Suami Benalu Banyak Ulah

Suami Benalu Banyak Ulah
di antar ayu


__ADS_3

"Aku tidak pernah menceraikan mu!" Teriak kang Entis.


Kang Entis lalu menarik- narik pergelangan tangan ku dengan kuat, untuk masuk ke dalam mobil hitam itu, tentu saja aku berontak, tidak mau ikut dengan nya, aku berteriak minta tolong, tapi mungkin orang yang berada di sana bingung, soalnya yang menarik tangan ku adalah suamiku sendiri, mereka mungkin bingung karena ini urusan rumah tangga.


"Kang jika memang ini istrinya sebaiknya di selesaikan secara baik-baik saja tidak dengan keributan seperti ini, apalagi menarik - narik tangan istrinya seperti ini, kasihan dia kesakitan." pak Wiryo satpam di kantorku berusaha mengajak bicara dengan nada yang di rendahkan, mungkin dia bingung harus bersikap bagaiman, karena yang menarik tanganku adalah suamiku, sedangkan dia melihat wajahku yang ketakutan membuat dia ingin menolongku, aku rasa dia sedang membujuk kang Entis agar tidak berbuat kasar padaku.


"Aku ini suaminya!, Kamu dengarkan!, Pergi kalian semua, aku akan membawa istriku kembali ke rumah.!" Teriak kang Entis kepada semua orang yang berada di sana.


"Jika kamu suaminya, kenapa istrimu begitu ketakutan!, Jangan-jangan kamu penculik yang ingin menculik perempuan ini ya." Tegur seorang lelaki yang memakai seragam satpam yang di dada nya terpampang namanya, yaitu Andika, dia juga, rekan pak wiryo dia bicara sambil mengabadikan kami memakai Vidio dari ponselnya.


"Jangan Vidio kan kami bangs@t! Atau aku hajar kamu!, Cepat hapus vidionya.!" Bentak kang Entis melepaskan pegangan tangan nya dari pergelangan tanganku, dia berusaha merebut hape Andika.


"Kenapa emangnya jika aku Vidio?!, Kamu takut ya jika Vidio ini jadi bukti kekerasan, dan akan di laporkan ke pihak yang berwajib,!" Ucap Andika dengan berani, tapi sambil menyembunyikan hapenya di balik punggung, dan mendorong kang Entis dengan kuat agar tidak mendekatinya.


"Pantesan arogan, rupanya dia habis minum alkohol!" Ucap seorang pria yang berada di samping Andika, sumpah aku sangat malu sekali, dengan kejadian ini, tidak terasa air mata ini keluar dengan sendirinya , antara takut dan juga malu.

__ADS_1


Tiba-tiba dari dalam mobil hitam yang di kendarai kang Entis itu keluar enam orang lelaki yang berpenampilan bak preman, dia mendekati kang Entis yang sedang bersitegang dengan lelaki yang mendorongnya itu.


"Jangan kurang ajar kamu ya berani mendorong temanku!" Dengan wajah garangnya seorang teman kang Entis yang berperawakan tinggi krempeng tapi memiliki codet di pelipis kanan nya itu melotot kepada Andika, sementara andika yang di gertak oleh preman bawaan kang Entis tidak bergeming sedikitpun ,dia malah menantang dengan tatapan tajamnya.


"Kamu mau cari ribut di sini!, Apa kamu mau kami keroyok rame-rame!" Seru andika itu sambil menunjuk sekeliling nya, benar saja di sana orang-orang sudah mulai berdatangan ke tempat kami yang tengah bersitegang, entah mereka datang dari mana tiba-tiba masa sudah banyak berkerumun


Pak wiryo rupanya bisa membaca situasi jika ini tidak akan bisa di ke dalikan oleh dirinya , bila keributan terjadi sekarang maka akan ada bentrokan antara masa dan preman ini, diapun segera menarik Andika untuk tidak meladeni preman itu, tapi teman kang Entis sepertinya ingin mengundang keributan disini soalnya posisi mereka seperti siap menghajar Andika dan mengajar siapa saja yang ikut campur urusan kang Entis, pak satpam yang tadi mendorong kang Entis yang tidak lain adalah Andika tentu merasa tertantang lagi dan tidak mau di lerai oleh pak Wiryo,


"Sudah bang,!, Jangan ribut di sini! Sebaiknya urusan teteh dan akang ini di selesaikan secara baik-baik, jangan ada perkelahian yang tidak bermanfaat seperti ini, nanti nya akan membuat diri kita susah sendiri." Pak Wiryo berusaha melerai, agar tidak terjadi pertikaian antara masa dan preman yang di bawa kang Entis, dia menyuruh kang Entis menyelesaikan masalah rumah tangga ku secara baik-baik.


