
Dua hari pun berlalu, buk Yola datang lagi bersama anak buahnya untuk menagih uang beras, kali ini Emak tidak bisa lagi mengelak karena buk Yola tidak bisa lagi di bodohi, Emak menangis minta kelonggaran waktu untuk membayarnya, tapi buk Yola terlanjur kesal karena Emak sudah mempermainkan dirinya dengan cara bersembunyi, buk Yola tidak mau tahu ingin uang itu ada sekarang juga, Emak kukuh minta kelonggaran waktu lagi, dirinya meminta waktu dua hari lagi untuk mencari uang, dan kali ini emak beruntung karena buk Yola mau memberikan waktu dua hari lagi, tapi dengan catatan jika dalam dua hari ini Emak tidak bisa membayar hutang nya, maka buk Yola akan menyita semua barang yang berada di rumahnya, Emak menyanggupinya karena memang tidak ada pilihan lagi.
Euis menangis melihat ibu nya di tekan buk Yola, hatinya menjerit merutuki kebodohan dirinya yang sudah membuat Emak dalam kesulitan.
"Mak, mau mencari kemana uang sebanyak itu?!" Tanya Euis sambil menangis.
"Emak sendiri bingung is, si Anton tidak pulang-pulang juga, dia itu benar-benar menantu yang kurang ajar! Mana motor kamu di bawa juga sama dia is! Emak ingin motor kamu itu di jual saja untuk mengganti uang buk Yola." Ucap emak, Euis merenung memikirkan ucapan ibunya, motor itu satu-satunya barang berharga yang di miliki dirinya, motor dari hasil dia bekerja di toko selama ini harus dia relakan untuk di jual demi membayar kebodohan nya, Euis sedih karena tidak mempunyai pilihan untuk mempertahan kan motor itu.
"Iya Mak, semoga saja kang Anton pulang nanti malam," ucap Euis yakin, dia harus rela motor itu di jual, tapi yang jadi masalah nya sekarang itu adalah, motor itu di bawa Anton, bagaimana cara menjualnya, sedangkan Anton tidak seperti biasanya menghilang dua hari, biasanya jika Anton pergi, paling lama satu hari hilang besoknya dia pulang untuk minta uang jatah kepada Euis, tapi sekarang sudah dua hari Anton tidak pulang karena mungkin masih punya banyak uang hasil merampas uang emak.
Di saat Euis termenung di kamar sendirian, hape Euis berbunyi nyaring ada yang menelpon, segera Euis beranjak dari tempat duduknya dan langsung mengambil hape yang di simpan di atas meja kamar, nomor yang tidak di kenal tertera di sana, Euis pun lantas mengangkat telpon itu dengan malas.
"Halo selamat siang! Apa benar ini dengan Bu Euis!" Seorang lelaki yang bersuara berat bertanya kepada Euis dari sebrang telpon.
__ADS_1
"Benar! Ini siapa?" Jawab Euis.
"Apa anda kenal dengan saudara Anton tarmiji!?" Tanya lelaki itu lagi.
"Iya kenal pak, itu suami saya!" Jawab Euis mulai gelisah, perasaan nya tidak enak.
"Saya dari Kapolsek tanah tinggi ingin memberi tahukan jika saudara Anton tarmiji berada di Kapolsek karena tertangkap sedang mengedarkan narkoba.!" Keterangan polisi di sebrang telpon mampu membuat Euis terduduk lemas, dirinya merasa sangat bingung dengan kenyataan ini, Emak langsung mendekati anaknya yang sedang duduk termenung dengan wajah pucat,
"Ada apa is?!" Tanya emak.
Emak langsung saja mendekati Euis dan
Mengambil hape yang tergeletak, emak pun berbicara dengan orang yang menelpon Euis, mereka terlibat obrolan yang serius , emak pun sama kagetnya mendengar Anton di tangkap oleh polisi, tapi emak masih bisa menguasai dirinya hingga emak bisa lancar berkomunikasi.
