan terjadi pada dirinya, walau dirinya di nyatakan tidak bersalah atas kejadian kemarin terhadap Euis, dan sudah di pastikan jika Umar adalah korban fitnah Euis, tapi Umar merasa malu dan merasa bersalah karena keluarganya tidak jadi berlibur hanya gara-gara mengkhawatirkan dirinya.
"Padahal Umar tidak apa-apa pak, sebaiknya bapak dan ibu serta teh Asti lanjutkan saja liburan nya, sebab masa cuti teh Asti kan masih lama, Umar tidak apa-apa kok di tinggalin lagi, Umar janji tidak akan menerima tamu siapapun ke dalam rumah ini.!" Ucap Umar dengan serius.
"Tidak apa-apa mar, kamu lebih berharga di banding liburan, teteh dan orang tua kita sayang sama kamu mar, makanya kami khawatir, nanti saja jika kita punya waktu lagi, baru kita liburan sekeluarga," ucap Asti sambil mengelus tangan adiknya, Umar hanya mengangguk.
"Bang, apa Abang tidak terluka tadi nabrak trotoar?" Tanya Umar sambil memperhatikan tubuh yoga dengan cemas.
"Alhamdulillah tidak mar, saya tidak lecet sedikitpun," jawab yoga tersenyum.
__ADS_1
"Syukur Alhamdulillah kalau begitu." Jawab Umar,
"Sekarang bapak ingin mendengar cerita Umar, dari awal kejadian sampai akhir, bapak ingin tahu bagaimana kejadian kemarin itu mar.?!" Bapak mewakili pertanyaan semua orang yang ada di sana, mereka semua juga penasaran dengan kejadian yang sebenarnya.
Akhirnya Umar pun bercerita kejadian kemarin dari semenjak Euis meminta antar ke tempat kerja nya dan di tolak hingga sorenya Euis datang bertamu untuk mencari Asti, dan selanjutnya kejadian yang tidak terduga itu terjadi begitu saja.
"Sepertinya Euis memang sudah merencanakan ini semua, bisa juga dia bersekongkol dengan kakak nya itu, sepertinya mereka harus di beri efek jera mar!" Yoga geram mendengar semua cerita Umar, dia menyeramkan untuk memberi pelajaran kepada Entis dan adiknya.
"Iya mar, teteh setuju, sebaiknya kita laporkan saja mereka!" Ucap Asti mengamini ucapan yoga.
"Sepertinya tidak usah bang, saya sudah melepaskan mereka kemarin, biarlah kejadian kemarin itu akan saya jadikan pelajaran agar lebih berhati-hati lagi nantinya, kecuali jika mereka membuat masalah lagi , baru kita laporkan mereka!" Ucap Umar menolak halus untuk memperkarakan Euis, Umar pun bertekad jika sekali lagi Entis atau pun Euis membuat huru hara lagi, maka Umar sendiri yang akan menyeret mereka kekantor polisi.
"Haha.. ibu ada-ada saja ngatain orang, ada ya keluarga kurang Seon?!" Bapak tertawa mendengar ocehan ibu, dan di ikuti tawa yoga dan Asti yang mendengar kelakar bapak, sementara Umar hanya nyengir.
"Ya sudah, jika itu sudah menjadi keputusan Umar kami hargai kok, sepertinya memang harus begitu mar, memberi kesempatan lagi kepada mereka, siapa tahu mereka tidak akan berani macam-macam lagi kepada keluarga ini, jika mereka berbuat huru hara lagi segera seret si Entis cs itu ke penjara mar! Saya akan siapkan pengacara untuk keluarga ini"Ucap yoga menghormati keputusan Umar,
"Waduh terimakasih banyak loh nak yoga sebelumnya, atas perhatian nya kepada kami, hingga mau memberikan kami pengacara segala." Ucap bapak merasa sungkan dan juga senang, karena masih ada orang yang mau memberikan perhatian kepada keluarganya.
"Iya sama-sama pak," ucap yoga singkat sambil tersenyum, tiba-tiba telpon bapak berdering, bapak pun meminta ijin keluar kepada yoga untuk mengangkut telpon, yoga pun mempersilahkan, sementara ibu masuk ke dapur, jadi di ruang tamu hanya ada Umar ,Asti dan yoga.
__ADS_1
"Kamu sebaiknya tidur saja mar, jika sudah minum obat itu memang sebaiknya badan di istirahat kan agar kembali vit lagi mar, siapa tahu bangun tidur nanti badan nya sehat" yoga menyuruh Umar istirahat, dan Umar pun memang sebenarnya sudah ingin pergi kekamar, karena matanya sudah mulai ngantuk mungkin karena tadi minum obat.
"Iya bang, teh Asti juga, saya pamit ke kamar dulu ya," ucap Umar sambil berdiri, setelah di persilahkan oleh yoga dan juga Asti , Umar langsung masuk ke kamarnya.
Tinggallah yoga dan Asti di dalam ruangan ini, Asti merasa canggung duduk di ruangan tamu berdua dengan lelaki yang baru dua kenalnya ini, tapi mau di tinggal pergi rasanya tidak enak hati, takut yoga berpikiran bahwa tuan rumah tidak sopan meninggalkan tamu.
Sementara yoga asik saja melihat Asti yang sedang gelisah, tangan nya meremat kain yang dia kenakan, pandangan nya juga menunduk ke kolong meja, entah apa yang Asti lihat di kolong itu sepertinya Asti asik sekali, yoga tersenyum geli melihat tingkah Asti.
"As, hari ini ayu sudah telpon kamu?" Yoga mencoba mengajak Asti bicara untuk mencairkan kecanggungan yang ada.
"Belum bang, mungkin dia masih sibuk, paling juga nanti pas istirahat makan siang di pasti telpon saya."
"Oh, bagaimana jika nanti sore kita jemput ayu, kita bikin surprise ," ajak yoga, Asti diam saja, dia berpikir jika di pergi ke menjemput Ayu, rasanya tidak enak takut ada teman kerjanya yang melihat dirinya.
"Saya tidak enak bang, takut ketemu teman kantor, saya sudah bilang jika saya mau ke luar kota, tapi ternyata hari ini saya malah jemput ayu bang." Terang Asti mengemukakan rasa tidak enak nya jika menjemput ayu.
"Saya paham, tapi kamu tidak perlu turun dari mobil, kamu tenang saja tidak akan ada yang melihat kamu, " Asti bingung mau menolak dengan alasan apalagi, rasanya tidak enak hati jika dia menolak keinginan Abang dari sahabatnya ini.
"Baik lah bang." Jawab Asti pasrah, yoga tersenyum penuh kemenangan tanpa di sadari oleh Asti.
__ADS_1