
"Pak, jangan mentang-mentang kang Umar adalah warga bapak lantas bapak membela dia pak!" Teriak Euis kalap.
"Saya tidak membela orang yang salah, jika Umar salah maka saya yang akan mengantarkan dia ke kantor polisi, tapi jika Umar tidak bersalah maka orang yang memfitnah nya yang akan saya antar ke kantor polisi! Saya sedang menganalisa runut kejadian kasus ini, saya merasa banyak kejanggalan yang saya dapatkan, jadi saya tidak ingin memberi hukuman kepada orang yang tidak bersalah!" Tegas pak RT kembali memberi jawaban atas tuduhan Euis.
"Percuma saya mencari keadilan disini, sebaiknya saya lapor polisi saja,!" Ucap Euis sambil hendak berdiri dan hengkang dari rumah ini, Euis sudah merasa jika posisinya sudah terpojok, dia tidak ingin jadi bulan-bulanan warga, maka dari itu Euis memutuskan untuk pulang saja, dia memberi alasan akan ke kantor polisi, padahal dia ingin segera pulang guna menghindari masalah ini.
"Duduk dulu neng, kamu tidak bisa pergi seenak nya saja, jika ingin melaporkan Umar, biar kami antar ke kantor polisi, masalah ini harus selesai sampai tuntas, karena masalah ini bukan masalah sepele, jadi saya harap kalian berdua berkata jujur,!"
Tekan pak RT melarang Euis meninggalkan tempat ini.
"Pak, saya berani bersumpah jika saya tidak sedikitpun punya niat melecehkan Euis, saya tidak bersalah pak!" Ucap Umar memelas karena Memeng dirinya tidak bersalah.
"Saya percaya kang Umar tidak akan berprilaku sebejat itu, karena saya tahu jika kang Umar bukan lelaki mata keranjang!" Salah seorang perempuan yang hadir di sana tiba-tiba berteriak, dan di benarkan oleh sebagian orang yang berada di sana,
"Aku rasanya tidak percaya Umar berbuat seperti itu, dia anak baik, rajin ibadah dan tidak pernah melihat dia Gonta ganti pasangan,!" Ucap seorang mbak-mbak yang ikut menonton kejadian ini, Euis semakin terpojok mendengar berbagai ucapan positif untuk Umar, hampir sebagian orang yang berada disini membela Umar.
"Sekarang saya tanya sekali lagi sama neng Euis, apa benar Umar sudah melecehkan kamu?!" Tanya pak RT seolah mengintimidasi Euis
"Iy, iya pak." Jawab Euis gugup dan ragu.
"Kenapa kamu jadi gugup kayak gitu?! Jawab pertanyaan saya dengan benar!" Bentak pak RT.
__ADS_1
"Iya pak!" Jawab Euis tegas, tapi bola matanya melirik ke kiri dan ke kanan seolah dia merasa ketakutan.
"Baik lah kalau begitu, kita telpon polisi saja, masalah ini harus melibatkan polisi agar bisa lebih terbuka lagi, biar polisi yang menangani nya dengan cara mereka, karena polisi tahu siapa yang benar dan yang siapa berbohong! Biar sekalian di proses jika salah satu di antara kalian memang telah melakukan kesalahan!" Ucap pak RT tegas!
"Jangan pak! Saya tidak mau di bawa ke kantor polisi!" Tiba-tiba Euis menangis sesenggukan,
"Kenapa tidak mau?! Aku saja tidak masalah jika masalah ini di tangani polisi, karena aku yakin polisi tidak akan bisa di kelabui!" Ucap Umar sambil menyunggingkan senyum sinis kepada Euis.
"Baik! Saya mengaku salah!, Saya memang sudah memfitnah kang Umar!, Dia memang tidak melakukan pelecehan kepada saya!" Ucap Euis akhirnya mengakui perbuatan nya, karena dia takut di bawa ke kantor polisi.
Sontak semua orang yang hadir di sana menyoraki Euis, Euis pun menutup wajahnya sambil menangis malu.
"Apa tujuan kamu membuat fitnah sekeji itu kepada Umar?!" Tanya pak RT kepada Euis.
"Karena saya, saya.. suka kepada kang Umar." Ucap Euis terbata, kontan semua orang menghujat Euis, ada juga yang mentertawakan kelakuan Euis yang ingin memiliki Umar dengan cara kotor!
"Maksud nya gimana?!" Ucap pak Handoko.
