
"Motor si Anton kenapa melintang menghalangi jalan kita ton ?!" Tanya bapak kepada pak Toni , bapak pun akhirnya ikut memarkirkan motornya dan bersiap hendak turun dari motor, tapi tanpa di duga, belum juga bapak turun dari motor, tiba-tiba pak Toni langsung menjerat leher bapak dengan tali rafia yang sudah di siapkan pak Toni di saku celana nya, sontak bapak kesakitan karena tali itu membelit lehernya dengan erat, bapak melawan dengan cara menyikut dada pak Toni dengan sikutnya, jeratan tali pun sedikit melonggar karena pak Toni merasa dadanya sangat sesak dan sakit akibat sikutan bapak,
Si Anton yang baru datang langsung menonjok wajah bapak, bapak pun terjengkang bersama motor nya, pak Toni pun ikut terjatuh karena dia masih duduk di boncengan motor bapak.
"Sebaiknya kamu serahkan hartamu kepada kami! Jangan melawan!" Bentak si Anton sambil mencengkram kerah baju bapak, dan menariknya hingga bapak terangkat berdiri.
"Kalian ternyata banjing-an! Jika kalian ingin hartaku akan aku berikan,tapi lepaskan aku!" Ucap bapak bernegosiasi,!
"Jangan banyak bac-ot kamu! Cepat serahkan semua hartamu!" Ucap si Anton lagi.
"Jangan di ajak ngomong terus! Habisi dia!" Ucap pak Toni yang kini sudah berdiri tegak lagi, dia pun langsung menyerang bapak dengan tinjunya, tapi bapak bisa menghindar hingga pukulan-pukulan pak Toni hanya memukul angin,
Si Anton pun kini ikut mengeroyok bapak, dan tentu saja itu membuat posisi bapak terjepit, di serang di dua arah dengan brutal membuat bapak berpikir ingin melarikan diri, bapak tidak perduli lagi dengan motornya, yang penting bapak ingin menyelamatkan nyawa nya terlebih dahulu, dia harus bisa lari dari sini, lari memakai motor adalah hal yang sulit, sebab sebelum menaiki motor, tentunya serangan mereka akan lebih dulu bersarang di tubuhnya,,
Bugh..!
Tinju si Anton mengenai rahang bapak, hingga bapak terjengkang ke belakang tepat dekat di kaki Toni,, si Toni tidak ingin melewatkan kesempatan ini untuk melumpuhkan bapak, Toni mengangkat kakinya tinggi-tinggi untuk menginjak kepala bapak, tapi bapak berguling kesamping kanan untuk menghindari serangan pak Toni.
Tapi sayang bapak berguling terlalu jauh hingga bapak terperosok ke pinggir tebing dan akhirnya jatuh dan masuk ke dalam jurang,
__ADS_1
"Aaghhhhhhrrrhhh...."
Teriakan bapak terdengar mengerikan, hingga sudah bisa di bayangkan jika bapak masuk ke dalam jurang yang sangat dalam, teriakan bapak terdengar menggema di dasar jurang
"Sial! Kita belum sempat mengambil harta bendanya!" Teriak si Anton, dia berlari ke tebing jurang untuk melihat bapak, tapi sayangnya dia tidak dapat melihat ke dasar jurang sebab tumbuhan liar memenuhi permukaan tebing.
"Kamu kenapa berhenti di tempat seperti ini! Lihat kan! Buruan kita jatuh ke jurang, aku yakin uang nya banyak di dompet! Hasil jualan dia tadi aku lihat banyak di saku celananya, duitnya sampai bergulung-gulung di ikat karet!" Ucap si Toni sambil mengacak rambutnya kesal.
"Terpaksa akhirnya kita hanya dapat motor butut yang bisa kita dapat sekarang bang!" Ujar Anton.
"Lebih baik kita cari dia ke dasar jurang!" Ajak pak Toni, kepada Anton, tapi Anton menggeleng cepat, dia paling phobia dengan ketinggian,
"Sialan kamu Anton,! Seharusnya cari tempat yang aman untuk mengeksekusi buruan kita itu! Tapi kamu malah milih jalan seperti ini,! Nih makan motor butut ini!" Ujar si Toni sambil menendang motor bapak.
