Suami Benalu Banyak Ulah

Suami Benalu Banyak Ulah
emosi


__ADS_3

Aku tanamkan pendengaranku, karna sekilas tadi aku mendengar kata sayang.


"Ya udah, nanti sore akang jemput ya di terminal"


("......")


"Iya nanti naik taxy online ko, gak mungkin akang jalan kaki.. hehe.."


("......")


"Akang juga kangen sayang, makanya semalam akang nginap di rumah emak, karna akang sudah bosan sama si Asti, dia mah kurus kayak tulang, beda dengan Tuti, kalo di peluk banyak dagingnya haha.."


(".....") 


"Ya sudah nanti sore kita ketemu ya, emmmuuuuach."


Sebenarnya emosiku sudah di ubun-ubun mendengar omongan dia di telpon, tapi aku mencoba menahannya, terlintas di kepalaku ide untuk mencari bukti kesalahannya.


Perlahan aku mundur dari tempatku dan aku mulai mengucapkan salam, seolah aku baru pulang 


Aku langsung masuk, kang Entis terlihat kaget dengan kedatanganku, dia sedang duduk di kursi ruang tamu sambil mengangkat kedua kakinya di atas meja, tangan nya masih memegang handphone.


"Haha... Akhirnya kamu pulang juga as! Makanya jadi istri jangan banyak gaya, gayanya mau kabur dari rumah, gak taunya balik lagi, gak tau malu!" 


Kang Entis mencibirku, aku terus melangkah masuk ke ruang makan, aku tidak memperdulikan ocehan nya, aku mencoba bersabar demi mencari bukti kesalahannya, agar mempermudah aku mengajukan perceraian.

__ADS_1


,


Aku melangkah ke meja makan dan langsung menyantap makanan yang ku beli tadi, kang Entis menghampiriku dan berdiri di samping meja makan.


"Aku lapar! Ini buat aku aja!" 


Kang Entis merebut makanan ku dengan kasar.


"Kalo mau makan, sana beli sendiri!" 


Aku pun merebut kembali nasi bungkus itu dan langsung aku bawa ke kamar, pintu kamar pun segera ku kunci, bodo amat dia mau makan apa tidak,aku sudah tidak perduli lagi.


"Asti..! Sudah berani ya kamu melawan aku!" 


Kang Entis menggedor pintu kamar dengan kencang, tapi aku tidak perduli, aku abaikan dan terus menikmati makan siangku, dia mengomel dan menendang pintu kamar, tidak lama kemudian suaranya tidak terdengar lagi.


Aku menyalakan tv dan duduk santai sambil ngemil makanan ringan yang aku beli di mini market kemarin pulang kerja.


Hp ku berdering ada yang menelpon, aku segera melihat siapa yang menelpon ku, ternyata no kang Entis, sebenarnya aku malas mengangkat Telpon dari dia, tapi aku juga penasaran, akhirnya aku angkat juga.


"Asalam..." Belum juga aku selesai ngomong dari sebrang telpon suara emak mengomel.


"Asti, kamu kenapa sama si Entis!?, Si Entis datang - datang kayak orang kesurupan makan ngabisin nasi di rumah emak, katanya dari kemarin kamu tidak kasih dia makan ya!, Tega bener kamu as, kamu enak - enakan makan nasi Padang, sementara suami mu kelaparan dari kemarin kamu biarkan!"


Semprot emak tanpa titik koma, aku sampai menjauhkan hape dari telingaku karena teriakan dia.

__ADS_1


"Lah Mak,kenapa jadi marah sama aku!,yang seharusnya ngasih makan itu dia Mak bukan Asti, coba tanyakan sama dia, apa dia ngasih Asti nafkah tidak?!, Jika tidak ngasih nafkah gimana Asti mau ngasih makan dia?!" Ujarku tidak mau kalah ngomong sambil ngegas.


"Tapi kan namanya juga kerja servis itu kadang ada kadang tidak, wajar lah jika si Entis belum bisa ngasih nafkah sama kamu, tapi kamu kan kerja, seharusnya nya kamu membantu suami dulu untuk mencukupi kebutuhan keluarga kalian!, Asti kalian itu belum punya anak, jadi kebutuhan kalian berdua itu belum seberapa?!" Ujar emak seenaknya.


"Lah biasa nya juga selama beberapa tahun ini Asti menjadi suami kang Entis juga emang nya siapa yang mencukupi kebutuhan kami Mak?, Semua Asti Mak, tapi Asti gimana mau masak kompor aja di jual sama kang Entis!" Aku pun masih dengan nada tegas bicara dengan mertuaku karena aku memang kesal.


Emak tidak menjawab ucapan ku tapi langsung mematikan telpon nya, dasar tidak sopan, telpon marah - marah, nutup telpon juga tidak ada etika Main tutup aja, benar - benar emosi aku di buatnya.


***


Sore ini aku berencana mengambil motorku di bengkel, tapi pas aku keluar kamar, kang Entis masuk rumah entah dari mana.


"As, aku minta duit dong!" Ucap kang Entis seenaknya, minta duit seperti anak kecil minta sama emaknya.


"Buat apa?" Sebenarnya aku malas untuk menjawab omongan nya, tapi rasa penasaranku lebih kuat di banding egoku.


"Buat jemput teman di terminal, dia minta di jemput pake taksi online."


"Terus!" Ucapku sambil mengerutkan kening.


"Ya aku bagi duit sama kamu buat ongkosnya!" Dengan tanpa merasa bersalah dia meminta uang kepadaku, untuk menjemput teman katanya! Dia yang mau jemput kenapa aku yang repot, dih sori kang, aku tidak akan pernah lagi mengeluarkan uang sepeserpun buat kamu, bahkan untuk makan kamu sekalipun aku tidak mau, aku tadinya mau langsung ke pengadilan agama besok, mau menggugat cerai , tapi aku pikir-pikir, aku akan menunda untuk sementara, aku ingin bermain -main dahulu dan ingin membuat kang Entis sengsara dengan kepelitan ku.


"Hadeuuuuh..! Udah pengangguran, minta makan sama aku, minta roko sama aku, sekarang banyak gaya mau jemput orang pake duit aku juga! Mendingan akang ngemis aja deh di lampu merah biar dapet duit banyak, daripada ngemis sama aku yang gak ada duitnya." Ucapku meremehkan nya, rasanya aku merasa ada sedikit kepuasan sudah membuat dia kesal.


Aku pun melangkah menjauhinya 

__ADS_1


"Dasar istri sinting! Suami ko di suruh ngemis! Punya otak tuh di pake jangan asal ngomong!" Kang Entis marah mendengar ucapan ku, dia mengangkat tangan nya hendak memukulku, aku tidak menghindar malah memberikan pipiku untuk di tampar, tapi setelah lama aku tunggu dia tidak menamparku, ternyata dia tidak berani menampar takut dengan ancaman ku kemarin jika dia main tangan akan aku laporkan dia ke polisi.


Darahku seketika mendidih mendengar ucapan nya tapi aku berusaha diam karna ingin tau apa lagi yang akan dia lakukan.


__ADS_2