"Saya kira jika kang Umar di percaya sudah melecehkan saya, maka dia akan di paksa untuk menikahi saya, tapi ternyata saya tidak bisa berbohong, jadi rencana saya ketahuan!" Ucap Euis pelan hampir tidak terdengar, Umar melongo mendengar ucapan Euis, banyak yang mentertawakan ucapan Euis, dan ada juga yang meneriaki Euis dengan kesal, tidak sedikit juga yang menyoraki Euis, Euis benar - benar merasa malu dan takut setelah rencana jahatnya di kuliti oleh semua orang yang ada di sini, kini di hatinya timbul rasa benci kepada Umar, padahal Umar tidak sedikitpun melakukan perbuatan jahat kepadanya, justru yang harusnya membenci itu Umar kepada Euis bukan malah sebaliknya.
"Ada apa ini!" Tiba-tiba seorang lelaki menerobos masuk ke dalam rumah Umar, dan ternyata dia adalah Entis, setelah Entis menunggu Asti di pabrik dan ternyata sampai pulang Asti tidak terlihat akhirnya Entis mempercayai ucapan satpam itu jika Asti tidak masuk kerja, sehingga Entis memutuskan untuk datang ke rumah ini guna menemui Asti, dia bersikukuh untuk mempertahankan rumah tangga nya bersama Asti, dia akan terus membujuk dan meminta Asti mencabut gugatan nya di pengadilan agama, begitu sampai rumah Asti, Entis merasa heran sebab di rumah ini begitu ramai orang , dia pun segera ikut bergabung masuk ke rumah ini, pas dia mengintip ke dalam rumah, dia melihat Euis sedang duduk dan sambil menangis, lantas Entis menerobos masuk ke dalam rumah karena penasaran melihat adiknya ada di sini.
__ADS_1
"Kang tolong saya!" Teriak Euis sambil berlari ke arah Entis lalu memeluk Kakak nya sambil menangis tersedu.
"Kamu kenapa?, Siapa yang sudah berani membuat kamu menangis seperti ini!" Entis kaget begitu melihat Euis berhambur ke pelukan nya dengan menangis tersedu.
"Kamu siapa?!" Tanya pak Handoko.
"Dia kakak nya Euis, mantan suami kakak saya, teh Asti!" Jawab Umar sambil menyunggingkan senyum sinis kepada Entis.
"Jangan sembarangan kamu mar! Aku dan Asti belum bercerai!" Ucap kang Entis menyela ucapan Umar.
"Tapi kalian kan tinggal nunggu ketok palu saja!" Umar menjawab ucapan Entis dengan emosi, dia benar-benar sangat membenci Entis, hingga jika Umar melihat kakak ipar nya ini bawaan nya ingin memukuli muka Entis saja.
"Sudah-sudah mar, kendalikan dirimu, kita selesaikan dulu urusan mu dengan perempuan itu, masalah kakak mu dan lelaki ini tidak usah di bahas dulu!" Hardik pak RT menghentikan perdebatan antara Entis dan umar.
"Iya maaf pak RT, saya terbawa emosi jika melihat dia, karena sikap dia banyak sekali membuat masalah di keluarga saya!" Ucap Umar masih dengan sedikit emosi, sementara Entis hanya mendengus mendengar ucapan Umar, pak Umar hanya mengangguk tanpa menjawab ucapan Umar, dia bisa memaklumi kenapa Umar membenci Entis, karena sedikit banyak pak RT mendengar permasalah di keluarga ini antara Asti dan Entis, pak RT dan bapak nya Umar adalah teman dekat dari masih muda dulu hingga sekarang, jadi terkadang bapak Umar suka bertukar pikiran dengan pak RT mengenai masalah keluarganya.
pak RT sengaja dari awal bersikap netral menghadapi masalah antara Euis dan Umar, karena dia ingin menjalankan tugasnya sebagai pengayom warga dengan profesional, makanya dari awal dia tidak terlalu mencolok membela Umar walau hatinya yakin jika Umar tidak akan berbuat nista kepada Euis, dia tidak ingin di cap berat sebelah karena membela salah satu pihak.
"Silahkan duduk kang, biar akang tahu duduk persolan nya seperti apa tentang adik akang dan Umar." ucap pak RT menyuruh kang Entis ikut duduk dan menyimak.
"Kang aku mau pulang saja, bawa aku pulang kang, aku tidak mau berlama-lama di sini!" Euis merengek seperti anak kecil kepada Entis, sengaja dia mengajak Entis pulang agar dia tidak mendengar perbuatan nya kepada Umar.
__ADS_1