
"Apa!, " Jawabku tidak kalah keras dari kang Entis.
"Kami belum beres ngomong sudah pergi saja!, Duduk!" Perintah kang Entis kepadaku.
"Sudahlah kang, aku capek mau pergi kerja dulu." Ujarku sambil tetap berdiri.
"Duduk dulu sebentar as, emak mau bicara." Ucap emak, aku pun akhirnya duduk kembali walau malas tapi aku masih menghargai dirinya sebagai orang tua.
"jika suami meminjam uang , itu berarti dia benar-benar butuh!, Jadi kamu harus maklum, Entis kan gak kerja, dia butuh uang, terus kamu gak mau kasih, ya jalan satu-satu nya si Entis pasti berhutang dong!, Kalo kemarin dia minta uang sama kamu, terus kamu kasih, pastinya si Entis gak bakalan cari pinjaman, dalam masalah ini kamu yang salah as!."
Panjang lebar emak menasihati aku, seolah aku yang menjadi terdakwa dalam hal ini.
"Ya gak gitu juga kali Mak, kalo kang Entis meminjam uang karna keperluan mendesak dan darurat baru bisa di mengerti, tapi ini, dia menjual barang dan berhutang hanya untuk mengantar jemput seorang perempuan, yang entah siapa itu pun Asti tidak kenal, pas giliran bayar hutang, Asti harus membayar, apa itu tidak keterlaluan Mak?!" Ucapku sewot karena emosi.
"Keterlaluan gimana as?, Ya gak keterlaluan lah, itu hal biasa!" Ujar kang Entis enteng menjawab ucapan ku.
"Sudah lah, pokoknya Asti gak mau bayar hutang akang titik!." Teriak ku
Rasanya aku ingin segera pergi dari sini, tapi mau tidak mau aku harus meladeni mereka dulu, karna aku tidak ingin mereka terus terusan menindasku sesuka hati.
"Kalo kamu gak mau bayarin hutang si Entis, terus uang emak gimana? Itu uang buat bayar motor si Euis loh!" Emak menyela ucapanku.
"Minta saja si Tuti Mak, kan dia yang pakek uang itu bukan Asti." Jawabku yang tiba - tiba menjawab seperti itu, tapi benarkan, yang pakek si Tuti masa aku yang harus bayar, Tidak akan!
__ADS_1
"Kurang ajar kamu as! Jangan bawa-bawa Tuti dalam maslah ini!"
Kang Entis mulai emosi, terlihat dari rahangnya yang mengeras.
"Loh kok marah!, Asti kan cuma kasih solusi aja, yang pakai duit emak siapa, yang suruh bayar siapa!"
Rasa sabarku sebenarnya sudah hilang, tapi aku berusaha tenang, demi menghadapai mereka, aku harus menggunakan otak bukan amarah.
"As, si Tuti itu janda, dia tuh kemarin itu pulang kampung ada perlu, tapi tidak ada diut, dia kesana mau ngurus harta warisan keluarga nya, jadi wajar lah kalo dia minta sama si Entis, nanti jika harta warisan nya keluar kamu juga bisa ikut menikmatinya." Oh jadi begitu ceritanya, sekarang aku paham kenapa emak dan kang Entis ngotot membantu Tuti karena ada udang di balik batu!
"Buk...!"
Kang Entis melirik menghardik ibunya sekaligus menatapnya dengan tajam, ibu pun seketika menutup mulutnya secara spontan.
Aku menatap tajam mereka bergantian.
"Eh .. itu.."
Ibu gelagapan.
"Aku sudah bilang, si Tuti saudara jauh ibu, ya wajar dia minta sama aku, karna di sini cuma aku sama ibu saudaranya"
Kang Entis mencoba menjelaskan, tapi aku tau mereka sedang berbohong, baiklah aku tidak perlu bersusah payah mencari kesalahan kang Entis, sekarang aku tinggal mencari tau di mana tinggalnya si Tuti itu, aku akan dengan senang hati melepaskan kang Entis buat dia.
__ADS_1
Setelah itu aku akan menggugat cerai.. kita lihat nanti bangĀ
"Asti, ayolah bayar hutang sama emak, kasihan si Euis, pulang dari sini dia menangis , uang nya aku pakai kemarin."
Kang Entis mulai melunak, dia setengah mengiba meminta aku membayar hutang.
"Maaf kang, Asti gak punya uang sebanyak itu, uang sejuta itu buat Asti banyak, jadi Asti gak bisa bantu akang bayarin hutang"
Aku benar-benar lelah dengan situasi ini, pulang sarapan mau buru-buru kerja malah di siapkan masalah seperti ini, aku bangkit dari duduk ku lalu melangkah ke kamar.
"Kamu memang kurang ajar ya as! Emak selama ini selalu bersabar sama kamu, kamu tuh bikin hidup si Entis jadi berubah, sekarang kamu mau angkat tangan dengan masalah ini."
Emak tiba-tiba marah-marah terhadapku, aku juga tidak mengerti kenapa emak membenciku.
"Maksud emak?!"
Tanyaku mulai emosi.
"Kamu tahu kenapa si Entis berubah jadi pemabuk?!, itu karena kamu tidak bisa membuat dia nyaman, seharusnya kamu introspeksi diri bahwa kamu itu tidak mampu membahagiakan si Entis, si Entis tertekan dengan kamu yang belum kasih anak!" Kini emak marah dan membahas sesuatu yang jauh dari topik sebelumnya, yang awalnya ngomongin hutang kenapa jadi anak yang di bahas!,
"Iya bener itu as , aku tertekan!" Ucap kang Entis menimpali ucapan emak nya.
"Terus semuanya salah aku!" Jawabku sambil menatap tajam keduanya.
__ADS_1
"Iya lah, masa salah si Emak!" Jawab Emak sarkas.