Suami Benalu Banyak Ulah

Suami Benalu Banyak Ulah
keributan lagi dan lagi


__ADS_3

Hari ini hari Minggu di mana waktunya untuk istirahat, Asti dan Umar hari ini tidak memiliki jadwal ke luar rumah, mereka sepakat akan berkumpul di rumah untuk menghabiskan hari libur bersama kedua orang tuanya,


Mereka kini sedang berkumpul untuk sarapan.


"As itu sepertinya ada yang mengetuk pintu rumah kita ya?!" Ucap ibu sambil menajamkan pendengaran nya.


"Iya bener buk, itu bukan mengetuk, tapi menggedor!" Ucap Umar kesal, lalu dia bangkit dari duduknya dan segera ke depan untuk melihat siapa yang datang, Asti dan ibu juga cukup penasaran hingga mengikuti Umar dari belakang, cuma bapak yang tidak ikut melihat, beliau asik dengan sarapan nya.


"Ah rupanya keluarga benalu itu yang datang!" Kesal Umar setelah mengintip keluar dari gorden depan rumah,


"Kang Entis?" Tanya asti


"Iya, berikut Emak nya!" Jawab Umar.


"Tidak usah di buka saja mar, biarkan saja!" Bisik Asti kepada adiknya yang hendak memutar kunci rumah untuk membuka pintu.


"Kenapa teh?" Heran ibu sambil menatap anak perempuan nya.


"Malas saja pagi-pagi sudah ribut dengan mereka!" Ucap Asti sebal.


"Ini tidak bisa di diamkan teh, kita harus menghadapi mereka, jika di biarkan dia akan semena-mena untuk terus meneror kita!" Umar tidak setuju ucapan kakak nya, lantas Umar membuka pintu rumah, begitu pintu terbuka, emak dan Entis langsung nyerobot masuk ke dalam rumah, tapi Umar sigap mendorong dua orang yang tidak tahu diri ini, hingga Entis terhuyung ke belakang akibat dorongan Umar , sementara Emak tubuhnya langsung oleng begitu di dorong Umar, emak pun seketika jatuh terduduk.


"Sia-lan kamu! Kurang @jar! Tidak tahu sopan santun kamu terhadap orang tua!" Emak memaki Umar , tidak beda dengan Entis, dia pun menyumpah serapah Umar yang di anggap kurang @jar kepada dirinya dan juga ibunya, sementara Umar hanya bertolak pinggang di depan pintu, Asti dan ibu berada di belakang Umar,

__ADS_1


"Kalian itu memang manusia yang kurang waras ya! Datang bertamu ke rumah orang bukan nya salam, malahan teriak-teriak sambil gedor-gedor rumah orang, sudah di bukakan pintu bukan nya salam sama yang punya rumah,ini malah main nyeruduk saja kaya banteng! Enak saja kalian mau masuk rumah orang sembarangan!" Umar pun tidak kalah emosi, dia pun membalas ucapan Entis dan Emak.


"Aku ini kakak ipar kamu! Wajar saja aku langsung masuk ke rumah ini karena aku bagian dari keluarga ini!" Entis menjawab ucapan Umar sambil menolong Emak untuk berdiri.


"Dih! Siapa elo memang nya! Tidak Sudi aku punya saudara macam kalian!" Jawab Umar tidak kalah keras suaranya dari Entis.


"Walau bagaimana pun aku ini suami kakak kamu!" Teriak Entis semakin menjadi.


"Hei, aku ingatkan sekali lagi sama kamu tis! Aku bukan lagi istrimu! Kamu itu sebentar lagi akan jadi mantan suami! Kamu itu harus terima keputusan ! Sekuat apapun kamu menyangkal kenyataan ini kita tetap akan berpisah!" Asti pun menghardik Entis, sudah tidak ada lagi kata akang yang Asti sematkan di di depan nama suaminya, untuk Entis.


"Ada apa kalian ini ribut saja! Umar biarkan mereka masuk, kita bicarakan masalah ini secara baik-baik,!" Bapak tiba-tiba datang dari dalam rumah, dan menyuruh semua orang untuk masuk kedalam rumah, termasuk Entis dan ibunya, Umar dan Asti memonyongkan bibirnya tanda tidak setuju mereka di suruh masuk, tapi untuk menentang perintah bapak pun mereka segan.


Sekarang mereka sudah duduk di ruang tamu.


"Ada apa kalian datang ke rumah saya!" Tanya bapak sambil menatap tajam Entis.


"Bukan kah surat cerai sudah datang ya kerumah kalian?! Tapi kenapa kalian seolah menganggap semua keputusan Asti itu bualan, saya rasa kalian itu bukan orang bodoh! Pasti kalian paham kenapa Asti berada di rumah saya!" Ucap bapak menambah volume suaranya saking gemas kepada Emak.