__ADS_1
Pagi harinya emak dan Euis pun pergi ke kantor polisi, dan akhirnya Anton pun bertemu Euis dan emak, Euis mengamuk kepada Anton karena sudah membuat hidup Euis dan emak susah, Euis minta uang emak untuk di kembalikan, tapi sayangnya uang itu sudah habis di pakai modal untuk membeli narkoba, narkoba pun sudah di sita polisi, mana mungkin uang itu bisa kembali, akhirnya Euis harus menerima nasib yang menyedihkan, dirinya harus hamil dan melahirkan tanpa suami, dan emak harus rela barang-barang berharganya di sita buk Yola, mereka pun harus menerima nasib yang menyedihkan, karena kehidupan mereka sangat susah sekarang ini,
Sementara yoga dan Asti mereka menikah di hotel berbintang, hidup Asti kini berubah delapan ratus derajat karena dari wanita biasa menjadi nyonya yoga yang berlimpah harta, sementara ayu dan Umar diam-diam menjalin asmara juga, dan ada kemungkinan ayu dan yoga akan memiliki mertua yang sama.
Sementara nasib Rosi dan Toni kini sangat memprihatinkan, dirinya harus terbaring di kasur tiada berdaya, luka di kaki semakin hari semakin memburuk, kakinya jadi menghitam karena darah beku, dan semakin hari semakin membusuk, sedangkan untuk ke rumah sakit, Rosi dan pak Toni tidak memiliki uang hingga Rosi hanya bisa di rawat di rumah saja, miris sekali nasib mereka kini, pak Toni dengan sabar merawat anak yang di banggakan nya itu, pak Toni kini bekerja menjadi tukang panggil di pasar untuk menunjang kehidupan mereka sehari-hari, dan Rosi pun harus rela melakukan sendiri kegiatan nya di rumah ketika pak Toni bekerja, Rosi terkadang harus menahan lapar karena di rumah jarang ada stok makanan.
Sementara kini Anton diam terkurung dalam jeruji besi, hidup nya harus berakhir di tahanan untuk waktu yang cukup lama, dia tidak mungkin bisa lepas dari jeratan hukum yang membelitnya, walau dirinya merengek kepada Euis minta untuk di bebaskan tapi mana mungkin Euis bisa mengeluarkan Anton dari tahanan, sedangkan untuk makan dirinya saja Euis susah, kadang Euis memang datang ke tahanan menengok Anton tanpa sepengetahuan ibunya, tapi akhir-akhir ini Euis tidak mau lagi datang ke tahanan karena Anton sering memarahi Euis yang tidak bisa mengeluarkan dirinya dari tahanan, akhirnya Euis pun menyerah ingin berpisah dengan Anton, Anton pun tidak bisa menagan lagi, sempat Anton membujuk Euis untuk tidak menceraikan nya, tapi semua sia-sia, karena Euis sudah sangat tidak tahan hidup dengan Anton.
Lima tahun kemudian.
Asti kini sudah memiliki seorang anak yang sangat cantik berusia empat tahun dari pernikahan nya dengan yoga, hidup mereka kini penuh dengan kebahagiaan, sementara ayu kini sedang hamil tua dari pernikahan nya dengan Umar, tapi sayang nya sehar isetelah pernikahan Umar dan ayu, bapak berpulang ke pangkuan ilahi, hari bahagia itu berganti menjadi duka, dan ibu yang paling sangat terpukul, ternyata setiap kehidupan itu pasti saja ada ujian yang Allah berikan, dan itu untuk menguji seberapa besar kesabaran kita, semoga saja di setiap ujian kita selalu di berikan kesabaran, tawakal dan juga keikhlasan, karena di setiap cobaan pasti saja ada hikmahnya.
Setiap kehidupan pasti akan ada kematian, begitu pun Rosi yang sakit kini telah tiada, dia meninggal tiga tahun yang lalu hingga meninggalkan bekas luka di hati pak Toni, kini pak Toni hanya bisa tertawa di pinggir jalan sambil terus memanggil nama anak nya, kewarasan nya kini sudah mulai hilang!
__ADS_1
Tamat.