
Setelah Asti memberikan kesaksian nya soal penusukan dan juga kejahatan pelecehan yang hampir saja terjadi pada dirinya kepada polisi, akhirnya si Gogon pun di tetapkan menjadi tersangka, yoga mendengar kejadian dengan detail atas apa yang di lakukan Gogon terhadap asti, membuat darah yoga mendidih, ingin sekali yoga menghajar Gogon dengan tangan nya sendiri, tapi pastinya sulit karena Gogon sudah di tangani pihak kepolisian, yoga sangat menyesal dia terlambat datang hingga kejadian yang luar biasa ini bisa terjadi pada wanita yang di sukainya ini,
Setelah semua nya sudah selesai, lantas Asti di bawa pulang oleh yoga,tapi nanti jika Asti di panggil oleh polisi Asti harus sudah siap, karena keterangan Asti sangat lah penting,
Untuk saat ini penyidik mengerti dengan kondisi fisik Asti yang tidak mungkin terus di mintai keterangan, Asti harus di berikan ruang untuk istirahat dan juga memulihkan rasa traumanya sementara waktu,
Asti menolak pulang ke rumah, ketika yoga akan mengantar Asti pulang ke rumah ibu, Asti ingin ke rumah sakit menemui Entis, tapi yoga tidak mengijinkan karena kondisi psikis Asti belum stabil, yoga membujuk Asti untuk istirahat terlebih dahulu sebelum datang menemui Entis, Asti terus menangis dan menyesal karena dirinya lah Entis sampai terluka! Asti terus menyalahkan dirinya sendiri, yoga pun terus menenangkan Asti dengan sabar, yoga mengatakan bahwa kejadian itu bukan salah Asti, tapi karena sudah takdir Entis, dan yang patut di salahkan dalam kasus ini tentunya Gogon, karena niat jahat Gogon lah yang membuat Entis terkapar bersimbah darah.
"Kamu sabar ya as, Abang tahu kamu sekarang sedang dalam kondisi yang tidak baik, jika Asti memaksa kan diri datang menjenguk Entis pastinya kamu akan terus bersedih, Abang tidak ingin kamu sedih yang nantinya akan membuat kamu sakit, Abang ingin Asti tenang dulu, sebaiknya Asti istirahat untuk menenangkan pikiran terlebih dahulu, setelah semuanya tenang Abang janji, besok pagi Abang akan antar Asti menemui Entis di rumah sakit." Janji yoga kepada Asti, karena yoga juga mengerti apa yang di rasakan Asti saat ini,
Asti Menangis lagi ketika yoga berbicara seperti itu, akhirnya dengan berat hati Asti menyetujui ucapan yoga untuk istirahat, dia meminta yoga untuk mengantarkan ke rumah sakit di mana Umar di rawat, dia ingin beristirahat di sana saja dari pada di rumah, tapi yoga tidak setuju, menurut yoga istirahat yang nyaman untuk Asti itu di rumah,tapi Asti tetap ingin menemani Umar di rumah sakit.
Yoga memberi pengertian kepada Asti bahwa Umar akan di jaga oleh dirinya dan juga beberapa anak buah nya, tapi Asti kukuh menolak, dia ingin tetap ke rumah sakit, dia tidak ingin membuat ibunya khawatir dengan kejadian yang baru saja dia hadapi, mau tidak mau pasti ibunya akan tahu jika ada tragedi yang menimpa Asti jika nekad pulang ke rumah ibu di waktu dini hari seperti ini, dan akhirnya yoga menyetujui keinginan Asti,karena alasan Asti bisa di mengerti akal sehat , pasti ibu akan tahu kejadian ini, jika tiba-tiba mereka berdua pulang dini hari ke rumah ibu, sedangkan masalah ini sebaiknya ibu dan ayu tidak perlu tahu dulu.
Yoga memang tidak memberi kabar apapun kepada ibu dan ayu, yoga membiarkan mereka beristirahat setelah tadi mereka shock dengan kejadian pengeroyokan Umar.