Tapi rupanya kang Entis dan kawan nya gentar juga ketika melihat masa semakin banyak berdatangan, tanpa bicara apa-apa lagi , mereka langsung masuk ke dalam mobil dan meninggalkan tempat ini dengan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, masa pun menyoraki mereka, dan mulai membubarkan diri setelah kang Entis pergi.


Aku yang shock langsung terduduk di tepi jalan, rasanya kaki ini tidak bertenaga, aku pun menangis ketakutan.


"sudah mbak, mereka sudah pergi, ini air di minum dulu, jangan takut lagi, mbak sudah aman sekarang!" Pak Wiryo menghampiriku sambil menyodorkan air mineral dalam gelas plastik yang masih di segel.

__ADS_1


Aku pun mengambil air yang di berikan pak wiryo dengan tangan gemetar, lalu meminum air itu sampai habis.


"Sebaiknya mbak telpon keluarga mbak saja untuk menjemput mbak di sini, jika mbak nekat bawa motor , takutnya mbak tidak konsentrasi di jalan dan terjadi kecelakaan, atau lebih takut lagi mereka mencegat mbak di jalanan lagi!" Ucap Andika memberi saran agar aku minta di jemput keluargaku, ada benarnya juga ucapan Andika, aku takut kemungkinan-kemungkinan yang andika ucapkan bisa terjadi padaku, aku pun semakin takut dan segera menelpon ayu untuk menjemput ku, dan menceritakan kejadian barusan, hanya ayu yang ada dalam pikiran ku, sebab jika aku telpon bapak atau Umar, aku takut mereka terkejut dan cemas, tapi aku lebih takut lagi jika Umar nanti marah dan mengejar kang Entis, aku bukan nya takut kang Entis di hajar Umar, tapi aku takut nanti umar yang jadi di keroyok para preman teman nya kang Entis.


Kebetulan sekali ayu tidak berada jauh dari lokasi ini, tadi dia katanya sedang mampir di warung bakso yang berada di wilayah sini juga, ayu memintaku untuk menunggunya, aku pun mengiyakan akan menunggu mereka di sini, lantas pak Wiryo mengajak ku menunggu ayu di Pos jaga satpam, di pos itu ada beberapa rekan pak Wiryo yang memang aku juga mengenal mereka, mereka menghiburku agar aku tidak takut, motorku juga di amankan oleh salah satu satpam itu untuk di simpan di parkiran, biar nanti besok saja aku ambil pikirku, aku akan ikut ayu di mobil Abang nya.


Tidak berapa lama menunggu, mobil Pajero putih yang di kemudikan Abang nya ayu melaju ke arah kantor, setelah mobil terparkir di halaman gerbang perusahaan, ayu turun dari mobil dan menghampiriku, aku begitu melihat ayu langsung menangis, ayu pun langsung memeluk diriku.


"Kamu tidak apa-apa kan as?" Tanya ayu kepadaku dengan nada khawatir.


"Tidak yu, aku tidak apa-apa, hanya saja aku takut dia menghadang ku di jalan nantinya" jawabku jujur, yang memang aku takut sekali di cegat kang Entis dan di ajak naik mobil bersama preman - preman itu, aku sampai shock memikirkan itu.


"Kamu jangan takut, ayo biar aku antar pulang" ucap seorang lelaki yang berwajah tampan dan berperawakan tinggi dan tegap itu tiba-tiba bicara kepadaku, aku hampir terkesima melihat ketampanan nya, tapi aku buru-buru langsung menguasai diri lagi, dan mengangguk tanda menjawab ucapan nya, pria itu berdiri tepat berada di samping ayu, jujur aku tidak mengenal wajah pria ini, tapi aku yakin ini pasti Abang nya ayu.


"Iya as, kami akan antar kamu pulang, ayo sekarang kita pulang," ucap ayu mengajak ku pulang.

__ADS_1


Akhirnya aku berpamitan pada semua satpam yang berada di sana, aku juga mengucapkan banyak terima kasih dari dalam hati ku dengan tulus kepada mereka yang telah mau menolongku, terutama kepada Andika dan pak Wiryo.


__ADS_2