
"Gak punya duit! Harus nya Emak yang minta duit sama kamu! Bukannya sebaliknya!" Emak pun ngomel lagi sambil berjalan ke arah meja makan, begitu Emak melihat meja makan, mata Emak langsung membesar karena kaget.
"Ya ampun tis kamu habiskan semua makanan yang Emak masak!" Emak melotot melihat meja makan nya kini berantakan, ikan tongkol sambalado itu kini tinggal kepalanya saja, sayur kangkung kesukaan Euis pun tinggal mangkok nya saja, sementara sambel terasi tinggal kenangan saja di dalam cobek kayu di atas meja makan, semua habis di gasak Entis
Entis pun hanya sendawa tidak menanggapi Omelan ibunya.
"Nanti si Euis pulang kerja makan apa tis?" Geram emak.
"Apaan sih Mak! Lebay banget, itu kan kepala ikan masih ada!" Jawab Entis seenaknya.
"Emang kamu pikir si Euis itu kucing! Di sisain cuma kepala ikan doang! Bener-bener bikin emosi saja setiap kamu datang kesini tis! Sana kamu pulang!" Usir Emak kesal kepada Entis, lauk yang seharusnya jatah anak perempuan nya malah di sikat Entis.
"Kalau emak pengen aku cepet pergi dari sini, kasih Entis uang buat beli rokok"
"Duit-duit mulu kamu tis, makanya cepat jemput si Asti, istri tua mu itu memang kurang @jar, tidak bertanggung jawab sama suami!, Emak pusing kalau harus mikirin makan kamu sama rokok kamu tis!,"
"Iya nanti Entis pasti jemput dia mak, sekarang biarin saja dulu dia di rumah ibunya, Entis kasih waktu dia untuk mikir, Entis rasa dia juga menyesal jauh dari Entis, Asti itu cinta mati sama aku Mak!"jawab Entis percaya diri.
"Ya harus gitu dong tis, tapi jangan lama-lama biarin dia di rumah orang tuanya, emak pusing kalau harus masak banyak buat kamu makan, gaji si Euis kan tidak seberapa! Sementara emak duit dari mana kalau bukan dari Euis!" Gerutu emak.
"Iya.. iya Mak, mana sini duit buat beli rokok Mak, mulut Entis asem nih." Entis masih saja minta duit.
"Nih ambil cepetan pergi sana, emak kesal kakau lihat kamu merokok melulu!" Walaupun ngomel tapi emak akhirnya memberikan uang juga.
"Apaan dua ribu? Emak pikir aku anak TK cuma di kasih dua ribu!" Entis protes karena emak cuma ngasih uang dua ribu.
__ADS_1
"Itu kan cukup tis kalau beli rokok sebatang, kalau kamu gak mau ya sudah sini balikin!" Ancam Emak kesal, Entis pun segera berlalu dari hadapan ibunya dengan sejuta kekesalan, jika dia protes lagi pasti duit yang dua ribu akan di ambil kembali oleh ibunya, akhirnya Entis pun mengalah kabur dari rumah emak.
Sementara kini Asti sedang sibuk membantu ibunya mempersiapkan makanan untuk acara nanti sore, setelah satu Minggu terlewati masa cuti kerja, kini Asti sudah kembali bekerja, seminggu di rumah Alhamdulillah tidak ada teror dari Entis lagi, begitu pun mantan suaminya tidak hadir di saat sidang pertama, maka Asti berharap jika Entis jangan pernah hadir di setiap sidang perceraian agar proses nya cepat selesai, hari ini kebetulan hari Sabtu, Sabtu dan Minggu adalah hari libur, Asti sekarang tidak pernah mengambil lembur di saat hari Sabtu, tidak seperti waktu dirinya masih menjadi istri Entis, Asti akan selalu lembur di hari Sabtu guna untuk mencukupi segala kebutuhan rumah tangganya, tapi kini Asti santai menghadapi hidup ini tidak di kejar-kejar target untuk stok dapur rumah tangganya.
Hari ini di rumah Asti sedang di adakan pengajian bulanan, pengajian yang di ikuti oleh ibu setiap bulan sekali pasti akan mengadakan pengajian di salah satu rumah anggotanya, dan bulan ini adalah giliran di rumah ibu, pengajian akan di mulai setelah adzan ashar.
"Asti tolong sambut para tamu dulu sebentar, ibu lagi nanggung nih motong kue." Titah ibu kepada Asti.
"Ibu saja lah yang sambut mereka, biar Asti yang potong kue." Asti segan menyambut para tamu di luar, karena Asti pasti yakin para ibu -ibu kepo itu akan mempertanyakan perceraian dirinya dengan Entis.
