Suami Benalu Banyak Ulah

Suami Benalu Banyak Ulah
tamu yang tak di undang


__ADS_3

"Teh Asti!" Tiba-tiba ada suara seorang perempuan memanggil Asti di luar pagar, semua pun menoleh ke arah suara.


Asti memutar bola mata malas begitu melihat siapa yang datang, Euis dengan memakai helm warna hijau milik ojek online sedang tersenyum di depan pagar, dia pun lantas membuka helmnya dan menyerahkan helm sambil membayar jasa ojek online nya, setelah itu dia baru masuk ke halaman rumah asti,


'Entah mau apa lagi ini bocah pagi-pagi sudah datang kesini, sumpah aku lagi tidak ingin berantem pagi-pagi,'


begitulah teriak batin Asti ketika melihat Euis.


"Ada apa is, tumben kesini?" Tanya asti, sebenarnya heran, karena memang dia tidak pernah datang kesini.


"Kebetulan Euis lewat sini mau berangkat kerja teh, tapi Euis lihat teteh di luar, jadi Euis turun dulu untuk mampir sebentar." Lantas Euis bersalaman dengan bapak dan ibu, tidak ketinggalan dia pun bersalaman dengan Umar, ibu pun menyapa Euis seperlunya, lalu ibu naik mobil di kursi depan sebelah kursi supir,dan bapak pun duduk di belakang kemudi, mereka memang sedang buru-buru berangkat takut terjebak macet, jadi kehadiran Euis saat ini tidak tepat, Asti heran dengan sikap Euis yang sok akrab, biasanya juga dia itu menyebalkan, tapi begitu Asti melihat gestur tubuh Euis yang kegenitan dan matanya terus jelalatan kepada Umar, baru Asti paham kenapa adik iparnya ini bersikap aneh, sementara Umar sendiri cuek bebek, karna dia sebal dengan seluruh keluarga kang Entis.


"Aku lagi ada acara, aku mau siap-siap dulu ya, sudah keburu siang," ucap Asti ingin segera beranjak dari hadapan Euis.


"Teh, aku ada perlu sama teteh, tapi kita bicara di sana yuk" Euis mengajak Asti bicara di luar pagar rumah, mungkin dia tidak ingin omongan nya di dengar keluarga ku.


"Bicara di sini saja ya, teteh mau cepat-cepat pergi nih."Asti menolak, dia sudah paham kenapa Euis kesini pasti dia ingin meminta uang yang di pakai kang Entis, dih jangan harap!


"Ih si teteh mah sebentaran doang juga tidak mau!" Sewot Euis.


"Teh ayo berangkat!" Ucap bapak sambil menyalakan mobilnya.


"Tuh aku sudah di tunggu is, lain kali saja ya kita bicara lagi!" Ucap Asti sambil buru - buru naik mobil dan duduk di belakang kursi ibu, Asti pun pamit sama Umar sambil melambaikan tangan.


Umar membalas melambaikan tangan nya juga dan berpesan agar mereka berhati-hati di jalan, sementara Euis terlihat bete dia pun menghentak-hentakkan kakinya ke tanah karena kesal terhadap Asti, tujuan untuk meminta uang setoran motor pupus sudah.


"Euis, maaf ya aku masuk dulu, aku mau bersiap pergi kerja dulu." Ucap Umar pamitan kepada iparnya itu , dia pun melangkah masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Kang Umar, tunggu!" Euis menghentikan langkah kaki Umar untuk masuk kedalam rumah,


"Ada apa?!" Tanya Umar datar.


"Ini kang, kalau boleh, saya mau minta antar sama kang Umar" ucap Euis menunduk malu-malu sambil memilin-milin ujung bajunya.


"Antar ke mana?" Umar penasaran.


"Antar ke tempat kerjaan Euis," ucap Euis sambil menatap wajah ganteng Umar, dia sangat berharap Umar mau mengantarnya ke tempat kerja, pasti semua teman nya di sana akan iri kepadanya karena dirinya di antar lelaki seganteng Umar.


"Maaf Euis, aku tidak bisa, karena aku juga sedang buru-buru mau ke kantor, sudah kesiangan!" Ucap Umar menolak secara halus, dan memang kenyataan nya dia memang harus segera berangkat karena waktunya sudah mepet banget untuk ke kantor.


