
Kini umar, Yoga dan Ayu berada di rumah sakit, ibunya Ayu kini berada di ruang ICU, kata dokter pembuluh darah di otak ibu pecah, jadi harus segera di operasi, tapi harus melalui beberapa prosedur dulu, dan yoga menyerahkan semua kepada dokter untuk menangani ibu nya, Yoga meminta yang terbaik untuk sang ibu.
Ayu duduk di depan ruang ICU sambil menangis di temani Umar, karena yoga masih berada di ruangan dokter yang menangani ibu.
"Sabar ya yu, semoga ibu segera sehat kembali," ujar Umar sambil mengusap punggung telapak tangan Ayu, gadis itu pun hanya mengangguk, air matanya terus saja berjatuhan, Umar iba melihat Ayu sesedih ini, dengan reflek tangan Umar mengusap cairan bening yang membasahi pipi Ayu, air mata itu di hapus Umar dengan penuh kelembutan, ayu terdiam kaget dan grogi, tapi itu hanya sebentar, dua merasa damai di perlakukan lembut seperti itu oleh Umar,
Yoga yang berada di ruangan dokter merasa cemas, sebab tiba-tiba saja dokter pamit ke luar ruangan untuk segera melihat buk Wina (ibu Yoga dan ayu) karena seorang perawat datang dan memberitahukan jika buk Wina keadaan nya semakin memburuk, dokter itu terburu-buru, hingga yoga pun cepat mengikuti dokter itu dari belakang, pikiran nya sudah bercampur aduk, antara sedih dan cemas.
Di lihat nya ayu menangis di pelukan Umar, dan ketika melihat yoga, ayu berlari dan langsung memeluk kakak nya sambil menangis.
"Tenang yu, tenang.. ibu pasti selamat." Ujar Yoga menenangkan adiknya.
Mereka menunggu di luar ruang ICU dengan wajah tegang, hingga akhirnya dokter keluar dan mengatakan jika ibu mereka telah meninggal, jerit tangis ayu membuat siapa pun akan merasa iba, walau yoga tidak menangis seperti ayu, tapi hatinya sangat bersedih, dia hanya menangis di dalam hati, Yoga segera mengurus kepulangan sang ibunda untuk di semayamkan di rumahnya, Umar menelpon ibunya dan memberi kabar duka, Asti dan ibu berjanji akan datang ke rumah Yoga untuk melayat.
***
__ADS_1
Setelah ibu Wina di kuburkan di pekuburan keluarga, kini yoga dan ayu hanya di temani oleh keluarga Asti saja, sebab yang lain nya sudah kembali ke rumah masing-masing sesaat setelah acara penguburan jenazah.
Di ruang keluarga, bapak Asti sedang memberi semangat kepada ayu dan Yoga, agar keduanya kuat dalam menghadapi ujian ini, Asti duduk di samping ayu, Umar duduk dekat ibu dan bapak, sementara Yoga duduk di sofa yang hanya bisa di duduki hanya satu orang, Yoga tertunduk sedih.
"sayang, maaf aku baru tahu barusan jika ibu sudah tiada" tiba-tiba seorang perempuan masuk ke ruang keluarga tanpa mengucapkan salam, dia langsung masuk rumah karena memang pintu ruang tamu sedang terbuka secara lebar.
Yoga spontan kaget karena perempuan yang di bencinya kini berdiri di hadapan nya.
Ayu yang sedang bersedih pun spontan menengok ke arah perempuan yang sedang berdiri di ruangan ini dengan pakaian yang kurang pantas, ayu sangat mengenal siapa perempuan ini, dia adalah mantan kakak iparnya, ayu juga sama seperti Yoga, dia sangat membenci Rosi.
"Duh tenang yu, ini Kakak datang untuk berbela sungkawa, kakak minta maaf jika baru datang." Ucap Rosi dengan muka di sedih-sedihkan seolah dia juga ikut bersedih atas kehilangan mantan mertuanya itu, padahal dalam hati Rosi tertawa, dia sendiri selama menikah dengan Yoga hanya bertemu dengan buk Wina dua kali, itu juga di rumah sakit gila, bahkan buk Wina sendiri tidak merespon apa-apa sewaktu mereka bertemu, karena memang buk Wina sudah kehilangan kewarasannya, jangan kan sama Rosi menantunya, terhadap yoga dan ayu saja buk Wina tidak mengenalnya lagi
Yoga langsung berdiri dan menyeret Rosi keluar rumah.
