
POV Entis
Kata orang wajah ku ganteng, dan juga menarik, banyak perempuan yang tertarik padaku, padahal aku bukan pegawai negri atau pun pejabat, aku hanya seorang lelaki biasa yang memiliki kepandaian di bidang elektronik, ya aku buka jasa servis elektronik yang cukup ramai sekali, tapi aku juga suka sekali berkumpul dengan teman- teman ku di pasar, mereka sering main ke warung remang atau biasa di sebut kafe musik yang menyediakan minuman alkohol dan juga musik , kami bisa minum sambil berjoget di temani para pelayan perempuan yang sexy - sexy, tapi aku tidak pernah tertarik dengan perempuan model begitu!,
Aku hanya suka ngumpul saja, sambil minum, temanku semuanya menganggap aku bos, karena aku sering mentraktir mereka di kafe itu, tentu aku bangga dengan panggilan bos yang mereka sematkan untuk ku,
Singkat cerita aku tertarik pada seorang gadis manis yang mempunyai lesung Pipit,jika tersenyum membuat wajahnya semakin menarik saja, sudah cantik, punya pekerjaan bagus di kantoran pula, aku mengenal dia sewaktu aku di panggil orang tuanya untuk membetulkan mesin cuci yang rusak, hingga akhirnya aku bertemu dengan gadis manis itu, di situlah awal mula aku bertemu dengan gadis manis yang bernama Asti.
aku pun akhirnya mendekatinya, dengan cara menjemput dia untuk mengantar nya ke tempat kerja, tapi awalnya dia tidak mau, dan menolak niat baik ku untuk mengantar nya kerja, tapi aku tidak pantang menyerah, aku terus saja menjemputnya walaupun dia tidak pernah mau, aku pun mulai menjauhi teman - teman tongkrongan ku, karena aku tidak ingin Asti tahu aku ini peminum alkohol, aku selalu berlaku baik dan juga sabar bila di hadapan Asti, hingga akhirnya dia pun luluh dan mau aku antar jemput kerja,aku semakin gencar mendekatinya, dan gayung pun bersambut, ternyata dia juga mau menerima cintaku setelah aku mengutarakan perasaan ku, tidak menunggu lama akhirnya aku menikah dengan nya, karena aku tidak ingin berlama-lama pacaran, aku takut Asti keburu di rebut orang,
Satu tahun menikah aku mulai bosan Dengan rumah tanggaku ini, karena Asti selalu melarang jika aku berkumpul dengan kawan-kawan ku, padahal aku sekedar ngobrol saja tidak mabuk, tapi Asti keberatan jika aku berteman dengan mereka, Asti bilang nanti jika akang berteman dengan pemabuk akang bisa ikutan jadi pemabuk, padahal aku dulu sebelum menikah dengan nya juga aku sudah mengenal minuman beralkohol itu, hanya saja Asti tidak tahu hal itu!, Asti melarang ku bergaul bersama teman tongkrongan dengan alasan banyak servis yang harus aku selesaikan, tapi karena aku juga manusia biasa yang butuh hiburan akhirnya aku memilih untuk berhenti jadi tukang servis, gara-gara buka servis aku tidak bisa lagi nongkrong bareng teman seprekuwensi.
__ADS_1
Aku juga berpikir buat apa aku capek-capek buka jasa servis kalau istriku saja punya gajih, dia punya banyak uang, buktinya awal menikah saja dia sudah membeli peralatan rumah tangga, itu dia beli secara cash tidak mencicil, aku pikir buat apa aku harus capek-capek kerja kalau semua sudah tersedia,aku memang tidak salah pilih istri, selain Asti manis dan cantik dia pun sangat pengertian, dan benar saja di saat aku tidak mau mengerjakan pekerjaan ku dan tidak mendapatkan uang, tapi istriku masih mau menutupi kebutuhan rumah tanggaku, dia pun tidak pernah bertanya kenapa aku tidak mau bekerja lagi.
Karena aku tidak mau lagi mengerjakan tugas ku untuk membetulkan barang elektronik ,otomatis barang orang lain yang seharusnya aku servis jadi menumpuk di rumah tidak aku kerjakan, banyak pelanggan ku yang kecewa dan lari ke tempat lain untuk menservice barang-barang mereka, hingga tinggal beberapa buah saja yang berada di rumah. Aku yang sudah tidak memiliki pemasukan akhirnya mendapatkan jatah dari istriku sebanyak lima puluh ribu setiap hari, tapi urusan isi perut tetap istriku yang melayani, hingga kadang uang makan siang segitu mana cukup untuk minum di kafe musik,
Akhirnya kami pindah haluan minumnya di tempat tongkrongan yaitu pasar, aku juga sering minum di tempat pemancingan, tapi kadang aku suka di usir sama yang punya pemancingan jika minum di sana, dia bilang aku mengganggu para pemancing karena aku sering nyungseb ke kolam.
