
Adzan subuh baru saja berkumandang, mata Emak dan Euis tiap sebentar memandang pintu ruang operasi, sudah hampir enam jam mereka menunggu Entis yang sedang di operasi, tapi pintu itu tidak kunjung terbuka, hingga pukul enam pagi akhirnya pintu itu pun terbuka, petugas medis yang bertugas di ruangan itu keluar dengan memakai pakaian serba hijau, dia lantas memanggil keluarga Entis, petugas itu mengatakan jika operasi pengangkatan sajam sudah berhasil, tapi Entis harus masuk ruang ICU, emak hanya mengangguk pasrah, tapi otak nya berpikir keras, bagaimana caranya untuk membiayai segala biaya Entis di rumah sakit, emak sudah yakin pasti jika Entis masuk ruang ICU biaya rumah sakit akan membengkak, sementara dirinya tidak memiliki tabungan, tapi Emak berpikir bagai mana nanti saja urusan biaya rumah sakit, akan di pikirkan lagi nanti, yang penting nyawa Entis selamat dulu,
Akhirnya Entis di dorong keluar menggunakan blankar oleh seorang pria yang memakai pakaian serba putih, keadaan Entis sangat memprihatinkan, dia terkapar tidak berdaya dan belum sadarkan diri karena efek obat bius, Emak sedih melihat anak lelakinya tergeletak tidak berdaya, tubuh Entis penuh dengan berbagai alat dan selang yang menempel di tubuh dan juga tangan Entis,, pria berseragam itu mendorong tempat tidur Entis ke ruang ICU karena Entis masih kritis jadi harus di pindahkan ke ruang ICU.
Emak dan Euis terus menangisi Entis, operasi Entis dilakukan hampir enam jam nonstop, semenjak Entis masuk ruang operasi hingga sekarang, mereka berdua tidak tidur sekejap pun,
"Mak gimana kalau kang Entis mati Mak!" Ucap Euis.
"Kamu jangan ngomong gitu is, emak tidak mau kehilangan anak emak itu, walau pun kadang dia bikin emak kesal, tapi emak sayang sama dia is!" Ucap emak sambil tersedu menangis.
"Euis juga Mak, walau kadang kang Entis bikin Euis marah, tapi Euis tidak mau jika kang Entis mati Mak!" Tidak jauh beda dengan Emak, Euis pun menangis tersedu-sedu.
Emak dan Euis tidak bisa menunggu Entis di dalam ruangan, mereka hanya bisa menunggu Entis di depan ruang ICU.
Tidak terasa waktu berputar cepat, sekarang sudah pukul sembilan pagi , tapi menurut Emak dan Euis waktu berjalan sangat lambat.
__ADS_1
Asti pagi ini datang ke rumah sakit bersama yoga, penampilan Asti sekarang cukup rapih walau memakai pakaian sederhana tapi kecantikan Asti masih terlihat, Asti dan yoga langsung menuju ruang ICU karena sebelum nya yoga sudah mendapat informasi dari anak buahnya, bahwa Entis sudah di rawat di ruang ICU , yoga di beri tahu oleh anak buah yoga yang memantau keadaan Entis di rumah sakit ini, yoga menyuruh dua orang anak buahnya untuk mengikuti perkembangan Entis, walau bagaimana pun yoga merasa berhutang Budi, karena aksi heroik Entis lah hingga Asti bisa selamat dari kejahatan Gogon.
Yoga berniat akan mengkover semua biaya perawatan Entis selama di rawat di sini, tapi dia akan merahasiakan aksinya itu dari keluarga Entis.
Asti berjalan pelan ke ruangan ICU, di luar Terlihat Emak dan Euis sedang duduk termenung di bangku depan ruang di mana Entis di rawat, Asti pun menghampiri mereka dengan hati penuh takut, Asti yakin Emak akan menyemprot dirinya dengan kata-kata menyakitkan, sementara yoga tidak ikut menemani Asti untuk menemui Emak nya Entis, dia hanya memperhatikan Asti dari jauh, yoga berdiri dari Asti hanya berjarak beberapa meter saja.