"Ya sudah kalau gitu kamu potong kue ini ya." Ibu pun mencuci tangan nya dan melap tangan nya sampai kering, lalu ibu melangkah ke depan untuk menyambut para tamu.
Asti pun melanjutkan pekerjaan ibu, setelah semua kue sudah di potong lalu, Asti menyimpan kue itu di tempat kue lainnya yang di kumpulkan untuk di hidangkan nanti.
"Asti.. ayo kita ke depan nak, itu acara nya hampir di mulai," ibu memanggil Asti yang sedang duduk di kursi yang berada di ruang makan, ibu mengajak Asti ke depan untuk ikut bergabung mengaji.
Begitu Asti masuk ke dalam ruangan di sana sudah banyak berkumpul ibu-ibu dengan buku Yasin nya, acara ngaji pun di mulai, sampai selesai, kini acara di lanjutkan dengan acara makan-makan, semua asik menikmati hidangan yang ibu serta Asti hidangkan, tiba-tiba ada seorang ibu mendekati Asti,
"Neng Asti!" Panggil seorang ibu kepada Asti yang sedang berada di teras rumah, setelah acara mengaji selesai Asti memang keluar rumah melewati pintu samping,
"Eh ibu Sofi, kok ada di sini" ternyata Asti juga mengenal ibu yang tadi manggil dirinya, ibu Sofi adalah tetangga dia di kontrakan dulu sewaktu Asti menikah dengan Entis
"Ya ampun neng, gak nyangka banget kita bisa ketemu di sini," senyum sumringah ibu Sofi terlihat jelas di wajahnya.
"Justru saya yang gak nyangka bisa ketemu ibu di sini," jawab Asti sambil mengajak salaman buk Sofi.
__ADS_1
"Iya ya, ini rumah neng Asti ya?"
"Iya buk, ini rumah ibu saya," jawab Asti sambil tersenyum.
"Berarti kita tetanggaan lagi dong neng, ibu juga kan sekarang tinggal di kampung ini, rumah ibu di dekat sekolah SDN 03 neng" ucap buk Sofi sambil tangan nya menunjuk ke arah di mana SDN 03 yang berada di kampung ini.
"Loh, memang nya rumah yang dulu kenapa buk,? Di jual?" Tanya asti sedikit kepo.
"Tidak di jual neng, rumah itu di kontrakan saja, ibu kurang nyaman di sana neng, banyak preman nya.." buk Sofi langsung menutup mulutnya setelah ngomong seperti itu, dia baru sadar jika Asti adalah istri seorang anggota preman yang ada di kampung itu, Asti mengerti kenapa ibu Sofi langsung menutup mulutnya,pasti ibu Sofi tidak enak hati padanya, padahal Asti tidak mempermasalahkan itu sama sekali.
"Sudah berapa lama ibu tinggal di sini buk?" Asti cepat mengalihkan obrolan sambil tersenyum, supaya ibu Sofi tidak merasa canggung,
"Sudah hampir satu bulan neng, ini pertama kali saya ikut bersosialisasi bersama warga di sini neng, eh malah ketemu sama neng Asti"
"Oh gitu, iya buk akhirnya kita tetanggaan lagi ya."
"Maaf neng, apa kang Entis juga tinggal disini?" Ibu Sofi bertanya dengan ragu, dia takut Asti keberatan di tanya seperti itu.
"Tidak buk, kami dalam proses cerai kok." Jawab Asti.
"Oh pantesan, di rumah neng Asti dulu sudah ada istri baru yang tinggal disana, saya kira neng Asti tinggal di sana bareng istri muda, karena barang-barang neng Asti masih ada di rumah kontrakan Eneng , terus kang Entis juga sering saya lihat masih ada di rumah itu." Jawab buk Sofi dengan mimik muka serius.
"Istri muda?" Tanya asti memastikan pendengaran nya, karena Asti memang belum tahu jika Entis sudah menikah lagi dengan Tuti.
"Eh.. aduh ini gimana ya, saya kira neng Asti tahu!" Buk Sofi menutup mulutnya, dia jadi salah tingkah dengan ucapan nya sendiri, niat hati hanya ingin berbasa basi malah terjebak dengan ucapan nya sendiri, buk Sofi memang tidak tahu menahu tentang persoalan Asti dan Entis, yang dia tahu Entis sudah menikah lagi dengan Tuti, karena emak sering menggembar gemborkan pernikahan Entis dengan Tuti, dia juga pamer dengan bangga jika nanti akan mendapatkan warisan dari orang tua Tuti,
__ADS_1
"Eh tidak apa-apa buk, tidak usah merasa tidak enak sama saya, lagian kami sebentar lagi juga resmi berpisah buk." Ucap Asti mengerti dengan keresahan buk Sofi.