Suami Benalu Banyak Ulah

Suami Benalu Banyak Ulah
obrolan di kedai nasi uduk


__ADS_3

("Kalo kamu memang benar pacarnya kang Entis , kamu harusnya minta dia mengajak mu datang ke sini dong, kalo kang Entis mau ajak kamu kesini baru dia benar sayang sama kamu! Tapi kalo dia tidak mau berarti kang Entis menganggap kamu cuma psk! Haha!")


Ucapku lagi menantang perempuan itu agar mau datang kesini, karena aku penasaran banget sama wajahnya, di foto sangat tidak jelas mukanya karena dia menyembunyikan sebagian wajahnya, aku ingin berhadap hadapan langsung dengan perempuan ini.


"(Wah nantangin kamu!, Siap-siap aja kamu nangis bombai jika aku datang ke sana!)" Begitulah balasan darinya.


"Oh ya, aku tunggu dua hari ke depan, jika dalam dua hari kamu tidak bisa datang ke sini bersama kang Entis, berarti kamu cuma wanita penghibur,"


Aku sengaja ingin terus memanasi nya supaya dia mau datang ke sini.


"(Tidak usah nunggu dua hari, aku akan buktikan, besok aku ke sana!" Rupanya si pelakor memang terpancing emosinya oleh ku.


"Aku tunggu!, Jika kamu memang benar pacarnya kang Entis, maka aku akan ijin kan kamu menikah dengan nya." Tantang ku lagi.


"(Kami memang mau nikah, tidak perlu ijin kamu pun kami bisa melangsungkan pernikahan.)" Ujar dia sombong.


"Bisa sih, tapi nikah sirih kan?, Apa kamu tidak rugi cuma nikah sirih doang, tidak di akuin negara, jika kang Entis bosan sama kamu tinggal buang saja juga bisa tanpa harus melalui proses panjang,! Kasihan haha..haha.." aku sengaja terus memanasi nya biar dia datang kesini.


"(Br*ngs*k kamu!)" Hanya itu balasan nya.


Tapi aku puas sudah membuat perempuan itu marah.


Aku pun membalas dengan emotikon tertawa, tapi pesan ku hanya centang satu, ya sudah lah yang penting aku sudah bisa mengantongi bukti bahwa suamiku memang layak di buang.


Tapi walau bagai mana pun ada rasa sakit di sudut hati ini, bohong jika aku tidak sakit hati mengetahui suamiku menjalin hubungan dengan perempuan lain, tapi aku juga tidak ingin terkurung dalam pernikahan yang tidak sehat ini, aku harus yakin pada diriku sendiri jika kang Entis memang tidak layak aku pertahankan.


***


Aku yang sedang terlena dalam mimpi tiba - tiba kaget mendengar pintu yang di gedor dari luar dengan keras, aku yang masih bingung karena ingatanku belum terkumpul sempurna membuat sedikit pusing dengan suara ribut dari pintu yang di gedor, aku pun segera keluar kamar hendak membuka pintu.


"Lama sekali kamu as buka pintu nya!" Kang Entis berdiri di pintu dengan penampilan yang acak - acakan, mata merah dan mulut bau alkohol, aku melirik jam dinding yang berada di tembok ruang tamu, dan waktu menunjukan pukul 02 pagi atau tengah malam.


Aku tidak menjawab dan langsung putar tubuh untuk masuk kamar, karena aku malas untuk melayani dia bicara apalagi bertengkar, malam ini waktunya aku istirahat dari semua hal, termasuk menghindari pertengkaran, aku lelah.

__ADS_1


Sebaiknya kang Entis jangan harap ada kopi di meja untuknya, seperti biasa aku melayaninya dulu, setiap pulang main tengah malam dia selalu minta di buatkan kopi, bahkan minta di pijat pundaknya, tapi kini semua itu jangan harap ada pelayanan seperti itu dari ku bahkan melihat wajahnya saja aku sebal.


"Mau kemana kamu!" Bentaknya.


Aku langsung masuk kamar dan menguncinya, aku segera naik kasur untuk melanjutkan mimpiku yang tertunda.


Dok..!


Dok..!


Dok..!


Suara pintu kamar di gedor dari luar.


"Buka pintunya as.!" Teriak suamiku, jangan harap aku mau membukanya, biarlah dia tidur di kursi biar di temani nyamuk di sana.


"Asti!, Buka pintunya!, Bikin kan aku kopi as, aku haus!"


Aku menutup kuping dengan bantal agar suara kang Entis tidak terdengar, tapi sia - sia saja aku tutup juga, karena masih bisa terdengar walau tidak terlalu keras, aku pun tidak ambil peduli dengan teriakan nya, aku harus segara tidur lagi karena besok pagi aku harus bekerja.


Tidak lama kemudian suara kang Entis pun tidak terdengar lagi, mungkin dia tidur di luar.


