
"Tidak usah pak Yono, saya mau naik taksi saja." Ucap yoga menolak.
"Jika begitu saya permisi dulu pak, untuk mengurus mobil bapak" ujar pak Yono berpamitan kepada bos nya dan juga kepada semua orang yang berada satu meja dengan bosnya, terutama pak Yono mengangguk sopan kepada Asti, pak Yono mengira Asti kekasih pak yoga, Asti juga membalas anggukan pak Yono dengan sopan.
"Memangnya nak Yoga mau kemana sekarang?" Tanya bapak.
"Saya belum tahu pak, acara hari ini berantakan, sepertinya hari ini saya ingin istirahat dulu, tapi lagi malas pulang ke rumah." Ucap yoga sambil tersenyum.
"Ya sudah bagaimana kalau ikut ke rumah saja, Umar kan hari ini masuk siang, dia pasti ada di rumah." Ucap ibu antusias.
"Ehm boleh buk, itu juga jika saya tidak merepotkan" ucap yoga sedikit sungkan, tapi yoga penasaran,dia juga ingin tahu keadaan Umar sekarang, walau bagaimana pun peristiwa kemarin yang menimpa Umar adalah peristiwa yang sangat serius, jika Umar tidak punya bukti bahwa dirinya tidak bersalah sudah pasti Umar akan masuk penjara.
"Tentu saja tidak merepotkan, kami senang kok." Ucap bapak tulus.
Akhirnya mereka pun pergi dari kios itu setelah membayar sarapan mereka, bahkan ada sedikit drama antara Asti dan yoga, keduanya ngotot ingin membayar tagihan, yoga kukuh ingin membayar begitupun asti, tapi akhirnya Asti mengalah karena yoga lebih dulu membayar, bapak dan ibu hanya melihat sambil menggelengkan kepala sambil tersenyum,melihat perdebatan yoga dan Asti, bahkan ada terbersit dalam hati ibu jika seandainya Asti berjodoh dengan yoga! Tapi pikiran itu segera di tepis nya karena ibu sadar jika tarap sosial antara keluarganya dengan yoga jauh bagai bumi dan langit, yoga seorang pengusaha sukses sedangkan keluarganya hanya lah orang biasa,jadi mana mungkin mau sama Asti, itu lah yang ada di pikiran ibu.
"Pak jika boleh, biar saya yang mengemudi"
Yoga menawarkan diri untuk membawa kemudi mobil.
"Oh iya silahkan " ujar bapak sambil menyerahkan kunci mobil.
Ibu dan Asti lantas naik di kursi belakang, sementara bapak duduk di sebelah yoga, mobil melaju dengan kecepatan sedang membelah jalan pagi menjelang siang ini, untung saja jalan tidak macet hingga bisa melancarkan perjalanan mereka menuju rumah orang tua Asti.
Akhirnya mereka pun sampai di halaman rumah, tapi rumah begitu sepi seperti tidak ada penghuni, goreng dan jendela rumah yang biasanya terbuka, kini tertutup rapat seperti tidak ada penghuni, Asti segera turun dari mobil dan membuka gerbang rumah, mobilpun meluncur masuk ke halaman rumah, semua orang yang berada di dalam mobil pun keluar.
"Teh kok sepi!?, Umar kemana ya? Apakah masih tidur?!" Berbagai pertanyaan ibu lontarkan kepada Asti, kontan Asti menggelengkan kepalanya tanda tidak tahu, bagaimana dia bisa tahu Umar kemana sedangkan dia dan ibu baru saja tiba.
__ADS_1
"Assalamualaikum, Mar!, Umar!" Asti mengucapkan salam sambil mengetuk pintu dan memanggil nama adiknya.
"Mungkin ketiduran kali Umar nya buk!" Ucap bapak,
"Mar, mar, Umar." Teriak ibu sambil menggedor rumah.
Sekitar hampir lima belas menit mereka menggedor pintu rumah, akhirnya pintu itu pun terbuka, wajah Umar begitu pucat, tapi bibirnya menyunggingkan senyum menyambut semua orang, begitu melihat wajah Umar, ibu kontan kaget, lalu menghampiri anak lelakinya itu, begitu tangan nya memegang kening Umar terasa panas, tapi badan Umar menggigil seperti kedinginan.
"Kamu sakit nak?" Ucap ibu khawatir.
