
Sontak Anton menangis keras ketika kepalanya di jitak, dia seperti anak kecil yang sedang di marahi bapaknya, sebagian orang yang ada di sana tertawa melihat kelakuan Anton,
"Kenapa kamu nangis?!" Tadi kayak jagoan sekarang kayak anak TK! " Celoteh seorang polisi sontak suasana di sana riuh mentertawakan kelakuan Anton.
"Kamu mau aku perkarakan dengan pasal pelecahan! Biar kamu ngurung di sel?!"
Ujar pak polisi yang menjitak kepala Anton tadi.
"Tidak pak! Tadi Saya hanya bercanda pak, saya mohon maaf, lepaskan saya pak jangan bawa saya ke kantor polisi, jangan hukum saya pak." Anton tiba-tiba bersimpuh di tanah demi meminta maaf dan juga meminta agar tidak di proses di kantor polisi, air matanya berurai saking takut nya.
"Kamu mabuk?!" Tanya salah satu polisi.
"Tidak pak," dengan cepat Anton menjawab.
"Apanya yang tidak! Itu mulut kamu bau comberan!" Bentak polisi.
"Iya pak saya minum tapi tidak mabuk pak," jawab Anton dengan takut.
"Minum apa kamu?"
"Minum oplosan pak hanya sedikit."
"Di mana kamu minum?! Sama siapa kamu minum?!" Interogasi pun berlanjut membuat Anton bingung menjawab, sebab jik dirinya jujur minum dengan teman, pasti polisi akan bertanya siapa saja teman nya? Yang akhirnya nanti semua teman nongkrong nya akan ikut terseret.
"Sen..sendiri pak!" Jawab Anton terbata.
"Bohong! Tadi teman mu naik panggung! Mana mereka sekarang!" Ujar pak polisi.
"Tidak tahu pak! Saya mohon maaf pak! Saya berjanji tidak akan mengulangi nya lagi! Saya bersumpah pak tidak akan berbuat seperti itu lagi." Ujar Anton bersimpuh dan berurai air mata.
__ADS_1
"Ya sudah sekarang kami memaafkan kamu! Tapi jika kamu berbuat jahat lagi, maka kami tidak akan melepaskan mu!" Ucap komandan polisi , mungkin karena Anton juga belum berbuat anarkis dan tidak sempat melecehkan biduan itu, lagi pula polisi pun memaklumi jika anton dalam pengaruh alkohol, jadi kali ini Anton dapat kebebasan, hanya saja jika Anton ketahuan berbuat hal yang melanggar lagi, maka polisi pun tidak akan memaklumi lagi, tapi akan langsung di masukan ke sel.
"Terima kasih pak! Terimakasih banyak, saya janji saya akan langsung pulang pak, saya tidak akan rusuh lagi di sini, bapak boleh pegang janji saya pak!" Ujar Anton senang, dirinya merasa lega sebab di bebaskan.
Anton langsung mencium tangan komandan polisi itu sambil terus mengulang kata terima kasih,
Setelah semua di anggap selesai Anton segera pulang, dirinya tidak perduli lagi kepada teman-teman nya,
***
Sorenya Anton pulang ke rumah, dia langsung masuk ke dalam rumah tanpa mengucapkan salam, Emak yang sedang menonton tv merasa jengkel dengan kedatangan Anton, pasalnya emak kaget tiba-tiba di hadapan nya ada manusia lewat, Emak kaget dikiranya yang masuk itu rampok,
"Kamu itu masuk rumah bukan nya ngucapin salam kek, ini masuk langsung nyelonong saja kaya ular!" Omel Emak kepada Anton, tapi Anton hanya melirik saja kepada Emak tanpa ada niat menjawab Omelan Emak.
Anton langsung masuk kamar dan merebahkan diri di kasur, dirinya merasa kaget tadi hampir di bawa ke kantor polisi, makanya dirinya memilih tidur saja dari pada keluyuran lagi.
