
Setelah tiga bulan berlalu dari kejadian Emak mendapatkan uang seratus juta dari Yoga, kini di rumah Asti sedang di adakan acara kecil-kecilan,
Yoga, Umar , dan ayu menggelar pesta kecil untuk merayakan ulan tahun Asti, ibu dan bapak pun ikut serta dalam memberi kan kejutan kecil itu untuk anak perempuan nya, Asti yang sekarang sudah lebih baik, tidak terpuruk dan shock lagi dengan kejadian mengerikan yang menimpa dirinya tempo hari itu, dirinya sudah tidak merasa tertekan lagi, sebab Asti terus di beri pencerahan yang positif oleh pihak keluarganya, semangat dan dukungan terus mengalir dari orang-orang di sekeliling nya, hingga akhirnya dengan lambat laun Asti mulai melupakan kejadian yang merenggut nyawa Entis itu, walau belum sepenuhnya hilang dari ingatan nya, tapi setidak nya Asti Mulai menerima takdir yang telah Tuhan berikan kepadanya dan juga Entis.
"Ayo tiup lilin nya teh!?" Teriak Umar membuyarkan lamunan Asti.
Asti tersenyum lalu meniup lilin itu, tepuk Tangan dan ucapan selamat mengalir dari semua orang yang ada di ruang tamu, hingga pas acara potong kue tiba asti memberikan potongan pertamanya kepada ibu, lantas potongan kedua bapak, dan giliran potongan ke tiga, Ayu dan Umar serentak menunjuk Yoga untuk di berikan suapan ketiga dari tangan Asti, kontan wajah Asti langsung memerah karena malu, dirinya grogi jika memberikan suapan kue yang ketiga itu untuk yoga, sebab status yoga hanya teman biasa, seharusnya suapan ketiga itu di berikan kepada Umar, yang ke empat kepada ayu, dan terakhir baru Yoga, tapi ternyata Umar dan ayu mereka kompak untuk memberikan suapan ketiga itu untuk Yoga, akhirnya dengan rasa malu dan sedikit grogi Asti pun menyuapi satu sendok kue ke mulut Yoga, Umar dan ayu bersorak senang karena berhasil membuat wajah Asti dan Yoga memerah karena malu, ibu dan bapak hanya tersenyum melihat kelakuan anak-anak nya.
Acara pun berakhir dengan makan malam, setelah makan malam selesai, mereka semua masih tetap duduk di meja makan karena yoga ingin menyampaikan sesuatu kepada bapak.
"Sebelumnya saya meminta maaf sudah mengganggu waktu istirahatnya, sa.. say...saya... Ehmmm..." Yoga mulai bicara, tapi ucapan nya sedikit terbata-bata.
"Bang, kenapa Abang ngomong nya jadi gagal gitu sih!? Kaya Azis gagap aja bangku!" Ayu meledek kakak nya yang terlihat grogi, sebenarnya ayu sudah tahu apa yang akan kakaknya katakan malam ini, bahkan Ayu sangat mendukungnya, tapi dia juga geli sendiri melihat abangnya terbata-bata bicara sekarang, yoga langsung menendang kaki Ayu di kolong meja, karena kesal sudah di ledekin adek nya di saat acara formil di mulai.
__ADS_1
"Aduuuhhh...!!" teriak Asti spontan, semua orang langsung melirik ke arah Asti, sementara Yoga wajahnya langsung pucat, sebab yang di tendang itu bukan kaki Ayu, tapi kaki Asti yang duduk bersebelahan dengan Ayu.
"Kenapa teh?" Tanya Umar heran, ibu dan bapak pun sama heran mendengar Asti teriak tadi, sementara Ayu mesem-mesem karena tahu apa yang terjadi barusan,
"Ehmm itu mar, eng... Kejepit kursi kaki teteh.." jawab Asti berbohong sambil terbata-bata karena bingung menjelaskan nya, tidak mungkin juga dia mengatakan jika barusan kakinya di tendang Yoga,
"Wah kompak banget ini antara bang Yoga dan Asti ngomongnya jadi gagap, kayaknya janjian nih.. hahaha..." Ayu terbahak meledek dua manusia yang beda jenis ini, yoga dan Asti makin merah wajahnya, tapi mereka ikut tersenyum mentertawakan kekonyolan Ayu yang membuat mereka berdua semakin grogi.
