Suami Benalu Banyak Ulah

Suami Benalu Banyak Ulah
Euis datang


__ADS_3

Aku melangkah masuk ke rumah setelah kepergian pemuda itu, aku pun melaksanakan salat isya dulu,


Setelah shalat Isa aku langsung terlelap tidur, jam 3 lewat sepuluh aku terbangun, rupanya kang Entis malam ini memang tidak pulang, aku bangkit melihat ke ruang tamu dan membuka kamar tamu, semua kosong tidak ada tanda-tanda kang Entis tidur di sana, jadi memang dia tidak pulang.


Aku melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri sekalian mengambil wudhu untuk melaksanakan shalat tahajud..


Hanya kepada sang khalik lah aku memasrahkan diri, segala hidup dan mati ku aku pasrahkan, termasuk segala urusan di dunia fana ini.


Aku bermunajat kepada sang khalik sampai waktu subuh tiba, dan lanjut melaksanakan shalat subuh, dan lanjut mengaji, ada ketenangan yang menjalar di hatiku setelah aku melaksanakan ibadah kepada sang pemilik diri dan juga sang semesta.


Setelah selesai mengaji, aku lekas berganti pakaian hendak olah raga pagi, jalan-jalan pagi di sekitar komplek, sambil mencari sarapan sebelum berangkat kerja, aku tidak masak karna tabung gas ku sudah raib, dan aku sengaja tidak membeli lagi karna percuma, aku pun akan segera angkat kaki dari rumah ini setelah mengajukan surat perceraian nanti.


Belum selesai aku mengganti pakaian tiba-tiba terdengar suara motor berhenti di depan rumah, mungkin kang Entis pulang, tapi motor siapa yang dia pake?


"Teh.. teh Asti..!"


Itu suara Euis adik semata wayang kang Entis, ada apa dia pagi-pagii sudah kesini, yah.. aku memang heran jika Euis tiba-tiba datang ke mari apalagi sepagi ini, dia memang gak pernah mau datang kesini, entah apa alasan nya.


"Ya, tunggu.."


Aku segera keluar kamar dan membuka pintu rumah 


"Teh Asti, Euis di suruh emak ambil uang yang di pinjam kang Entis kemarin, uang itu hari ini mau di pake setoran motor Euis teh."

__ADS_1


Tanpa basa basi euis langsung pada inti nya, yaitu menagih hutang, sedangkan hutang yang dia tagih pun aku tidak tau menahu.


"Yang minjem siapa?"


"Kang Entis"


"Kalo yang minjemnya kang Entis kenapa nagih sama teteh?"


"Kang Entis kan di suruh teteh minjem sama emak!"


"Teteh gak ngerasa nyuruh kok, jadi Euis nanti tagih aja langsung sama orang nya "


Aku tetap mencoba berbicara baik-baik, aku tak mau mengundang keributan di pagi buta ini.


Euis memang bekerja di sebuah toko di pasar sebagai pelayan toko, dia memang mencicil motor nya dengan hasil usaha sendiri, mungkin uang yang di pinjam ke emak itu uang Euis yang di titipkan Euis ke emak.


"Ya sama, teteh juga mau kerja, ini mau sarapan, Euis mau ikut? Teteh mau beli nasi uduk."


"Gak usah basa-basi deh teh, Euis kesini tuh buru-buru,!" Ucapnya dengan memasang wajah jutek 


"Teteh gak basa basi euis, teteh serius ngajak Euis sarapan pagi." Aku masih berusaha setenang mungkin.


"Gak perlu! Euis buru-buru, mana duitnya!"

__ADS_1


"Teteh gak ada uang, jadi nanti minta aja sama kang Entis ya."


Aku sengaja berbohong bilang gak ada uang, karna aku memang tidak mau membayarkan hutang kang Entis, rasa nya sudah cukup aku selalu di bodoh-bodohin sama kang Entis, mulai sekarang tidak akan lagi aku keluarkan uang sepeserpun untuknya.


Aku bukan nya tidak kasihan sama Euis, tapi aku ingin kang Entis mempertanggung jawabkan sendiri apa yang dia buat, termasuk hutang nya kepada emak, biarlah itu jadi urusan mereka, aku gak perduli lagi.


"Gayanya kerja kantoran! Bayar hutang segitu saja tidak mampu!"


Euis menyindirku langsung di depan ku, sebenarnya aku tersinggung, tapi kucoba menahan hati yang mulai bergemuruh menahan emosi ini.


"Yah maklum saja is, teteh kerja bukan buat sendiri, tapi buat memenuhi kebutuhan rumah tangga dan menanggung kebutuhan suami yang pengangguran." 


Ucapku sambil tersenyum manis, padahal hati menangis.


"Tidak usah menyalahkan orang lain teh jika memang teteh tidak mampu!" Cibir Euis kepadaku.


"Teteh tidak menyalahkan orang lain , tapi teteh menyalahkan suami teteh yang tidak tahu diri, sudah pengangguran, tukang mabok, tukang jualin barang orang, dan sekarang tukang hutang., Dia yang berhutang aku yang kena getahnya!" Ucapku Emosi.


"Euis ke sini mau minta duit Euis bukan mau denger curhatan teteh, ayo cepatlah bayar hutang nya ini aku sudah kesiangan teh, sebentar lagi aku masuk kerja !" Sewot Euis tidak sopan, dan dia terus saja meminta aku membayar hutang kakak nya.


"Teteh juga tidak ada waktu untuk berdebat, teteh mau pergi sarapan dulu terus lanjut kerja, sekarang silahkan Euis tunggu kang Entis sampai di sini, kalau tidak mau nunggu juga silahkan Euis cari kang Entis ke tempat nongkrongnya."


Ucapku sambil bersiap - siap keluar memakai sandal.

__ADS_1


"Teh ayolah bayar dulu utang nya, nanti motorku gimana nasibnya jika uang setoran nya tidak di bayar!" Ucap Euis marah dan mukanya merah menahan tangis, aku bukan nya tidak kasihan tapi aku tidak ingin selalu terus terusan di manfaatkan suamiku, biarlah itu urusan mereka, jika kang Euis mau uangnya kembali ya seharusnya minta sama kakaknya itu bukan kepadaku.


__ADS_2