
"Bohong!" Teriak Umar.
"Saya tidak bohong pak!" Teriak Euis tidak mau kalah.
"Saya tidak menyangka kamu bisa berbuat sehina itu mar!" Hardik pak agung kepada Umar.
"Tenang pak, kita belum tahu penjelasan Umar seperti apa, kita tidak boleh langsung menghakimi Umar bersalah dulu!" Ucap pak Handoko mencoba membela Umar, dia merasa tidak percaya jika Umar seberani itu kepada Euis.
"Jelas dia sudah melecehkan perempuan ini, masih juga di bela!" Sewot pak agung kepada pak Handoko.
"Sudah-sudah, kenapa jadi bapak-bapak yang adu argumen, sebaiknya kita simak dulu pembelaan Umar seperti apa, nanti kita harus mencari bukti jika memang Umar bersalah, karena jika pelecehan itu bisa di laporkan ke polisi, dan Umar bisa mendapatkan hukuman atas perbuatan nya, tapi alangkah baiknya kita bicarakan dulu secara kekeluargaan, kita belum tahu Umar bersalah atau tidak dalam masalah ini!" Ucap pak RT mencoba menenangkan bapak-bapak yang sedang beradu argumen.
"Benar itu pak, ibu rasa kita jangan sampai salah menuduh, yang salah Harus di hukum dan yang benar harus di lindungi." Ibu RT yang dari tadi diam lantas membuka suara.
Umar merasa gusar dengan ucapan mereka, walau dirinya tidak bersalah tapi Umar khawatir jika semua orang termakan fitnah Euis.
"Mar coba sekarang kamu jelaskan kronologi kejadian nya menurut kamu!" Ucap pak RT kepada Umar
__ADS_1
"Saya tadi pulang kerja langsung makan pak, di saat saya makan ada tamu mengetuk pintu, saya langsung menyudahi makan saya dan membuka pintu, ternyata tamu itu Euis mencari kakak saya, tapi berhubung teh Asti tidak ada saya bilang sama dia, tapi dia ingin menunggu teh Asti sampai pulang, saya bilang tidak mungkin, karena teh Asti dan kedua orang tua saya pergi keluar kota selama satu Minggu, dan saya menyuruh dia pulang karena saya merasa tidak enak untuk menerima tamu perempuan di saat rumah tidak ada siapa-siapa, awalnya dia mau pulang tapi dia meminta untuk ikut menggunakan kamar mandi, di saat dia masuk untuk ke kamar mandi, saya pun keluar rumah menunggu dia di teras rumah, tapi tidak lama Euis ada di dalam, saya mendengar Euis berteriak minta tolong, saya kaget spontan lari masuk ke dalam dan menghampiri Euis, saya takutnya Euis mendapat masalah besar sampai berteriak meminta tolong.."
"Bohong pak, kejadian nya tidak seperti itu.!" Tiba-tiba Euis berteriak memotong ucapan Umar.
"Kamu tenang dulu!, Jangan memotong orang bicara, biarkan Umar bicara! Kamu tadi sudah bicara, jangan ganggu Umar bicara dulu!" Ucap buk RT kesal melihat Euis dari tadi menangis tapi tidak ada air mata, sepertinya buk RT curiga kepada Euis. buk RT yakin ada sesuatu yang tidak beres dalam kasus ini, jika memang Euis sebagai korban tentu Euis akan menangis sedih dengan deraian air mata, tapi yang buk RT lihat, Euis menangis sesenggukan tapi tidak setetes pun air mata keluar, terlihat sekali jika Euis sedang berpura-pura menangis, sementara Euis merenggut mendengar hardikan buk RT, dia sebal kepada buk RT yang sepertinya lebih percaya kepada Umar di banding kepada dirinya.
"Sekarang kamu lanjutkan mar ceritanya." Pak RT memerintahkan Umar agar melanjutkan ucapan nya.
