
"Ya tidak perlu di jelaskan juga kami tahu kok yu, kalau Umar belum bisa banyak bergerak, dan memang harus di suapin, tenang saja, kami ngerti kok," kelakar yoga sambil tertawa.
Sementara Umar hanya nyengir saja melihat yoga meledek adik nya itu, sedangkan Asti juga tersenyum tanpa banyak bicara,
"Ngomong-ngomong ibu kemana yu!?" Asti heran karena ibunya tidak ada di sini.
"Tadi ibu pamit mau ke pasar, mau nanya bapak sama karyawan bapak di kios!" Umar menjawab pertanyaan kakak nya.
Asti langsung menjatuhkan tubuhnya di sofa, Asti sedih kenapa ujian hidup ini bertubi-tubi menghantam kehidupan nya, belum juga selesai masalah bapak yang tiba-tiba menghilang, masalah Umar muncul karena di keroyok Genk Entis, di tambah lagi sekarang masalah kematian Entis secara tragis di karena kan dirinya, Asti pun akhirnya tidak kuasa lagi membendung kesedihan nya, Asti menangis tergugu di sofa dengan kedua telapak tangan menutup wajahnya, Umar yang melihat kakak nya seperti itu jadi khawatir, begitu pun ayu langsung menyimpan piring bekas Umar makan di meja, dia lantas mendekati Asti dan memeluk nya untuk memberi kekuatan bila Asti tidak sedang sendiri, ada dirinya yang menemani, dalam suka maupun duka,
"Ada apa as? Kenapa Lo sedih? Lo bisa cerita ke aku kok jika kamu punya masalah." Ayu ingin tahu kenapa sahabatnya tiba-tiba menangis, ayu tidak tahu apa yang terjadi semalam kepada Asti dan Entis, begitu pun Umar dan ibu tidak mengetahui jika semalam Asti menghadapi masalah besar, yoga dan Asti sengaja menutup masalah ini dari mereka bertiga agar tidak jadi beban pikiran ibu dan juga Umar.
"Gua sedih yu, bapak ku belum juga pulang, sedangkan Umar sakit, dan yang paling gua terpukul yu, kang Entis tadi jam setengah sepuluh pagi meninggal dunia." Akhir nya tangis Asti pecah lagi, ayu dan Umar sontak kaget.
"Inalillahi, memangnya kang Umar kenapa mendadak meninggal as?!" Ayu penasaran, sebab terakhir dia melihat Entis di pengadilan agama kemarin siang, Entis terlihat baik-baik saja.
"Teh, ada yang teteh sembunyikan dari Umar semalam ya!" Umar yakin jika semalam Asti melalui masalah besar, tapi Umar belum sempat bertanya, sebab keburu dirinya tertidur beberapa saat Asti kembali kesini, dan pagi ketika Umar bangun, Asti sudah rapih mengenakan pakaian ganti, yoga pun sama, lalu Asti menyuapi Umar dengan telaten dan memberi obat, pagi itu tidak ada yang hanya bicara, Asti lebih banyak diam, dan Umar pun malas untuk bertanya karena matanya terus ngantuk akibat obat yang dia minum, Umar tertidur sesaat setelah minum obat, dan ketika terbangun sudah ada ibu dan ayu yang menggantikan Asti, tidak lama kemudian ibu pun pamit untuk ke pasar jadi tinggal lah ayu sendiri menjaga Umar,
__ADS_1
Akhirnya yoga menceritakan juga kejadian semalam, hingga Umar dan ayu sangat shock mendengar kabar itu, entah apa yang harus di ucapkan Umar ketika mendengar Entis meninggal karena membela kakak nya, sedangkan Entis telah membuat dirinya terkapar menderita akibat perbuatan Entis,
Apa harus bahagia atas meninggalnya Entis, karena dendamnya sudah terbalas walau bukan oleh tangan nya sendiri ,
Atau apa Umar harus bersedih dan berterima kasih atas semua pengorbanan Entis kepada kakak nya yang sangat dia sayangi itu, Entis mengorbankan hidupnya untuk keselamatan Asti, tapi Entis menyuruh orang lain untuk mencelakakan dirinya, Umar bingung harus bersikap apa ketika mendengar kematian Entis.