Euis merasa kecewa sudah di tolak Umar, rasanya dia sudah tidak memiliki harga diri karena Umar telah mematahkan khayalan nya untuk membawa Umar pamer kepada teman-teman nya, tadi dia kecewa kepada Asti karena menolak di ajak bicara, sekarang dia kecewa kepada Umar karena menolak mengantarnya pergi ke tempat kerja nya, Euis pun akhirnya pergi dari halaman rumah Asti dengan membawa sejuta dongkol.


***


Sore ini Umar tidak main kemana-mana seusai bekerja, dia ingin langsung pulang karena merasa kurang sehat, dia pun segera meluncur pulang ke rumah.


Tok


Tok


Tok


Ketukan pintu di luar rumah membuat makan Umar terhenti, lalu dia tidak mencuci tangan yang masih agak sedikit nempel cabe di tangan nya itu di biarkan nya kotor, dia pikir hanya sebentar saja lalu lanjut makan lagi nanti setelah tamu nya pulang.


Gegas Umar ke depan untuk membuka pintu, dan begitu pintu di buka , senyum milik Euis menghiasi pemandangan Umar,

__ADS_1


"Ada apa is?" Ucap Umar bete.


"Kok ada tamu tidak di persilahkan masuk sih kang, aku ini adik iparnya teh Asti loh, tapi sepertinya tidak boleh masuk ya ke sini" ucap Euis pura-pura merajuk, entah apa yang ada di dalam otak nya sekarang.


"Maaf, silahkan!" Umar terpaksa memberi ijin masuk ke dalam rumahnya karena memang merasa tidak enak jika kehadiran nya disini ia tolak, Euis tidak pernah bermasalah dengan nya, dan Umar pun tidak pernah melihat kakak nya bermasalah dengan Euis.


Euis melangkah masuk kedalam rumah dengan senyum yang penuh arti, lalu matanya berputar mengelilingi seluruh perabotan yang ada di rumah itu, dia merasa kagum dengan selera mertua kakaknya itu, ini kali pertama Euis masuk ke dalam Rumah ini, karena selama ini Euis kalau ada perlu sama Asti, pasti hanya sampai pintu gerbang rumah ini, dia tidak ingin masuk ke rumah ini.


"Silahkan duduk." Ucap Umar membuyarkan konsentrasi Euis yang sedang menjelajahi rumah ini dengan matanya.


"Oh iya kang" ucap Euis sambil tersenyum.


"Ada apa ya,? Teh Asti belum pulang, mungkin lama dia perginya." Ucap Umar yang sudah tidak sabar ingin tamunya segera pergi dari hadapan nya, karena dia merasa risih dan takut jika mereka berduaan di dalam rumah.


"Oh, teh Asti belum pulang ya, gimana kalau aku nunggu teh Asti saja di sini, soalnya aku ada perlu penting sama dia." Ucap Euis merasa senang ternyata Asti belum pulang, karena tujuan utamanya kali ini dia datang kesini memang bukan untuk ketemu Asti.


"Waduh nunggu di sini tidak mungkin!" Umar kaget dan spontan menolak untuk Euis menunggu kakak nya.


"Kenapa tidak mungkin kang?!" Tanya Euis sambil menatap mata elang Umar.


"Teh Euis pulangnya nanti seminggu lagi, dia lagi keluar kota sama bapak ibu , kamu kan tadi lihat pas mereka pergi!" Umar menjelaskan jika semua keluarganya pergi, jadi dia berharap Euis lekas pergi dari sini.


Tapi sayang nya, bukan nya Euis segera pulang setelah tahu Asti tidak di sini, tapi justru dia sangat kegirangan.


"Loh kok ke luar kotanya ga ajak-ajak kang Entis sih!?, Kan seharusnya istri itu harus minta ijin suami dulu, tapi teh Asti pergi begitu saja tanpa suaminya tahu! Itu kan tidak baik!" Ucap Euis, menyalahkan Asti pergi tanpa mengajak kakak nya.


"Sudahlah, aku malas membahas soal itu, masalahnya jika aku bicara soal kang Entis nanti panjang ceritanya, bisa pusing aku!, Lebih baik Euis pulang saja sekarang, soalnya aku mau pergi sekarang!" Ucap Umar malas membahas kang Entis dan teh Asti, karena nanti dia akan terbawa emosi, Umar pun mengusir Euis secara halus mengatakan dirinya akan pergi, padahal dia ingin tidur karena kepalanya sedikit sakit.

__ADS_1


"Akang ngusir saya?" Tanya Euis pura-pura bodoh!


"Bukan ngusir, tapi akang mau pergi, di sini tidak ada orang!" Ucap Umar agak sedikit terpancing emosinya.


__ADS_2