Akhirnya yoga menyerah dan membawa Asti ke rumah sakit di mana Umar berada, karena yoga pun menerima alasan Asti yang enggan untuk pulang ke rumah ibu.
__ADS_1
***
"Teh!" Umar senang begitu melihat kakaknya masuk ke dalam kamarnya, setelah semalaman dia menunggu kakak nya. Akhirnya mereka tiba dengan selamat, walau kepulangan mereka di saat menjelang dini hari, yang penting mereka selamat, umar pun bersyukur kakak nya pulang.
"Iya mar, kenapa belum tidur mar?!" Tanya Asti.
"Umar khawatir sama teteh, jadi Umar tidak bisa tidur." Ucap Umar.
"Maafkan teteh ya sudah bikin Umar khawatir,!" Asti menyesal tadi tidak mendengar larangan adiknya, jika saja waktu bisa di putar, Asti tidak akan gegabah untuk datang ke tempat tongkrongan Entis.
"Iya mar, tenang ya, semua baik-baik saja!" Ujar yoga menenangkan Umar.
"Sebaiknya kamu istirahat saja ya as, kalau Umar biar saya yang menjaga," yoga menyuruh Asti untuk tidur di sofa yang berada di kamar itu, dan Asti pun mengangguk, karena tubuhnya terasa sangat letih sekali.
"Iya, saya permisi untuk istirahat sebentar ya bang." Ucap Asti, yoga hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Mar, jika nanti ada butuh sesuatu, bangunkan teteh ya." Asti masih tetap menghawatirkan adiknya,
__ADS_1
"Iya teh, sekarang teteh tidur saja, Umar nanti bangunkan teteh kalau ada perlu." Jawab Umar mengiyakan ucapan Asti, padahal kenyataan nya jika Asti tidur nanti Umar tidak akan tega untuk membangunkan kakaknya,
Asti pun akhirnya duduk bersandar di kursi sofa, dia menutup wajahnya dengan sehelai tisu, dan tidak lama kemudian Asti tertidur pulas, mungkin karena Asti sangat lelah hingga cepat sekali dia tidurnya.
Umar pun begitu melihat kakak nya sudah berada di ruangan ini kembali dengan selamat, dia pun akhirnya tertidur pulas juga, tinggal kini yoga sendirian yang tidak bisa tidur, yoga rela tidak tidur guna menjaga Umar dan Asti.
Yoga menatap wajah Asti yang tertidur pulas, tisu yang menutup wajahnya sudah jatuh dari tadi semenjak Asti tertidur, wajah cantik itu terlihat sangat kelelahan, Dan yoga merasa kasihan karena Asti tidurnya terduduk, dengan perlahan yoga membetulkan posisi tidur Asti agar bisa selonjoran di sofa, semakin yoga melihat wajah Asti semakin besar rasa sayang yoga kepada Asti.
***
Sementara di rumah sakit, Entis sedang berjuang dengan maut, dia sedang di lakukan operasi untuk mencabut Senjata tajam yang menembus perut hingga tembus ke punggung, Entis sudah tidak sadarkan diri sejak dari tadi, karena darah banyak keluar dari tubuhnya,
Emak dan Euis kini sedang menunggu Entis di depan ruang operasi, mereka terus meraung menangisi Entis.
"Ini semua gara-gara si Asti sialan itu!" Ucap emak menyalahkan Asti.
"Dasar perempuan murahan! Malam-malam nyari kang Entis, gayanya minta cerai, baru satu hari bercerai dia sudah gatal minta di garuk kang Entis, jika bukan kegatalan apa namanya untuk perempuan janda mendatangi mantan suaminya di basecamp, tengah malam lagi?!" Ucap Euis semakin memperkeruh keadaan hati emak,
__ADS_1
Emak dan Euis memang mengetahui kronologi kejadian penusukan itu setelah polisi yang menangani kasus ini bercerita kepada emak kenapa sampai Entis tertusuk Sajam.
"Setelah membuat anak ku terkapar hampir mati, mana perempuan sial itu? Dua sama sekali tidak datang kesini!" Emak terus saja menyalahkan Asti, dia semakin membenci Asti.