"Mak, bagaimana kondisi kang Entis?!" Asti langsung saja bertanya keadaan Entis, sampai Asti lupa mengucapkan salam, sontak Emak dan Euis yang sedang melamun kaget mendengar suara Asti.
"Mau apa kamu datang kesini! Belum puas kamu menyiksa anak ku!?" Teriak Emak.
Salah Asti Mak, Asti tidak tahu jika kejadian nya akan jadi seperti ini! Asti minta maaf Mak" Asti dengan tulus meminta maaf kepada Emak.
"Maaf kamu bilang?! Anak ku hampir mati gara-gara kamu! Tapi kamu baru datang kesini! Di mana hati kamu Asti!" Teriak emak geram.
"Mak, maaf, Asti baru bisa kesini karena semalam Asti harus ke kantor polisi, pulang dari kantor polisi Asti harus menjaga umar di rumah sakit, Asti terpaksa pergi ke rumah sakit untuk menjaga Umar." Asti menerangkan alasan nya baru datang kesini kepada emak sambil menangis.
__ADS_1
"Alasan saja kamu Asti! Suami terkapar di meja operasi berjam-jam, tapi kamu sebagai istri sedikitpun tidak menyimpan rasa baktimu!" Emak menghardik Asti dengan kata-kata pedas.
"Asti sudah bercerai Mak! Kang Entis bukan suami Asti lagi!" Asti mulai tersulut emosinya karena terus di salahkan, dan Asti paling kesal terus di sebut istri Entis, padahal posisinya sekarang dia sudah bukan siapa-siapa Entis lagi, dia datang untuk menjenguk Entis karena rasa kemanusiaan dan ingin mengucapkan terima kasih karena Entis sudah membelanya.
"Masa idah kamu belum selesai Asti, kamu masih menjadi istrinya, bahkan jika Entis mau rujuk sama kamu, sebenarnya masih bisa, asal kamu jangan keras kepala! Bilang minta cerai, tapi kamu masih mencari-cari si Entis ke gubuk.!" Ucapan Emak sungguh sangat merobek harga diri Asti, Asti ingin marah, tapi dia masih bisa menahan nya karena dia menghormati pengorbanan Entis untuk nya, yoga ikut geram karena emak terus menyudutkan dan menyalahkan Asti, seolah Asti adalah biang dari segala masalah, dia ingin sekali membantah ucapan Emak tapi tidak mungkin dilakukan, karena dirinya hanya orang luar yang tidak patut untuk ikut campur,
"Mak, aku datang ke gubuk mencari kang Entis karena ingin memberi pelajaran karena kang Entis dan teman-teman nya sudah mengeroyok adik ku! Aku tidak ada niat untuk kembali bersama anak mu!" Asti sedikit meninggikan nada suaranya saking emosi, awalnya dia sangat sedih dengan kondisi Entis, tapi begitu mendengar kata-kata Emak yang pedas, membuat Asti jadi hilang rasa kasihan kepada Entis dan keluarganya.
"Emang si Umar itu pantas untuk di hajar! Karena dia sudah berani kurang ajar kepadaku!" Tiba-tiba Euis yang tadi hanya diam kini ikut menyerang Asti, yoga pun akhirnya mulai mendekati Asti, dia khawatir jika dua wanita itu akan berbuat kasar kepada Asti.
"Kenapa kamu benci sama Umar?! Apa kamu merasa menyesal karena tidak dapat memiliki Umar, padahal kamu sudah berusaha menjebak nya! Kasihan sekali kamu is!" Ujar Asti sinis, sontak saja Euis emosi mendengar ucapan Asti, nafas Euis tersengal menahan emosi, Euis berusaha menampar Asti, tapi yoga segera menangkis tangan Euis!
"Maaf, sebaiknya kalian bicara baik-baik, kasihan sama orang yang sakit jika mendengar kalian ribut, apalagi ini ruangan ICU, bisa di seret ke luar kalian oleh satpam jika terus ribut." Yoga mencoba menengahi dengan sedikit menegur agar mereka jangan bertengkar di rumah sakit.
"Kamu siapa ikut campur!" Emak malah matanya mendelik tidak suka kepada yoga.
__ADS_1
Tapi berbanding terbalik dengan Euis, mata Euis langsung berbinar ketika melihat wajah tampan yoga,