Sementara Emak mengomel panjang pendek karena kesal kepada Anton,
"Waalaikum salam, eh Soni, masuk son, kita bicara di dalam rumah saja!" Ternyata orang yang bertamu kepada Emak itu si Soni , tetangga Emak yang di mintai tolong untuk membangun warung di depan rumah, rencana nya Emak akan membuka warung kelontong, Emak ingin uang yang seratus juta itu bisa di modalkan agar bisa bertambah banyak nantinya,
"Iya Mak," jawab sini sambil masuk rumah mengikuti Emak.
Setelah mereka duduk di ruang tamu, mereka pun lantas membicarakan pembangunan rumah, tanpa mereka sadari Anton menguping pembicaraan Emak di belakang pintu ruang tengah.
Anton tersenyum senang, sebab mertua nya ternyata banyak uang, buktinya dia akan membangun warung di teras rumah untuk berniaga, tentu saja untuk mewujudkan semua itu di butuhkan uang banyak, dan kini Anton yakin jika mertuanya itu sudah mendapatkan uang dari keluarga Asti, dirinya sangat yakin jika Emak sekarang memiliki uang puluhan juta,
"Ya sudah son, pokok nya atur saja pembangunan nya, aku butuh cepat ya, soalnya jika kelamaan nantinya duit modalku bisa habis di pakai buat hari-hari!" Ujar Emak memberi ultimatum.
"Beres Mak! Tenang saja ya, nanti Soni akan selesaikan secepat mungkin! Emak tenang saja, serahkan semuanya kepada Soni!" Ucap Soni jumawa.
__ADS_1
Kesempatan sudah terjadi, dan Soni pun berpamitan pulang, Anton segera masuk kembali ke dalam kamarnya, dia takut ketahuan emak jika dirinya menguping pembicaraan Emak.
Magrib pun tiba, Euis yang memang pulang kerja sore kini sudah kembali ke rumah, mereka sekarang sedang makan malam di meja makan.
Emak menikmati makan nya tanpa memperdulikan anak menantunya yang sedang saling berbincang.,
"Kang, tadi bagaimana cari pekerjaan nya,? Sudah dapat belum?" Euis menanyakan soal pekerjaan kepada Anton.
"Belum neng, tadi akang sudah keliling cari kerjaan, tapi ternyata susah neng," ujar Anton dengan santai memberi jawaban kepada Euis,
"Sabar ya kang, mungkin belum ada lowongan, yang penting akang harus semangat ya." Ujar Euis menyemangati suaminya
"Cari kerjaan atau minum kamu ton!?" Ujar Emak bertanya kepada Anton, tapi matanya tetap menatap piring yang ada di hadapan nya.
"Maksudnya apa Mak?" Tanya Euis, wajah Anton langsung pucat, Anton takut jika Emak tahu kelakuan nya tadi siang di pasar, padahal Emak tidak tahu, yang emak tahu tadi mulut Anton tercium bau alkohol ketika Anton pulang siang tadi.
"Tanyain sama suami itu is, tadi dia minum di mana? Pulang-pulang mulutnya bau alkohol!" Ucap emak
"Oh iya neng, tadi ketika akang keliling cari pekerjaan, akang ketemu teman lama, terus ngajak minum satu gelas, akang mau nolak tapi tidak enak neng!" Kilah Anton memberi alasan.
"Oh, iya ga apa-apa kang, biasa itu mah,! Aku juga tidak marah kok kang!" Jawab Euis sambil tersenyum kepada Anton, suaminya pun merasa lega dengan jawaban Euis.
Emak tidak bicara apa-apa lagi, dirinya juga tidak begitu perduli dengan Anton, mau mabok pun emak tidak perduli, emak selesaikan makan nya, setelah selesai emak langsung beranjak ke ruang tengah untuk menonton tv.
"Neng, akang boleh tanya tidak?" Bisik Anton kepada Euis.
"Boleh! Tanya apa?" Jawab Euis sambil mengikuti suaminya bicara pelan.
"Apa emak sudah dapat uang yang seratus juta itu neng?" Tanya Anton langsung to the poin, Euis langsung mengerutkan keningnya, pasalnya Anton menanyakan sesuatu yang bukan jadi urusan nya.
__ADS_1
"Memang nya kenapa kang?" Tanya Euis.