"Saya masuk ke dalam rumah dan langsung menghampiri Euis di kamar mandi, saya melihat Euis duduk di lantai kamar mandi, dia bilang terpeleset dan kakinya sakit, saya bingung gimana mau nolongnya, toh saya tidak berani menggendong dia karena kami bukan mahram nya, tapi di saat saya sedang kebingungan bapak-bapak ini berlari ke rumah saya sambil memanggil nama saya, tapi tiba-tiba Euis merobek baju dia sendiri sampai kancing bajunya terlepas, saya kaget pak sampai bengong, tanpa saya sadari Euis memeluk saya dengan erat sambil meminta tolong, dan sebelum saya sadar dengan keadaan saya, pak Handoko dan tiga orang bapak lain nya datang melihat saya dan Euis dalam posisi Euis memeluk saya." Ucap Umar menceritakan awal mula kejadian dengan lancar, karena memang itu yang terjadi sesungguhnya.
"Bohong pak!, Mana mungkin saya merobek baju saya sendiri! Buat apa?!" Ucap Euis sambil menangis, kali ini dia menangis sambil mengeluarkan air mata , karena saking takutnya jika semua orang percaya kepada Umar di banding dirinya, dia takut kebohongan nya di ketahui jadi dia menangis beneran.
"Neng, jadi yang merobek baju Eneng siapa?" Tanya pak RT kepada Euis.
"Dia pak!" Ucap Euis sambil menunjuk Umar.
"Jika memang Umar yang merobek baju Eneng, sudah pasti baju Eneng akan kotor terkena sambel dari tangan Umar, maka dari itu tolong ibu bawa Eneng ini ke kamar mandi dan coba lihat baju nya kotor apa tidak.!" Sontak wajah Euis langsung pias mendengar ucapan pak RT.
__ADS_1
"Saya tidak mau di periksa, saya di sini korban kenapa kalian seolah menuduh saya sebagai tersangka!" Teriak Euis marah karena takut, dia pun semakin merapatkan genggaman tangan di bajunya.
"Kenapa tidak mau di periksa! Kan hanya melihat baju kamu yang robek itu, jika terbukti baju kamu kotor berarti benar Umar yang melakukan." Buk RT merasa yakin jika perempuan ini bukan korban, dan Umar adalah korban sesungguhnya, tapi dia belum bisa mengungkapkan pendapatnya itu sebelum ada bukti, sementara Umar sedikit khawatir jika baju Euis kotor karena tersentuh tangan nya, dia mencoba mengingat kejadian tadi, tapi dia sangat yakin jika tadi pas Euis memeluk dirinya, tangan Umar tidak menyentuh tubuh Euis.
Sementara Euis mulai gusar dengan keadaan yang justru malah membuat dia terpojok, dia pun tidak bisa kukuh mempertahankan agar tidak di periksa, akhirnya dengan gontai Euis mengikuti ajakan buk RT untuk masuk kembali ke kamar mandi, di sana buk RT memeriksa baju yang di kenakan oleh Euis, dan baju itu bersih tidak terkena noda sambel dari tangan Umar,
"Tadi dia merobek baju saya memakai tangan kiri buk!" Ucap Euis terus membela diri, buk RT tidak menjawab ucapan Euis, dia hanya menyunggingkan senyum dan mengajak Euis kembali ke ruang tamu.
"Gimana buk?" Tanya pak RT kepada istrinya.
"Bajunya bersih tidak terkena noda sambel pak" ujar buk RT sambil tersenyum simpul,buk RT lantas ke luar untuk menelpon seseorang.
"Itu karena kang Umar merobek baju saya menggunakan tangan kiri!" Teriak Euis tidak mau kalah.
"Maksudnya Umar merobek baju kamu dengan satu tangan!" Tanya pak Handoko kepada Euis.
"Iy.. iyaa." Ucap Euis ragu.
__ADS_1
"Haha.. mana ada manusia yang bisa merobek sesuatu dengan satu tangan!" Pak Handoko tertawa terbahak mendengar jawaban Euis, semua orang yang ada di sana pun mulai berpikir dan membenarkan ucapan pak Handoko, sedangkan Euis kini mulai terpojok dengan jawaban nya sendiri.
"Benar kata pak Handoko neng, mana ada orang bisa merobek dengan satu tangan! Jadi mana yang benar ini? Di robek Umar atau di robek Eneng sendiri?!" Pak RT kini mulai menekan Euis untuk mengaku kejadian yang sebenarnya, dia kini mulai percaya jika Umar sedang di fitnah oleh perempuan ini.