Suami Benalu Banyak Ulah

Suami Benalu Banyak Ulah
emak oh emak


__ADS_3

"Tidak bisa! Aku ingin kalian membayar kematian Entis dengan uang seratus juta!" Teriak emak histeris, tangis Emak tiba-tiba pecah hingga mengundang beberapa tetangga datang melihat dari pagar rumah.


Umar yang dari tadi diam saja segera menghampiri ke ruang tamu, Umar khawatir jika Emak berbuat nekad, dan menyakiti ibu dan Asti.


"Sebaiknya Emak tidak usah bersikap seperti ini, mari kita selesaikan dengan baik, malu sama orang Mak." Ujar Umar mencoba membujuk Emak.


"Biar saja tetangga kalian tahu! Aku akan bilang jika kalian adalah manusia yang tidak tahu terima kasih!" Ujar Emak tetap teriak.


"Assalamualaikum" tiba-tiba yoga berdiri di pintu rumah, kedatangan nya tidak ada yang menyadarinya, bahkan suara mobil yang terparkir di depan rumah pun hilang tidak terdengar oleh teriakan dan tangisan Emak.


"Waalaikum salam, mari masuk nak yoga," ibu dan Umar menjawab salam yoga, dan ibu mempersilahkan yoga untuk masuk, sementara Asti hanya menunduk sambil menangis, pikiran nya di penuhi kebimbangan dan juga kebingungan, apa betul dia harus membayar ganti rugi? Sedangkan uang seratus juta itu banyak buat nya, kemana dia harus mencari, sedangkan tabungan nya saja tidak menembus angka sebanyak itu.


"Maaf sepertinya kedatangan saya kurang tepat, saya tidak tahu jika di sini ada ketegangan." Ujar yoga basa-basi, justru yoga merasa kedatangan kesini di waktu yang tepat, menurut perkiraan yoga, Emak pasti membuat keributan, mungkin setidaknya jika ada dirinya di sini bisa ada yang menengahi perselisihan keluarga emak dan keluarga Asti,untuk saat ini Umar belum bisa di andalkan untuk menjaga keluarga ini karena kesehatan nya belum pulih.


"Tidak nak yoga, ibu ini datang kesini marah-marah dan membuat keributan di sini, silahkan duduk nak, biar ibu buatkan kopi, ibu juga malas meladeni orang stres!" ujar ibu sambil pergi ke dapur,


"Kamu hanya orang luar! Jangan ikut campur!" Ujar emak kesal kepada ibu tapi yang di marahi yoga.


"Oh begitu? Maaf kalau begitu, silahkan di lanjutkan urusan nya dengan keluarga ini, saya bisa menunggu sampai selesai di sini" ujar yoga sambil tersenyum, lantas yoga duduk di bangku dekat Asti.

__ADS_1


Umar nyengir melihat tingkah yoga.


"Bang, sambil ngemil seru loh !" Kelakar Umar, yoga hanya nyengir sambil mengacungkan jempolnya.


"SUdah sehat mar?" Tanya yoga .


"Sudah bang, Alhamdulillah, tinggal pemulihan saja." Jawab Umar.


Emak sebal mendengar obrolan Umar dan yoga yang di anggapnya tidak penting itu, Emak pun akhirnya beranjak dari duduknya sambil marah-marah.


"Aku kasih kamu waktu seminggu untuk memberikan uang ganti rugi itu Asti! Kalau tidak! Kamu akan di hantui terus oleh arwah Entis!" Ujar emak mencoba menakut-nakuti Asti, Asti hanya diam seribu bahasa tidak membalas sepatah pun ucapan Emak, emak segera pergi dan langsung menaiki ojek yang setia menunggunya di luar.


"Orang stres, masa anaknya di doakan jadi hantu!" Ujar Umar, dan di tanggapi senyuman dari yoga, sementara Asti tetap saja diam, pikiran nya masih melayang mengingat kejadian di saat dirinya hampir di perkosa di rumah gubuk itu, Asti menangis lalu berlari ke kamar.


"Teh" Umar segera mengejar kakak nya ke kamar, tapi pintu kamar Asti terkunci, Umar mengetuk pintu minta di buka kan oleh Asti.


