
"Asti! Kembalikan barang-barang yang kamu bawa kemarin! Aku tidak ikhlas kamu angkut semua barang di rumah anak ku hingga kosong!" Emak kini giliran bicara kepada Asti.
"Lah emang nya semua barang itu punya siapa! Semua itu barang aku Mak! Tidak ada secuil pun barang yang kang Entis beli dari duit dia! Jadi terserah aku lah mau aku apakan semua barang di rumah itu?!" Asti tidak kalah tegas dan sambil ikut ngegas bicaranya, hilang sudah rasa hormat Asti kepada Emak, karena mereka sendiri lah memaksa Asti untuk berbuat seperti itu.
"Sebaiknya kalian pergi dari rumah saya jika sudah tidak ada urusan lagi! Saya pusing menghadapi kalian yang yang tidak tahu malu! Ternyata memang kalian itu tidak bisa untuk di ajak berbicara baik-baik!" Tekan bapak kepada kedua tamu nya.
"Aku akan pergi dari sini jika si Asti mengembalikan semua barang rumah tangga yang dia angkut malam itu!" Teriak Emak.
"Mar, kamu tahu caranya mengusir orang kan! Bapak sakit kepala melihat mereka! Kalau dia tidak bisa mengerti bahasa kita, sebaiknya kamu pakai tindakan saja untuk mengusir mereka!" Ucap bapak sambil memberi perintah kepada Umar, dan bapak pun melangkah masuk kedalam rumah, dia langsung pergi ke belakang rumah.
"Siap pak!" Umar dengan semangat langsung berdiri dan menghampiri Entis! Kontan saja Entis langsung ciut nyalinya takut Umar menggunakan kekerasan.
"Mau apa kamu!" Ujar Entis sambil berdiri bersiap takut Umar tiba-tiba menghajarnya
"Aku cuma mau memberi tahukan arah pintu keluar! Silahkan kalian tinggalkan rumah ini dengan baik! Tapi jika kalian masih membandel tidak mau pergi juga! Jangan salahkan saya jika saya bisa mengusir kalian dengan kekerasan!" Ancam Umar sambil menatap wajah Entis,
"Tidak perlu pakai kekerasan! Aku juga sudah muak tinggal disini! Asti! Ayo sekarang juga kamu ikut aku!" Entis langsung menatap Asti untuk ikut dengan nya, kontan Asti langsung menggeleng,
"Pergi saja sendiri!" Jawab Asti santai.
__ADS_1
"Aku ini suami kamu!" Teriak Entis.
"Bodo amat! Sebentar lagi jadi mantan suami! Jangan lupa besok keputusan pengadilan nya ya, kamu harus hadir agar kamu sadar bahwa kita sebentar lagi bukan suami istri lagi!" Asti sebenarnya sudah lelah menghadapi mereka, tapi mau bagaimana lagi mereka seolah terus mengulang kata bahwa dirinya masih menjadi istri Entis, padahal Asti sangat muak bila Entis mengatakan dirinya masih milik Entis! Ingin rasanya Asti muntah mendengarnya.
"Kalian itu memang tidak memiliki etika! Tamu datang kesini malah terus di musuhi!" Terlihat jelas wajah kesal Emak ketika bicara seperti itu.
"Terserah kalian saja! Lebih baik lekas kalian pergi!" Umar yang sudah tidak sabar lagi langsung mencekal pergelangan tangan Entis, lalu menarik Entis keluar dari rumahnya,
"Eeh kamu jangan kasar gitu dong sama anak ku!" Emak pun ikut bangkit dari kursinya dan mengejar Umar yang tengah menarik paksa Entis keluar rumah, Umar mendorong tubuh Entis sampai pekarangan, tubuh Entis limbung dan terhuyung karena tidak bisa menahan dorongan Umar, dia pun jatuh tersungkur!
"Aduh sial@n kamu mar! kamu akan menyesal sudah memperlakukan aku seperti ini !" Entis memaki Umar, sementara Emak langsung berlari kearah Entis dan langsung menolong anaknya untuk kembali berdiri.
