
"Kang aku mau pulang saja, bawa aku pulang kang, aku tidak mau berlama-lama di sini!" Euis merengek seperti anak kecil kepada Entis, sengaja dia mengajak Entis pulang agar kakak tidak mendengar perbuatan nya kepada Umar.
"Kamu boleh pulang! Tapi selesaikan dulu kekacauan yang kamu buat di sini!" Kini pak agung mulai tinggi suaranya kepada Euis.
"Jaga ucapan mu, jangan pernah membentak adik ku!" Ucap Entis sambil menunjuk wajah pak agung, sontak pak agung langsung berdiri dari duduknya hendak melabrak Entis yang menunjuk wajahnya, dia tidak terima Entis memperlakukan dirinya seperti itu di depan umum, pak agung yang memang tempra mental akan cepat tersinggung dengan perlakuan orang yang di anggap kurang ajar kepadanya.
"Tenang pak, tahan emosi, jika kita semua ribut terus, masalah ini tidak akan selesai!" Ucap pak RT melerai percekcokan mereka, akhirnya pak agung duduk kembali dengan nafas yang memburu karena menahan kesal.
"Adik kamu sudah memfitnah Umar,!" Ucap pak RT bicara kepada Entis.
"Fitnah Umar bagaimana?" Kang Entis bertanya penasaran.
"Euis memfitnah Umar mengatakan bahwa Umar sudah melecehkan dirinya, hingga warga berdatangan karena teriakan Euis yang meminta tolong, Umar pun kami sidang, dan ternyata setelah kami sidang banyak kejanggalan, setelah kami selidiki ternyata Euis berbohong, tidak ada pelecehan! barusan Euis mengakui bahwa semua keributan ini hanya fitnah nya saja kepada Umar.!" Pak RT menjelaskan duduk persoalan yang membelit Euis kepada Entis, agar Entis memahami kenapa adiknya di sidang di rumah ini.
"Aku percaya kepada adik ku! Sepertinya memang Umar sudah melecehkan adik ku!, Aku akan laporkan dia ke polisi!" Ucap Entis tidak percaya bahwa adiknya memfitnah Umar,
"Coba tanyakan saja sendiri kepada adik anda!" Ucap Umar kesal!
"Iya ini aku punya Vidio nya sewaktu dia mengaku bahwa dia sudah memfitnah kang Umar!" Ucap seorang ibu- ibu sambil memperlihatkan hapenya.
__ADS_1
"Apa begitu ke jadian nya is?!" Tanya Entis kepada adiknya yang sedang menangis sambil menunduk di samping Entis, Euis pun hanya mengangguk takut menjawab pertanyaan kakak nya.
"Memalukan! Ayo pulang!" Ucap Entis sambil menarik tangan adiknya untuk membawa pulang.
"Tunggu!" Ucap pak agung mencoba menahan Entis dan Euis, Kakak beradik itu menghentikan langkah nya,
"Sudah pak, biarkan saja mereka pergi!, Saya tidak ingin memperpanjang lagi masalah ini, walau bagaimana pun mereka mantan keluarga kakak saya, saya tidak ingin ada urusan apapun dengan mereka, kecuali kalau mereka nanti membuat keributan lagi, saya pastikan mereka akan saya jebloskan ke penjara!" Ucap Umar tegas, kali ini Umar tidak ingin memperpanjang masalah dengan mereka, Umar letih ingin segera selesai sidang ini, dia ingin segera istirahat makanya Umar menyudahi sidang ini dengan membiarkan kakak beradik itu pergi.
"Ya sudah kalau begitu sidang ini di tutup, ayo semuanya silahkan membubarkan diri, dan kamu Euis, semoga ini pelajaran terakhir untuk kamu, jangan sampai membuat kesalahan yang sama untuk ke depan nya." Ucap pak RT menasihati Euis, tapi Euis tidak merespon ucapan pak RT, begitupun Entis tidak mengeluarkan suara sedikit pun, dia segera membawa Euis pergi meninggalkan rumah Umar dengan terburu-buru, sebagian warga ada yang menyoraki Euis, tapi tidak di respon oleh Entis dan juga Euis, lantas mereka pergi menaiki motor yang di bawa Entis.