"Iya buk, maaf tadi Umar dengar kalian manggil, tapi tadi Umar di kamar mandi buk, perut Umar sakit sekali, jadi telat buka pintunya." Umar meminta maaf kepada semuanya karena dirinya tidak cepat membuka kan pintu rumah karena sedang di kamar mandi, Umar merasa tidak enak hati kepada yoga karena sudah membuat bos nya itu menunggu di luar, Umar pun heran kenapa ada yoga bersama keluarganya.
"Iya tidak apa-apa nak, ayo sebaiknya kamu istirahat di kamar saja biar ibu antar." Ucap ibu sambil memapah Umar untuk masuk kamar, tapi Umar menolak secara halus, dia ingin duduk di ruang tamu.
"Di sini saja buk, jika sakit di tidurin terus rasanya badan semakin sakit, biar Umar duduk-duduk di sini saja ya buk." Ucap Umar
"Ya sudah kalau begitu, ibu siapkan minuman dulu ya,sekalian siapkan bubur ayam untuk sarapan kamu." Ucap ibu sambil pergi ke dapur tanpa menunggu jawaban dari Umar.
"Demam teh" ucap Umar,
"Masa jagoan sakit!" Kelakar Asti sambil tersenyum.
"Yeee , Umar juga kan manusia teh bukan patung" jawab Umar sambil nyengir.
"Ya sudah kalau begitu Asti juga permisi sebentar ya mau bantu ibu di dapur dulu." Ucap Asti meminta ijin pergi ke dapur kepada semua orang yang ada di ruang tamu.
"Iya silahkan." Jawab yoga sambil tersenyum.
__ADS_1
"Mar, mau saya antar ke dokter?" Tanya yoga kepada Umar.
"Tidak usah pak, mungkin istirahat yang cukup juga sakit saya sembuh pak, cuma demam biasa saja kok!" Ucap Umar sambil tersenyum.
"Ya sudah kalau begitu sebaiknya kamu tidak usah masuk kerja dulu, kamu istirahat dulu biar cepat pulih " lanjut yoga menyarankan Umar untuk tidak masuk kerja.
"Baik pak, terima kasih atas pemberian ijin nya, nanti saya akan telpon bagian HRD untuk memberi tahu jika saya hari ini tidak dapat masuk kerja." Ujar Heru agak sungkan.
"Iya itu bisa di atur, kamu sebaiknya istirahat sampai kondisi pisik nya benar-benar sehat saja mar, tidak usah mikirin kerjaan." Yoga berusaha memberi semangat kepada Umar bahwa dia sebagai pemilik tidak keberatan jika Umar tidak masuk kerja karena harus istirahat.
"Mar, kamu beruntung punya bos pengertian!" Ucap bapak tulus.
" Ah bapak bisa saja." Yoga jadi salah tingkah di puji bapak.
"Pak, bukan nya liburan nya sampai Minggu depan? Kenapa sekarang sudah pulang?, Terus ketemu bang Yoga di mana kok bisa barengan ?" Umar memang heran kepada keluarganya, mereka seharusnya masih liburan sesuai rencana awal, tapi kenapa mereka sudah pulang.
"Kami pulang karena khawatir sama kamu mar!" Jawab ibu yang baru keluar dari dapur sambil membawa nampan isi air teh manis panas untuk semua orang, di ikuti Asti yang membawa nampan berisi kue brownis dan cemilan kecil lain nya, mereka segera menyimpan bawaan nya di atas meja untuk bisa di nikmati bersama.
"As ambilkan bubur ayam sama obat demam yang sudah ibu siapkan dekat mangkuk bubur di meja makan ya." Titah ibu kepada anak perempuan nya.
"Iya buk" Asti segera berlalu ke dapur untuk mengambil apa yang di perintahkan ibunya.
"Khawatir kenapa buk?" Jawab Umar penasaran, walau hati kecilnya yakin jika keluarganya sudah mengetahui kejadian kemarin.
"Ini mar makan bubur dulu deh, terus minum obat" Asti keluar dari dapur sambil membawa mangkuk bubur dan obat demam, Umar pun menerima nya tapi mangkok buburnya di simpan di meja tidak di makan nya.
"Makan lah dulu mar, terus minum obat." Titah bapak.
__ADS_1
"Nanti saja pak, Umar tidak selera." Ucap Umar meringis melihat bubur, bukan tidak suka tapi selera makan Umar benar-benar sedang hilang.
"Makan lah sedikit saja mar, paksaian saja walau cuma satu sendok, soalnya tidak boleh makan obat jika perut belum terisi mar." Ucap yoga.