"Begini buk, pak, saya sebenarnya ingin melamar Asti menjadi istri saya pak." Ujar Yoga dengan suara yang bergetar, antara takut dan malu kepada pak Parman.
Seketika ruangan jadi hening, Asti pribadi yang di lamar merasa tercengang dengan ucapan Yoga, dia tidak menyangka jika Yoga ingin melamar dirinya langsung kepada bapak nya, sedangkan Yoga dan dirinya tidak merasa pacaran, walau dulu Yoga pernah mengutarakan perasaan nya kepada Asti, tapi Asti merasa belum menerimanya,
Umar, ibu dan bapak tidak merasa kaget dengan permintaan Yoga barusan , sebab mereka sudah melihat gelagat di tubuh Yoga jika dia menyukai Asti, sekarang ternyata terbukti tebakan mereka itu, Yoga dengan gentle mengemukakan perasaan nya dan langsung melamar Asti kepada bapak.
__ADS_1
Sementara ayu yang sudah mengetahui sejak lama jika kakak nya menyukai Asti menantu jawaban Asti dengan cemas, dirinya takut Asti menolak sang kakak, jika Yoga di tolak oleh Asti, maka dirinya merasa yang paling sedih melihat abangnya patah hati.
"Nak Yoga, bapak pribadi sangat senang jika nak Yoga mempunyai itikad baik kepada Asti anak bapak, bapak percaya penuh jika nak Yoga mampu menjaga anak bapak ini kelak, tapi bapak juga tidak bisa memutuskan sendiri nak, bapak menyerahkan keputusan kepada Asti untuk menjawab permintaan nak yoga untuk meminang dirinya, jika Asti setuju, mana kamu orang tuanya akan sangat mendukung penuh, tapi jika Asti menolak, bapak harap nak Yoga bisa menerima dan menghargai keputusan Asti dengan berlapang dada," ujar bapak dengan berharap penuh kepada Yoga agar bisa menerima keputusan apapun yang akan di ambil oleh Asti.
"Saya mengerti pak, saya memang tidak ingin berpacaran, niat saya ingin meminang langsung Asti menjadi istri saya, saya sangat serius memilih Asti untuk menjadi istri saya, karena saya sangat mencintai dan juga menyayangi Asti, tapi jika memang Asti menolak lamaran saya, maka saya akan menghargai keputusan Asti itu, biarlah cinta saya akan saya bawa untuk diri saya sendiri, karena cinta tidak harus memiliki, tapi jika Asti menerima lamaran saya, maka saya akan berjanji kepada bapak dan juga diri saya, jika saya akan mencintai dan menyayangi Asti sampai maut memisahkan" ujar yoga penuh keyakinan.
Asti langsung merasa merinding mendengar ucapan yoga barusan, jantung nya berdetak kencang, rasa malu membuat dirinya jadi serba salah, kakinya terasa gemetar, ingin sekali Asti menghilang di hadapan semua orang untuk menyembunyikan rona merah di pipinya, tapi itu tidak mungkin, karena Asti tidak memiliki ilmu halimun untuk menghilang.
"Teh, bapak serahkan semua keputusan kepada teteh penuh, teh Asti bebas untuk mengambil keputusan, pikirkan dengan baik keputusan yang akan teteh ambil, ibu dan bapak akan selalu mendukung apapun keputusan teteh, jadi bapak harap, teh Asti bisa mengambil keputusan dengan bijak." Bapak mengalihkan obrolan dengan Asti, beliau ingin anaknya sendiri yang menjawab lamaran Yoga, bapak hanya ingin yang terbaik untuk Asti,
"Ma..maaf.. sa... Say.. saya belum bisa...."
Ucapan Asti terbata-bata, karena grogi.
__ADS_1