Akhirnya semua orang yang ada di rumah Umar pun membubarkan diri setelah kepergian Euis, pak RT pun berpamitan kepada Umar, tinggal lah Umar sendiri di rumah merenungi kejadian yang barusan terjadi, Umar bersyukur tadi begitu pulang kerja langsung makan, jadi tangan yang kotor dan nasi yang masih tersisa di piring nya itu menyelamatkan Umar dari fitnah kejam yang di lemparkan Euis kepada dirinya.
Umar segera menelpon ibunya guna menanyakan kabar mereka sekalian ingin tahu apakah bapak dan ibu nya sudah mengetahui kejadian yang baru saja dia hadapi, tidak menutup kemungkinan kan jika ada salah satu tetangga memberi kabar kepada mereka,, Umar khawatir jika ibu dan Asti mengetahui masalah ini, mereka tidak akan tenang dalam menikmati masa liburan nya, Umar tidak ingi mengganggu waktu mereka.
Ternyata telpon mereka tidak ada satu pun yang bisa di hubungi, sepertinya mereka tidak mendapatkan sinyal, Umar pun akhirnya merebahkan diri nya di kasur untuk mengistirahatkan tubuhnya yang terasa lelah sambil menunggu adzan magrib.
***
"Ahgrrrh.. gara-gara kamu aku jadi lupa tujuan aku datang ke rumah itu mau ketemu istriku!"
__ADS_1
Entis kesal dan mamarahi adik nya.
"Teh Asti dan kedua orang tuan nya tidak ada di rumah kang!" Jawab Euis takut.
Sontak kendaraan yang di bawa Entis berhenti Mendadak hingga kepala Euis yang tidak memakai helm terbentur helm yang di pakai oleh Entis, Euis pun mengaduh sambil menggerutu karena kepalanya terasa sakit.
"Kalau mau berhenti tuh pelan-pelan dong! Sakit nih!" Rasa Takut yang tadi di rasa langsung hilang terganti rasa jengkel kepada kakak nya.
"Mereka pergi kemana!?" Entis bukan nya menanggapi ocehan adiknya tapi malah berada keberadaan Asti.
"Mana aku tahu, tadi pagi sewaktu aku mampir ke rumahnya, teh Asti dan bapak ibunya pergi membawa mobil!! Kata nya mau ke luar kota selama satu Minggu!" Jawab Euis ketus, dia sebal protes nya tadi tidak di tanggapi kakak nya.
"Brengs*k! Istri kurang ajar! Dia pergi tanpa pamit kepada ku,! Geram Entis begitu tahu Asti satu Minggu ke depan tidak ada di rumahnya.
"Emang mereka itu kurang ajar semua kang, tidak menghargai keluarga kita, makanya aku tadi ingin sekali memberi pelajaran kepada keluarga itu dengan memfitnah Umar telah melecehkan aku, tapi semua gagal!" Euis merasa ada kesempatan untuk menghasut kakak nya untuk marah kepada keluarga Umar,( walau dalam kenyataan nya memang Entis tidak pernah akur dengan keluarga Asti,) Euis ingin ulah nya tadi sewaktu di sidang oleh warga tidak di marahi oleh kakak nya nanti.
"Kalau begitu kamu bodoh! Kenapa harus sampai ketahuan jika kamu memfitnah Umar, seharusnya kamu tidak perlu ngaku kepada mereka jika kamu memfitnah dia! Biar si Umar membusuk di penjara! Aku pun muak lihat muka dia! Sudah dua kali dia menghajar ku!" Ucap Entis jauh dari sangkaan Euis, adik kang Entis ini mengira jika kakak nya akan marah dan memakai dirinya yang sudah memfitnah adik ipar nya, tapi ternyata dirinya malah di marahi karena sudah mengakui kesalahan nya di hadapan warga, Euis tersenyum miring di belakang punggung kakak nya yang kini sedang bersiap menghidupkan stater motor untuk melanjutkan perjalanan yang sempat terhenti.
"Sekarang aku antar kamu pulang! Jangan bilang apa-apa sama emak atas kejadian ini!" Ucap Entis sambil melakukan kendaraan roda dua nya di jalan beraspal ini.l
__ADS_1