
"Kang, gimana kami tidak emosi jika istri kakak saya ini baru datang kesini! Padahal kejadian ini gara-gara dia kegatalan datang ke gubuk para preman! Akibatnya Kakak saya terkapar di ruang ICU, itu juga gara-gara dia kang!" Euis mengadu kepada yoga seolah-olah Asti memang patut untuk di salahkan, padahal Euis baru pertama kali melihat yoga, tapi gaya manjanya sedang berbicara kepada yoga seolah-olah sudah saling mengenal, Euis sengaja mengatakan jika Asti istri Entis karena agar yoga jangan menyimpan perhatian kepada Asti, sebab Euis mengakui jika dirinya dan Asti jauh lebih cantik Asti di banding dirinya, belum apa-apa dia sudah merasa tersaingi oleh janda kakak nya ini.
Yoga hanya menggeleng kan kepala melihat keanehan tingkah Euis, yoga yakin jika yang sedang berbicara dengan nya ini adalah Euis, gadis yang pernah memfitnah Umar,
"Kalian salah,! jika merunut dari kejadian sebenarnya, yang patut di salahkan itu adalah mantan suami perempuan ini!" Ucap yoga tegas, sontak Emak dan Euis kaget mendengar ucapan yoga,
"Hei kamu siapa sok tahu masalah kami!?" Teriak Emak emosi lagi.
"Saya teman baik Asti, bahkan saya yang menemani Asti semalam di kantor polisi! Kalian harus tahu, jika Asti datang ke tempat tongkrongan mantan suaminya itu karena kang Entis sudah terlebih dahulu mencelakai Umar, jangan salahkan Asti dalam masalah ini! Karena Asti bukan pelaku tapi korban" Tegas yoga sinis.
Euis menganga melihat yoga membela Asti, tapi Emak terbakar emosinya dengan kata-kata yoga, dia ingin menampar wajah yoga, tapi yoga langsung menangkap tangan emak,
"Jangan main kasar buk, tadinya saya dan Asti datang kesini ingin membiayai semua biaya pengobatan Entis, tapi sekarang ternyata saya berubah pikiran setelah melihat perangai kalian! Kalau begitu saya permisi!" Ucap yoga langsung melepaskan tangan emak yang barusan dia cengkram, lalu yoga memegang telapak tangan Asti, dan langsung membawa Asti dari hadapan kedua perempuan itu,
__ADS_1
Asti bingung harus berbuat apa dengan keributan ini, dia hanya menurut dan mengikuti yoga yang menggenggam telapak tangan nya untuk pergi dari rumah sakit ini.
Tiba-tiba dari ruang perawat keluar seorang dokter dan dua orang perawat berlari ke ruang ICU , mereka seperti terburu-buru,
Emak dan Euis yang bersiap akan memaki Asti dan yoga menjadi urung, mereka langsung memperhatikan dokter itu, hatinya mulai cemas takut terjadi sesuatu kepada Entis, sebab di ruang ICU itu hanya ada satu pasien, yaitu hanya ada Entis saja yang sedang di jaga oleh seorang perawat,
Sementara Asti menarik tangan nya dari genggaman yoga, karena dia penasaran dengan kondisi Entis, Asti punya firasat buruk jika ada yang gawat jika dokter itu berlari masuk ICU, Asti yakin jika Entis kritis.
sementara yoga pun tidak memaksa Asti untuk melanjutkan langkah nya, yoga pun ikut menghentikan langkahnya karena dia pun sama penasaran nya seperti Asti.
"Maaf buk, nanti saja ya bicaranya, saya terburu-buru!" Jawab suster itu sambil setengah berlari.
"Kalau terjadi apa-apa sama anak ku, awas saja kamu Asti!" Ancam Emak kepada Asti, Asti diam tidak menggapai ucapan emak, dia lebih fokus melihat pintu ruangan ICU, hatinya kalut memikirkan nasib Entis di dalam.
__ADS_1
Euis dan Emak nampak sekali wajahnya tegang, dia tidak bisa melihat ke dalam ruangan ICU karena kacanya tidak tembus jika di lihat dari luar, sama halnya dengan Asti, dia terus berdoa dalam hati untuk keselamatan Entis.
Yoga hanya bisa menemani Asti yang gelisah tanpa bisa berbuat apa-apa, ada sedikit sakit di hati yoga begitu melihat Asti mengkhawatirkan Entis, tapi yoga mencoba berlapang dada dan berpikir positif jika Asti cemas kepada Entis itu adalah hal yang wajar, karena Entis sudah menyelamatkan hidupnya dari bahaya, andaikan waktu itu yoga yang lebih dulu datang untuk menyelamatkan Asti, pasti yoga akan melakukan hal yang sama seperti Entis, yoga akan menaruhkan nyawanya demi perempuan yang dia sukai ini, begitu kata hati yoga saat ini, yoga terus men sugesti dirinya agar tidak cemburu kepada Entis karena dia sadar jika diri nya belum jadi siapa-siapa untuk Asti,
"Dengan keluarga tuan Entis!" Seorang perawat memanggil keluarga Entis dari pintu ruang ICU dengan wajah muram, Emak dan juga Euis berhamburan mendekati perawat itu, tidak ketinggalan Asti pun ikut bergabung dengan Emak dan Euis, walau ada lirikan sinis dari Euis, tapi Asti tidak memperdulikan nya.
"Ini dokter mau bicara buk" ucap suster menunjuk dokter yang berdiri di sebelahnya dengan jempolnya.
"Maaf! Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi Pasien yang bernama tuan Entis sudah tidak bisa bertahan lagi, beliau telah meninggal dunia barusan pukul sembilan lewat tiga puluh menit" ucap dokter dengan wajah penuh penyesalan karena tidak bisa menyelamatkan nyawa Entis, dan nampak juga gurat kesedihan di wajahnya,
Emak pun menjerit menangis dan memanggil Entis, Euis pun sama menangis tergugu menyebut nama kakak nya, sementara Asti langsung menutup wajahnya dan ikut menangis tersedu-sedu, walau bagai mana pun Entis pernah mengisi ruang hatinya, kesedian itu tidak bisa di cegah, apalagi kematian Entis itu karena dirinya, Asti semakin terpukul dengan kejadian ini, yoga pun merasakan kesedihan Asti, dia bingung harus berbuat apa, akhirnya yoga menemui dokter itu, dan mereka berbicara mengenai kondisi Entis sebelum meninggal, yoga pun tetap akan mengurus biaya kepulangan Entis dari rumah sakit ini, dan juga akan melunasi seluruh biaya Entis selama di rawat di sini, mungkin dengan cara ini dia akan bisa membuat hati Asti sedikit tenang nantinya.
***
__ADS_1
Kini di rumah Emak penuh dengan orang yang melayat , mayat Entis pun terbujur kaku di ruang tamu rumah Emak, suasana sedih terasa sangat kentara di kediaman Emak, tetangga berdatangan silih berganti,untuk mengucapkan bela sungkawa, hanya teman-teman Entis sesama preman tidak ada yang datang satu pun, karena sebagian dari mereka sudah tertangkap polisi karena kasus pengeroyokan kepada Umar, dan sebagian lagi masih menjadi buronan,
Emak tidak henti-hentinya menangis, karena anak lelaki satu-satunya telah tiada dengan cara yang cukup tragis, bahkan Emak tadi sempat pingsan karena tidak sanggup menanggung kesedihan, sama halnya dengan Euis, dia pun ikut menangisi kakak, nya bahkan sampai histeris, para tetangga dengan telaten menemani dan terus memberi support agar keluarga Entis bisa tabah dalam menghadapi cobaan berat ini