Umar hanyalah manusia biasa , antara benci dan kasihan kepada Entis menyatu dalam batin nya.
***
Kita ceritakan bapak sebelum terjadinya bapak menghilang dari rumah,
Bapak mulai tergoyahkan, harga kelapa lebih murah, tapi dia belum tahu bentuk buah kepalanya, layak jual atau tidak? Sebab harga nya terlalu murah membuat hati bapak sedikit curiga, bapak akhirnya penasaran ingin melihat jenis kelapa seperti apa yang di tawarkan mereka, pak Toni juga menyarankan agar bapak ikut dengan nya untuk melihat jenis kelapa yang akan di beli bapak,
Akhirnya bapak setuju untuk melihat kelapa itu langsung ke kebun nya, kKetika bapak berniat membawa mobil pikup miliknya dan membawa anak buah nya, untuk mengangkut kelapa nanti jika memang jadi di beli, tapi seketika di larang oleh pak Toni, dia mengatakan jika nanti kelapa itu akan di antar oleh pak Anton dan juga dirinya memakai mobil truk milik pak Anton , pak Toni menyarankan agar bapak membawa motor saja, sementara pak Anton dan pak Toni akan berboncengan dengan pak Anton,
"Ya sudah kalau begitu aku pakai motor saja" ucap bapak, dan pak Toni mengangguk menyetujui, lantas mereka pun berangkat beriringan, bapak pergi dari pasar setelah menyuruh anak buahnya menutup kios, bapak pun tidak bilang akan pergi kemana dirinya kepada Dudung, Dudung adalah nama anak buah bapak di kios, Dudung hanya mendengar jika bapak akan membeli kelapa kepada mereka, itu pun hanya terdengar samar oleh dirinya, hingga tidak tahu jelas apa yang bos nya bicarakan bersama tamunya itu.
__ADS_1
Motor mereka pun melaju beriringan untuk menjemput kelapa ke daerah kebun kelapa milik Anton, menurut pak Toni, jarak dari kios ke sana tidak terlalu jauh, hanya memakan waktu satu jam saja,
Akhirnya tanpa rasa curiga bapak pun mengikuti teman lamanya itu dari belakang, bapak tidak memiliki pikiran buruk kepada teman nya , karena merasa sudah mengenal beliau lama,
Tiba di sebuah jalan sepi dan di sisi kiri kanan hanya ada hutan dan jauh dari rumah penduduk, tiba-tiba motor pak Anton berhenti, bapak pun ikut berhenti di belakang nya, pak Toni turun dari motor dan segera mendekati bapak, bapak pun menurunkan standar motornya dan turun dari motor,
"Ada apa ton? Motor mu mogok?" Tanya bapak.
"Bukan man, aku hanya mau ikut naik motor mu saja, karena takutnya nanti kamu kehilangan jejak kami, si Anton tidak biasa bawa motor pelan." Ucap pak Toni kepada bapak, (sekedar info: pak Toni manggil bapak dengan sebutan man, karena nama bapak adalah Parman.).
Bapak pun lantas menyetujuinya, pak Toni pun naik di boncengan bapak, mereka pun melanjutkan perjalanan, bapak terus mengikuti motor Anton dari belakang, dan setelah sekian lama berjalan , motor si Anton berbelok ke jalan setapak yang hanya bisa di lalui oleh kendaraan roda dua.
"Ton, kok masuk hutan?" Bapak mulai curiga.
"Iya ini jalan pintas man, namanya juga mau ke kebun, ya pasti masuk jalan hutan lah, masa mau ngambil kelapa ke mol!? " Ketus Toni.
Bapak membenarkan ucapan Toni, tapi tetap saja hatinya tidak tenang, apalagi melihat perubahan sikap Toni yang mendadak sinis, bapak jadi merasa serba salah, mau di lanjutkan tapi takut, mau putar balik juga tidak enak sama teman nya ini, bapak hanya diam sambil terus waspada.
__ADS_1
Mereka melewati jalan yang sepi dan sempit karena di sisi samping kanan adalah jurang, dan di samping kiri tebing yang tinggi, tiba-tiba motor pak Anton berhenti di tengah jalan itu, dia lalu memarkirkan motornya di tengah jalan menghalangi motor bapak,