Suami Benalu Banyak Ulah

Suami Benalu Banyak Ulah
Kang Entis Mendapat Telpon


__ADS_3

"jadi teteh harus kesana lagi ya pak?"


"Jangan teh, ibu gak setuju!"


"Buk, bapak juga marah dan kecewa sama Entis, tapi jika teteh keluar dari rumah masih status istri si Entis, nantinya yang salah itu teteh bukan si Entis."


Aku faham apa yang bapak ucapkan, mungkin ada benarnya aku harus pulang ke rumah dulu dan mengurus perceraian Sama kang entis.


"Iya pak, teteh ngerti, mungkin nanti siang teteh pulang ke rumah, untuk mengurus perceraian sana kang Entis, tapi baju yang teteh bawa dari rumah ga teteh bawa lagi, di rumah masih ada sebagian baju teteh, jika nanti proses perceraian selesai jadi gak repot lagi harus bawa-bawa baju."


"Teteh yakin mau kesana lagi?" Terlihat kekhawatiran di mata ibu.


Aku tersenyum untuk menenangkan hati ibu.


"Iya teteh yakin buk, teteh pulang untuk menyelesaikan perceraian sama kang Entis buk, teteh mau minta kang Entis menalak teteh, ibu gak usah khawatir ya."


"Iya buk, ibu percaya saja sama teteh, kita sebagai orang tua, hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk anak kita"


Bapak turut menenangkan kegelisahan ibu.


"Umar gak setuju pak kalo teteh harus balik ke sana lagi!"


Tiba-tiba Umar datang ke kamar, rupanya dia menguping pembicaraan kami, pintu kamar memang tidak di tutup jadi jika Umar mengupingpun akan sangat jelas terdengar 


"Tapi mar....."


"Pak, Umar gak ikhlas teteh di tampar si Entis, sekarang juga Umar harus buat perhitungan!"


Lantas Umar pergi dengan langkah cepat keluar rumah, kami semua berhamburan mengejar Umar untuk mencegahnya, tapi terlambat, deru sepeda motor Umar sudah terdengar dan menjauh.


"Pak, teteh pulang sekarang ya, teteh khawatir sama Umar."


"Biar bapak antar,"

__ADS_1


"Ibu juga ikut!"


"Tidak usah pak, biar teteh saja sendiri yang pergi, nanti teteh kabari ya kalo sudah sampai."


"Tapi teteh lagi sakit, jadi biar kami ikut"


Ibu mencoba bernegosiasi dengan ku, tapi aku tidak ingin membuat repot mereka, biarlah aku yang harus menghadapi masalah ini sendiri , aku masih bisa menghadapinya, kecuali jika aku sudah bisa menghadapinya, baru aku akan melibatkan mereka,


"Ga apa-apa buk, teteh udah merasa enakan ko." 


"Ya sudah atuh kalo gitu mah, hati-hati teh, bapak percaya sama teteh."


Aku tersenyum sama bapak, sementara ibu cemberut tidak bisa ikut dengan ku.


"Buk, doain ya semoga semua baik-baik aja."


Ibu tersenyum dan mengangguk.


"Pastinya atuh teh, semoga masalah teteh cepat selesai, teteh cepet pulang kesini lagi ya."


Lekas aku sambar tas dan juga kunci motor, lalu berlari keluar, aku mencium tangan bapak dan ibu lalu segera pergi dari sana menyusul umar.


Di perjalanan aku tidak tidak bisa tenang, aku takut Umar nekad berbuat kasar di sana, walau bagaimanapun di sana itu teman Jang Entis banyak, aku takut Umar di keroyok orang dikira perusuh.


Aku pun sampai di depan rumah, aku melihat Umar sedang menggedor-gedor pintu rumah, sementara sebagian tetangga melihat Umar dari pagar.


"Mar, jangan emosi atuh, malu di lihat orang!" ujarku mengingatkan supaya jangan membuat kegaduhan.


"Si Entis mana teh gak ada, dari tadi Umar panggil - panggil tapi gak mau keluar dia teh." Umar yang emosi menanyakan kang Entis tanpa embel - embel akang lagi, mungkin dia ikut merasakan sakit hati karena kakak nya sudah di sakiti.