Ibu datang dari dapur dan menghampiri Umar yang berdiri di pintu kamar Asti, yoga pun ikut menghampiri Umar dan berdiri ikut bergabung dengan ibu.


"Ada apa mar?! Asti di dalam kamar kenapa? Emak kemana?" Ibu bingung karena tidak tahu apa yang terjadi,

__ADS_1


"Teh Asti tadi nangis masuk ke kamar buk, Emak sudah pulang barusan." Jawab Umar,


"Sebaiknya biarkan saja dulu Asti mar, mungkin dia butuh waktu untuk sendiri dulu, " ujar yoga berusaha mengajak orang lain tenang, padahal dirinya juga gelisah takut Asti berbuat macam-macam di kamarnya, tapi yoga terus berusaha berpikiran positif, jika Asti mungkin sedang tidak ingin di ganggu.


"Biar ibu saja yang mencoba bicara." Ujar ibu sambil mengetuk pintu anaknya dengan pelan, ibu pun memanggil nama anaknya penuh kelembutan.


"Teh, ini ibu nak, buka pintunya ya, ibu mau bicara sama teteh." Ujar ibu terus berusaha membujuk agar Asti mau membuka pintunya,


Akhirnya pintu kamar Asti terbuka, dan wajah Asti begitu kuyu, kesedihan terlihat jelas di wajahnya, lalu Asti memeluk ibu.


"Sudah nak, jangan di pikirkan ucapan ibunya Entis tadi ya, itu ucapan bentuk rasa prustasi karena di tinggal pergi anaknya dengan cara tragis, dan kamu yang di jadikan pelampiasan nya untuk menuntaskan segala keinginannya, ibu tidak akan tinggal diam jika dia terus memaksa kamu untuk membayar uang ganti rugi, ibu akan menuntut balik dia nantinya." Ujar ibu menenangkan hati putrinya yang gelisah.


"Tapi buk, apa yang di katakan Emak itu benar adanya, Asti yang mengakibatkan kang Entis meninggal, Asti salah , Asti jahat buk!" Asti terus menangisi dirinya, sepertinya mental Asti tidak sanggup menghadapi tekanan dari mulut Emak.


"Tidak nak, kamu tidak jahat, justru mereka yang jahat, mereka mau memeras kita, kamu jangan terpengaruh sama ucapan mereka, sebaiknya kamu istirahat saja dulu ya,"


Ibu sangat khawatir dengan mental anak nya, seperti nya Asti mulai trauma lagi dengan kejadian yang menimpa nya di gubuk itu, ibu sangat marah kepada emak yang sudah membuat anak perempuan nya sedih kembali.


"Mar, kalau boleh tahu, ibunya almarhum Entis itu mau apa datang kesini?" Yoga tidak tahan menyimpan rasa penasaran nya, dengan terpaksa yoga memberanikan dirinya bertanya, walau hati kecilnya merutuki ke kepoan nya , tapi jika menyangkut Asti, yoga tidak tahan ingin segera mengetahui kesedihan perempuan yang di sukainya itu, Umar mengajak yoga untuk kembali ke ruang tamu, dan Umar mulai bercerita ke pada yoga setelah mereka duduk di kursi.

__ADS_1


Umar pun akhirnya menceritakan apa yang terjadi tadi, bahwa Emak meminta ganti rugi sebanyak seratus juta, yoga menanggapinya sambil mengangguk mengerti, ternyata yang membuat Asti merasa sedih karena tekanan dan juga pemerasan yang Emak lakukan ke keluarga ini,


Seandainya yang melakukan pemerasan itu seorang lelaki, mungkin yoga akan bertindak keras, tapi ini yang membuat ulah itu hanya seorang janda tua yang baru saja kehilangan anak nya karena terbunuh, tapi yoga juga punya keyakinan jika Emak akan berbuat nekad nantinya jika tidak di turuti keinginan nya, bisa saja nanti emak akan terus menekan Asti , yoga harus bertindak menyelesaikan masalah ini dengan baik-baik, diam-diam yoga sudah memiliki rencana untuk menyelesaikan masalah ini.


__ADS_2