Hingga suatu hari aku di kenalkan oleh teman ku dengan seorang janda bernama Tuti yang bekerja di kafe musik , Tuti sudah lama menyukai aku, tapi aku tidak tahu, karena jika aku ke kafe musik, aku tidak pernah mau di temani wanita.
Emak juga mendukung aku dengan Tuti, karena nanti Emak minta di belikan Emas yang banyak jika uang warisan itu sudah aku dapat.
Sebagai lelaki tentu aku bisa mengesampingkan perasaan yang penting uang, dengan uang itu aku bisa hidup bahagia, aku akan membeli rumah yang besar, yang bisa di tempati aku dengan dua istriku, Asti istri tua ku akan terus bekerja untuk memenuhi kebutuhan kami, Asti siang bekerja dan malam nya dia harus melayaniku, sedangkan Tuti istri mudaku juga akan tetap bekerja di kafe, siang dia harus melayaniku dan malamnya dia harus mencari uang di kafe itu, aku akan menjadi pria yang paling bahagia, tidak perlu kerja tapi uang akan mengalir dari dua istri, dan di layani siang malam! beruntungnya aku!
__ADS_1
Tapi rupanya rencana ini terancam gagal, karena akhir-akhir ini Asti sering melawan ku dan juga sering membiarkan aku kelaparan, padahal masalah hanya sepele, mesin cuci dan tabung gas aku jual untuk ongkos aku dan Tuti melamar Tuti ke kampungnya, karena uang tidak di kasih oleh Asti akhirnya aku jual saja yang ada, aku menyuruh Tuti saja sendiri pergi pulang kampung untuk mengurus surat nikah, karena aku sudah tidak sabar ingin sekali menikmati uang ratusan juta itu.
Tapi rupanya Asti sudah tidak bisa aku kendalikan dia berontak dan melawanku, aku ingin menghajarnya tapi kadang tidak tega karena aku mencintainya, hingga akhirnya dia pergi dari rumah, dua hari kepergian asti dari kontrakan, surat panggilan dari pengadilan datang, aku kaget ternyata Asti tidak main-main ingin bercerai dengan ku, aku merengek sama Emak supaya menjemput Asti di rumah nya, aku tidak mau datang sendiri kesana karena takut kena pukul si Umar, tapi emak tidak berhasil membawa istriku itu, malah katanya Emak di usir mertua ku, sungguh kurang ajar mertuaku itu, lihat saja nanti aku yang akan datang ke sana.
Setelah kepergian Asti aku di kejar kejar oleh pemilik kontrakan untuk segera membayar kontrakan, uang dari mana aku bayar kontrakan, akhirnya aku menelpon dia untuk membayar Tapi dia tidak mau mengangkat telpon ku, tapi aku terus menghubunginya hingga akhirnya dia mau mengangkatnya, tapi dia tidak mau membayar sewa rumah ku yang sudah jatuh tempo, aku geram sekali hingga aku memutuskan untuk menikahi Tuti secara diam-diam, ini lah pelajaran yang harus dia terima dariku, siapa suruh dia pergi meninggalkan rumah!
Aku menikahi Tuti secara sirih, walau pada awal nya Tuti tetap ingin menikah secara resmi dengan ku, karena Asti tidak mau mengijinkan aku nikah lagi dengan Tuti makanya aku memaksa Tuti nikah sirih, aku gertak dia jika tidak mau nikah sirih maka jangan harap aku mau menikahinya, akhirnya Tuti pun setuju.
Kini Tuti tinggal di rumah Kontrakan yang biasa aku tinggali bersama Asti, karena dia pergi jadi Tuti lah yang menjadi penggantinya, Tuti juga membayar kontrakan itu selama satu bulan hasil dari dia bekerja di kafe musik.
Ketika aku bertanya soal uang warisan , dia bilang uang nya belum cair, entah kapan yang itu bisa aku terima, aku sudah tidak sabar ingin membeli rumah dan juga kendaraan, jika semua sudah aku beli aku yakin Asti akan kembali kepadaku walau tanpa harus ku paksa.
__ADS_1
Setiap hari aku selalu memikirkan istriku itu ,hingga aku memutuskan untuk menjemput nya ke sana, aku yakin Asti akan luluh jika aku datang, tapi bukan nya Asti ikut dengan ku yang ada aku di hajar si Umar!, Sial@n!