"Pergi kamu dari rumahku! Aku tidak sedang ingin di ganggu!" Usir Yoga pelan tapi tegas mengusir Rosi, dia tidak ingin suara nya terdengar oleh orang yang berada di dalam rumah, tapi tetap saja suara Yoga bisa di dengar oleh semua orang, bahkan Asti sendiri mendengar pengusiran yoga kepada Rosi.
__ADS_1
Tentu saja Asti terkejut melihat Rosi memanggil Yoga dengan sebutan sayang, tapi tanggapan yoga begitu dingin dan juga kasar mengusir perempuan itu, Asti penasaran dan sedikit patah hati kepada Yoga, karena ternyata Yoga sudah memiliki perempuan lain, apalagi perempuan ini begitu cantik dan seksi, Asti langsung menunduk menyembunyikan wajahnya yang langsung sedih melihat Yoga dan perempuan itu di luar rumah.
"Dasar perempuan tidak punya urat malu!" Desis ayu, dan terdengar oleh Asti.
"Siapa yu?!" Spontan Asti bertanya kepada ayu.
"Mantan istri bang Yoga, dia perempuan matre dan juga tukang selingkuh, mau apa dia datang kesini coba! Aku yakin dia pasti ada maksud jelek datang kesini!" Ujar ayu menjelaskan siapa perempuan itu.
"Itu Rosi mantan istri bang yoga yu?!"tanya Asti, sebab Asti sudah tahu cerita tentang Yoga dan mantan istrinya itu dari ayu, dulu ayu pernah cerita, dan terkadang ayu sering menyebut nyebutkan nama Rosi, ayu sangat membenci Rosi.
Asti sedikit lega begitu tahu yang datang itu Rosi, karena Asti tahu jika Yoga sudah menceraikan Rosi dengan talak tiga, jadi kecil kemungkinan mereka akan rujuk, tapi jika ternyata Rosi sudah menikah lagi dan kini sudah menjadi janda lagi, tentunya Rosi dan yoga bisa saja kembali, Asti pun cemas takut yoga kembali rujuk dengan mantan istrinya, walau dirinya bukan siapa-siapa nya yoga, tapi entah kenapa, Asti merasa sangat takut jika yoga memiliki perempuan lain, rasa cemburu pun tiba-tiba datang menyerang perasaan nya.
Pikiran Asti kini bercampur aduk, dia takut kehilangan Yoga, padahal yoga hanyalah teman biasa saja bukan kekasih ataupun suaminya, apa mungkin Asti juga memang sangat mencintai Yoga? Mungkin saja iya, Asti memang sangat mengagumi Yoga secara diam-diam, tapi perasaan itu segera dia halau, karena Asti merasa masih punya tanggung jawab kepada keluarga Entis, Asti tidak ingin membuka hatinya dulu kepada siapa pun, sebelum persoalan dirinya dengan keluarga Entis selesai.
Walau hatinya sangat menyukai Yoga, tapi dia bertekad untuk menghapus rasa cinta itu dari hatinya, Asti sangat takut patah hati, dia tidak ingin cinta nya bertepuk sebelah tangan, Asti hanya ingin fokus mencari uang sebanyak seratus juta untuk mengganti rugi kepada keluarga emak, agar dirinya tidak selalu di hantui rasa bersalah terus menerus
__ADS_1
Sementara Rosi kini hatinya merasa tersinggung atas pengusiran yoga, tapi urat malu Rosi kini di kesampingkan dulu, dia tadi datang kesini bermaksud untuk mencoba kembali menggoda yoga, tapi ternyata di rumah ini sedang ramai dengan rangkaian bunga dengan ucapan bela sungkawa dari rekan bisnis yoga, dari situlah Rosi tahu jika mantan mertua yang gila itu sudah tiada.