"Tapi si Entis itu tidak mau bercerai! Sebelum ada keputusan dari pengadilan itu sebaiknya si Asti tetap mengurus suaminya, bukan nya di tinggalkan begitu saja! Untung saja suami si Asti dekat dengan Emaknya, jika jauh saja rumahnya dari aku, si Entis pasti sudah mati kelaparan!" Sarkas Emak menyahuti ucapan bapak.


"Emangnya si Entis tidak bisa beli makan sendiri?!"


"Bisalah, tapi semenjak si Asti pulang kesini si Entis jadi terlantar, tidak ada yang menyiapkan makan lagi!" Emak terus menyalahkan Asti dengan persepsinya sendiri.

__ADS_1


"Si Entis ngasih nafkah tidak sama si Asti?!" Tanya bapak sambil matanya terus menatap Entis, sedangkan Entis ketika di tatap seperti itu dia merasa salah tingkah.


"Dia itu bukan anak kecil yang harus terus di suapi, bukan kewajiban anak saya untuk memberi dia makan, bahkan seharus nya si Entis yang harus ngasih makan anak saya! Tapi kenyataan nya, justru anak saya yang mencari nafkah untuk suaminya, Selama dua tahun anak lelakimu itu tidak pernah memberi nafkah! Jadi apa yang harus di pertahan kan dari lelaki model begitu!" Tunjuk bapak tepat di wajah si Entis. Emak pun mendengus tanda kesal, tapi kehabisan kata-kata untuk menjawab nya.


"Tapi kan saya juga sedang berusaha mencari uang pak, bahkan saya berniat untuk membeli rumah untuk Asti!" Jawab Entis percaya diri.


"Beli rumah berikut istri mudanya ya!" Ucap ibu.


"Ih amit-amit !' Asti menimpali sambil menggoyangkan bahunya seperti orang kegelian.


"Tapi akang pasti akan bisa adil as!" Ucap Entis memelas.


"Adil dari mana caranya! Bahkan makan saja kamu numpang sama kakak ku!" Ketus Umar ikut bicara.


"Diam kamu! Tahu apa kamu soal rumah tangga!" Teriak Emak.


"Oh, jadi selama ini si Entis itu numpang hidup dengan anak ku?! Tidak tahu malu! Seharusnya laki-laki yang ngasih makan istrinya bukan sebaliknya!" Ucap ibu geram, walau sebenarnya ibu memang sudah tahu jika si Entis memang benalu tapi ibu sengaja ingin bicara nyinyir di depan orang nya langsung, ibu sudah tidak tahan lagi ingin bicara walau pun bapak melarangnya dengan isyarat tangan kepada ibu agar diam, tapi ibu tidak menanggapi larangan bapak karena sudah geram banget.


"Ya wajar dong si Asti kasih makan si Entis! Si Entis suami si Asti, sedangkan si Asti bekerja dan memiliki gajih, beda dengan si Entis yang tidak bekerja, mau dari mana dia kasih makan si Asti!" Emak terlihat sekali kebodohan nya di mata keluarga Asti,


"Aku tidak pernah menceraikan kamu as! Kamu masih istriku dan sampai m*ti pun kamu akan tetap menjadi istriku!" Entis menatap wajah Asti penuh emosi.


"Aku tidak butuh kata cerai dari kamu, kita tunggu saja keputusan sidang terakhir kita besok kang! Jika kamu mau datang silahkan! tidak datang juga tidak masalah! Bahkan jika kamu tidak datang aku sangat bersyukur, sebab ketidak hadiran kamu di sana justru membuat sidang berjalan lancar, karena kamu di anggap setuju dengan perceraian ini, keputusan hakim pasti akan mengabulkan perceraian kita.! Dan mulai besok dan seterusnya aku akan bebas dari embel-embel istri kamu!" Panjang lebar Asti mengemukakan kekesalan kepada Entis.

__ADS_1


"Mana bisa begitu!" Teriak Entis.


"Bisalah!" Jawab Umar sambil tersenyum meremehkan Entis, wajah Entis seketika merah karena kesal, dia pikir dengan tidak datang dirinya ke pengadilan, maka sidang akan di tunda dan akan menghambat jalan nya sidang yang akhirnya nanti tidak akan ada perceraian antara dirinya dengan Asti karena dirinya tidak mau hadir di persidangan, tapi semua justru malah sebaliknya, ketidak hadiran dirinya di anggap bahwa dirinya menerima perceraian ini, Entis geram, Entis tidak terima, dia pun berjanji pada dirinya sendiri akan datang besok di persidangan untuk menghalangi jalan nya sidang.


__ADS_2