
"Iya neng maaf, oh iya neng Asti jika ada waktu mampir ke rumah ibu ya," ucap buk Sofi mengundang Asti untuk main kerumah nya
"Iya buk insya Allah, oh iya buk silahkan masuk lagi, itu di makan dulu hidangan nya " ucap Asti mengajak ibu Sofi masuk ke dalam rumah untuk melanjutkan acara makan-makan nya.
***
Entis sudah dua hari ini kelimpungan di tinggal Tuti, entah kemana perginya istri muda Entis itu, di telpon dari kemarin tapi tidak aktif terus hapenya, Entis pun jadi uring-uringan karena tidak ada yang bisa dia mintai uang untuk membeli rokok, sedangkan untuk sekedar mengisi perutnya, Entis numpang makan di rumah emak, itu pun nasi dan lauknya di jatah sama Emak, nasi cukup satu piring dan lauk cukup sedikit emak kasih, bahkan masakan emak sekarang tidak pernah terhidang di atas meja makan lagi, tapi kini semua lauk dan nasi emak simpan di lemari dapur dan di kunci, bahkan kunci nya juga di bawa emak terus di saku bajunya.
Entis sebal dengan kelakuan Emak yang di anggapnya keterlaluan, bahkan setiap dia mau makan di rumah ibunya, pasti emak akan ceramah dulu sampai puas, setelah capek ngomel baru ngasih makan Entis,
"Mak, aku minta duit dong!" Kini Entis berada di rumah ibunya seusai minta makan malam.
"Duit.. duit lagi! Makanya jemput sana si Asti tuh, punya dua istri tapi tidak ada yang benar satu pun, dua duanya minggat tidak bertanggung jawab,! Si Tuti itu pasti sembunyi karena ketahuan bohong nya, dia bilang mau dapat warisan! Tapi mana?! Cuma ngeprank kita doang! Menyebalkan!" Repet Emak kesal kepada Tuti.
"Entah lah Mak pusing aku!" Entis mengacak rambutnya saking pusing mikirin Tuti yang hilang bak di telan bumi.
"Cari sana ke tempat kerjanya!"
"Gak ada Mak, Entis bolak balik ke kafe tempat kerjanya tapi si Tuti sudah tidak kerja di sana lagi katanya.!" Ucap Entis kesal.
"Cari kerumahnya!"
"Gimana mau nyari ke kampung nya Mak, ke sana itu butuh ongkos, sedangkan untuk rokok saja aku gak punya!" Jawab Entis sebal.
__ADS_1
"Jemput dulu si Asti sana, minta duit sama dia buat ongkos kamu ke kampung si Tuti! Punya ot@k tuh pinterin sedikit kenapa tis!" Ucap emak sambil menoyor kepala Entis dengan satu jari manis miliknya.
"Iya nanti Mak, sekarang aku mau minta uang buat beli rokok Mak! Ini mulut sudah asem dari tadi." Ujar Entis mulai minta duit lagi.
Emak pun merogoh saku baju daster nya dan mengambil uang dua ribu.
"Nih duit terakhir hari ini, sudah ini tidak ada jatah beli rokok lagi ya!" Entis menyambar uang itu dengan wajah masam, setiap minta duit pasti cuma dua ribu yang Emak kasih, ingin sekali Entis marah dan meminta uang lebih pada Emak, tapi dia takut kena omel akhirnya Entis hanya bisa pasrah membeli rokok eceran hanya satu batang, Entis saat ini benar-benar merindukan Asti, dulu Asti tidak pernah kurang memberi jatah untuk dirinya sebesar lima puluh ribu, itu hanya uang jajan saja, sementara urusan perut Asti akan memanjakan lidahnya dengan menu yang enak-enak, tapi kini semua hanya tinggal kenangan, Asti susah untuk dia raih lagi, walau Entis masih punya harapan untuk merebut hati Asti tapi itu tidak mudah, tapi Entis akan terus berjuang untuk merebut hati Asti, itu lah tekad yang ada dalam pikiran Entis, padahal Asti sendiri tidak akan pernah mau untuk kembali.
Entis kini berjalan menuju rumah nya, tapi dari jauh terlihat sebuah mobil truk sedang terparkir di depan kontrakan nya, mobil itu kini sudah penuh dengan beberapa perabotan rumah tangga, Entis pikir mungkin ada orang yang akan mengontrak rumah, tapi di mana!? Sedangkan rumah kontrakan di sana sudah terisi semua.
