
Ting!
Ting!
Ting!
Suara pemberitahuan aplikasi hijauku berbunyi, aku yang sudah selesai melaksanakan shalat isya langsung meraih handphone, ada pesan dari nomor yang tidak di kenal masuk ke aplikasi hijau ku.
Aku membukanya karna penasaran, dan ternyata isi pesan nya beberapa foto kang Entis dengan seorang perempuan berbadan sintal dengan riasan menor, dalam foto itu kang Entis sedang memangku perempuan itu dan perempuan itu tersenyum bahagia, tidak ada keterangan apapun di pesan hijauku selain foto itu.
Ada desiran nyeri di sudut hatiku, entah karna sakit hati di khianati atau sakit hati karna selama ini aku sudah di bodohi Suamiku, aku yang bekerja menanggung biaya hidupnya selama ini, tapi balasan nya semenyakit kan ini, tapi di sudut hati kecilku yang lain aku merasa lega, ternyata aku tidak perlu bersusah payah mencari bukti penghianatan nya, sekarang aku memiliki bukti untuk menggugat cerai Kang Entis.
Sepertinya aku harus berterima kasih kepada si pengirim foto ini, setidaknya secara tidak langsung dia sudah meringankan tugasku untuk mencari bukti.
("Ini siapa?.")
Sekian menit menunggu balasan tapi pesanku tidak di balas, padahal dia sudah membaca pesanku.
Aku pun kembali meletakan hp ku dan mulai merebahkan kembali tubuhku di atas kasur.
Ting..!
Ting..!
__ADS_1
Handphone ku berbunyi kembali, segera aku membukanya.
("Kamu sekarang pasti lagi nangis ya? Karna kang Entis sedang bersama ku, haha..haha..")
Oh, rupanya perempuan yang ada dalam foto itu yang mengirimkan foto di aplikasi hijauku.
("Kamu siapa?") Aku pura-pura bodoh menghadapinya, karna aku ingin memancing dia mengakui siapa dia sebenarnya.
("Kepo") balasan nya bikin aku naik darah, baiklah kalo begitu kita main-main.
("Pasti kamu perempuan bayaran alias psk kan?")
("Eeeeh kurang ajar kamu! Ngatain aku psk! Kamu tuh yang jablay alias jarang di belai kang Entis! Kasian deh lu!")
("Aku pacar kang Entis, dan mungkin sebentar lagi mau jadi istri kang Entis, kasian deh kamu!") Jawabnya percaya diri, rupanya perempuan ini sengaja memberi tahu ku supaya aku terbakar rasa cemburu, apakah dia di suruh kang Entis untuk menghubungiku?, Entahlah kita lihat saja nanti.
"Kamu di suruh kang Entis untuk memanas manasi aku?" Tanyaku kepada nya seolah aku ini polos dan lugu tidak mengerti jika aku sedang di khianati.
("Ngapain kang Entis nyuruh aku manasinbkamu, kurang kerjaan amat, aku itu kasihan sama kamu makanya aku hubungi kamu biar kamu tahu jika suami kamu itu sekarang punya calon istri baru!") Ucapnya ngegas.
"Biar apa kamu kasih tahu aku?" Aku tetap jawab seperti orang polos.
"Biar kamu tidak pingsan nantinya jika tahu kang Entis punya istri lagi!' ucapnya.
__ADS_1
("Kalo memang kamu pacar kang Entis kan pasti punya nama, nama kamu siapa?, Kali aja kamu perempuan jadi-jadian kan alias waria!")bawah ku sengaja bikin dia keki.
("Iih nyebelin ya kamu, kenalin nih aku Tuti dan sebentar Lagi jadi adik madu mu. Sekarang kang Entis lagi sama aku!")
Wah percaya diri sekali ni orang, siapa juga yang mau jadi madunya, silahkan saja ambil kang Entis buat nya, karna sebentar lagi aku akan membuangnya, sekarang bukti percakapan ku dengan Tuti aku screenshot dan tentu akan menjadi bukti dipersidangan ku nanti.
"Haha.. haha... Kamu mengada -ada ya, kang Entis sekarang lagi ada urusan dia lagi nyari nafkah." Ucapku berbohong.
"(Kasihan amat kamu ya di bohongi suami kamu, kang Entis sekarang ada di sini bersama ku,)" jawab nya sambil mengirimi aku beberapa foto yang memperlihatkan kang Entis sedang berada di sebuah tempat yang sedikit temaram, seperti sebuah kafe remang gitu, aku yakin dia ada di kafe bunga Yang ada di dekat pool pemberhentian truk.
("Kalo kamu memang benar pacarnya kang Entis , kamu harusnya minta dia mengajak kamu datang ke sini dong, kalo kang Entis mau ajak kamu kesini baru dia benar sayang sama kamu! Tapi kalo dia tidak mau berarti kang Entis menganggap kamu cuma psk, apalagi kamu kerja di kafe dangdut pastinya kamu cuma melayani dia lalu di bayar terus di tinggalin deh!") Ucapku memancing emosinya.
"(Ini orang nyebelin ya lama - lama, aku memang kerja di sini, tapi aku tidak pernah melayani orang lain selain kang Entis, aku di sini karena yang punya kafe nya saudara aku, aku bukan pelayan aku perempuan baik -baik!)". Ucapnya marah.
"Siapa pun kamu tetap aja yang namanya kerja di warung remang itu perempuan tidak baik, itu buktinya kamu mau melayani suami aku, berarti kamu memang perempuan murahan!" Jawabku sebenarnya.
Semoga saja pancinganku mengena, dia datang kesini dan aku bisa memiliki alasan minta cerai.!
("Aku tampar mulut kamu nanti jika bilang aku perempuan murahan!") Ucapnya marah.
"Ayo sini buktikan jika ingin nampar aku!' aku tantang dia.
"( Aku akan laporkan kamu sama kang Entis baru tahu kamu!)" Ancam nya padaku, siapa takut!, Emang dia kira siapa dia!
__ADS_1