Anton tidak berani bicara lagi, dia tidak ingin menambah amarah Toni,
"Kamu bawa motor si Parman, biar aku bawa motor mu!" Ujar Toni sambil menaiki motor Anton dan segera memutar arah kembali ke jalan yang di lalui mereka tadi.
Anton menghela nafas lega, akhirnya dia tidak jadi di suruh untuk mencari bapak ke dalam jurang, Anton segera mengambil motor bapak yang terguling akibat tendangan Toni dengan tersenyum lebar karena senang, dia pun segera mengendarai motor tua bapak, dan mengikuti Toni, meninggalkan bapak yang terjatuh ke dalam jurang.
__ADS_1
***
Tubuh bapak melayang bagai daun jatuh dari dahan karena tertiup angin, bapak terus berdoa agar bisa selamat dari maut, beberapa detik setelah bapak melayang dari ketinggian , lalu tubuh bapak terhempas ke dasar tebing,
Byuuuuurrrrrrrr......
Tubuh bapak terhempas ke dalam air telaga yang dalam di dasar jurang ini, ternyata bapak masih bisa selamat karena jatuh tepat di telaga ini, tubuh bapak terhempas ke dasar danau yang lumayan dalam, dengan susah payah bapak berusaha muncul ke permukaan air, dan setelah bapak berada di permukaan bapak langsung berenang ke dasar telaga dengan nafas yang tersengal, untung saja bapak sangat pandai berenang, hingga bapak tidak mati tenggelam di danau ini, bapak pun langsung berenang mencari tepian, ternyata bapak jatuh pas di tengah telaga, hingga bapak cukup lumayan capek berenang ke pinggir telaga, setelah bapak sampai ke tepian bapak langsung bersujud syukur, dirinya bisa selamat dari maut.
Bapak pun lantas terkapar karena lelah, suasana di sini hampir gelap,matahari mulai menyembunyikan dirinya pertanda kegelapan akan menyapa bumi ini.
Bapak segera bangun dan berjalan untuk mencari jalan pulang, tubuh bapak terasa sangat sakit, mungkin karena terhempas ke dalam air dari ketinggian, rahang dan tubuh bapak yang lain pun terasa ngilu akibat perkelahian tadi dengan dua orang penipu itu, leher bapak yang tadi sempat tercekik tali pun kini mulai terasa sakit di tenggorokan nya, hingga akhirnya bapak tidak sanggup lagi berjalan dan tersungkur pingsan di Atas rumput liar.
***
Bapak terbangun ketika cuaca dingin di dalam hutan ini menebus kulitnya hingga sampai terasa ke dalam tulang, bapak menggigil kedinginan, apalagi baju bapak pun basah karena tadi jatuh ke dalam telaga, mata bapak pun terbuka pelan-pelan, seluruh tubuhnya terasa seperti remuk, kepala pun berat seperti tertimpa batu, mata bapak mengedar melihat ke sekeliling area tempat ini, tapi yang nampak oleh bapak hanya kegelapan, bapak tersadar dari pingsan nya ketika hari sudah gelap, bahkan waktu pun menunjukan pukul tiga dini hari.
Dengan susah payah bapak bangun untuk mencari jalan pulang, walau pun seluruh tubuhnya sakit tapi bapak tidak menyerah, beliau terus berjalan walaupun kaki terkadang terseok-seok akibat jalanan yang tidak rata dan penuh dengan semak berduri.
Kaki bapak yang tidak beralas itu terasa pedih karena tidak sengaja menginjak duri dari pohon putri malu, dan pohon lain nya yang tumbuh liar di dalam hutan ini, bapak tidak tahu sendal yang di pakai nya dari rumah hilang kemana!? Mungkin pas tadi bapak melayang jatuh dari tebing itu, sendal bapak pun ikut terjatuh, akhirnya bapak harus rela kakinya bertelanjang di alam liar ini.
__ADS_1