"Iya, udah ah malu, mendingan Umar pulang aja ya, biar masalah teteh mah teteh aja yang hadapi." Ucapku mencoba menenangkan, dan meyakin kan kepada Umar bahwa aku bisa menghadapi suamiku.


"Tapi Umar ga ikhlas kalo teteh di sakiti sama lelaki brengsek itu teh.!" Umar tetap ingin bertemu kang Entis, sepertinya dia ingin memberi pelajaran kepada suamiku.

__ADS_1


"Ssssttt.. sudah ah, Umar percaya saja sama teteh ya, kalo Umar kaya gini, teteh malu sama orang-orang  di sini." Aku yang memang melihat ada tetangga yang sampai keluar rumah untuk melihat keributan yang Umar buat, aku memang takut Umar lepas kontrol nanti bila bertemu kang Entis, aku ingi umar segara pulang, takutnya ada buntut panjang bila Umar nekad ribut di sini, bagai mana pun kang Entis disini banyak teman nya, bahkan kebanyakan teman nya pun banyak yang di sebut preman.


Umar pun menengok ke sekeliling rumah, dan benar saja ada sebagian tetangga yang melihat keributan yang Umar ciptakan tadi.


"Ya sudah atuh teh Umar pamit dulu, kalau ada apa-apa sama teteh telpon Umar ya." Akhirnya Umar mengalah dan mau pulang juga, aku pun akhirnya lega bisa mencegah keributan antara Umar dan suamiku.


Aku pun mengangguk sambil tersenyum, Umar pun mencium tanganku dan pergi dari rumah.


"Hati-hati mar, jangan ngebut -ngebut ya." Ucapku mengingatkan.


"Iya teh, teteh juga di sini hati -hati jangan sampai kena tangan si Entis lagi." Ucap Umar mengingatkan ku juga.


"Iya mar," ucapku sambil tersenyum.


Setelah kepergian Umar lekas aku membuka pintu rumah, aki melangkah masuk ke dalam, aku pun melangkah masuk dan langsung membuka seluruh ruangan untuk mencari kang Entis.


Nyatanya memang kang Entis tidak ada di rumah, entah tidur di mana dia sekarang, atau mungkin dia pulang ke rumah emak.


Kalo benar kang Entis pulang ke rumah emak, alamat pasti kuping ini bisa pengang mendengar Omelan dia.


Tapi mulai saat ini aku sudah tidak takut lagi, jika emak marah-marah, sudah ku pastikan aku akan membalasnya.


Akupun akhirnya membereskan rumah yang sedikit berantakan, lalu aku mencuci pakaianku sendiri dengan tangan tanpa mesin, cucian kang Entis aku pisahkan, biar kan saja dia mencuci sendiri, salah siapa mesin cuci di jual.


Setelah selesai menjemur pakaian, aku pun masuk kamar untuk rebahan, karna pekerjaan rumah sudah selesai, hari libur kerja seharusnya di habiskan dengan keluarga, tapi aku menikmati hari libur ini sendiri.


Jam makan siang tiba, perut pun terasa lapar, aku lekas beranjak ke luar rumah untuk membeli makan siang, ku lajukan motor metik ku ke ujung jalan mencari rumah makan Padang.


Setelah selesai membeli sebungkus nasi padang aku cepat-cepat pulang ke rumah.


Di perjalanan ban motorku bocor, untung tidak jauh dari tempat itu ada bengkel, lekas aku antarkan motorku di sana dan menitipkan disana, nanti sore aku jemput, yang punya bengkel itu tetanggaku dia pun tidak keberatan.


Aku memilih naik ojek untuk pulang kerumah.

__ADS_1


Begitu sampai di rumah, pintu depan sudah terbuka, itu pasti kang Entis pulang, karna yang memegang kunci pintu rumah ini hanya aku dan dia saja, sedangkan tadi aku pergi rumah dalam keadaan terkunci.


Aku melangkah masuk kedalam rumah, sayup-sayup aku mendengar kang Entis seperti sedang menelpon seseorang.


__ADS_2