Pagi ini suasana cukup dingin karena dari semalam hujan lumayan besar, pas aku keluar kamar aku melihat kang Entis tidur di karpet depan tv tanpa memakai bantal atau pun selimut, karena memang aku tidak memberi semua itu.


"Rasakan kamu mas," gumamku.


Setelah mandi dan mengerjakan kewajiban umat Islam melaksanakan solat subuh, aku langsung ke dapur membuat teh manis dengan air panas dari dispenser untuk ku sendiri, aku memang tidak bisa masak untuk sarapan sebab kompor sudah tidak ada di jual oleh kang Entis, dan aku pun enggan untuk membeli lagi, biarkan saja seperti ini toh aku juga sudah berencana meninggalkan rumah kontrakan ini beserta kang Entis nya juga akan aku tinggalkan di sini.


Selesai membuat teh manis aku keluar rumah untuk membeli nasi uduk Mpok Lela.


"Mpok nasi uduk satu, bungkus ya Mpok." Pesanku kepada Mpok Lela.


"Siap teh Asti, kok cuma satu, biasanya kalau beli nasi uduk dua?" Tanya Mpok Lela heran, mungkin karena aku terbiasa beli dua.

__ADS_1


"Gak Mpok, kang Entis masih tidur, takutnya bangun siang." Ucapku sambil tersenyum.


"Iya ya Asti, nanti kalau siang jadi kurang enak," sambung Mpok Lela.


"Kang Entis semalam mabok lagi ya teh." Teh Rini tetangga dekat rumah ku ikutan menanyakan kang Entis


"Iya gitu teh, di larang juga tidak bisa." Ucap ku jujur, karena jika berbohong juga percuma saja karena kelakuan kang Entis bukan rahasia lagi, semua tahu perangai kang Entis seperti apa, aku tidak bisa menutupinya.


"Iya kata kang Nurdin suamiku, kang Entis semalam ada di kafe dangdut teh, itu loh kafe remang - remang yang ada di dekat pool pemberhentian truk - truk." Adu teh Rini padaku.


Aku hanya mengangguk, ingin rasanya segera berlalu dari sini, tapi Mpok Lela lama melayaniku, karena aku harus antri menunggu giliran, warung nasi uduk di sini cukup ramai, hingga begitu teh Rini bilang seperti itu cukup menyedot perhatian ibu - ibu yang ada di sana.


"Kalau aku mah as sudah aku buang punya suami kayak gitu," seorang ibu yang juga antri beli nasi uduk tiba - tiba ngomong begitu, aku juga mengenalnya karena masih tetangga beliau ibu Ida.


"Syuuutttt.. diam!" Teman ibu Ida menyenggol pundak ibu Ida sambil berbisik pelan, tapi aku mendengar nya.


"Tapi ngomong -ngomong suami kamu kok bisa tahu si Entis ada di sana?!, Apa suami mu juga ikutan mabok di sana?" Seorang tetanggaku yang rumah nya ada di ujung jalan tiba - tiba menyela dan bertanya kepada teh Rini tentang suaminya yang bisa tahu keberadaan kang Entis ada di kafe dangdut.


"Enak saja!, Kang Nurdin semalam ada di sana karena di ajak kerja sama teman nya nurunin barang dari truk di pool itu." Ucap teh Rini sewot.


"Biasa aja dong! Gak usah sewot!" Ucap ibu Ika yang tadi bicara sama Rini.


"Gimana gak sewot, seenaknya saja nyama - nyamain suamiku sama kang Entis,!" Ucap teh Rini dengan kesal.


Aku yang mendengarnya sungguh tidak nyaman, rasanya ingin pergi segera, tapi ini giliran nasi uduk punya ku sedang di siapkan Mpok Lela.


"Siapa yang nyamain, aku cuma tanya!" Bu Ika mulai emosi.


"Sudah - sudah, kenapa jadi kalian yang ribut sih," Mpok Lela mencoba melerai, akhirnya mereka juga diam.


"Ini nasi uduk nya as." Ucap Mpok Lela sambil memberikan nasi uduk.


"Iya Mpok makasih, ini aku beli gorengan nya lima ya Mpok." Ucapku sambil memasukan gorengan ke dalam plastik.

__ADS_1


"Teh Asti tunggu,! Kita barengan ya pulangnya , aku juga mau pulang." Ucap Rini menghalangi langkah ku, dia mau jalan pulang sama - sama, aku juga tidak bisa menolak untuk menunggu dia sebentar untuk jalan bareng, walau sebenarnya aku enggan untuk sejalan dengan nya, aku malas jika yang di omongin dia nanti tentang suamiku.


Setelah selesai membayar nasi uduk, teh Rini segera menghampiriku dan kami berjalan bersama.


__ADS_2