"Dasar anak kurang @jar!" Maki Emak, tapi Umar langsung saja menutup pintu rumah dengan keras, hingga emak terlonjak kaget!
Umar tidak perduli lagi dengan repetan suara emak dan Entis di luar, setelah pintu tertutup lantas dia mengunci pintu rumah dan berlenggang masuk ke ruang makan untuk melanjutkan acara sarapan nya yang tertunda, Asti dan ibu pun mengikuti Umar dari belakang, sementara bapak memang dari tadi sudah selesai sarapan nya dan kini sedang berada di belakan rumah untuk memberi makan ikan-ikan hias nya yang berada di aquarium, memang kebiasaan bapak jika sedang banyak pikiran pasti beliau akan betah berlama-lama di depan aquarium sambil memberi makan, atau sekedar menatap aquarium itu sambil menghisap rokok nya.
Sebenarnya Asti sangat menyesal dengan adanya kejadian ini, dia khawatir orang tuanya akan jatuh sakit karena ikut memikirkan permasalahan dirinya yang bermasalah dengan Entis, Asti memang tidak bisa sendiri menghadapi masalah rumah tangganya yang penuh dengan konflik ini, hingga dengan terpaksa melibatkan seluruh keluarganya, ada perasaan tidak enak dalam hati Asti, tapi asti tahu jika seluruh keluarga nya membantu dirinya dengan sepenuh hati, rasa tidak enak itu kini timbul dengan rasa haru,karena Asti sangat bersyukur di saat dirinya memiliki masalah serumit ini masih ada keluarganya yang terus mendukungnya, tidak terasa Asti pun menitikkan air mata,
"Loh kenapa nangis teh?!" Ibu menghampiri Asti dan langsung memeluk anak gadisnya, Umar pun langsung melirik kakaknya dengan heran.
__ADS_1
"Sudah teh jangan di tangisi lagi lelaki model gitu mah!" Ternyata Umar salah mengartikan air mata Asti, Umar mengira Asti menangis karena Entis.
"Siapa juga yang nangisin lelaki model gitu!" Ucap Asti.
"Terus teteh kenapa nangis,?!" Tanya Umar polos.
"Karena teteh terharu, kalian semua terus mendukung dan juga membela teteh! Teteh sedih mar." Ucap Asti sambil terisak.
"Sudah sewajarnya kami semua membantu mu nak, kami sayang sama teteh, kami ingin yang terbaik untuk teteh, jadi apapun yang terjadi antara kamu dan Entis kami akan selalu mendukung teteh, keputusan teteh untuk berpisah sudah benar nak!" Ibu meluk Asti dengan penuh kasih sayang.
***
Entis kini berada di basecamp, Entis mengadu tentang sikap Umar, dia ingin membalas perlakuan adik iparnya itu yang di anggap sudah terlalu kurang ajar.
"Gua bilang juga apa tis! Culik bini dan adik ipar Lo itu!" Ucap si Tobing.
"Bener tuh tis, besok kita bergerak, kebetulan mobil bos lagi nganggur!" Si gandi ikut berkomentar.
"Tuh kendaraan sudah siap tis, mendingan sekarang kita buat rencana, bagaimana jika kita bagi tugas, diantara kita siapa yang akan menghajar si Umar dan sebagian lagi menculik si Asti! si Umar kita exs*kusi di tempat seolah-olah dia korban kecelakaan tabrak lari, tapi si Asti kita culik bawa kesini dulu!" Ucap si tobing bersemangat.
__ADS_1
"Tidak! Aku tidak mau m*MB*Nuh si umar! Resikonya tinggi jika kita melakukan itu! Aku tidak mau masuk penjara!" Ucap Entis langsung menolak ide si Tobing.
"Biar aku menculik si Asti saja! Biarkan si Umar, aku tidak ingin dia m*ti?" Sambung Entis, si tobing mendengus sebal karena ide nya di tolak mentah-mentah, padahal dia berharap si Entis akan mengapresiasi idenya itu, tapi kenyataan nya menurut si Tobing jika si Entis tidak tahu terima kasih,