Suami Benalu Banyak Ulah

Suami Benalu Banyak Ulah
jawaban


__ADS_3

"Assalamualaikum asti, apa kabar?" Ujar lelaki tampan yang sedang di rindui Asti akhir-akhir ini.


"Waalaikum salam bang," Asti grogi menghadapi Yoga, antara bahagia dan malu.


"Boleh Abang masuk as" Asti yang sedang mematung di pintu memang menghalangi jalan masuk, langsung saja mengangguk dan bergeser ke samping untuk memberi jalan kepada Yoga.


Yoga melangkah masuk sambil tersenyum senang, dirinya pun sebenarnya tidak jauh berbeda dengan Asti, dia jadi salah tingkah di hadapan Asti, Yoga juga sangat merindukan sosok Asti hingga Yoga sudah tidak bisa membendung nya lagi 7ntukbsegera menemui Asti, dua minggu tidak melihat wajah Asti membuat batin Yoga tersiksa.


Tapi demi misi adik nya untuk bisa menyelami hati Asti kepada dirinya, Yoga rela mengikuti ide Ayu, dan kini Yoga melanggar rencana yang sudah di tentukan Ayu, seharusnya Yoga jangan dulu datang di hadapan Asti sekarang, ayu ingin Yoga menemui Asti nanti pas satu bulan pas Asti Kan memberikan jawaban lamaran Yoga itu.


Tapi Yoga sudah tidak bisa membendung lagi rasa rindu yang menyiksa nya ini hingga tidak perduli lagi dengan rencana adik nya yang sudah di rancang dengan baik.


Ayu begitu melihat Abang Nya masuk ruangan ini san menemui Asti langsung mencebik, tapi ayu tidak marah dia merasakan apa yang Abang nya rasakan.


"Halo adik Abang yang paling cantik di seluruh rumah Abang! Jangan bengong gitu ih nanti kesambet loh!" Yoga meledek adik nya untuk menghilangkan rasa grogi di hadapan Asti


"Halo Abang ku yang terganteng di kamar mandi, ternyata rindu mengalahkan rencana ya!" Ujar Ayu membalas ledekan Abang nya dengan sindiran halus, Yoga langsung tertawa sambil mencubit pipi adik nya.


"Sakit tau!" Jawab Ayu sambil mengusap pipi yang di cubit Yoga.


Asti tersenyum melihat keakraban adik kakak ini, jantung Asti yang dari tadi berdetak lebih kencang membuat dirinya jadi serba salah, dia hanya diam berdiri di dekat pintu, Asti juga bingung kenapa Yoga tiba-tiba berada di sini, tadi di telpon Yoga mengatakan sedang tidak ada di kantor, tapi baru saja habis telpon dengan ayu mengatakan dirinya tidak bisa datang menemui ayu karena sedang meeting di luar, tapi kini malah sudah berada di ruangan ini kurang dari tiga menit.


"As Lo ngapain berdiri bengong di situ? Mau jadi satpam pintu ruangan Abang gua?!" Ayu tiba-tiba teriak kepada Asti membuat Asti kaget dan langsung mengomel panjang pendek karena malu ketahuan sedang bengong di depan pintu.


Asti langsung melangkah mendekati Yoga dan ayu yang sekarang sedang duduk di sofa, Asti pun ikut duduk di sebelah ayu.


"Bang kok bisa ada di sini!" Tanya ayu pura-pura kaget.

__ADS_1


"Ya bisa lah! Abang kan punya kaki!" Jawab Yoga ngasal.


"Maksudnya kata Abang tadi lagi di luar! Kok sekarang ada di sini!" Tanya ayu menyudutkan Yoga, dia ingin tahu jawaban apa yang akan Abang nya beri.


Yoga melotot kepada ayu sebab terus saja bertanya seperti itu, padahal ayu tahu jika dirinya sebenarnya masih ada di kantor ini juga, bahkan ada di ruangan sebelah ruangan pribadinya.


"Abang punya ilmu hilang! Puas!" Jawab Yoga ketawa.


"Hahaha... Garing bercandanya!" Ucap ayu tertawa.


Asti yang tidak paham dengan permainan mereka berdua hanya tersenyum simpul saja.