Semakin Entis berjalan mendekati mobil itu, semakin sadar jika barang yang berada di atas mobil itu sama persis dengan perabotan milik Asti yang berada di dalam rumahnya, Entis pun mempercepat langkahnya, terlihat ada empat orang yang sedang mengangkat Rak piring kaca keluar dari rumah kontrakan nya.
"Stop! Siapa kalian berani mengeluarkan barang milik saya!" Bentak Entis kepada semua orang yang sedang berusaha menaikan rak ke atas mobil.
"Teruskan saja kang! Itu barang milik saya bukan milik dia!" Asti berdiri di depan pintu dan di temani ibunya Asti, seketika mata Entis membulat melihat kehadiran orang yang dia rindukan selama ini, apalagi kini Asti tampak semakin cantik,
"Semua barang di rumah ini kan memang milik ku kang! Jadi terserah aku dong mau aku bawa kemana!" Jawab Asti ketus, sementara ibu hanya diam saja.
"Maksudnya gimana ini!" Tanya Entis masih belum sadar.
"Maksudnya gini kang, kita kan sudah bercerai, jadi aku mengambil semua barang milik ku untuk di bawa pulang ke rumah ibu!" Jawab Asti sambil menahan kekesalan,
"Akang tidak merasa menceraikan kamu as! Kamu tidak boleh mengangkut barang ini! suruh semua orang suruhan mu ini untuk pergi! Dan kamu masuk kerumah!" Bentak Entis memerintah Asti seenaknya, Asti memutar bola matanya ketika mendengar Entis bicara, ingin sekali Asti menggetok kepala Entis dengan sendal agar dia sadar siapa dirinya! Sudah jadi benalu juga sok berkuasa atas dirinya!
__ADS_1
"Kamu siapa seenaknya memerintah anak saya!" Ucap ibu Asti sinis.
"Aku suaminya!" Teriak Entis
"Jangan teriak depan ibu ku! Kamu itu bukan suamiku tapi calon mantan suami!" Ucap Asti tegas.
Suasana malam di sekitar rumah Asti kini mulai ramai orang, Asti sebenarnya sengaja mengangkut semua barang dari rumah kontrakan ini malam hari agar tidak mengundang banyak orang untuk menonton kegiatan nya ini, tapi dengan keributan yang Entis ciptakan membuat tetangga mulai berdatangan karena penasaran.
"Aku bilang kamu masih istriku, dan selamanya akan menjadi istriku!" Teriak Entis emosi.
"Dih pede banget! Maaf ya kang, lebih baik akang sadar jika kita memang sebentar lagi berpisah, tinggal nunggu keputusan hakim saja, sebaiknya akang mulai introspeksi diri dan fokus dengan istri baru akang saja!" Ucap Asti sedikit melunak, karena dia tidak ingin mengundang banyak orang lagi untuk menonton dirinya ribut dengan Entis.
"Oh jadi kamu cemburu ya as! Akang memang sudah menikah lagi, tapi akang menikah lagi untuk membahagiakan kamu as, Tuti janji sama akang akan membelikan rumah, dan akang akan mempersembahkan rumah itu untuk kamu as, kita akan hidup bahagia dalam rumah itu, akang akan menjadi suami yang adil untuk kamu dan juga Tuti!" Sontak saja ucapan Entis itu mengundang sorakan dari warga, apalagi yang nonton nya kebanyakan emak-emak, sudah pasti bisa di bayangkan gimana heboh nya emak-emak itu menyoraki dan mencibir ucapan Entis.
"Huh... Dasar buaya buntung!"
"Padahal sudah punya istri cantik, kerja kantoran lagi! Tapi suaminya tidak tahu malu!"
"Ih amit-amit, sudah mendua tapi modal dengkul!"
"Ih gak punya kaca apa di rumah! Masa poligami tapi modal perempuan!"
"Mana ada perempuan di madu tapi satu rumah, udah gitu lakinya gak kerja lagi!"
__ADS_1
"Modal burung doang haha...haha...!"
Begitulah kata-kata menyakitkan yang keluar dari mulut para ibu-ibu yang berada di sana, membuat kuping Entis panas seketika.