"As, kok tumben ke sini?" Tanya Yoga kepada perempuan yang di sukainya itu.


"Iya bang, tadi ayu ngajak Asti kesini" jawab Asti tersipu.


"Ehmmm .." ayu mendehem.


"Kalau batuk sebaiknya kamu minum gih yu" ucap Yoga sambil melirik Ayu.


"Bukan batuk saja aku tuh bang, tapi aku mulai bengek melihat kelebayan Abang barusan" kelakar ayu, sontak Yoga dan Asti tertawa terbahak mendengar ucapan ayu.


"Aku ke luar sebentar ya as, aku mau ke kantin pengen beli minum dingin, ini juga si Umar wa lagi di sana." Ayu berdiri berpamitan kepada Asti, padahal bukan hanya ingin mencari minuman dingin semata, tapi ayu ingin memberikan ruang untuk abangnya dan Asti saling bicara, ayu tahu apa yang ada dalam hati kedua nya, ayu sangat yakin jika Asti merindukan Yoga dan juga sebaliknya, makanya ayu memilih keluar sebentar.


"Aku ikut yu, memangnya Umar sudah kembali ke kantor ya yu?" Asti ingin menemui Umar juga, soalnya yang Asti tahu Umar sedang meeting di luar kantor, lagi pula Asti merasa canggung jika di tinggal berdua dengan yoga.


"Sebentar saja as, sudah kamu tunggu di sini saja," ujar ayu segera ke luar tanpa menghiraukan Asti yang ingin ikut dengan nya, Asti merenggut di tinggal ayu, sebenarnya dirinya memang enggan ikut ayu ke kantin, dia lebih suka duduk di sini bersama dengan Yoga, tapi rasa malu lebih menguasai dirinya.

__ADS_1


"As, boleh Abang tanya sesuatu sama Asti?" Tanya Yoga kepada Asti.


"Boleh bang" jawab Asti sambil menunduk malu,


"Apa boleh jika Abang minta jawaban Asti di percepat, jujur saja Abang sangat tidak sabar menanti jawaban Asti, tapi jika Asti keberatan juga tidak masalah, Abang akan siap menunggu sampai batas waktu yang Asti tentukan."


Ucapan Yoga barusan mampu membuat Asti terpaku bingung, sebenarnya dirinya juga ingin segera mengatakan jika dirinya mau menerima lamaran Yoga, tapi Asti malu untuk mengakuinya.


"As... Gimana?" Tanya Yoga membuyarkan lamunan Asti.


"Iy.. iya bang, Asti tidak keberatan kok bang," jawab Asti ragu.


"Jadi bagaimana jawaban Asti?" Tanya yoga tidak sabar.


"Sepertinya Asti... Eng... Itu bang.." Asti gugup menjawabnya, hingga ucapan nya kurang jelas, tapi Yoga sabar menunggu.


"Asti mau menerima lamaran Abang" ujar Asti sambil menunduk malu, pipinya langsung terlihat memerah karena grogi.


"Alhamdulillah" Yoga langsung mengucapkan syukur, Yoga sangat bahagia karena Asti mau menerima lamaran nya.


***


Rosi semakin hari kesehatan nya semakin menurun, badan nya mulai berangsur kurus karena Rosi sudah tidak mau makan, pak Toni tidak mengenal lelah untuk terus membujuk anaknya agar tetap semangat untuk hidup, dengan telaten pak Toni merawat Rosi yang sehari-harinya hanya tergeletak di kasur.


"Yah, apa mas Yoga mau datang ke sini sekarang yah?!" Tanya Rosi dengan penuh harap.


"Tidak nak, Yoga sedang sibuk sekali, dia tidak mungkin datang kesini" pak Toni sedih melihat keadaan anaknya seperti ini.

__ADS_1


"Kalau sudah datang beri tahu aku ya yah, aku mau merias diri dulu, tolong ambilkan peralatan dandan ku yah, aku mau terlihat cantik diata mas Yoga, jika belum dandan aku malu yah, nanti mas Yoga berpaling dari aku" ucapan Rosi mampu menggores luka di hati ayahnya, karena Rosi seperti sudah kehilangan kesadaran nya.


__ADS_2